KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
GAGAL DALAM UPAYA


__ADS_3

Rusli benar-benar menumpahkan kekesalannya pada dinding ruangan itu. Segala upayanya untuk mendekati Ichi memang gagal total. Selain sikapnya yang memasang tembok tinggi, juga disebabkan oleh perilaku Faisal yang dianggapnya benar-benar hendak memancing kemurkaannya.


Riswan hanya menatap saja majikannya membenjoli permukaan dinding itu. Meskipun sebenarnya bukan permukaan dinding itu yang benjol melainkan jemari tangan dan bagian metacarpal nya yang membengkak akibat mengalami efek traumatis sebab terus-terusan menghantam permukaan dinding yang terbuat dari beton itu.


Rusli baru berhenti ketika rasa sakit telah menyengat bagian tinjunya. Lelaki itu mengamati kepalannya yang gemetar. Riswan maju dan berdiri disamping Rusli yang masih tetap menatap jemarinya yang gemetaran.


"Pak... " ujar Riswan dengan pelan. "Anda, tak apa-apa... kan?"


Rusli tak menggubris pertanyaan asisten pribadinya. Benaknya masih kacau oleh kemarahan yang sebagiannya belum terlampiaskan.


"Pak..." ujar Riswan lagi, kali ini menyentuh pundak Rusli dengan pelan.


Perlahan tatapan Rusli yang semula menghujam jemarinya beralih perlahan menatap Riswan. Lelaki itu menelan salivanya berkali-kali, gentar melihat kedua mata Rusli yang memerah, seakan semua aliran darah terkumpul disana.


"Pak..." ujar Riswan lagi dengan canggung.


Rusli memejamkan matanya perlahan-lahan dan berupaya mengatur lagi emosinya. Pria itu berdiri lama dalam posisi tegap dan dadanya mengembang dan mengempis dengan perlahan. Setelah dirasainya ketenangan hati, Rusli akhirnya membuka membuka matanya.


Riswan lega melihat kedua bola mata majikannya tidak lagi berwarna merah. Tanpa sadar, lelaki itu tersenyum.


"Pak..." sapa Riswan.


"Riswan... kau melakukan kesalahan kali ini." ujar Rusli dengan pelan.


Riswan terkejut dan langsung berlutut menyimpuh sambil menatap majikannya, bagai seorang pengibadat yang meminta ampunan kepada penguasa hidupnya.


"Pak... saya tidak pernah meninggalkan kesalahan dalam setiap pekerjaan yang anda berikan kepada saya." bantah Riswan dengan gemetar. "Tapi... jika memang kesalahan itu ada... mohon diberitahu dimana letaknya agar saya segera memperbaikinya."


Rusli membalik tubuhnya, kini menghadap benar kehadapan Riswan yang sementara berlutut.


"Kau bilang kalau Ichi adalah anak tunggal..." ujar Rusli dengan datar.


"Ya. Aku yakin DUKCAPIL tidak pernah salah melakukan pendataan." tangkis Riswan dengan gigih.


"Tapi, aku bertemu dengan seorang pemuda yang mengaku kakaknya, Riswan." tukas Rusli dengan datar dan menatap tajam membuat Riswan kembali menelan salivanya sendiri.


"Bisa jadi dia hanya orang sewaan yang diperintah untuk mengakui sebagai kakaknya." balas Riswan dengan kukuh. "Kurasa, perempuan yang anda sukai bukanlah orang yang polos, Pak."


"Hati-hati bacotmu itu kalau ngomong!" omel Rusli tak rela. "Tidak mungkin anak perempuan itu bisa membohongiku. Aku bisa melihat sebuah kejujuran dimatanya." bantah Rusli.

__ADS_1


"Atau sebaliknya... pemuda yang menemani Ichi, itulah yang menyewa lelaki itu untuk mengaku-ngaku." tukas Riswan lalu berdiri dan memandang Rusli. "Saya akan menyelidikinya kembali, jika Bapak memperkenankan." pintanya.


Rusli sejenak memicingkan matanya lalu alhirnya mengangguk. "Baiklah... lakukan tugasmu." ujarnya.


"Terima kasih, Pak." ujar Riswan membungkuk lalu hendak berbalik menuju pintu. Panggilan dari Rusli membuatnya urung membuka pintu dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap kearah Rusli.


"Ada apa, Pak?" tanya Riswan.


"Panggilkan tukang pijat." pinta Rusli.


Sejenak Riswan mengerutkan alisnya. Lho? masih sakit-sakitan minta disuruh pijat? Wololo utiye?


