KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
LELANANG DARI MASA LAMPAU


__ADS_3

Faisal mencuci wajahnya. Beberapa kali air dalam ember itu diciduknya dan ditamparkannya ke wajah. Rasa dingin yang menggigiti pori-pori kulitnya berupaya diacuhkannya.


Apakah Ichi menyadari perkataanku barusan? Itukah sebabnya dia menodongku menemui ayahnya???


Saking terkonsentrasi menciduk air untuk mencuci wajahnya membuat volume air dalam ember itu menyusut dengan cepat dan Faisal menyadari ia tak mampu lagi membasahi wajahnya sebab keempat jemari yang digunakan sebagai cidukan sudah tak mampu mengambil jumlah air yang diinginkan. Faisal melongok kedalam ember dan mendesah sejenak lalu meletakkan ember tersebut pada tatakan.


Pemuda itu berbalik, namun langkahnya terhenti. Dihadapannya, si santri baru berwajah chinnese itu menatapnya seraya memamerkan senyum, namun Faisal merasakan tatapan itu memiliki prana yang mengintimidasi dirinya.


"Hai..." sapa si pemuda chinnese itu tetap pada tempatnya.


Faisal hanya mengangguk saja. Sejak bergabung dalam komunitas santri Alkhairaat Buntulia, pemuda itu memang irit bicara. Namun dia lebih bebas bicara dan mengemukakan ide-idenya jika berhadapan dengan pengasuh secara personal. Faisal tak pernah bicara dalam forum kecuali iika disuruh bersuara, sebagaimana kasus Ichi yang mengemukakan teori batu yang tak bisa diangkat oleh Tuhan pada pertemuan-pertemuan perdana gadis itu di diskusi mushola.


"Kamu yang namanya Faisal Husein Polontalo?" tebak pemuda itu. Faisal menghela napas dan mendesah.


"Dan kau Ishak Rompies..." balas Faisal sambil melangkah hendak meninggalkan tempat. Ketika keduanya bersisian, tiba-tiba Ishak menempelkan telapak tangannya didada pemuda itu.


TAP...


HM???


Faisal mengerutkan alis ketika Ishak menahan langkahnya. Ia mengerahkan prana untuk mendesak energi lawan yang berupaya menahan langkahnya. Ishak tersenyum tanpa menoleh.


"Bukan hanya kamu yang memiliki Ki, kawan." ujar Ishak dengan pelan.


Faisal melebarkan matanya. Ia menatap pemuda chinnese disampingnya.


"Apa maksudmu menahan langkahku, Ishak?" tanya Faisal seraya menyingkirkan tangan pemuda tersebut.


Ishak kembali tersenyum. "Aku hanya ingin mengenalmu, Faisal." kilahnya kemudian menatapi Faisal. Pemuda itu menyadari bagian iris dari kornea mata pemuda chinnese tersebut berwarna kelabu kehijauan, berbeda dengan kebanyakan orang-orang ras mongoloid yang memiliki iris coklat gelap mirip mata elang.


"Kau kelihatannya orang yang tertutup, tapi aku heran... dihadapan gadis bernama Ichi, kau begitu gampang bersuara." sindir Ishak. "Apakah perempuan itu pemutar audio voicemu?"


"Itu bukan urusanmu!" tukas Faisal dengan ketus. "Lagipula... apakah kau mengenal perempuan itu?!"


Ishak tertawa. "Faisal Husein Polontalo... ataukah kupanggil kau Faisal Husein Assegaf?" pancing pemuda itu dengan suara lirih saat menyebut marga sebelah ayah dari pemuda keturunan arab tersebut.


"Kau!!!" seru Faisal terhenyak.


Ishak Rompies terkekeh. "Bro...nggak usah terkejut begitu. Mulutmu yang melongo itu bisa kemasukan biji kaniker." olok pemuda chinnese itu.


Minat Faisal kepada Ishak langsung tumbuh. "Darimana kau tahu marga ayahku?" bisik Faisal dengan lirih, takut ketahuan orang-orang.


Keluarga Assegaf adalah salah satu dari cabang keluarga-keluarga Alawiyin (keturunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam melalui galur Alawi bin Ubaidillah yang merupakan keturunan Zainal Abidin bin Husain bi Ali bin Abi Thalib.) Keluarga ini berasal dari Hadramaut yang bermigrasi ke Indonesia pada abad ke 17 saat Vereenigde Oost-Indische Compagnie yang dibentuk oleh Johan Van Oldenbarnevelt mulai menanamkan kuku imoerialismenya di Nusantara. Panggilan bagi kepala keluarga ini apabila laki-laki disebut Sayyid, sedangkan wanitanya disebut Syarifah.



