KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
PERBURUAN


__ADS_3

Rusli mengerang saat mengganti perban luka. Punggungnya menampakkan luka robekan yang memanjang dari pundak kanan ke pinggang kiri. Namun luka robekan itu tipis saja mengisyaratkan pelaku tidak punya niat menghabisi melainkan hanya untuk mendesak Rusli agar menjauhi korbannya.


Kedua mata lelaki itu membara merah menatap cermin. Siapa orang berpakaian serba hitam dan menyandang pedang lengkung itu? Otak lelaki itu serasa hendak meletus memikirkan tentang si pembokong itu.


Aku sumpah akan menemukannya nanti... disaat itu ia akan berharap bahwasanya ia lebih baik tak dilahirkan....


Rusli mendongak dan meraungkan kekesalannya.


AAAAARRRRRRGGGHHHHH.....


...******...


Esoknya, teman-teman sekelas Ichi menjenguk gadis itu. Kicauan mereka terdengar ramai bagai .-burung peapata yang beterbangan mencari makanan keluar dari edible nest. Ribut bukan kepalang sampai-sampai seorang perawat masuk menegur mereka agar lebih tenang.


Ichi menatap Wafiq. "Bagaimana pembelajaran di kelas?"


Wafiq hanya geleng-geleng kepala dan berdecak, "Chi, chi... kamu ini... masih kena musibah kok bisa-bisanya malah nanya pelajaran." gerutu gadis itu.


Ichi hanya menyengir saja. "Habis aku mau nanya apa?"


Fira terkekeh. "Heran nih si Ichi. Kamu itu studyholic ya?" sindir gadis tersebut.


Fathan mendehem, "Bagaimana keadaanmu?" selanya dan seketika disambut koor, "Huuuuuuuuuu...." oleh teman-teman gadisnya.


Fathan mengembangkan tangan. "Lho? aku ngapain? masa cuma nanya kabar teman saja di sorakin?" protes pemuda itu.


"Aaah, bilang saja kamu tu mau modusin Ichi, iya kan?" tukas Rosna.


Ichi menatap Fira, "Tumben kok Reva nggak muncul? lagi kemana?"


"Yeee... mana aku tahu?" tangkis Fira.


Dari pintu muncul Reva yang membawa sekantong buah-buahan yang dibelinya di stan-stan buah.


"Kenapa nanya-nanya aku?" tukas Reva lalu tertawa. "Kangen ya?"


Ichi tertawa, "Iya, kangen."


"Sialan kamu!" umpat Reva sembari tertawa dan meletakkan buah-buahan itu di nakas. "Nih, untuk kamu."


Namun belum sempat Ichi menengok, buah-buahan itu sudah diserbu teman-temannya. Ichi dan Reva hanya hisa melongo sejenak.


"Va... lain kali jangan beli buah." tegur Ichi dengan lirih memperhatikan teman-temannya yang asyik menikmati buah-buahan itu.


"Memangnya kenapa?" tanya Reva.


"Aku kuatir... mereka akan menjelma menjadi kelelawar buah." bisik Ichi menatap Reva lalu mengangguk-angguk.


Reva tertawa mendengar ujaran temannya itu. "Kamu bisa saja."


Sementara asyik memperhatikan teman-temannya yang merampas dan menjajah buah-buahan yang semestinya diberikan Reva kepadanya, Ichi justru berbisik lagi.


"Asna bagaimana kabarnya?" tanya Ichi.


"Baik. Dia sudah kembali ke Gorontalo... kerja lagi." jawab Reva.


"Kalau Rusli?" tanya Ichi.


"Kurasa sudah menyusul pacarnya ke Gorontalo." jawab Reva, "Lagipula, ngapain dia disini?"


Ichi mengangguk-angguk pelan. Reva mencoleknya. "Kamu kenapa nanya-nanya Rusli?" gadis itu menggodanya dengan lirih. "Tertarik ya?"


Ichi tertawa pelan lalu menggeleng. Reva tersenyum, "Hati-hati, jangan minati pacar orang..." tegur Reva, "Bukan Ruslinya yang perlu kau kuatirkan, tapi Asna bsa ngamuk-ngamuk ke kamu kalau kau berani lirik pacarnya."