Rusli mendehem kembali. "Kau bisa memanggil tukang pijat kemari? Yang masih fresh." tambahnya.


Riswan langsung paham dengan bahasa yang diungkapkan Rusli. Ia mengangguk lalu berbalik kembali membuka pintu dan melangkah keluar. Tinggal Rusli disana. Sambil mendesah kecewa, lelaki itu membuka semua pakaiannya terkecuali bagian segitiga pentur yang melingkari bagian pinggul, pantat dan bagian paling pribadi miliknya.


Dengan letih, Rusli merayap ke tempat tidur. Dan tanpa menunggu lama, didorong oleh frustasi sebab kegagalannya, Rusli langsung menghambur dan tak lama kemudian tidur menelungkup, sukses mendengkur dan melayari hamparan wilayah subsconsius nya.


...********...


Berkas sinar mentari menyelusup disela-sela ventilasi ruangan itu. Selina perlahan membuka mata dan menjelajahi langit-langit kamar tersebut, membiasakan pemandangan dalam ingatannya. Seakan ingat sesuatu, ia refleks menatap ke bawah dan menyadari ada yang hilang disana.


Selina mengkhayalkan ketika ia terbangun melihat Ishak yang sementara tidur menjadikan wilayah pahanya sebagai bantal, kemudian membelai rambut dan kepala pemuda itu. Namun nyantanya, khayalan gadis itu tak terjadi.


Pintu kemudian membuka dan masuklah Ishak membawa dua buah rantang. Ia menatap Selina yang sudah bangkit dan duduk diranjang itu.


"Kau sudah bangun rupanya." ujar Ishak. "Maaf jika aku bangun dan meninggalkanmu sendirian. Aku sedang memesan dua rantang bubur ayam untuk kita jadikan sarapan." pemuda itu mengangkat bungkusan ditangannya.


Selina tersenyum dan mengangguk. "Kemarilah." panggilnya.


Ishak melangkah mendekati ranjang dan duduk dibangku kecil dekat nakas. Rantang berisi bubur ayam itu diletakkannya diranjang. Selina mengambil satu rantang kemudian membuka tutupnya.


"Makanlah." titah pemuda itu mengambilkan sebuah sendok dinakas dan menyerahkannya kepada Selina.


Gadis itu meraihnya lalu mulai menyendok bubur yang masih hangat itu dan menyuapinya pelan-pelan.


"Bagaimana?" tanya Ishak.


"Enak..." ujar Selina. "Kau mau?" tanya gadis itu menyendok lagi dan langsung menyuapi Ishak tanpa pemuda itu memintanya.

__ADS_1


"Enak kan?" tanya Selina.


"Wajar... enak karena itu dijual." komentar Ishak. "Jika tak enak, mana ada yang mau beli?"


Selina mengangguk-angguk sambil menyuapi dirinya sendiri. Ishak menegakkan tubuhnya.


"Kalau aku yang buat bubur, lalu rasanya tak enak, kau akan tetap memakannya?" pancing Selina.


"Aku nggak yakin." jawab Ishak dengan senyum.


"Nggak yakin?" gumam Selina. "Nggak yakin gimana maksudmu?"


"Aku nggak yakin kalau Kak Selina akan membuat buburnya nggak enak." ujar Ishak, "Kecuali kalau Kak Selina memang berniat membuatnya nggak enak."


"Apa kamu akan tetap memakannya?" tanya Selina lagi.


"Ya..." jawab Ishak dengan mantap.


"Meski tak enak?" tanya Selina dengan senyum nakal.


"Meski aku harus beberapa kali menetralisir rasa tidak enaknya dengan air ataupun sirup." tambah Ishak. "Aku akan tetap memakannya."


Selina tersenyum. Ishak balas tersenyum.


"Aku suka senyum Kakak dipagi hari." puji Ishak.


"Gombal." tukas Selina namun tetap tersenyum.


"Aku menggombal kepada perempuan yang tepat. Lagi pula... pujianku itu terdengar sangat wajar." ujar Ishak.


"Dimana wajarnya?" tantang Selina.


"Senyum di pagi hari adalah sebuah harapan. Dan aku selalu berharap, dengan senyum Kakak di pagi ini, segala permasalahan dunia akan gampang ku selesaikan." ujar Ishak.


Selina akhirnya meletakkan rantang itu dan menatap Ishak.


"Aku merindukanmu selama beberapa hari ini." ujar Selina dengan nada manja.


"Aku pun begitu." balas Ishak. "Dan aku janji... apapun yang akan terjadi... aku tak akan pernah meninggalkanmu." []

__ADS_1


__ADS_2