"Aku hanya membuka-buka catatan lama." jawab Ishak dengan lirih. "Lagi pula... kau mungkin tak percaya jika kukatakan bahwa kita adalah keluarga serumpun?"


Faisal memicingkan mata. "Kau seorang Ba' Alawi juga?" tukas pemuda itu dengan ragu. "Aku tak menyangka jika marga Rompies memiliki galur kekerabatan dengan keluarga-keluarga Ba' Alawi."


"Kau tak akan percaya jika kukatakan bahwa nenekku bermarga al-Jadid." ungkap Ishak kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Faisal.


"Tak mungkin!" tukas Faisal. "Marga al-Jadid sudah punah bersama-sama dengan marga al-Basri. Catatan galur dari lembaga Rabithah Alawiyah tak mungkin keliru!"


"Benarkah?" tukas Ishak, menoleh dan melemparkan senyum misteriusnya. "Kurasa kau perlu mengkaji kembali, bahkan lebih teliti dan mendalam tentang kronik marga-marga Ba' Alawi." ujarnya dengan nada mengejek lalu melangkah meninggalkan Faisal.


"Tunggu!" panggil Faisal.


Namun Ishak tetap saja melangkah santai meninggalkan pemuda tersebut.


...******...


"Ichi!!!" seru Indah, seniornya dalam bilik asrama itu. "Bangun kamu! Dasar pemalas!" teriaknya.


Ichi yang keenakan tidurnya, terganggu oleh teriakan ketua bilik itu dan perlahan membuka matanya. Ia menatap Indah dengan malas.


"Kenapa kak?" tanya Ichi dengan suara lemah.


"Bangun!" sergah Indah sembari bercakak pinggang.


Sabar, sabar Ichi... sabar... sabar...

__ADS_1



Dengan malas, gadis itu bangun dan duduk ditepi ranjang. Gadis itu menatap Indah yang menatapnya dengan tatapan bengis.


"Cepat bersihkan ruangan ini!" serunya dengan garang.


Ichi meneguk salivanya. sabar, sabar, sabar...


Gadis itu mengangguk. "Ya, kak." jawabnya kemudian berdiri dan melangkah mengambil sapu di sudut ruangan lalu mulai menyapu.


Di asrama itu, tepatnya di biliknya yang ukurannya agak lapang, tinggal tiga orang santri, termasuk dirinya. Parahnya, gadis itu dipasangkan dengan Rahmi yang merupakan seterunya dikelas. Rahmi paling doyan mengompori Indah yang ditunjuk oleh Bagian Kepengasuhan Pondok Pesantren sebagai ketua bilik. Gadis baru-baru ketahuan menyukai Faisal dan cemburu berat melihat juniornya itu dekat dengan pemuda yang dimimpikannya.


Indah melirik kearah Ichi yang masih menyapu, dengan tatapan sinis. Gadis itu menyadari tatapan kakak senior disana itu terasa begitu membencinya lewat tatapan periperalnya.


Semenjak kecil Ichi memang telah diajari oleh ayahnya, teknik menatap secara periperal yang berfungsi mendeteksi lawan tanpa harus menatap langsung kearah lawan. Tak lama kemudian, datang Rahmi.


Melihat Ichi yang dirundung seniornya membuat Rahmi tersenyum sinis dan melangkah santai kedalam dan duduk dipinggir dipan.


"Rahmi... sorong sedikit dong." pinta Ichi.


Rahmi menatapnya. "Kenapa kamu main perintah?! Suka-suka aku duduk disini!" sergahnya.


Ichi menghela napas lagi. sabar, sabar, sabar, sabar....


"Aku mau menyapu kolong ranjang." ujar Ichi dengan sabar.


"Serah looo..." balas Rahmi dengan wajah mengejek. "Aku nggak perduli."


Ichi menatap Indah yang pura-pura tidak melihat pertengkaran itu. Ichi kembali menghela napas dan menghembuskannya dengan pelan.


"Baiklah..." jawab Ichi pada akhirnya.


Gadis itu memilih tidak menyapu kolong ranjang yang membuat Indah kembali membentaknya.


"Hei! Sapu kolong ranjangnya!" perintah Indah dengan garang sambil menunjuk ranjang yang diduduki Rahmi.


"Kak, bagaimana saya bisa menyapu kolong ranjang itu jika Rahmi bergeming saja dari situ?" kilah Ichi. "Pekerjaan saya nggak maksimal." jawabnya dengan sabar.


"Alaaah.... bilang saja kalau kamu malas membersihkan ruangan." sela Rahmi menukas. Gadis itu menatap Indah yang berdiri disisi pintu sambil melipat tangannya didada. "Kak, biasa nih anak manja. Ada saja alasannya."


