
Azizah mengajak putrinya berbelanja di pasar saat itu. Hari Minggu memang merupakan hari pasar paling ramai dari biasanya. Memang Pasar Sentral Kota Marisa sudah menjadi lokasi perdagangan yang aktif sepanjang hari. Namun tetap saja hari paling ramai adalah hari minggu.
Keduanya berboncengan mengendarai sepeda motor listrik yang dikemudikan oleh Ichi dengan kecepatan rata-rata menyusuri jalan Hulude Bunggu. Ichi mengemudikan kendaraannya dengan tenang sesekali menatapi kendaraan yang berseliweran dijalanan tersebut.
Kendaraan itu mendaki jembatan besar yang memisahkan wilayah Buntulia dengan Botubilotahu. Tak berapa lama mereka menemukan simpang tiga. Ichi membelokkan kendaraan ke kiri memasuki wilayah pasar Kota Marisa dari arah utara.
Mereka mulai memasuki kerumunan kendaraan dan orang-orang yang membaur. Disisi kiri dan kanan berdiri tenda-tenda parkir swasta. Ichi membelokkan kendaraan kedalam salah satu tenda yang berdiri.
Salah satu lelaki muncul. Tugasnya untuk menata kendaraan-kendaraan yang terparkir ditempat itu agar tidak terjadi kesemrawutan. Ichi menyerahkan selembaran uang nominal dua ribu kepada lelaki itu kemudian diikuti anggukan oleh lelaki tersebut. Azizah mengajak putrinya meninggalkan kawasan parkir gelap tersebut. Hari Minggu memang menjadi lahan panen bagi mereka untuk meraup untung dari biaya parkir yang tak seberapa tersebut.
Lagi pula pihak Dinas Perhubungan juga tak mengurusi mereka dan lebih sibuk dengan pungutannya sendiri pula. Para petugas itu berdiri ditengah jalan tepat diarah masuk pasar lalu menandai kendaraan-kendaraan yang masuk maupun yang keluar. Tujuannya agar kendaraan itu diketahui mana yang sudah bayar tiket ataupun yang belum.
Keduanya memasuki pasar yang sudah dipenuh-sesak oleh orang-orang yang berjubel. Perbedaan yang menyolok antara penjual dan pembeli hanya letak keberadaan mereka yang berada didalam maupun diluar. Ada juga penjual musiman yang datang mengadu untung berjualan dipasar itu. mumpung hari minggu, semua penjual dari seluruh penjuru Pohuwato berkumpul disana menjajakan dagangannya.
"Umi akan ke stan pakaian." ujar Azizah. "Kita ketemuan lagi ditempat parkir. Siapa yang duluan sampai disana, saling menghubungi ya?" pesan wanita itu.
__ADS_1
Ichi mengangguk dan tersenyum manis lalu keduanya berpisah. Ichi lebih memilih memburu makanan. Gadis itu memang pecinta makanan meski tak dipungkiri ia pun seorang gadis flamboyan, suka akan kemewahan. Namun gadis itu juga sadar dan tahu diri akan kemampuan dirinya, juga orang tuanya.
Ichi terus melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong pasar, membaur bersama para pengunjung yang berjubel menyesakkan suasana pasar hari itu. Gadis itu tak terburu-buru menuju destinasi perjalanannya. Ichi lebih senang mengembara menyusuri dan terus menyusuri lorong-lorong pasar tersebut.
Sedang asyiknya ia menyelami kesenangannya saat itu, terdengar sebuah suara menyapa yang keras ditengah hiruk-pikuk suara pengunjung dan penjual yang saling tawar-menawar harga. Ichi menoleh mencari asal suara tersebut dan tak lama kemudian ia langsung melengos.
Ada Asna disana bersama Reva. Namun bukan keduanya yang membuat Ichi membuang tatap bagai tak sudi, melainkan ada satu makhluk lagi disana yang tak disukainya. Rusli berdiri dibelakang mereka dan menatap Ichi dengan tatapan bagai seekor serigala yang menatap seekor domba. Tatapan yang yang menakutkan namun Ichi tak mau ditaklukkan. Ia hanya tak sudi melihat pria itu.
Ketiganya mendekat untuk bisa mendekati Ichi, meski rela bertabrakan dan saling sesak-menyesak dengan para pengunjung pasar yang membludak pada hari itu. Ichi tak bisa menghindar. Ia terjebak dalam kondisi itu.
"Aku mukuli dua senior anak pesantren." jawab Ichi dengan tenang. "Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."
"Memang dua senior itu mau ngapain kamu?" tanya Reva.
"Bukan aku, tapi Kak Faisal yang dipersekusi oleh keduanya. Aku membuat mereka melantak tanah dan akibatnya aku di skors." Ichi kemudian menatap Rusli sekilas lalu memandang Asna. "Na... kamu nyuruh Rusli mengantari Reva ke sekolah ya?" pancingnya.
__ADS_1
Sejenak Asna melihat sejenak kearah kekasihnya itu lalu menatap Ichi. "Iya, benar."
Ichi mengangguk-angguk sejenak, sementara Rusli menampakkan wajah kaku. Lelaki itu gelisah.
"Kenapa?" kejar Asna dengan wajah heran.
Ichi tersenyum. "Ah, nggak. Aku juga ketemu Rusli disana."
"Oh ya?" sahut Asna lalu menatap Rusli yang makin kaku wajahnya. Gadis itu menatap kekasihnya. "Iyakah Li?"
Rusli terpaksa menampakkan senyum palsu yang membuat Ichi makin merasa mual menyadari kepalsuan yang tulus itu. Rusli hanya mengangguk.
Asna menatap Ichi, "Ya. Memang aku yang memintanya untuk mengantarkan Reva ke sekolah."
"Aku pikir orang ini melakukan hal tersebut atas inisiatifnya." tukas Ichi sejenak mengerling ke arah Rusli lalu menatap Asna. "Sebaiknya, kamu harus menjaga tali agar dia tidak lelayapan kemana saja." sindir Ichi kemudian melangkah meninggalkan Reva dan Asna yang termangu-mangu disana. Rusli sendiri hanya menatap punggung Ichi yang menjauh meninggalkan mereka. Sinar matanya membara.
__ADS_1
Kau belum tahu siapa sebenarnya aku... []