Ichi menatap Reva dan membatin, Justru Rusli yang harus kau kuatirkan Reva. Dia bajingan, predator ****...


Ichi mendehem sejenak, "Ehm... tapi Rusli dengan kamu, hubungannya baik, kan?" pancing Ichi.

__ADS_1


"Hingga sekarang ini, baik." jawab Reva.


Ichi tersenyum lalu menyapu punggung tangan sahabatnya. "Alhamdulilah... aku bersyukur untuk itu." jawab Ichi dengan pelan.


"Kamu itu bicara kayak Rusli punya masalah saja sama kamu." tukas Reva sambil tersenyum lebar.


Ichi tersenyum, Memang dia punya masalah sama aku Va. Tapi aku tak akan bilang sama kamu. Ini masalahku dengan dia....


"Ya sudah. Aku senang kamu baik-baik saja." kata Reva balas menyapu lengan Ichi.


Ichi mengangguk-angguk cepat lalu mengembangkan senyumnya. Reva balas mengangguk dan tertawa kemudian menatap teman-temannya yang asyik ngobrol sambil memakan buah-buahan itu.


"Ayo kita balik ke sekolah." ajak Reva. "Pak Maman hanya kasih kita waktu sejam lho." sambungnya sambil memperlihatkan jarum jam pada arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Waduh..." seru Wafiq lalu mengomando teman-temannya, "Pasukaaaaan... pulaaaang, grak!" serunya.


Seketika kumpulan teman-temannya membentuk barisan lalu bergerak keluar setelah melambaikan tangan ke arah Ichi. Gadis itu tertawa lagi sambil membalas lambaian tangan teman-temannya.


Reva yang berada dibarisan terakhir sempat-sempatnya mengecup telapak tangannya dan melambaikan tangannya ke arah Ichi. Serta merta Ichi tertawa lagi dan berisyarat menangkap sesuatu diudara dan dielusnya ke dada.


Reva tertawa lalu melambaikan tangannya dan dibalas oleh Ichi. Akhirnya ruangan itu sunyi kembali dan Ichi menghela napas panjang lalu menghembuskannya pelan. Dipandanginya nakas, tas berisi buah-buahan yang tandas sudah. Gadis itu tersenyum dan melongok kedalam tas. Sekali lagi ia tersenyum ketika menyadari ada sebuah jeruk yang tersisa disana.


Ichi merogoh tas kresek itu mengeluarkan buah jeruk dari sana. Ia mengupasnya dan mulai mencicipi satu persatu belahan daging jeruk itu. Sesekali ia berdecap-decap merasai asam yang melumeri dria pengecapnya diiringi oleh kedipan silih berganti kedua matanya.


Setelah menghabiskan jeruk itu, Ichi kemudian merebahkan dirinya kembali ke kasur tersebut. Tatapan matanya mengarah ke jendela yang terbuka. Tirai itu melambai dan sesekali berkibar dihembus angin.


...*******...


Sang lelaki itu sedang mengajar di kelas 8A, membahas tentang perkembangan teknologi dalam sejarah islam. Tiba-tiba salah satu siswa mengangkat tangan.


"Ya Arif?" ujar lelaki itu.


"Pak Guru... tadi Bapak sudah menjelaskan berbagai teknologi terapan yang muncul pada jaman keemasan kekhalifahan-kekhalifahan islam dari Abad ke 13 hingga abad ke 19." ujar pemuda gemuk bertubuh pendek itu. Lelaki itu menyimak saja ujaran anak itu. Arif melanjutkan, "Menurut Bapak, penemuan atau fakta ilmiah apa yang dapat meruntuhkan sebuah keyakinan akan eksistensi Allah yang dapat mengakibatkan umat manusia tak akan menganut agama apapun?"


Lelaki itu tertawa sejenak lalu menatap ke arah halaman sekolah. Setelah puas memandangi anak-anak yang melaksanakan praktek penerapan permainan badminton yang diajarkan Pak Erwin, lelaki itu kembali menatap anak pendek gemuk itu.