"Apa kau bilang? Otak kambing?" sela Indah menyergah dan langsung melangkah mendekati Ichi. "Yang kambing itu kamu!" seru Indah sambil mendorongkan telunjuknya menowel kepala Ichi. "Orang lain sementara bersih-bersih, kamu malah tidur-tiduran! Kau tahu? Rahmi sudah duluan melaksanakan bersih-bersih. Kamu saja yang belakangan dan sisanya sekarang kamu yang kerjakan!"


Ichi mengencangkan rahangnya menahan amarah yang tersulut sebab terpancing perkataan Indah yang pedas dan menusuk perasaannya. Dalam upaya mempertahankan hati, gadis itu teringat pesan ayahnya.


Jangan marah jika yang mereka hina adalah dirimu. Anggap saja itu cambuk untuk memperbaiki. Jangan gunakan tinju untuk membalas. Tinju hanya digunakan untuk menegakkan keadilan, bukan untuk mengumbar kemarahan.


Ichi memejamkan matanya dan menenangkan perasaannya. Gadis itu kemudian membuka mata dan melempar senyum. "Maaf kak, saya salah." ujarnya. "Ya, sudah... biar saya kerjakan semuanya."


Ichi kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruangan. Rahmi bengong melihat sikap seterunya itu. Tak biasanya, Ichi akan bersikap seperti itu. Semua anak-anak Alkhairaat Buntulia sudah tahu perangai perempuan itu. Sikap Ichi yang tadi menerbitkan rasa heran dan bingung dibenak Rahmi.


Dalam bekerja, Ichi kembali mengingat pesan ayahnya.


Petarung yang hebat adalah orang yang cerdik. Manfaatkan orang lain untuk meloloskan rencanamu. Kuasai mereka dengan sikap polosmu. jangan menunjukkan kepintaran dihadapan orang yang tak lebih pintar darimu...lakukan hal itu agar kau dapat membaur dalam kelompok tanpa mereka sadari.


Ichi tersenyum-senyum sendiri saat membersihkan ruangan. Indah membentak. "Kenapa senyum-senyum sendiri?! Sudah meng-meng ya?!"


Ichi menoleh kearah Indah dan kembali melempar senyum. "Nggak apa-apa kok Kak." jawabnya kembali melanjutkan pekerjaannya.


Indah menatap Rahmi. "Rahmi, awasi anak congek ini. Jangan biarkan dia istirahat sebelum ia membersihkan sisa-sisa pekerjaan ini!" titah Indah kepada perempuan bertubuh subur itu lalu berbalik dan melangkah meninggalkan bilik.


Ruangan itu menyisakan dua orang siswa sekelas itu. Ichi mengerling kearah Rahmi dan melangkah mendekati Rahmi.


BRAKKK...


Tiba-tiba Ichi membanting sapu dan melesat kearah Rahmi. Belum sempat gadis itu menghindar, jemari lentik Ichi telah berhasil mencengkeram pakaiannya dan membanting perempuan itu diranjang. Rahmi terpelanting dan menelungkup. Ichi langsung menduduki pinggul seterunya.


BRUGGG...


HMMMPPPHHH...


Rahmi baru saja hendak berteriak kesakitan ketika mulut gadis itu dibekap dan lehernya dipeluk Ichi dengan kuat sambil dijepit sehingga menggencet urat diwilayah leher membuat Rahmi merasa tercekik. Ichi mendekatkan wajahnya ke wajah Rahmi saat gadis itu berupaya meronta-ronta.

__ADS_1


"Dengarkan kata-kataku, Otak Kambing!" sergah Ichi dengan lirih dan ketus. "Kau pikir dengan memanfaatkan kedekatan kamu dengan Kak Indah, kau bisa menindasku semaumu? Jangan pernah mencoba!" ancam gadis itu.


Ichi mengencangkan bekapannya membuat Rahmi nyaris kehabisan napas. Disaat yang kritis, Ichi kemudian melepaskan bekapannya membuat Rahmi megap-megap menarik napas.


"Ichi! L****g P**i Kau!" umpat Rahmi menggila, "Kau mau membunuhku, hah?!" jerit Rahmi dengan histeris.


PLAKKK...


Tamparan Ichi kembali melayang menghantam pipi gadis itu. Rahmi menjerit dan terjengkang. Ichi mengambil kembali sapu yang dilemparkannya tadi. Sambil memegang sapu, Ichi berdiri bercakak pinggang dan menatap sangar kearah Rahmi.


