
Seminggu sudah Ichi menjalani rutinitas ujian akhir semester ganjil. Tinggal seminggu lagi, kegiatan itu akan berakhir. Banyak mata pelajaran yang harus diujikan dan kurikulum Alkhairaat begitu unik dari kurikulum yang digariskan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Selain mengadopsi sistim kurikulum Kementerian Agama, Alkhairaat yang berbasis pada pendidikan pondok pesantren itu juga memiliki kurikulum tersendiri yang diterapkan pada berbagai jenjang madrasahnya.
Ichi sendiri benar-benar kaget dan belum terbiasa mempelajari jenis pelajaran semacam Tarikh, Hadis, Qawaidh, Tauhid, Fiqh Syari'ah, Mahfudats yang diterapkan pada pembelajaran reguler. Itu adalah jenis-jenis mata pelajaran khas Alkhairaat.
Namun sang ayah pernah mengungkap, meski ia bukan guru di lembaga Alkhairaat, bahwa ada beberapa jenis mata pelajaran yang sinonim, bahkan terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya.
"Pelajaran Tarikh itu sangat mirip dengan mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam versi kurikulum Kementerian Agama. Begitu juga dengan Hadits, sedikit banyak sama dengan mata pelajaran Al-Qur'an Hadits versi Kementerian Agama." ungkap sang ayah saat keduanya terlibat diskusi beberapa bulan lalu ketika sang ayah berada di Marisa.
"Fiqh Syari'ah juga sinonim dengan mata pelajaran Fiqih versi Kementerian Agama. Adapun Qawaidh dan Mahfudats adalah bagian-bagian spesifik dari mata pelajaran Al-Qur'an Hadits yang umum versi Kementerian Agama. Tauhid adalah spesifikasi dari mata pelajaran Akidah Akhlak versi Kementerian Agama..." sambung sang ayah.
"Berarti, pelajarannya berulang-ulang dong." tukas Ichi dengan nada protes.
Sang ayah tertawa, "Sebenarnya sih iya." ungkapnya jujur.
"Wah, mubazir tuh..." komentar Ichi lagi.
"Kalian berdua itu bukan penentu kebijakan yang ada ditingkat tertinggi pemerintahan." sela Azizah dengan ketus. "Nggak usah sok ngatur- ngatur kurikulum."
Lelaki itu mengerling ke arah Azizah sejenak tanpa berkomentar apapun.
Ichi tiba-tiba mencetus, "Abi... alangkah enaknya jika manusia bisa abadi ya?"
Azizah dan suaminya saling pandang lalu menatap lagi putrinya..
"Kenapa Ichi menganggap keabadian hidup itu menyenangkan?" pancing Sang Ayah.
"Ya, enak saja." jawab Ichi seenaknya. "Bayangkan, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan." ungkap gadis itu.
Lelaki itu tersenyum, "Jadi menurut Ichi, kehidupan abadi itu menyenangkan, begitu?"
Ichi menatap sang ayah. "Abi... bagaimana jika kita diberikan keabadian di dunia ini?" tanya gadis itu dengan tatapan penuh minat.
Sang ayah manggut-manggut sejenak dengan daya nalar putrinya, menangkap sebuah keabadian sarat dengan kesenangan. Lelaki itu tersenyum.
"Baiklah... Abi akan jelaskan bagaimana efek dari keabadian." ujar lelaki itu kemudian memperlihatkan sebuah gambar kepada Ichi.
"Ini gambar apa?" tanya sang ayah.
Ichi tercengang menatap gambar tersebut. Ia langsung memandang sang ayah dengan sorot jijik, sedangkan Azizah langsung mual.
"Abi, kok kasih lihat gambar begini sih?" sergah Azizah dan berdiri lalu melangkah ke dapur sambil terbungkuk-bungkuk menahan rasa mual yang mengocok perutnya akibat gambar yang diperlihatkan suaminya.
"Gambar monster Bi." jawab Ichi dengan wajah tak nyaman. "Tapi apa hubungannya dengan keabadian?"
