KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
INTERVENSI BUANA ASPARAGA


__ADS_3

Malam itu diadakan latihan beladiri. Setiap tiga kali seminggu, pondok pesantren Alkhairaat Buntulia selalu mengadakan latihan silat dengan tujuan menggembleng para santri untuk tampil percaya diri, waskita dalam setiap hal dan menumbuhkan rasa hormat.


Alfres Goi sebagai instruktur silat, sudah mengenakan pakaian silatnya, sebuah baju kurung hitam. Dibagian kirinya tersulam logo IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Pemuda itu adalah alumni pondok tersebut dan sekarang diminta pihak pengasuh untuk membaktikan diri melalui kompetensi yang ia miliki.


Alfres adalah sepupu Ichi. Pemuda itu adalah putra dari Hanson yang menikahi Riana yang merupakan saudara lain ayah dari Azizah yang merupakan putri dari suami yang kedua.


Dua hari kemarin, santri-santri diajari beberapa teknik tingkat tinggi untuk menyerang dan bertahan, sehingga dipertemuan yang kedua ini adalah waktunya mengaplikasikan semua teknik yang diajarkan.


Disaksikan oleh Ustadz Gau, pertandingan itu diselenggarakan didepan halaman masjid pondok. Alfres kemudian menatapi para santri.


"Ada yang sudah siap bertanding?" tanya Alfres.


Rahmi mengangkat telunjuknya. Alfres mengangguk dan mempersilahkan gadis gempal itu maju ke tengah arena. Alfres menatapi semua santri.


"Siapa yang mau menjadi lawan tandingnya?" tanya Alfres.


"Aku mau menantang Ichi." seru Rahmi menunjuk Ichi yang duduk terhenyak sebab namanya disebut oleh gadis gempal itu. Ia menatap Rahmi sejenak lalu memandang Alfres.


"Ya, Ichi... majulah." pinta Alfres.


Ichi menghela napas dan melangkah dengan malas memasuki arena. Ia menatap Rahmi yang telah dipakaikan pelindung tubuh oleh Alfres. Gadis itu menggeleng saat sepupunya itu hendak memasangkan pelindung tubuh kepadanya.


"Pakailah Ichi." tegur Alfres. "Aku nggak mau Kak Azizah menganggapku tak menjagamu dengan baik."


"Benda ini hanya akan menghalangi gerakanku." kilah Ichi yang tetap kukuh menolak mengenakan pelindung tubuh.


Alfres menyerah dan memilih tak mendebat sepupunya yang keras kepala itu. Ia menatap kedua kontestan. "Kalian siap?!"


"Haaaaaithhh...." seru Ichi dengan keras seraya memasang kuda-kuda.


"Hiaaat!!!" balas Rahmi yang juga memasang kuda-kuda.


"Ya! Mulai!" seru Alfres.


Tiba-tiba Ichi menerjang sambil memutar dan mengayunkan tendangan twieo dwi chagi yang langsung menghantam bagian dada Rahmi.


BUAGHHHH...


UHHHHHHHUKHHHH...


Rahmi hanya bisa tersentak dan tak mampu melakukan apapun sebab gerakan Ichi begitu cepat. Gadis itu terlempar dan menubruk sebagian santri yang menonton lalu terbaring tanpa bisa bangkit lagi. Gadis itu pingsan.


Semua santri melongo melihat pameran kekuatan itu. Bahkan Ustadz Gau sendiri bangkit dari kursinya, kaget melihat begitu mudahnya Ichi mempingsankan lawannya hanya dalam satu serangan. Hanya Alfres, Faisal dan Ishak yang tak terkejut dengan kemampuan yang dilakukan gadis itu.


Alfres hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala lalu maju dan menegur Ichi. "Kau ini nggak memahami prinsip bertanding." celanya.


"Aku memang tak suka pertandingan." balas Ichi dengan lirih seraya menatap sepupunya. "Perempuan ini tak memahami kekuatan dan kelemahannya sendiri."


