KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
MENUJU KAKI LANGIT DI UFUK BARAT...


__ADS_3

Sang ayah pergi menemui pimpinan Pondok Pesantren Alkhairaat Buntulia. Secara pribadi, sang ayah menyatakan keinginannya agar sang putri dapat menimba ilmu agama lebih intens melalui pendidikan gaya pondok, sekaligus melatih Ichi untuk adil terhadap dirinya sendiri.


Pimpinan pondok mengiyakan saja sambil tersenyum-senyum. Entah kenapa, sang ayah juga tak tahu. Namun lelaki itu bersikap sebagaimana seorang tamu.


"Nanti dipenuhi saja syarat-syaratnya." ujar pimpinan pondok pesantren tersebut mengakhiri percakapan mereka berdua. Hari itu adalah hari minggu, dimana sang ayah harus kembali menuju Tolinggula, ke tempat kerjanya.


Kedua lelaki itu bersalaman dan sang ayah mohon pamit. Mereka bertemu digerbang.


"Bagaimana?" tanya Ichi.


Sang ayah menatapnya sejenak. "Abi masih mengupayakan syarat-syaratnya. Kamu pergilah belajar." ujarnya kemudian melangkah menuju sepeda motornya yang terparkir disisi jalanan SIS al-Jufri.


Ichi mengejar dan menjajari ayahnya yang telah menaiki kendaraan dan menyalakan mesinnya.


"Abi akan langsung meluncur?" tanya Ichi. Mendadak rasa rindunya muncul terhadap sang ayah.


Sang ayah tersenyum, "Nggak. Singgah dulu dirumah ngambil ransel lalu meluncur." jawabnya. "Kamu baik-baik ya? jangan aneh-aneh lagi." pesannya, "Kalau bertanya itu mbok ya dipikir dulu. Kalau pertanyaannya agak nyeleneh sebaiknya alamatkan ke Abi saja. Nanti kita cari bersama jawabannya."


Ichi mengangguk-angguk mantap sambil tertawa kecil. Seperti biasa keduanya melakukan toss five dan Ichi mencium punggung tangan ayahnya.


Bebek besi itu membawa tubuh ayah meluncur meninggalkan komplek Alkhairaat. Ichi menarik lagi napas panjang dan melangkah memasuki gerbang. Langkahnya terayun kembali menyeberangi lapangan sekolah, melewati gazebo dan tiba dikelasnya.


Begitu memasuki kelas, Ichi menjumpai Reva yang baru saja hendak keluar. Keduanya berpapasan.


"Tumben diantar." celetuk Reva.


"Alhamdulilah sih." jawab Ichi, "Hitung-hitung hemat ongkos."

__ADS_1


"Siapa tuh?" tanya Reva.


"Bokap aku, masa' nggak kenal?" tukas Ichi dengan kesal.


"Ooo... kukira pacar." ujar Reva senyum cengengesan.


"Hellooo... aku nggak punya pacar. Kali saja kamu kelles." kilah Ichi kembali melangkah menuju bangku dan meletakkan tasnya dalam laci meja.


"Aaahhh... sok bersih kamu." tukas Reva kemudian tertawa. "Apa kamu pikir aku nggak tahu sepak terjang kamu?"


Ichi menoleh. "Sepak terjang? Memangnya aku pemain sepak bola apa? Pake istilah sepak terjang segala."


Reva tertawa. "Memang. Kamu itu spesifikasi gelandang." tukasnya.


"Aku nggak ngerti." ujar Ichi.


"Gelandang... gelandang cinta!" olok Reva kembali tertawa.


"Sebentar sore nggak ada acara, kan?" pancing Reva.


"Nggak. Tapi kalau mau ngajak, aku harus minta ijin Umi dulu." tukas Ichi. "Mau ada acara?"


Reva mengangguk. "Santai-santai saja di Pohon Cinta." ujarnya. "Sepupuku lagi merayakan ulang tahun. Dia bilanv, aku boleh mengundang teman-teman. Ya, aku undang kamu."


"Cuma aku?" tanya Ichi.


"Ya,nggaklah." tangkis Reva, "Teman se-genk juga ada."

__ADS_1


"Oh, kalau begitu nanti aku minta ijin sama Umi." ujar Ichi dengan semangat. "Semoga saja diijinkan."


...******...


Sang ayah mengistirahatkan tubuhnya disebuah rumah makan sederhana yang menyediakan pelayanan ala prasmanan. Sebagai pelahap makanan, tentu dia tak banyak pilih-pilih menu. Hanya saja, akhir-akhir ini sang ayah mulai sering menghindari daging, terkecuali daging ayam. Produk hewani selain daging yang dikonsumsinya hanyalah telur matang yang diolah entah dengan digoreng atau direbus. Selebihnya, sang ayah hanya mengonsumsi sayur mayur, menyaingi jumlah gundukan nasi yang menggunung dipiringnya.


Sesekali tatapannya terarah ke layar gawai, memeriksa pesan masuk apakah lewat SMS atau aplikasi chatting dan media sosial. Akhirnya setelah menelusuri seluruh aplikasi yang ada pada gawainya, sang ayah beralih ke youtube dan memutar film yang sudah diunduhnya sambil terus menikmati makanannya.


Lima belas menit waktu yang dihabiskan untuk makan dengan porsi dua piring gunungan nasi dan lauk pauk, setelah itu dilanjutkan dengan santai sedikit mendinginkan mesin kendaraan yang masih mendidih akibat perjalanan jauh. Ia masih tetap menonton tayangan film itu meski baterai telah menunjukkan kapasitas listriknya yang tinggal 50 persen.


Setelah dirasa cukup waktu jeda untuk menurunkan isi perut dari lambung menuju usus dua belas jari dan usus halus, Sang ayah kemudian bangkit sembari menonaktifkan semua aplikasi dalam gawainya dan menyimpannya disaku. Ia melangkah santai menuju kasir dan membayar semua isi prasmanan yang disantapnya barusan.


Lelaki itu kemudian keluar dari rumah makan itu dan duduk didepannya. sang ayah menatap tangan dan kakinya lalu mengelus perut dan pahanya. Ditengah ringis menahan pegal yang menghantam serat-serat ototnya, sang ayah hanya tersenyum dan mengangguk-angguk sendiri.


Wahai tubuhku.... aku tahu kau lelah... lelah dengan keadaan ini....


Sang ayah sekali lagi meringis sendiri dan memijit-mijit telapak kakinya.


Tetaplah bersabar....


Tugasmu belum selesai.


Tanggung jawabmu masih banyak....


Setelah membatin sejenak, Sang ayah kemudian bangkit melangkah menuju kendaraannya yang terparkir.


"Ayo Blackie... kita harus tiba di Tolinggula sebelum maghrib." ujarnya berdialog dengan kendaraannya, seakan angsa besi itu bisa memahami kata-katanya. Sejenak lelaki itu mengusap-usap bagian kepala kendaraan itu kemudian menarik penyangga dan menaiki sadelnya.

__ADS_1


Terdengar kemudian suara deru kendaraan ketika sang ayah menghentakkan tonggak startnya. Sejenak sang ayah memeriksa segalanya yang melekat dikendaraan itu termasuk tas ranselnya. Setelah itu, perlahan ia menarik gas dan Blackie, si bebek besi beroda dua itu mulai bergerak melaju membawa Sang ayah meninggalkan lokasi tersebut.


Waktu telah menunjukkan pukul 14.38 []


__ADS_2