
Rusli tertawa panjang merayakan kemenangannya berhasil mempengaruhi salah satu pentolan The Darkest untuk menjadi kaki-tangannya. Jensen telah menjual idealismenya karena hasutan dari Rusli bahwa ia akan mengiming-imingi dirinya sebagai bawahannya jika berhasil menarik The Darkest ke dalam Perusahaan Putra Pomalingo, Tbk.
"Bagus Jensen." puji Rusli yang sementara duduk santai di kursi kepemimpinannya. "Hari ini kau resmi menjadi pengawal pribadiku dan Darkest akan menjadi bagian dari Perusahaan Putra Pomalango. Kalian akan menjalankan misi-misi untuk perusahaan ini."
Jensen tersenyum. "Aku akan melayanimu sepenuh hati." sahutnya.
Rusli kembali tertawa sejenak lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bagaimana jika Skullen muncul lagi? Apa yang akan kau lakukan?" pancingnya.
"Aku akan membunuhnya." jawab Jensen dengan mantap.
Rusli bertepuk tangan lalu bangkit. "Bagus. Itu yang ku mau darimu. Jangan mau diperintah orang yang tak layak. Kaulah yang layak memimpin Darkest, bukan Skullen."
"Ya, akulah yang lebih pantas untuk memimpin Darkest." sahut Jensen lagi.
"Sekarang, bersihkan rumahmu. bersihkan se bersih-bersihnya hingga tak ada lagi serangga yang berani menggoyang kedudukanmu sebagai orang nomor satu di Darkest." hasut Rusli lagi dengan semangat.
"Aku akan melakukannya sekarang." ujar Jensen langsung berbalik dan melangkah meninggalkan Rusli yang tertawa sambil mengangguk-angguk setuju.
...******...
Lelaki itu memicingkan mata beberapa kali. Setelahnya lelaki itu mengangguk-angguk. Ia kemudian menekan tombol angka pada layar touchscreen. Tak lama kemudian muncul sebuah nama dan wajah seorang lelaki pada lingkaran ID-image.
📲 "Assalamualaikum..." ujar lelaki tersebut.
📲 "Wa alaikum salam..." jawab lelaki diseberang.
📲 "Endi..." panggil lelaki itu.
📲 "Iya Bang. Ada yang bisa dibantu?" balas lelaki diseberang.
📲 "Endi... apakah kau tak punya kesibukan?" tanya lelaki otu.
Terdengar suara tawa pelan diseberang
📲 "Kesibukanku sekarang ini hanya ngurus bisnis daging saja, Bang." jawab Endi. "Memang kenapa Bang?"
📲 "Kirimkan beberapa anak buahmu untuk memantau Rusli Pomalango." titah lelaki itu. "Aku menengarai ia sedang membuat rencana untuk mengukir namanya di dunia bawah tanah."
📲 "Memang dia sudah punya pengikut?" tukas Endi. "Setahuku lelaki itu hanya pengusaha biasa. Ada motif apa dia hendak menjelajahi dunia bawah tanah?"
📲 "Untuk melebarkan kekuasaan." jawab lelaki itu dengan singkat. "Aku perintahkan kepadamu untuk memancing peristiwa. Buat riak antara Darkest dengan komplotannya Bubu."
📲 "Setelah itu apa? Abang ingin memancing perang gangster intra kota?" pancing Endi.
📲 "Menurutmu?" balas lelaki itu.
📲 "Tentu pihak berwajib akan turun langsung mengadakan pembersihan, Bang." jawab Endi memprotes keinginan lelaki itu. "Kalau mereka melakukan pembersihan, terus kami-kami ini mau di kasih makan apa?"
📲 "Ya, jangan sampai nampak saja." ujar lelaki tersebut. "Diskusikan hal ini dengan Adnan."
📲 "Jangan diganggu Adnan..." tolak Endi dengan segan. "Dia lagi sementara mempersiapkan Kenzie untuk menduduki kursi kepemimpinan umum di Buana Asparaga, Tbk."
📲 "Aku pun tak mau memancing masalah dengan tiga mantan Apocalyps lainnya. Yang paling cepat menangkap kejanggalan adalah Orchido. Pekerjaannya sedikit-banyaj berhubungan dengan pengerahan tenaga kerja. Kau tahu orang-orang yang direkrutnya dalam hal tersebut?" pancing lelaki itu.
📲 "Aku paham Bang." ujar Endi pada akhirnya. "Nanti aku akan memberitahu Abang jika semuanya telah siap digerakkan."
📲 "Baik. Aku tunggu info dariku..." ujar lelaki tersebut kemudian mengakhiri pembicaraan seluler.
...****...
Jensen telah memakan umpannya. Tugasmu mengendalikan Darkest sudah tak diperlukan lagi. Tunggu kabar dariku...