Ishak bertepuk tangan seketika. "Bravo!!! Marvelous!! Marvelous!!!" seru Ishak memuji, meniru kalimat-kalimat yang diucapkan Jarjit Singh, salah satu karakter dalam film Upin dan Ipin.


Ichi mendengus dan melangkah kembali ke tempatnya. Para santri serentak menggeser duduknya sedikit menjauhi gadis itu. Mereka mulai takut kepadanya. Gadis itu tak perduli. Alfres menghela napas dan menyuruh salah satu santri melepaskan pelindung di tubuh Rahmi yang pingsan. Dua orang santri dikawal oleh dua orang senior menggotong Rahmi ke kamarnya. Indah akhirnya ikut menemani mereka.


Alfres kembali menatap para santri. "Ada lagi?!"


Ishak memperhatikan semua santri yang diam. Lelaki itu tersenyum mengejek. Mereka pasti takut jika disandingkan dengan Ichi... aaah...banci!!!


Alfres menatap Ishak. "Kau anak baru. Majulah ke arena."


Ishak hanya tersenyum-senyum saat disebut anak baru oleh Alfres. Pemuda itu masuk ke arena dan bercakak pinggang. Alfres menatap pemuda itu dengan alis berkerut. Sombong sekali kau anak muda.


"Katakan... kau hendak bertanding melawan siapa?" tanya Alfres dengan datar.


"Bagaimana jika aku bertanding melawanmu, Instruktur?" tantang Ishak dengan senyum dikulum lagi.


Faisal mengerutkan alis. Ishak sudah mulai keterlaluan. Anak itu mulai berani mempertunjukkan arogansinya. Pemuda itu memutuskan mengangkat tangan. Alfres menatapnya.


"Ya, Faisal?" tanya Alfres.


"Saya akan bertanding melawannya, Pak pelatih." seru Faisal.


Ishak menatap pemuda itu. "Kau? Kau mau melawanku?"


Faisal memicingkan alis sejenak lalu mengangkat dagunya. "Ya. Aku menantangmu. Apa kau keberatan?" tanya pemuda itu.


Seketika terdengar sorak-sorai para santri. Mereka memang ingin melihat bagaimana kemampuan anak baru yang kelihatan sombong itu. Ustadz Gau sendiri penasaran, seberapa hebatnya anak itu, sebab ia hanya mengetahui sebatas penuturan Rahmi saja.


Ishak mengembangkan tangan. "Fine... silahkan...."


Faisal maju ke depan dan berdiri dihadapan Ishak. Pemuda berwajah chinnese itu kemudian tersenyum lalu mulai memasang gaya bertinju.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara....


ASSALAMUALAIKUM....


Wa alaikum salaaaaaammmm....


Koor suara para santri membalas seruan salam itu. Mereka menoleh kepada pemilik suara tersebut. Ichi dan Alfres terkejut.


"Abi..." seru Ichi.


"Pak Guru..." sapa Alfres.


Ustadz Gau bangkit dan melangkah menyambut lelaki parobaya tersebut. "Wololo habari?" sapanya.


"Alhamdulillah, piyo-piyohu watiya." jawab lelaki itu dengan santun. Ustadz Gau menatap tiga orang dibelakang lelaki parobaya tersebut.


"Ini siapa ya?" tanya Ustadz Gau.


"Ah, perkenalkan..." seru lelaki parobaya tersebut. "Ini dua laki-bini, Kenzie Ardiansyah Lasantu dan Istrinya, Chiyome Mochizuki Sedang yang sana adalah pengawal mereka, Saripah Hamid."


"Oom, saya sudah tak pakai nama itu lagi." Tukas Azkiya dengan lirih. "Saya sekarang sudah naturalisasi."


Laki-laki itu terkejut. "Oh ya? Namamu sekarang siapa sih?" tanya lelaki itu dengan lirih.


