KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
SERENDIPITY = TAKDIR + KARMA


__ADS_3

Lelaki itu berbaring menelentang, tatapannya menghujami langit-langit kamar. Azizah berbaring menyandarkan kepalanya dipangkal lengan dekat ketiak suaminya. Lengannya melingkar ditubuh gempal lelaki itu yang posturnya mirip beruang tersebut.


"Umi..." gumam laki-laki itu.


Azizah menengadahkan wajah menatap wajah suaminya. Lelaki itu tak menatapnya, ia tetap setiap pada pandangannya di langit-langit kamar itu.


"Sudah dua belas tahun usia pernikahan kita." ujar lelaki itu dengan pelan. Azizah memperbaiki posturnya, kali ini menelungkup, naik ke tubuh lelaki berpostur mirip beruang tersebut. Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar ke wajah istrinya.


"Sudah berapa banyak bumbu kehidupan yang kita rasai?" tanya lelaki itu.


"Wah... banyak, Abi." sahut Azizah dengan senyum.


Lelaki itu manggut-manggut. Azizah teringat akan sesuatu. "Abi..." panggilnya.


Lelaki itu menggumam, menjawab panggilan istrinya.


"Aku tadi siang, baca-baca artikel." ujar Azizah.


"Terus?" sahut lelaki itu.


"Aku menemukan sebuah istilah... kelihatannya bahasa asing tuh..." ujar Azizah mengingat-ngingat. "Apa ya? Hmmm... Serenada? Hmm... bukan, bukan... hmmm... Serenity... uhm.. bukan..."


"Serendipity..." tebak lelaki itu.


"Lho? Kok tahu? Abi hebat ya?" puji Azizah.


"Artinya, keberuntungan... kalau di ibaratkan dalam bahasa Gorontalo... mirip dengan kata Lalahunga..." jawab lelaki itu.


"Masa iya sih?" tukas Azizah tak percaya.


"Serendipity... itu istilah dalam bahasa Inggris yang artinya kebetulan... beda dengan istilah Lucky yang berarti keberuntungan." jawab lelaki itu.


"Belum paham aku, Bi." tuntut Azizah.


"Serendipity sebenarnya adalah pengalaman hidup yang tidak kita duga namun akhirnya menguntungkan kita secara kebetulan." jawab lelaki itu. "Atau bisa didefinisikan sebagai sebuah kesempatan yang berakhir bahagia, meski membuat hidupmu berubah."


"Contohnya apa?" tanya Azizah.


"Contohnya penemuan Penisilin oleh Alexander Fleming." tutur lelaki itu. " Secara kebetulan dia melihat jamur di cawan petri membunuh bakteri disekitarnya. Dari situlah lahir penemuan tentang Penisilin."


"Itu kan untuk obat-obatan... kehidupannya... contoh dari kehidupan itu apa?" tanya Azizah.


"Ya... seperti kisah percintaan kita." cetus lelaki itu pada akhirnya sambil tersenyum.


"Kok, baliknya ke kita, sih?" protes Azizah.


"Kamu ingat bagaimana cara kita ketemu pertama kali?" pancing lelaki itu.


Azizah tertawa pelan. "Waktu itu Abi muncul dengan Si Qadir, nyari adikku yang kemarinya dihukum berat sama pimpinan Ponpes Hiddentulen..."


Lelaki itu tertawa. Kenangan itu melintas lagi. Istilah Hidentullen adalah kata yang diciptakannya berawal dari kegiatan perkemahan antar kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2007 kemarin di lapangan di desa Botubilotahu.


Malam itu banyak sekali tamu yang berkunjung, terutama dari kaum hawa. Namun pimpinan pondok yang hipokrit itu melarang dengan alasan bukan muhrim. Dengan kesal, laki-laki itu memarahi kepala sekolahnya yang masih terhitung temannya karena tingkah kepala pondok yang dinilai sok mengedepankan nilai-nilai islam. Akhirnya nama gugus yang sebenarnya bernama Hidayatullah, dirubah sendiri oleh lelaki itu dengan nama Hiddentulen.


"Kamu pernah cerita waktu itu, di perkemahan kamu muncuk dikejar-kejar oleh laki-laki yang naksir kamu..." ujar laki-laki itu mengungkit kenangan tersebut.


"Aku sembunyi ditenda Alkhairaat untuk memastikan orang itu tak lagi mengejarku." sambung Azizah tersenyum.


"Dan disaat yang sama, aku ketiduran di tenda, padahal ada janji ketemuan sama anak SMU 1." sahut laki-laki itu lagi.


"Siapa namanya?" pancing Azizah.


"Lupa..." jawab laki-laki itu singkat. "Peristiwa dua belas tahun itu nggak semuanya kuingat. Memangnya aku bank data?"


