KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
PEMBANTAIAN ORANG-ORANG BANDA


__ADS_3

Dalam bilik itu, terdapat tiga orang pemuda. Mereka adalah Yanto Lasimpala, Faisal Husein Polontalo dan Ishak Rompies. Ketiganya dikumpulkan dalam satu bilik oleh Ustadz Gau dengan alasan tertentu. Mulanya dalam bilik itu sebelum Ishak, orang ketiga adalah Rusdi Rasidi. Mereka berdua yang dulunya sering membully Faisal. Setelah Rusdi dipindahkan dari Pondok Pesantren Alkhairaat, maka tempat kosong itu diisi oleh Ishak.


Yanto, semenjak tiada lagi Rusdi, kehilangan minat mengusili Faisal. Terlebih keduanya mendapat malu besar dikalahkan oleh Ichi yang notabene hanyalah gadis berusia tiga belas tahun. Lelaki itu kini lebih banyak mengunjungi salah satu pengasuh untuk mempelajari tarikat. Meski begitu, sifatnya yang selalu meremehkan orang tak pernah berubah. Sampai sekarang pun, ia masih sering meremehkan Faisal sebab anak itu memang tak pernah memperlihatkan kecakapan beladirinya dihadapan lelaki itu.


Penampilan Faisal termasuk golongan cupu, meski tak dipungkiri lelaki arab itu demikian tampan. Penampilan cupunya yang mirip orang-orang siak, justru makin menarik minat para buwa lo hulondalo yang ingin pula bisa bersanding dengan pemuda itu meski dalam kapasitas pacaran yang sebenarnya status hukum dalam fiqih dihitung ilegal.


Lelaki itu memang tak ingin pacaran. Ia memegang teguh titah orang tuanya. Ketika dia mendekati Natasha, pemuda itu melakukan upaya yang disebut ta'aruf hingga kemudian ia mengetahui bahwa Natasha tak sekeyakinan dengannya. Pemuda itu masih berharap melanjutkan ta'aruf sampai akhirnya Natasha sendiri yang memutuskan meninggalkannya.


Sekarang pemuda itu merasai ketertarikan terhadap Ichi yang dirasainya meskipun garang, namun sebenarnya lembut hati. Gayanya yang boleh dihitung agak sesat sebab tak membatasi hubungan antara laki-laki dan perempuan itu, meski ibunya dengan tegas melarangnya pacaran. Hanya kepada ayahnya, gadis itu berani mengungkap pikiran sebab isi otak dan gaya berpikir mereka sebenarnya sama.


Malam itu menunjukkan pukul 02.45 saat ketiga pemuda itu tenggelam dalam ritual kesehariannya dimalam itu. Yanto sibuk menenggelamkan dirinya dialam mimpi. Pemuda itu menjalani aktifitasnya datar-datar saja. Toh jam 4 pagi, dia akan bangun dengan sendirinya dan langsung berangkat ke masjid pondok.


Adapun Faisal, seperti kebiasaannya yang dilakukannya semasa menimba ilmu di Ampeldenta saat berusia tujuh tahun hingga akhirnya memutuskan melakukan hijrah ke Gorontalo entah atas dasar apa. Kebiasaannya adalah ritual Qiyamul lail disaat dirinya tak didera kesibukan. Jika Faisal sibuk, dia memilih mengistirahatkan fisiknya hingga bangun dipukul 03.40 untuk melaksanakan sholat witir saja, setelah itu bersama-sama dengan Yanto akan melangkah menuju masjid pondok mempersiapkan sholat subuh.


Adapun diranjang satunya, bekas pembaringan Rusdi, duduk bersila Ishak Rompies. Tak sebagaimana gaya meditasi para murid tarekat atau pesilat, Ishak Rompies melakukan meditasi dengan penerapan mudra ongyo-in dalam pola kuji-in, zen yang artinya pencerahan. Meski telah memeluk agama islam, pemuda itu tak pernah bisa menghilangkan kebiasaan lamanya sebagai seorang bushi yang pernah hidup diabad ke enam belas saat Keshogunan Edo berkuasa ditanah airnya.