"Azkiya Fatrianti Lasantu." jawab perempuan itu dengan lirih.


Laki-laki parobaya itu menatap lagi Ustadz Gau. "Maafkan saya yang sudah lamur ini. Maksud saya, ini Azkiya Fatrianti Lasantu, istri Pak Kenzie Ardiansyah Lasantu." ujarnya meralat perkenalan. "Maaf... saya tak tahu kalau ponakan saya ini sudah melakukan naturalisasi, jadi saya hanya kepikiran nama jepangnya saja."


"Ooohh... tak apa-apa." sahut Ustadz Gau dengan senyum santun.


Ishak sejenak terkejut saat mendengar lelaki itu menyebut nama si wanita yang berada disamping Kenzie.


Perempuan itu... dia orang jepang????


"Kedua laki-bini ini adalah pemilik Perusahaan Buana Asparaga, Tbk yang cabangnya bergerak dibidang eksplorasi pertambangan Gunung Pani." sambung lelaki parobaya itu.



Para santriwati menatap Kenzie dengan kagum dan berbisik-bisik. Mereka membandingkan wajah lelaki itu dengan Faisal. Ustadz Gau mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Silahkan masuk. Atau anda mau sejenak menonton latihan silat anak-anak?" usul Ustadz Gau kepada Kenzie dan Azkiya.


Ustadz Gau menatap Kenzie dan lelaki parobaya itu. Si lelaki parobaya tersenyum. "Dia ingin menantang pemuda itu." ujat lelaki parobaya tersebut menunjuk Ishak.


Ustadz Gau menoleh menatap Ishak yang hanya bercakak pinggang lalu menatap Azkiya dengan ragu. "Anda yakin?" tanya pengasuh itu.


Azkiya tersenyum dan mengangguk. Ustadz Gau kemudian menyuruh beberapa santri lelaki mengambilkan kursi untuk para tamu mereka. Azkiya sendiri melangkah ke tengah arena berdiri disamping Faisal.


"Junbi wa īdesu ka, wakai otoko?*)" tanya Azkiya dengan nada datar.


*) Kamu sudah siap, nak?


Ishak hanya tersenyum. "Watashi wa koko de watashi no dōhō o mitsukeru koto o kitai shite imasendeshita..." ujarnya membuat para santri terbelalak kaget tak menyangka jika Ishak bisa berbahasa jepang dengan lancar.


(Aku nggak nyangka bisa menemukan rekan sebangsa ditempat ini)


Azkiya tersenyum datar namun dengan tatapan yang makin tajam. Ishak terkejut ketika melihat kedua mata wajuta itu memendarkan sinar kebiru-biruan.


"Karasu Tengu no shisen..." ujar Ishak menyebut nama jurus yang digunakan Azkiya. "Koga Koryu Bujutsu."


"Anata wa kyō no wakamonode wa arimasen... anata wa Edo jidai ni sunde imashita ne?" tebak Azkiya.


(Kau bukan lelaki dari jaman ini. Kau pernah hidup di jaman Edo/ era keshogunan Tokugawa. Bukankah begitu?)


Ishak tertawa sementara para santri termasuk Faisal, Afres dan Ustadz Gau bengong saja sebab mereka tak paham bahasa yang digunakan keduanya. Namun Ustadz Gau menebak, Azkiya sedang menginterogasi Ishak.


"Chīsana hanashi o oeru... anata wa watashi to tatakaitaidesu ka?" tantang Ishak dengan sikap tegap dan menudingkan telunjuknya kepada Azkiya.


"Ipah!" seru Azkiya.


Wanita yang berdiri disisi pria parobaya itu maju menenteng sebuah tongkat. Ia menyerahkan tongkat itu kepada Azkiya. Wanita itu kemudian melemparkan tongkat itu ke arah Ishak yang langsung ditangkap dengan cepat oleh Ishak. Pemuda itu menatap benda tersebut.