Azizah memanyunkan bibirnya. "Uhm... aku tahu, kamu masih hafal namanya, tapi kau pura-pura saja lupa." tukasnya.


"Te uwola tiii..." ujar laki-laki itu tersenyum. "Aku beneran lupa, bukan pura-pura..."


Azizah hendak melengos namun wajahnya langsung ditangkap lelaki itu. "Mau kemana?"


Azizah hanya mendengus hendak melengos lagi. Lelaki itu gemas dan langsung merubah posisi menindih istrinya. Azizah berupaya meronta namun tak bisa melepaskan jepitan tangan suaminya.


"Jangan lakukan!" sergah Azizah dengan ketus tapi lirih.


"Memang aku mau lakukan apa sama kamu?" ujar lelaki itu. "Aku hanya ingin menyamankan diri dengan gaya ini. Siapa tahu ditengahnya nanti barangku bereaksi, kan tinggal nyoblos saja."


Azizah mendengus lagi. Lelaki itu tersenyum. "Kamu tahu?"


"Nggak!" jawab Azizah lirih dan ketus.


Lelaki itu tak perduli. Dia kembali berkisah. "Lalu, aku punya cita-cita ingin menikah di usia dua puluh lima. Namun entah kenapa itu tak terjadi. Aku terus memikirkan kehidupanku hingga menemui masa kritis, yaitu kematian ibu angkatku."


Azizah kali ini mendengarkan dengan penuh minat. Lelaki itu kembali berkisah sambil membelai-belai bagian pribadi istrinya.


"Aku kemudian ke Marisa dan nyantri di Pondok Pesantren Hiddentulen... keinginanku untuk menikah tidak surut." ujar lelaki itu.


"Ya... sssssshhhh.... dan Abi... di jodohkan... dengan perempuan...ssshhh... dari asrama putri..." sahut Azizah tanpa sadar mendesis secara reaktif sebab bagian pribadinya mulai dipermainkan oleh suaminya.

__ADS_1


"Ya... tapi entah kenapa aku tak tertarik." jawab lelaki itu sembari melakukan foreplay. "Sepupu kamu lalu itu... merekomendasikan kamu ke aku, paska kegiatan perkemahan itu..."


Azizah mengerang halus. Ia mulai memasuki fase kenikmatannya. Si lelaki terus berkisah. "Lalu adikmu dipukili pimpinan Pondok dan aku di ajak Qadir mengunjungi rumah kamu..."


Azizah mendengus pelan dan lelaki itu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia tahu kalau istrinya sudah benar-benar terstimulasi. Segera dipinggirkannya sisi cawat, mengeluarkan batang lelanangnya dan perlahan disarungkan kedalam liang peranakan istrinya.


Azizah menggeram pelan saat suaminya mulai menggenjotinya perlahan-lahan. Si lelaki terus berkisah.


"Sepanjang jalan setelah pertemuan itu, Si Qadir selalu menceritakan tentang kamu padaku...dia lalu menawarkan diri menjadi comblang..." ujar lelaki itu mulai menaikkan intens genjotannya.


"Dan dia... merealisasikannya..." ujar Azizah dan ia menggeliat dipermainkan berahinya.


Lelaki itu terus melakukan hantaman dan tubrukan yang berirama hingga akhirnya ia pun mencapai titik puncaknya. Lelaki itu menegakkan tubuhnya sejenak lalu rubuh perlahan dan menyangga tubuhnya pada hamparan kasur agar tak menindih Azizah yang juga telah kelelahan.


"Sebuah kebetulan... kan?" tukas lelaki itu dengan senyum.


Azizah hanya kembali tersenyum lalu mengangguk pelan.


...******...


Ishak telah mendengarkan penangguhan Selina atas lamatan tersebut dari gurunya, Si Sesat Barat. Pemuda itu mengangguk-angguk paham saat lelaki berpostur beruang itu menjelaskan semuanya sesuai dengan apa yang didengarkannya dari Kenzie dan Azkiya.


📲 "Kuharap kau bisa paham perasaan perempuan itu." ujar lelaki tersebut.


Ishak mengencangkan rahangnya sejenak. Hembusan nafasnya terdengar jelas.


📲 "Kamu jangan marah sama dia, Skullen!" tegur lelaki itu menegaskan kalimatnya. "Kamu sendiri yang membuat masalah. Jadi aku ingin kau menyelesaikan masalahnya tanpa membuat masalah yang baru. Paham!"


Ishak dengan terpaksa mengangguk.


📲 "Ya... Sensei..." jawab pemuda itu pada akhirnya.


📲 "Bagus..." ujar lelaki itu. "Hadapi dengan baik!"


📲 "Ya... Sensei..." jawab Ishak lagi.