Kedua matanya terkatup damai dan bibirnya diam. Posisinya bagaikan arca Jizo yang duduk dengan posisi jemari membentuk mudra kosmik. Pemuda itu memasuki alam kehampaan. Berbagai masa lalunya berkelebat kembali menghiasi benaknya. Ingatannya kembali ke masa lalu, dimana dirinya dikirimkan ke Kepulauan Banda oleh Perusahaan Hindia Timur yang bermarkas di Hirado.


...******...



Banda Neira, Benteng Nassau milik Perusahaan Hindia Timur, Tanggal 21 Februari 1621.




Perjalanan dari Pelabuhan Nagasaki menuju Sunda Kelapa, sungguh sangat melelahkan. 100 orang yojimbo yang dikirim oleh pemerintahan bakufu Edo atas nama Kaisar Go-Mizunoo di tahun ketujuh Genna (1620), atas permintaan Direktur Jenderal Perusahaan Hindia Timur cabang Hirado, Opperhoofd Jaques Speck.



Pengiriman samurai-samurai pengangguran ke Jayakarta, berdasarkan surat yang ditulis oleh Jan Pieterzoon Coen kepada Pemerintahan Pusat di Amsterdam sehingga atase dagang bagian Asia diminta mengirimkan bantuan. Oleh sebab jumlah pasukan pengamanan asli perusahaan kurang, maka Jaques Speck membujuk Shōgun Tokugawa Hidetada untuk memberinya bantuan pasukan.


Keshogunan Edo kemudian memerintahkan perwakilannya untuk mendaftar jumlah samurai-samurai tak bertuan yang tinggal di semenanjung barat negeri dan menyodorkan daftar itu kepada Jaques Speck hingga beliau setuju mengontrak 100 orang ronin tersebut untuk dijadikan yojimbo memperkuat atase dagang VOC di Sunda Kelapa.



Fujimoto Toshisada, termasuk diantara keseratus samurai-samurai tak bertuan itu. Ia adalah putra tidak sah Imagawa Norimochi dari seorang wanita bekas geisha, bernama Naoko. Secara hereditas, ia masih keturunan langsung dari keluarga Imagawa, dan merupakan saudara tiri dari Imagawa Naofusa yang menjabat sebagai Kōke di birokrasi Bakufu Edo.


Untuk mendongkrak namanya, Toshisada terpaksa ikut dalam rombongan yojimbo tersebut, meninggalkan tanah airnya menuju Jayakarta yang pada akhirnya dikirim kembali menuju Banda Neira, memperkuat Benteng Nassau milik VOC yang sekarang dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen.



Benteng Nassau sendiri adalah bangunan yang dibangun oleh Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda pada Tahun 1609, tujuh tahun setelah perusahaan itu resmi didirikan oleh Johan van Oldenbarnevelt dan beberapa anggota dewan negara dengan menggabungkan empat perusahaan besar negeri itu menjadi perusahan publik bonafid pertama di Nederland, berkantor di Amsterdam.


Benteng Nassau sendiri didirikan dengan tujuan untuk mengontrol perdagangan Pala. Pembangunan ini diprakarsai oleh Laksamana Verhoeven dengan menggunakan bekas pondasi yang pernah dibangun Portugis pada tahun 1529.

__ADS_1


"Selamat datang di Nassau." sapa salah satu perwira pasukan VOC, Mark van der Bijl mengulurkan tangannya kepada Uchida Issin, pimpinan para yojimbo tersebut.


Beberapa tentara kompeni memperhatikan gaya pakaian para samurai tak bertuan yang menurut mereka unik, terlebih sanggul diatas kepala mereka. Beberapa diantaranya berbisik-bisik sambil cekikikan.


Fujimoto Toshisada menyadari beberapa diantara orang-orang belanda itu mencibir penampilan mereka yang menurut adat orang-orang barat sangat ketinggalan jaman.


Uchida Issin hanya tersenyum dan mengangguk, balas menyambut uluran tangan perwira itu. Lelaki itu memang tak pandai berbahasa belanda. Toshisada masih lebih baik dalam memahami bahasa asing itu sebab ia banyak bergaul dengan para cendekiawan rangaku. Namun kepatuhannya sebagai seorang bushi memilih bungkam, menghormati pimpinannya yang tak cakap berbahasa belanda tersebut.