Sang ayah tersenyum. "Bicara tentang keabadian dari sisi ruhani memang menyenangkan. Tapi kita akan membahas keabadian fisik dari sudut pandang bahasan sains biologis." ungkap lelaki itu. "Kalau Ichi merasa pemaparan Abi sudah tak mampu dicerna karena terkesan brutal, vulgar dan memuakkan... Abi bisa pahami hal itu." Lelaki itu mencondongkan wajahnya ke arah putrinya. "Kamu siap mendengarkan penjelasan Abi?"
Ichi kelihatannya bimbang sejenak, tarik-ulur keinginan, rasa penasaran dan rasa ngeri silih berganti muncul dibenaknya. Sang ayah kembali mencondongkan tubuhnya.
"Kamu.... siap nggak?" tanya lelaki itu lagi.
Ichi menarik napas panjang dan mengumpulkan keberanian dalam benaknya. Akhirnya ia mengangguk.
"Siap Bi!" ujarnya mantap.
Sang ayah kembali manggut-manggut dan akhirnya menegakkan tubuhnya. Setelah puas menikmati rasa penasaran putrinya, lelaki itu mulai mempresentasikan penjabarannya.
"Seluruh sel-sel pembentuk tubuh kita justru, secara pasti... akan mengalami siklus Apostosis yang nantinya..." papar sang ayah.
"Tunggu..." sela Ichi.
Sang ayah menghentikan pemaparannya dan menatap Ichi dengan alis terangkat. Ichi memicingkan matanya.
__ADS_1
"Apa itu Apostosis???" tanya gadis itu dengan polos.
Sang ayah mengangguk lalu menjawab, "Apostosis adalah proses kematian dan regenerasi sel tubuh." jawab sang ayah. "Kamu pernah dengar teori Hayflick Limit???"
Ichi terhenyak. "Hayflick Limit itu apa ya?"
Sang ayah menarik napas sejenak dan menjawab, "Teori yang menyatakan bahwa semua komponen pembentuk tubuh manusia akan mengalami proses apostosis sampai akhirnya berhenti karena mencapai titik puncak perkembangan."
Ichi mengerutkan alisnya. Sang ayah tersenyum. "Agak sulit dipahami kah?"
Ichi hanya mengangkat bahunya lalu menatap lagi sang ayah yang kembali menjelaskan. "Sebuah peristiwa yang lazim bagi makhluk hidup secara seluler akan menggandakan diri dalam bentuk jaringan kompleks kode asam deoksiribonukleat, menua dan akhirnya mencapai titik henti yang disebut senescence."
Alis didahi gadis itu makin menaut mendengar istilah-istilah ilmiah yang berhubungan dengan sains tersebut. Sang ayah tak perduli dan kembali menyambung penjelasannya.
"Ketika perkembangan sel kita mencapai titik senescence dalam proses pembelahan sel, maka perkembangan tubuh kita telah berada pada puncaknya sesuai desain awal faktor transkripsi dari asam deoksiribonukleat kita." ujar sang ayah.
"Tunggu..." sela Ichi lagi, "Asam deoksiribonukleat itu apa sih?"
Sang ayah tersenyum, "Asam deoksiribonukleat itu adalah salah satu jenis asam nukleat yang ada dalam tubuh kita yang berfungsi sebagai gudang sifat dan perilaku serta pembawaan kita. Asam tersebut ditemukan dalam nukleoprotein yang membentuk inti sel." jawabnya.
Ichi masih tetap saja mengerutkan alisnya. Sang ayah menghela napas dan memutar bola matanya, kemudian menjawab lagi. "Kamu lebih mengenalnya dengan istilah DNA."
"Oooo.... bilang dong." tukas Ichi sambil tertawa. "Ya sudah Bi, teruskan pemaparan tentang sistim sensasional itu."
"Haa? Apa? Sensasional?" tanya sang ayah mengangkat dua setengah alisnya.
Ichi tergagap berupaya menjelaskan. Kedua matanya menerawang berupaya menggali kata istilah tersebut. Sang ayah langsung menyela.