Percakapan seluler itu berakhir. Ishak menyimpan gawainya. Pemuda itu kemudian berbaring dan akhirnya mengistirahatkan fisiknya.


...*****...


Selina, seperti biasanya kembali beraktifitas disekolah. Teman-temannya menyambutnya sebagaimana biasanya.


"Aku dengar... kau bertengkar dengan Aldi." cetus Utari tiba-tiba saat mereka kongkow dalam kelas.


Selina hanya tersenyum datar saja menanggapi ucapan sahabatnya. Utari mencoleknya. "Benar?"


Selina mengangguk pelan. Utari menutup mulut dan menatap teman-teman yang lain. Siska ikut nimbrung menginterogasi.


Lagi-lagi Selina mengangguk. Teman-temannya menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub. Intan yang kepo mendekatkan wajahnya ke Selina.


"Kudengar... Ishak, anak kelas X itu ada juga disana. Benarkah?" selidik Intan lagi.


Selina mengangkat alisnya dan meringis. "Rupanya sudah viral ya?" desahnya.


Intan langsung mengeluarkan gawai dan memperlihatkan tayangan video singkat tentang pertengkaran itu. Selina kembali menghela napas.


"Yaaahhhh... benar... dia ada disana." ujar Selina mengakui.


"Eh, ngomongin tentang Ishak..." ujar Listri. "Dua malam yang lalu, diadakan praktek tanding silat oleh Kak Alfres." tuturnya. "Si Ishak ini mengajukan tantangan kepada Kak Alfres. Tapi tiba-tiba datang rombongan entah darimana, yang jelas Ustadz Gau sama Kak Alfres kenal mereka... kalau nggak salah, Ichi, anak kelas VII itu juga mengenal mereka."


"Terus? Terus?" tanya Utari dengan penuh minat.


"Seorang perempuan dari rombongan itu, maju ke tengah arena menantang Ishak... kau tahu? Mereka berdua bicara dalam bahasa asing, entah cina, korea atau jepanglah gitu..." sambung Listri.


"Oh ya? Nggak nyangka ya? Ternyata Si Ishak itu pandai juga berbahasa asing." celetuk Siska.


"Si perempuan itu lalu memberikan sebuah pedang samurai kepada Ishak sedang dia sendiri juga menghunus pedang yang sama..." tutur Listri.


Mau tak mau, Selina akhirnya ikut-ikutan tertarik mendengar cerita santri mukim itu.


"Jadi penasaran nih." gumam Intan.


Listri mengangguk. "Mereka bertanding lho. Sumpah beneran. Pertandingan mereka mirip sekali sama adegan-adegan aksi di film-film." pekik wanita itu dengan gemas.


Selina terkejut. "Benarkah?"


Listri mengangguk. "Sumpah, benar! Mati ngala'a aku kalau himbulo saat ini. Tanya sama teman-teman mukim lainnya." tandas Listri.


"Terus?" desak Selina.


"Ih, Selina penasaran..." olok Intan tiba-tiba.


Selina mendesis. "Isssyyyy.... jangan ribut." ujarnya dan mengisyaratkan Listri kembali bercerita.


"Yang paling gila, nih." ujar Listri. "Saat wanita itu merobek pakaian Ishak... nampak benar, pemuda itu... tubuhnya dipenuhi tattoo, brayyy..."


Semua perempuan disitu sontak memekik kaget, kecuali Selina. Alisnya mengerut.

__ADS_1


Tattoo? Ishak punya tattoo ditubuhnya? Siapa sebenarnya pemuda itu???


Siska mencolek bahu Selina dan gadis itu tergagap kaget. "Ad-ada apa?" tanya gadis itu.


"Aaaahhhh... hayoooo.... mikirin apa?" sogol Siska menudingkan telunjuknya ke wajah Selina.


"Issy... apaan sih?" tangkis Selina menampar telunjuk temannya itu.


"Mikirin Ishak ya?" tukas Siska lalu tertawa membuat wajah Selina langsung terasa hangat. Seketika teman-temannya juga ikut menggoda.


"Weeeeehhhh.... ada yang mulai beralih hati nih..." celetuk Utari menyindir Selina.


"Kasihan Kak Aldi..." tambah Intan.


"Ih, kalian ini apa-apaan sih?" tangkis Selina dengan kesal lalu berdiri dan hendak berlalu.


"Eh, eh... mau kemana?" tanya Siska.


"Makan! Lapar!" jawab Selina singkat.


"Oooo... kukira mau ketemu Ishak." celetuk Utari lagi diiringi teriakan koor oleh teman-temannya.


Selina tak ambil pusing lagi. Ia terus melangkah. Tepat ketika dia tiba didepan pintu, bersamaan pula Ishak muncul didepannya.


"Ahhh..." seru Selina memekik.