Perwira Mark van der Bijl berpangkat Kolonel. Ia menyuruh anak buahnya mempersiapkan dua ruangan barak besar yang sebelumnya kosong untuk ditinggali para samurai jepang itu.


Barak yang dipersiapkan itu tidak berada dalam kawasan benteng. Sejak saat itu, para samurai menempati bilik tersebut.


Dua regu pengintai, dipimpin Kiba Tsunehiro dikirimkan Mark van der Bijl ke Pulau Lontor. Dua regu itu dikirim untuk menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pertahanan. Setelah mengadakan penyelidikan kembali, Tsunehiro Kiba tiba kembali di Nassau dan melapor kepada Uchida Issin yang didampingi oleh Kolonel Mark van der Bijl.


"Wilayah perbukitan dan sisi selatan pulau sangat cocok dijadikan tempat pertahanan." ujar Tsunehiro Kiba mengakhiri laporannya.


Uchida Issin kemudian bicara dalam bahasa negerinya yang membuat Kolonel Mark van der Bijl kebingungan sebab tak memahami bahasa itu. Ia menoleh ke sekumpulan para samurai.


"Adakah diantara kalian yang bisa berbahasa belanda?" seru Kolonel Mark van der Bijl dengan keras.


...*****...


Toshisada saat itu sedang sedang membersihkan pedangnya dengan minyak choji, ketika Ojima Kano mendatanginya. "Kamu dicari Issin-Sama..." ujar Kano.


"Tunggu sebentar, aku berpakaian dulu." sahut Toshisada.


Lelaki itu mengenakan hakama dan yukata yang dilapisinya dengan haori yang disulam lambang kamon corak sisir gaya Imagawa Yoshimoto. setelah menyampirkan dua pedangnya disabuk, pemuda itu didampingi Kano datang menghadap Uchida Issin dikantor.


Toshitada membungkuk sejenak lalu menatap Kolonel Mark van der Bijl. "Ada yang bisa saya bantu untuk anda tuan?" tanya Toshisada dengan santun.


Kolonel Mark van der Bijl kemudian bicara dalam bahasa belanda yang diterjemahkan dengan baik oleh Toshisada kepada Uchida Issin. Perwira VOC itu terkesan dengan dengan kemampuan bilingual pemuda tersebut. Setelah pertemuan itu usai, Kolonel Mark van der Bijl memintanya tinggal sebentar.


"Kau bisa berbicara bahasa belanda dengan lancar. Dimana kau belajar?" tanya Mark van der Bijl sembari mengambil botol anggur dari lemari minuman dan mengeluarkan dua buah gelas kemudian menaruhnya dimeja.


"Saya bersahabat dengan beberapa cendekiawan rangaku. Saya mempelajari bahasa anda dari mereka." jawab Toshisada dengan santun seraya memperhatikan Mark menuang anggur ke gelas. Sebuah gelas kemudian disorongkan Mark kepada Toshisada.


"Mari bekerja sama untuk masa depan yang gemilang." ujar Mark dengan senyum sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang.


Toshisada mengangkat gelasnya mengikuti gaya Mark lalu meminum habis anggur itu.


Sejak saat itu kedekatan Toshisada dengan Mark mulai terjalin meski sebenarnya kedekatan diantara mereka hanya sebatas hubungan artifisial saja sebab bagaimanapun, orang-orang Belanda juga tetap menjaga jarak dengan kaum samurai-samurai pengangguran ini.


...****...


Lontor, Kepulauan Banda tanggal 27 Februari 1621.


Pasukan Kompeni Belanda melakukan pendaratan besar-besaran di pulau Lontor dengan tujuan untuk memaksa orang-orang kaya berpengaruh yang menguasai lintas perdagangan pala. Mereka menggunakan masjid sebagai tempat menginap dan hal itu sangat tidak disukai warga.

__ADS_1


PRANGGGG....