Itu bukan tongkat. Itu sebilah shira-zaya, yaitu pedang yang disarungkan pada sebuah warangka kayu polos yang belum dipoles dan dihias, begitu juga dengan gagangnya. Benda itu juga tak dilingkari dengan tsuba.


"Ooooo.... dakara anata wa kenjutsu de watashi ni chōsen shimashita..." gumam Ishak dengan datar kemudian menghunus pedang tersebut dan melemparkan warangkanya ke tanah. Azkiya membuka mantelnya dan terkejutlah semua santri dan pengasuh pondok pesantren itu.


Ternyata dibalik mantel itu, Azkiya memang telah mengenakan pakaian tempurnya, sebuah kaos lengan panjang dengan kerah yang panjang. Celana ketat dipadu sepatu bot panjang dan sebuah sabuk besar dengan gesper berukir pola kepala setan. Disisi kanan sabuk tergantung tas kantung berisikan beberapa bilah pisau kunai, sedang disisi kiri sabuk menggantung sebilah pedang jenis gunto.

__ADS_1



Azkiya menghunus pedang itu. "Pedang ini bernama Si Penebas Angin. Adalah warisan dari kakek buyutku... Mamoru Mochizuki." Ia mengarahkan mata pedang itu kepada Ishak.


"Aku tahu..." jawab Ishak, "Suara pedang itu terasa mengiris auraku." ia juga sejenak mengarahkan mata pedangnya kepada Azkiya, kemudian ia merubah gayanya menjadi ko gasumi lalu menjadi gaya sha no kamae.


"Kurama-Hachi Ryu... Imagawa Fujimoto Toshisada..." seru Ishak memperkenalkan nama sesuai adat shiaijo ketika hendak bertanding anggar dengan lawan.


"Koga Koryu Bujutsu... Mochizuki Chiyome..." balas Azkiya memperkenalkan nama jepangnya setelah ia menggunakan gaya o gasumi dan menjadi shin no kamae.


Semua penonton termasuk Ichi melihat dengan tegang. Selama ini gadis itu hanya melihat seni chanbara (drama pertarungan) lewat film bertema samurai atau diacara-acara Extrim Martial Art yang ditayangkan di ESPN. Namun kini ia melihat dengan mata kepala sendiri dua orang samurai yang bertanding.


Diiringi pengerahan teriakan kakegoe, keduanya maju dan mengayunkan pedang.


TRANGGGG... TRANGGGG.... TRANGGGG...


Bunyi pedang beradu dan kedua petarung itu saling menyerang memperlihatkan teknik pedangnya yang membuat semuanya terpukau. Faisal sendiri tak menyangka pemuda itu pandai pula memainkan pedang. Yanto langsung pias menyadari bahwa ternyata pemuda yang diancamnya bukanlah orang sembarangan.


Kenzie tak menyangka bahwa kehebatan bertarung istrinya bisa disamai oleh pemuda itu. Keduanya terlihat begitu imbang dan pagelaran tanding yang mereka perlihatkan begitu sarat dengan gerak estetik mirip sebuah koreografi.


"Aku tak menyangka jika Koga Koryu Bujutsu milik maituaku bisa diimbangi oleh pemuda itu dengan teknik perguruan Kurama-Hachi miliknya." komentar Kenzie dengan serius.


Lelaki parobaya itu tersenyum. "Keduanya sama-sama dari aliran Koga. Satunya melalui pembelajaran di kuil, satunya melalui warisan keluarga." jawabnya.


"Apakah... Wiffy bisa menang?" gumam Kenzie dengan cemas.


"Aku tak tahu.... vitalitas keduanya imbang." jawab lelaki parobaya tersebut.


Sementara pertarungan anggar itu masih berlangsung. Namun satu kelebihan Azkiya adalah teknik Karasu Tengu no shisen miliknya yang bisa membuat lawan menjadi lambat bergerak jika menatap mata pemilik jutsu itu. Ini memang kelebihan dari seni Koga Koryu Bujutsu yang dikembangkan pertama sekali oleh Koga Oni no Kami yang menyepi di pegunungan Suzuka setelah mengalahkan Taira no Masakado, seorang penguasa Shimosa.