"Ahhh..." balas Ishak dengan senyum misterius. "Kebetulan Kakak disini."


Terdengar lagi teriakan koor dari dalam kelas disertai suitan-suitan. Selina benar-benar merasa jengah, namun Ishak tak perduli. Seketika digenggamnya pergelangan tangan gadis itu.


"Kita bicara sebentar." pinta Ishak.


Selina yang kaget sempat berupaya berontak melepaskan genggaman Ishak. Sekali lagi terdengar suara koor dari kelas. Selina menatap teman-temannya.


"Kalian sudah gila ya?!" pekik Selina dengan kesal.


"Genggam terus, Brayyy... jangan kendor!!!" seru Siska memberi semangat.


Ishak tak perduli. Ia kembali menarik tangan Selina meninggalkan tempat itu. Selina terpaksa mengikutinya sambil berupaya melepas pegangan lelaki itu.


"Isssy... sakit Ishak! Lepasin!" ronta Selina.


Keduanya tiba disalah satu sudut dari bangunan yang aman dari jangkauan anak-anak maupun guru. Ishak melepaskan pegangannya dan berdiri bercakak pinggang menatap Selina.


"Maksud Kakak, apa?" tanya Ishak.


"Eh, tiba-tiba nanya." gerutu Selina. "Semestinya aku yang nanya! Kok kau punya pikiran se edan itu?!"


"Edan gimana?!" sergah Ishak dengan lirih. "Melamar, maksud Kakak?"


Selina tertawa. "Dan kau kira, aku mau jadi istrimu?" ujarnya seakan mengejek Ishak yang mengencangkan rahangnya.


"Jadi, penangguhan itu, adalah satu cara untuk menolak lamaranku?" tukas Ishak.


Selina hanya mendengus sambil tersenyum dan melengos. Ishak mendengus. "Semestinya... Kakak bersyukur, aku mau bertanggung jawab. Kakak pikir, gampang melakukannya?"


"Dan kau pikir, gampang menerima tindakanmu memperkosaku? Apa kamu pikir, setelah kau melubangi v*****ku, kau bisa menebusnya dengan lamaran?!" balas Selina dengan kesal lalu mendorong Ishak.


Lelaki itu hanya terdorong selangkah oleh tolakan tangan Selina. Pemuda itu mendengus. "Dan Kakak pikir, Si Aldi juga akan menerima, jika dia tahu keadaan yang sebenarnya?"


"Kau menakutiku? Kau menakutiku?!" sergah Selina yang mulai murka hingga maju dan mendorong Ishak sekali lagi.


Ishak tiba-tiba menangkap tangan Selina dan mendorong jilbaber itu hingga keduanya mendempeti tembok. Selina tergagap dengan kekasaran yang dipamerkan pemuda itu.


"Is...." seru Selina dengan gemetar.


"Aku nggak perduli, Kakak meminta tanggung kepada Chiyo-Dono selama seminggu." ujar Ishak dengan geram. "Tapi aku menginginkan sebuah kepastian mutlak! Aku beri Kakak tenggat waktu tiga hari."


"Is..." protes Selina hendak meronta namun tubuhnya terkunci.


"Tidak ada protes!" tandas Ishak. "Aku pun akan membeberkan semuanya kepada Aldi."


"Jangan... please..." pinta Selina.


Ishak menggeleng. "Tidak, Kak Seli... Aldi harus tahu. Dan aku ingin lihat... apakah ia menerimamu beserta aibmu, atau justru meninggalkanmu sendirian menanggung aib itu."


"Jangan, please Is... jangan..." pinta Selina.


"Kenapa?" tanya Ishak. "Kakak takut?"


Selina tak menjawab. Ishak terkekeh. "Kita harus jujur dengan diri masing-masing, Kak. Aku mencintaimu. Aku memang telah menidurimu, memperkosamu, mencicipi tubuh... apalah sebutannya terserah... dan PERSETAN!!!" seru Ishak agak keras.



Selina benar-benar dilanda takut. Ishak meneruskan ucapannya. "Tapi... diatas dasar cinta, aku ingin bertanggung jawab. Aku meminangmu dengan kata Bismillah... dan aku yakin dengan jalanku."


Ishak kemudian melepas genggamannya membiarkan Selina bernapas lega. Pemuda itu mendengus.

__ADS_1


"Selanjutnya terserah Kakak." ujar Ishak. "Ingatlah! Putuskan dengan pertimbangan matang. Jika tidak... Kakak akan menyesal..."


Selesai bicara, Ishak pergi meninggalkan Selina sendirian ditempat itu. Jilbaber itu perlahan jongkok dan memeluk lututnya kemudian membenamkan wajah dilutut dan menumpahkan airmatanya dalam tangis yang lirih.[]


__ADS_2