
Ichi memarkir sepeda listriknya di tempat parkir kemudian melangkah santai melewati sisi gedung dan tiba di lapangan sekolah. Kedua kakinya terayun santai menyeberangi lapangan untuk tiba dikelasnya.
Seperti biasanya, gadis itu adalah satu dari sekian siswa yang datang paling pagi. Dia tiba dikelasnya yang masih dalam keadaan sunyi. Suara sepatunya menggema kecil dilantai itu. Ichi memasukkan ransel kecilnya ke dalam rak meja.
Alis gadis itu berkerut. Ada sesuatu yang mengganjal didalam laci meja itu. Ichi menunduk dan menengok kedalam laci itu. Ada sebuah benda mendekam disana. Ichi merogohkan tangannya kedalam, mengorek benda itu agar keluar dari sana.
Apa nih? Siapa yang memasukkan benda ini ke laci mejaku?
Ditangannya sekarang bertengger sebuah kotak kecil dibungkus kertas koran. Tak ada nama tertera disana. Ichi menimang-nimang benda dalam kedua telapak tangannya itu.
Apa ini.... untukku???
Dihantui rasa penasaran untuk mengetahui isi kotak itu, Ichi merobek kertas koran tersebut, mengeluarkan kotak dan membukanya. Sebuah cincin nampak terpasang pada jepitan dalam bagian kotak. Ada secarik kertas disana. Gadis itu membacanya.
Alisnya kembali berkerut. Siapa lagi yang usil nih???
"Kamu suka, Chi?" tanya seseorang, membuat Ichi langsung berbalik.
Seorang pemuda, sekelas dengannya dan Ichi sangat mengenalnya.
"Kamu yang punya paket ini?" selidik Ichi memperlihatkan kotak itu kepada pemuda tersebut.
"Ya, itu aku..." pemuda itu mengaku, "Kau menyukainya?"
Ichi membuka kembali kotak itu dan tersenyum. "Sejak kapan kamu seroyal ini?" sindirnya kepada lelaki itu.
"Sejak aku punya perasaan kepadamu." ujar pemuda itu melangkah masuk ke dalam kelas. "Aku suka padamu Ichi."
__ADS_1
Sejenak Ichi terdiam, namun akhirnya senyumnya tersungging dan sekehan keluar, lama-lama berubah menjadi tawa yang keras. Pemuda itu mengerutkan alisnya.
"Kok tertawa?"
"Lucu saja..." jawab Ichi setelah meredakan tawanya kemudian melangkah hendak keluar kelas. Pemuda itu mencekal pergelangan tangan Ichi. Gadis itu terkejut dan menatap pemuda itu.
"Lepaskan tanganku, Danang!" pinta Ichi.
"Maukah kau membalas perasaanku?" tanya Danang dengan lembut.
"Lepasin dulu." pinta Ichi.
"Aku nggak akan lepaskan tanganmu. Aku kuatir kau akan meninggalkan kelas ini." jawab Danang.
"Ya jelaslah aku mau tinggalkan kelas ini." sahut Ichi kemudian mengelus perutnya. "Aku lapar..."
"Mengenyangkan apanya nih?" pancing Ichi kemudian tersenyum. "Kalau pake terung tambah dua butir telur dan sedikit mayones, aku nggak mau! Bisa-bisa aku kembung selama sembilan bulan!"
Wajah Danang memerah ketika Ichi menyebut beberapa benda sebagai metafora terhadap benda pribadi yang menggantung diselangkangannya itu. Ichi kembali melebarkan matanya.
"Lepaskan tanganku atau kau mau ku tendang benda berharga milikmu sampai kau impoten?!" ancam Ichi.
Danang terpaksa melepas cekalan pada pergelangan tangan gadis itu.
"Nah, begitu kan bagus..." komentar Ichi mengelus-elus pergelangan tangan miliknya. Gadis itu kembali bercakak pinggang menegakkan tubuhnya menonjolkan dadanya yang terperisai oleh pakaiannya.
"Nang... kita itu masih sekolah." ujar Ichi dengan lembut.
__ADS_1
"Apa salahnya dengan status sekolah kita? Bukankah semuanya bisa beriring sejalan?" ujar Danang.
"Ya, tapi akan berpotensi mengacaukan pikiran positif kamu, begitu juga denganku. Abi tak melarangku untuk bergaul, namun melarang keras aku untuk pacaran." ujar Ichi.
"Tapi aku sudah kadung cinta sama kamu." ujar Danang bersikeras.
"Terserah kamu, mau kau simpan cinta itu sampai mengakar dan berbuah. Yang jelas aku belum mau pacaran." tandas Ichi mengibaskan tangannya masih tetap dengan gaya bercakak pinggang. "Okey? Aku permisi dulu."
Ichi hendak melangkah kembali ketika tangannya dicekal lagi oleh Danang. Gadis itu seketika mengibaskannya lagi.
"Hei, Nang... lepaskan dong." pinta Ichi.
"Kau itu benar-benar munafik, Ichi." tukas Danang. "Dihadapanku kau terang-terangan mengatakan tak ingin berpacaran... tapi, diluaran... banyak lelaki yang menjadi piaraan kamu."
"Eh, hati-hati kamu kalau ngomong!" sahut Ichi dengan berang. "Tau dari mana kamu?!"
Danang tertawa. "Kau pikir, aku tak mengawasimu? Katakan padaku, sudah berapa banyak pacar online kamu?!"
"Eh, Nang! Itu bukan kemauan aku. Mereka sendiri yang datang menawarkan diri. Aku terang-terangan menolak, namun mereka sama seperti kamu. NGOTOT!" jawab Ichi dengan ketus.
"Dan kau memelihara mereka?" tukas Danang.
"Pelihara? memang unggas dipelihara?" omel Ichi, "Aku nggak pernah memelihara satupun laki-laki. Dan patut kau camkan dalam otak kepalamu itu! Aku bukan perempuan yang seperti kau bayangkan!"
Ichi hendak kembali melangkah ketika tiba-tiba Danang kembali meraih gadis itu dan menariknya kedalam pelukan. Ichi tak sempat melakukan antisipasi saat dengan kecepatan tak disangka Danang mendaratkan bibirnya ke bongkahan bibir ranum jilbaber tersebut.
CUP!!!!! []
__ADS_1