Malam itu diwarnai ketegangan dan horor hanya disebabkan oleh kesalahpahaman. Lampu gantung di masjid jatuh dan menimbulkan kegemparan dikalangan pasukan kompeni. Mereka berbisik-bisik dalam bahasa belanda.


Para warga mempersiapkan penyergapan, lakukan tindakan mendahului!


Saat itu juga semua desa di pulau itu diserang oleh pasukan kompeni yang berkekuatan 2 resimen itu. Seluruh pulau digugusan kepulauan itu tak luput dari serangan Belanda. Genosida tak terhindarkan, dari peristiwa itu yang selamat hanya 300-an warga saja.


...******...


Halaman luar Benteng Nassau, 8 Mei 1621.


Toshisada menatapi kedelapan orang kaya dan tiga puluh enam tokoh berpengaruh yang dianggap merupakan dalang pemberontakan warga Banda. Mereka didudukkan ditanah lapang dalam posisi terikat dan bersimpuh.



Toshisada dan tujuh orang rekannya sesama yojimbo melaksanakan tugas sebagai eksekutor hukuman pancung. Kedelapan samurai pengangguran itu bertelanjang dan hanya mengenakan fundoshi (cawat khusus).


Dhadapannya duduk seorang lelaki mengenakan gamis putih dan surban. Kelihatannya ia adalah seorang agamawan, termasuk dalam daftar yang harus dihukum mati hari itu. Toshisada menghunus katana miliknya dan membasahinya dengan air. Betapapun orang-orang ini adalah kriminal dimata majikan VOC, hukuman mati tetaplah harus dilakukan dengan penuh adab sesuai hukum bushido.


Lelaki bersurban itu menatapnya dengan tatapan yang membuat Toshisada terkejut.


Lelaki ini... auranya begitu damai...


"Orang kaya..." panggil Toshisada, "Apakah kau sudah siap?"


Lelaki bersurban itu hanya tersenyum. "Jika memang nyawaku telah ditakdirkan Allah melayang dibilahan pedangmu, aku sudah rela sepenuhnya...."


Toshisada mengangkat pedangnya, siap menetak tengkuk lelaki bersurban itu. "Apa permintaan terakhirmu?" tanya samurai itu.


Lelaki itu tersenyum. "Semoga, Allah menunjukmu ke jalan yang benar, penuh hidayah." ujarnya.


Toshisada tak paham apa maksud perkataan lelaki bersurban itu. Namun ia tetap saja mengangguk. "Semoga saja dikabulkan." serunya seraya mengayun pedang dengan kecepatan penuh.


CRASSSS....


Katana meluncur turun dan batang leher lelaki bersurban itu tertebas. Kepalanya terjatuh ditanah bersamaan beberapa detik tubuhnya terjatuh dan akhirnya terbaring menyemburkan darah dari lehernya yang buntung. Sehari itu, lapangan didepan Benteng Nassau dipenuhi warna merah. Keempat puluh empat mayat yang dipancung itu, atas perintah Jan Pieterzoon Coen, dimutilasi menjadi empat bagian, dipertontonkan kepada warga Banda yang hanya bisa menangisi mereka yang menjadi martir saat itu.


...*****...


Allahu Akbar... Allaaaaahu Akbar...


Suara adzan yang mengalun melalui corong pengeras suara di masjid pondok mengusik Ishak, membuatnya terseret dari alam subsconsius menuju realitas. Pemuda itu perlahan membuka matanya dan memandangi ruangan.


Matanya melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 04.35, menandakan waktu sholat subuh akan dijalani. Pemuda itu menarik napas sejenak mengumpulkan udara ke dalam paru-parunya, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.


Dua orang teman sekamarnya tak berada lagi ditempat otu. Kemungkinannya mereka telah lebih dulu berada di masjid. Ishak turun dari ranjang dan berdiri memandang pintu.

__ADS_1


Ahhh... mengapa pula kenangan brengsek itu muncul lagi???


Ishak melangkahkan kakinya menuju pintu dan lelaki itu meninggalkan kamarnya, menuju tempat wudhu. Ia harus membersihkan benaknya yang mumet oleh kenangan masa lalu yang selalu menghantui dirinya. []


__ADS_2