"Kamu kalau bertanya semacam ini kepada ayahmu, atau mungkin ibumu... pasti kamu sudah kena tempeleng." ujar lelaki itu menyimpulkan, membuat Arif hanya bisa menyengir dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Tapi saya ingatkan, jawaban saya ini hanya berdasarkan asumsi dan hipotesa saja. Jangan terlalu dianggap serius ya?" ujar lelaki itu dengan senyum terkembang.


Sejenak, lelaki itu mendehem lalu mulai menjawab.


"Merujuk pada pertanyaan ini, bisa jadi ada tiga peristiwa atau temuan yang akan meruntuhkan keyakinan manusia akan eksistensi Allah." ujarnya mengamati lagi sebagian wajah anak-anak yang serius dan sebagian lagi terkesan malas karena memang tak tertarik dengan bahasan sejarah.


"Yang pertama adalah bangkitnya mummy dari kematiannya. Dari sini kita akan banyak menggali informasi dari mummy yang bangkit tadi, tentang pengalamannya selama ia berada dalam status 'mati'." ujar lelaki itu sembari menjentikkan dua jari di dua tangannya ke depan.


"Yang kedua, ditemukannya sebuah resep atau metode yang dapat mencegah kematian sehingga manusia bisa memiliki usia yang panjang hingga ribuan tahun.... dan yang ketiga adalah kemandirian umat manusia dalam bertahan hidup tanpa bergantung pada bahan organik, dalam hal ini makhluk hidup lainnya." tandas lelaki tersebut.


"Contoh dari hal itu, Pak?" tuntut Arif.


"Misalnya kita mampu mengubah segala bahan anorganik menjadi bahan organik dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup kita... " ujar lelaki tersebut seraya mengembangkan tangan.


"Maksudnya?" tanya Riski Panipi yang bingung.


"Misalnya kita bisa merubah seonggok pasir menjadi seonggok nasi, atau kita bisa merubah batu bata menjadi sebalok roti.... jika itu berhasil, maka..... kita tak perlu membutuhkan Allah untuk meminta rezeki..." jawab lelaki itu.


Semua siswa menjadi ribut mendengar penuturan guru itu. Si lelaki kemudian mengangkat tangan. "Halloooo?..."


"Haaaaiii..." sahut para siswa.


"Sekarang aku yang akan mencoba analisis kalian." tukas lelaki itu.


Ia tersenyum-senyum sejenak lalu mulai bertanya.


"Jika dimasa depan, robot telah memiliki fisik seperti kita, dan juga kesadaran diri, apakah kita dapat memposisikan mereka sama derajatnya seperti kita?" pancing lelaki itu.


"Seperti film Terminator, pak?" tanya Agil Harun.

__ADS_1


"Ya, seperti itu." ujar lelaki tersebut. "Apakah mereka sudah bisa disederajatkan dengan kita?"


"Waaah... jangan pak!" tandas Revalina Suluta.


"Mengapa?" pancing lelaki itu lagi.


"Pokoknya jangan!" seru yang lainnya.


Lelaki itu tersenyum lalu menukas, "Intinya kalian tetap tidak mau disamakan dengan robot-robot itu?"


"Iya pak, nanti kayak jadi Ultron." ujar Rengga Marupa.


Lelaki itu tertawa, "Kok malah bahas film Marvel sih?"


"Nggak begitu pak." kilah Rengga, "Sekarang kita kan sudah punya android, sistim itu mengadopsi kecerdasan buatan tipe dasar yang melayani segala kebutuhan kita. Bukan tidak mungkin ketika kecerdasan buatan ini ditingkatkan justru malah membunuh kita."


"Kira-kira jenis apa lagi yang semacam dengan itu?" pancing lelaki tersebut.


"Film The Planet of the Apes!" sahut Wahdaniyah Otoluwa.


Lelaki itu mengangguk-angguk lalu menekan tombol pada alat proyektor. Cahayanya menyorot ke whiteboard didepan kelas, memperlihatkan sebuah gambar.



"Kalian kenal makhluk ini?" pancing lelaki tersebut.


Sontak semua siswa kelas 8A itu menggeleng. Lelaki itu mengangguk lagi kemudian menjelaskan.