"Senescence, maksudmu?" tebak sang ayah.
"Yaaa! itu dia! senescence!" seru Ichi lalu menggerutu, "Susah amat bilangnya."
Ichi menatap langit dan mengurut dagunya. Sang ayah menggeleng-gelengkan kepala sambil menjebikan bibirnya.
"Bilang saja nggak tahu." tukas sang ayah menyindir, "Pake gaya kayak pilosof berotak kosong kamu."
Ichi hanya tertawa kecil. Sang ayah kembali menjelaskan. "Contohnya ya... kita memiliki dua mata, sebuah kepala dengan otak yang sehat didalamnya..."
"Oooo... aku tahu!" seru Ichi. "Dua tangan, dua kaki dengan lima jari persisi.... iya, kan Bi?"
Sang ayah menjebikan bibirnya lagi. Ichi tertawa."Teruskan lagi, Bi." pintanya, "Aku yakin penjelasannya bakal panjang kayak kereta api nih."
Sang ayah mendengus lalu menjelaskan lagi. "In the fun.... but not so fun... fact... apostosis atau program kematian sel terjadi secara rata-rata pada usia dewasa dengan kematian sel sekitar 50 hingga 70 milyar sel setiap harinya..."
"Kalau diusia seperti saya, Bi?" sela Ichi.
"Kalau diusia kamu, proses apostosis dalam sel-sel kamu cuma 20 sampai 30 miliar sel setiap harinya..." jawab sang ayah.
"Berarti... secara teknisnya..." ujar Ichi sembari mengurut dagunya, "Kita mengalami proses kematian dan kehidupan setiap harinya... begitukah????" tukas gadis itu.
SNAP!!!!
Sang ayah menjentikkan jari pertanda membenarkan asumsi sang anak.
"Nah... sekarang kita ke inti masalah. Tadi kan Abi kasih lihat gambar monster saat kau tanya bisakah kita mencapai kehidupan abadi? Pernahkah terlintas dipikiranmu, kenapa Abi memperlihatkan gambar monster itu kepadamu?"
"Apakah ketika kita mendapatkan keabadian, tubuh kita akan menjadi seperti itu?" tukas Ichi dengan wajah jijik.
Sang ayah tersenyum. "Ya... kita akan mendapati seluruh sel kita terkena kanker."
__ADS_1
Ichi menarik wajahnya. Sang ayah memancing. "Pernah lihat film produksi Marvel Studio? Film.... Deadpool... masih ingat?" pancing sang ayah. "Wade Wilson, Si Deadpool itu memiliki penyakit yang disebut kanker sel disebabkan oleh proses mutasi ketika ia dipermak dengan rasa sakit."
"Tapi kan Deadpool tidak jadi monster, Bi!" sanggah Ichi.
"Itu kan hanya film fiksi ilmiah." tukas sang ayah, "Meskipun hal itu sesuai hukum alam secara sains tapi tak masuk akal secara logika... secara normal, sel-sel tubuh kita akan mengalami program apostosis. Tapi ketika pertumbuhan sel itu menggandakan diri secara abnormal dan mengenyahkan hukum hayflick limit tadi, maka kita telah terkena kanker sel."
Ichi manggut-manggut. Sang ayah kembali menjelaskan. "Dalam ilmu medis manusia... dari cabang ilmu oncology..."
"Tunggu..." sela Ichi lagi, "Apalagi sih Oncology itu?"
"Ilmu pengetahuan cabang dari biologi medis yang membahas tentang kanker. kata Onco sendiri dari bahasa Yunani yang berarti tumor." jawab sang ayah.
Ichi manggut-manggut lagi. "Teruskan Bi."
Sang ayah kembali menjelaskan, "Dari ilmu oncology, sel kanker itu ada lima yaitu carcinoma, sarcoma, leukemia, lymphoma, dan neuroblastoma."
Ichi hendak bertanya namun disela sang ayah, "Jangan dulu bertanya tentang itu."