Baju perang milik Koga Oni no Kami berupa baju jirah bermotif Karasu Tengu dipajang dalam sebuah ruangan khusus di Kediaman Mochizuki di Shiga, menjadi warisan sah dari setiap kepala (Katoku/Toryo) dari keluarga Mochizuki.


Azkiya dengan taktik tipuan, berhasil membuat Ishak memakan jebakan. Begitu pemuda itu maju mengayun pedang, Azkiya berkelit dan menebas tubuh Ishak. Pemuda itu tersentak kaget.


Semua santri menjerit kaget bercampur nyeri. Namun mereka kembali heran ketika melihat tak ada satupun darah yang memancar dari tubuh Ishak.


BREETTTTT....


Pakaian Ishak robek. Kaos berlengan panjang itu robek menampilkan pemandangan yang makin membuat kaget Ustadz Gau dan Faisal.



Ishak berdiri dengan tubuh bagian atas polos, menampilkan rajahan irezumi yang menghiasi tubuhnya. Ishak menunduk dan menghela napas.


"Ahhhh.... kau membuatku malu dihadapan teman-teman dan pengasuhku." cela Ishak dengan wajah kesal bercampur sesal.



Faisal sendiri terperangah menyadari tubuh pemuda itu berlekuk-lekuk sepirnya. Penampilannya semakin menambah sangar, terutama rajahan irezumi itu. Ishak mengibaskan tangannya dan memasang gaya gatotsu.


"Wah... kau mau meniru jurus Saito Hajime di film Rurounni Kenshin, heh?" tukas Azkiya.


Ishak tak lagi bermain-main. Dengan pengerahan kakegoe yang keras, ia maju dan menghujamkan mata pedangnya ke wajah Azkiya.


Wanita itu baru saja hendak menyilangkan Si Penebas Angin melindungi dadanya ketika tiba-tiba Ishak berputar mirip tornado dengan pedang yang terarah kedepan. Azkiya terkejut dan lekas membuang dirinya bersalto ke samping dan menjejak tanah dengan berlutut.


Ishak hanya menjejak sebentar lalu melenting lagi ke arah Azkiya dengan gaya yang sama. Azkiya terpaksa melompat ke udara dan bersalto lalu mendarat lagi.


"Wiffy.... kau nggak apa-apa?!" seru Kenzie dengan cemas.


"Aku nggak apa-apa, Hubby..." jawab Azkiya dengan mantap.


Wanita itu melemparkan Si Penebas Angin ke arah Ishak. Lelaki itu mengibaskan pedangnya menampar pedang yang terlempar ke arahnya itu.


TRANGGGG....


Sementara didepannya, Azkiya berdiri membuka kaki lebar, menggunakan gaya hira no gamae. Begitu Ishak maju menghujamkan pedangnya kedepan, tiba-tiba Azkiya dengan kecepatan refleks mengatupkan kedua telapak tangannya menangkap bilah pedang tersebut.


TAPPPP...


Dengan cepat Azkiya melempar kesamping dan disaat yang sama, ia mengayunkan shuto uchi menghantam batang leher pemuda itu.


DUAGH...


OOOKHHHH...


Ishak tersentak dan terjajar kebelakang. Pegangan pada pedangnya terlepas dan Azkiya, tanpa menunda waktu, maju menghujamkan beberapa pukulan teknik ippon, nakadaka dan hiraken ke beberapa titik tubuh Ishak.

__ADS_1


Pemuda itu kaget dan tak sempat menghindar sehingga menerima saja hujaman demi hujaman pukulan yang menimpa tubuhnya. Sebuah pukulan di uluhati, membuat Ishak jatuh menggeloyor ditanah dalam posisi berlutut.[]


__ADS_2