"Ini adalah prototip cyborg bernama Shopia." ujar lelaki itu kembali menatap para siswa. "Awalnya, Sophia dianggap sebagai robot moderen dan cerdas sebab memiliki perasaan, ekspresi dan keinginan untuk berkeluarga sebagaimana layaknya manusia..."


"Wah, hebat dong..." komentar Riyal Madya. "Aku mau juga robot kayak gini."


Sontak ujarannya disambut sorakan huuuuuuuu yang koor nan panjang oleh para siswa, terutama siswa perempuan sedangkan Riyal hanya tersenyum masam saja.


Lelaki itu tersenyum dan mengangkat tangannya menyuruh para siswa untuk tenang. Ia kembali menjelaskan.


"Lama-lama, Shopia memiliki perasaan ambisi seperti juga manusia dan tahukah kamu, apa ambisi terbesarnya?" pancing lelaki itu.


"Menghancurkan umat manusia!" tebak Arif.


"Benar!" seru lelaki itu menjentikkan jari. "Itulah sebab, proyek Sophia masih kembali dikaji ulang oleh para ilmuwan. Sebab, kecerdasan dan kemampuannya dikuatirkan akan menjadi simalakama bagi umat manusia." tandas lelaki tersebut.


Para siswa kembali ribut membahas tentang prototip robot itu. Lelaki itu mengangkat tangannya kembali.


"Jadi, jika dimasa depan robot telah memiliki kesadaran diri, ditambah fisik seperti manusia, apakah kita bisa memposisikannya sama seperti kita?" pancing lelaki itu.


Sontak para siswa menjawab, "BERBAHAYAAAA!!!!"


Lelaki itu tertawa lalu berujar, "Baik, pembelajaran hari ini kita tutup sampai disini, Insya Allah kita akan ketemu lagi seminggu lagi dipertemuan akhir semester ini... Assalamualaikum wa rahmatullahi wa baraqatuh..." seru lelaki itu menutup kegiatan pembelajarannya.


"Wa alaikum salam wa rahmatullah wa baraqatuh!!!" balas para siswa dan mereka pun berhamburan keluar sebab disaat itu terdengar bunyi deringan bel dari kantor dewan guru.


Lelaki itu merasai getaran gawai pada sakunya. Ia merogoh mengambil benda itu dan memeriksa layar sentuhnya. Lelaki itu kemudian mendekatkan benda itu ke telinganya.


📲 "Halo...." sapa lelaki itu dengan pelan.


📲 "Kami sudah menemukan orang itu." ujar suara lelaki diseberang. "Kelihatannya, dia termasuk anak orang berkedudukan penting di wilayah ini."


📲 "Kita hanya melakukan gertakan." ujar lelaki itu. "Jangan bawa nama Apocalyps... gunakan nama lain."


📲 "Bos, alangkah baiknya jika kita tetap membawa nama Apocalyps... ini juga penting untuk memancing Apocalyps lainnya untuk mencari anda." usul suara lelaki diseberang itu.


📲 "Ingat! Jangan pernah melakukan hal sembrono! Aku yakin para Apocalyps lainnya hanya menunggu aku menampakkan diri. Kami sudah sepakat untuk menghilang dari peredaran dunia. Itulah sebab aku meminta kamu bertindak atas namamu sendiri..." ujar lelaki itu dengan pelan tapi ketus, "Jika kau membawa nama Apocalyps, aku yakin, haqqul yaqin... Divine, Orchido dan Pyro juga akan muncul untuk mencegatku! kau paham?!"


📲 "Baiklah bos. Terserah anda saja. Aku akan menggunakan namaku sendiri, tapi... apakah target ini akan kau jumpai secara pribadi?" pancing orang diseberang itu.


📲 "Ya... aku hanya akan meminta sedikit sedekahnya." ujar lelaki itu. "Dan kau, lakukan cara bagaimanapun untuk menghalangi mereka mencari keberadaanku. paham?!"

__ADS_1


📲 "Paham bos!" jawab orang itu.


📲 "Lakukan tugasmu!" ujar lelaki itu kemudian memutuskan pembicaraan seluler dan menyimpan kembali gawainya disaku kemudian ia melangkah meninggalkan kelas itu.[]


__ADS_2