Ichi hanya memasamkan wajahnya dan menarik napas panjang lalu manggut-manggut lagi. "Teruskan Bi." pintanya.
"Neuroblastoma disebut juga dengan sel kanker syaraf.... tumor yang rupa luarnya menakutkan itu, sebenarnya adalah salah satu bentuk sel kanker jinak dengan dugaan tidak menyerang organ vital sehingga bisa dengan mudah mencabutnya dari tubuh melalui operasi..." ujar sang ayah. "Ketika tumor sudah ganas, maka ia menyebar dan semakin sulit dihentikan. Disitulah, tumor itu disebut Kanker."
Ichi meneguk salivanya, menyadari betapa besar konseksuensi untuk menjadi abadi secara fisik. Sang ayah menjelaskan lagi.
"Pertembuhan sel kanker tergantung stadium akan terus menggandakan diri dalam jumlah yang tak terkendali. Dalam bahasan biologi medis disebut dengan immortal Cancer Cells. Tidak menyenangkan bukan?" ujar sang ayah.
Ichi mengangguk-angguk dengan wajah memelas. Sang ayah mengangguk lalu menjelaskan lagi, "Makanya... untuk menghambat pertumbuhan sel kanker maka para dokter akan melakukan terapi seperti operasi pembuangan jaringan tubuh, kemoterapi, dan terapi radiasi."
"Lalu... bagaimana ceritanya tentang jadi monster tadi?" tanya Ichi penasaran.
Sang ayah tertawa lalu menjawab. "Anggaplah kamu seperti Deadpool... yang paling logis, ya... segenap sel-sel sekujur tubuhmu akan tumbuh menggila seperti bengkak tumor itu... atau muncul jaringan-jaringan baru ditempat yang nggak semestinya... seperti mata timbul dikaki atau..."
"Ih... jadi kayak monster yang ada di game Resident Evil dong..." tukas Ichi menyela.
Sang ayah tertawa, "Bisa jadi." ujarnya. "Pertumbuhan sel yang menggila karena terkena efek Warburg, yang mana terjadi hyper efficiency glukosa dan glutamin yang mendorong penumpukan anabolisme sel."
Ichi bergidik. Sang ayah kemudian menjelaskan lagi. "Bayangkan saja proses itu menyebar secara masif terjadi diseluruh tubuhmu... "
Ichi langsung mendekap mulutnya dan bangkit seketika lari ke belakang. Sang ayah tertawa-tawa mendengar suara-suara seperti orang muntah-muntah. Tak lama kemudian Ichi kembali lagi dengan wajah yang sudah basah dengan air bekas kumur-kumur dan duduk lagi ditempatnya.
"Kenapa kamu?" tanya sang ayah.
"Ah, Ichi batalkan impian itu." tukas gadis itu. "Menjadi abadi itu rasanya tak menyenangkan!"
Sang ayah tertawa. "Makanya... bersyukurlah sel-sel tubuh kamu mengalami proses apostosis secara normal."
Kedua orang itu duduk terdiam. Sang ayah langsung menyambung. "Tapi kemungkinan hidup abadi itu bisa saja terjadi."
Mata Ichi langsung berbinar lagi. "Kapan?"
"Saat para ilmuwan menemukan sebuah teknologi... atau obat... untuk menghambat degradasi seluler tanpa membuatnya menjadi sel kanker..." jawab sang ayah dengan senyum menentramkan putrinya.
Ichi mengangguk-angguk senang. Baginya, cukup sudah kemungkinan utopis itu digagaskan ayahnya. Azizah muncul dari dapur.
"Ayo makan... bicara hal-hal yang omong kosong begitu memang mengasyikkan ya?" sindir Azizah kembali berbalik meninggalkan sang suami beserta Ichi yang membalasnya dengan cebikan bibir.
__ADS_1
"Ayo Chi..." ajak sang ayah yang bangkit menyusul sang istri yang sudah duduk ditempatnya menikmati sajian nasi dan lalapan ditambah tempe dan tahu rebus.[]