"Kita berdua sudah hidup bersama dalam satu bilik, Rahmi." ujar Ichi mengingatkan. "Aku peringatkan padamu untuk tak menjilat-jilat dihadapan Kak Indah. Berani kau melakukannya lagi?" ancam Ichi sambil mengepalkan tangannya dan memperdengarkan bunyi sendi ruas jarinya yang terdengat gemeretuk.


Ichi mendengus sejenak lalu melangkah menuju pintu. Sepeninggal Ichi, gadis bertubuh subur itu berteriak histeris sambil membanting-banting gulingnya.


"Ichi! Aku sumpah akan membunuhmu!!" jerit Rahmi dengan histeris.


...******...


Lelaki itu baru saja tiba di kostnya saat gawainya bergetar. Ia merogoh saku mengeluarkan gawai dan menatap layar sejenak lalu menjawab panggilan.


📲 "Halo..." sapa lelaki itu dengan datar.


📲 "Sensei..." balas lelaki diseberang.


Lelaki itu menarik napas panjang dan menghembuskannya.


📲 "Skullen...." ujar lelaki itu menyebut nama si penelpon. "Ada apa?"


📲 "Lelaki yang dekat dengan anak anda itu bernama Faisal Husein Polontalo... itu namanya di catatan buku induk sekolah." ujar Skullen.


Lelaki itu mengangguk-angguk pelan.


📲 "Baik... cari terus informasi tentang dia." pinta lelaki itu.


📲 "Apa aku harus mondok juga?" pancing Skullen.


📲 "Untuk bisa mengenal musuh, memang harus membaur bersama mereka, Skullen." tandas lelaki itu. "Aku memberi tugas bukan untuk dikerjakan setengah-setengah."


📲 "Bisakah tugas itu anda alihkan ke Faisal saja? Kelihatannya dia lebih cocok menjadi penjaga putrimu. Apalagi keduanya sudah dekat dan terkesan saling melindungi." usul Skullen.


📲 "Kalau begitu, persiapkan saja dirimu untuk menjalani seppuku." jawab lelaki itu dengan datar.


📲 "Jangan begitu dong Sensei!" seru Skullen protes. Akhirnya orang itu mengeluh dan menyanggupi lagi. "Baiklah, baiklah... aku akan menjalani tugas ini sampai akhir."


📲 "Bagus." tukas lelaki tersebut. "Kau kubangkitkan kembali memang untuk menjalani tugas itu. Ingat Skullen... tugas ini sebagiannya adalah penebusan dosamu sendiri karena kaulah salah satu dari sebab tewasnya orang-orang berpengaruh di Banda pada insiden tahun 1621 itu."


Terdengar suara dengusan diseberang.


📲 "Apakah Sensei ingin menerbitkan terus rasa bersalahku dengan mengungkit-ungkit peristiwa itu?"


Lelaki itu tertawa pelan.


📲 "Sudahlah Skullen... kau bukan lagi Fujimoto Toshisada, putra Imagawa Norimochi. Nama itu sudah tak ada lagi. Namamu sekarang adalah Ishak Rompies bin Vincent Rompies yang mualaf... dan jalanilah hidup baru sebagai Ishak Rompies. Paham?" tandas lelaki itu.


Lama tak terdengar suara.


📲 "Skullen? Kau dengar?" panggil lelaki itu.


📲 "Ya, Sensei..." jawab Skullen.


Lelaki itu sejenak menarik napas dan menghembuskannya.


📲 "Sebagai mantan samurai, jangan pernah lepaskan rasa banggamu. Tapi jalani hidup yang baru dengan semangat lama. Insya Allah, Skullen... siapapun yang bertobat, Allah akan mengabulkan pertobatannya." jawab lelaki tersebut.


📲 "Terima kasih, Sensei." sahut Skullen dengan pelan.


📲 "Relakan lelaki dari masa lalu itu pergi. Kau sekarang adalah kau yang hidup dengan nyawa yang baru." ujar lelaki itu. "Baik, kembalilah istirahat. Besok pengintaianmu akan berlanjut kembali."


📲 "Ya Sensei. Kalau begitu saya permisi." ujar Skullen.


percakapan seluler itu berakhir. Lelaki itu menarik napas lagi sejenak dan meletakkan gawainya di nakas yang menyangga sebuah kardus kertas dimana tas kresek berisi beras logistik si lelaki selama seminggu tersimpan.

__ADS_1


Aku hanya ingin putriku aman-aman saja dalam pondok pesantren itu. Yang bisa menjalankan tugas sebagai bayangannya hanyalah kau Skullen... bukan yang lain...


Lelaki itu menghela napas sejenak lalu menghembuskannya sembari ia berbaring dikasur yang menghampar dilantai kamar itu.[]


__ADS_2