__ADS_1
Skullen membaca isi pesan singkat yang masuk ke aplikasi lalu mengamati dan menghela napas dan menghembuskan udara dalam paru-parunya dengan pelan. Tubuhnya disenggol oleh seseorang.
Skullen menatap pemuda itu. Faisal mengangguk seakan bertanya kepadanya tentang isi pesan pada gawainya itu. Skullen buru-buru tersenyum datar dan menggeleng tak kentara.
Nggak apa-apa...
Faisal mengangguk lagi melihat sikap dari teman sekamarnya itu, kemudian tenggelam lagi dalam kegiatan mendengarkan petuah-petuah dari guru pengajar mapel tersebut.
Namun sepanjang kegiatan pembelajaran itu, Skullen kehilangan konsentrasi dan akhirnya, ia mengangkat tangan. Guru mapel itu menatapnya.
"Bisakah saya ke minta ijin keluar?" tanya Skullen.
"Mau kemana Ishak?" tanya guru mapel tersebut menyebut nama samaran yang pemuda tersebut.
"Saya... sedang kurang sehat..." jawab Skullen dengan senyum layunya."
Guru itu mengangguk. "Ya sudah... pergilah ke bilik kesehatan. Istirahatlah disana." usul guru tersebut kemudoan menyuruh Skullen keluar.
"Terima kasih, Bu." jawab Skullen berdiri lalu melangkah meninggalkan kelas dengan gaya yang dibuatnya lesu.
Pemuda itu melangkah santai menuju bilik kesehatan dan tiba disana menjumpai Selina Candra Qomaruddin, senior dua tingkat (Kelas 12) yang saat itu bertugas piket di bilik kesehatan.
"Kamu kenapa Is? Kurang sehat?" tanya Selina mengangkat alisnya.
Skullen hanya tersenyum layu lalu melangkah menuju dipan dan berbaring disana. "Aku istirahat dulu disini, Caca." ujar pemuda itu menyebut nama pendek sahabatnya itu.
Selina hanya tersenyum dan mengangguk. Skullen membaringkan tubuhnya di ranjang itu dan tidur dengan posisi mirip mayat yang terlentang, namun matanya tak terpejam.
Selina mengerling kearah pemuda itu sejenak lalu menulis lagi. Skullen menatap jilbaber itu.
"Apa yang tulis?" tanya pemuda itu membaringkan tubuhnya dengan gaya menyamping kemudian mengganjal kepalanya dengan tangan bagaikan gaya Buddha menuju paninirwana.
"Aku menulis tentang anatomi tubuh manusia." jawab Selina tanpa menoleh, sibuk dengan kegiatannya.
Selina menghentikan kegiatannya lalu menatap adik kelasnya itu. "Ada yang salah dengan itu?" todongnya.
"Pengen jadi dokter Obgyn?" pancing Skullen lagi.
"Kamu kan tahu kalau aku kelas IPA." ujar Selina kemudian bangkit dan melangkah mendekat ke ranjang. Jilbaber itu kemudian duduk disisi ranjang.
"Benar juga..." sahut Skullen mengangguk-angguk pelan.
Jilbaber itu mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh dahi pemuda itu. Wajahnya menerawang dan alisnya kemudian berkerut.
"Nggak panas tuh." celetuk Selina.
"Memang kubilang aku sakit panas?" sahut Skullen.
"Jadi... kamu bohong?" tukas Selina.
"Siapa bilang aku bohong?" sahut Skullen kemudian tersenyum nakal.
Selina menarik tangannya dan memperlihatkan wajah kesal. Skullen buru-buru menangkap pergelangan tangan jilbaber itu.
"Kamu mau apa Ishak?" tanya Selina dengan tatapan galak.
Skullen hanya tersenyum saja. Selina berupaya melepaskan jemari pemuda itu dari pergelangan tangannya sembari sesekali menatap ke arah jendela.
"Ishak Rompies... jangan kurang ajar sama aku." ancam Selina dengan pelan dan lirih.
"Aku minta temani aku disini." pinta Skullen.
__ADS_1
Selina tertawa. "Ngapain aku nemani kamu disini? Keberadaan kita berdua itu nggak boleh tau? Aku mau hubungi Faisal saja supaya menemani kamu."
"Aku sungguh-sungguh..." kata Ishak masih dengan senyum yang tersungging.
Selina mendekatkan wajahnya kepada Skullen. Pemuda itu dapat dengan jelas mencium aroma wangi tubuh jilbaber tersebut.
"Aku nggak mau temani kamu..." ujar Selina kemudian berhasil melepaskan pegangan Skullen pada pergelangan tangannya.
Selina hendak berbalik ketika Skullen dengan cepat menangkap pergelangan tangan Selina dan menariknya dengan cepat, membuat Selina tiba-tiba tertarik kembali ke arah Skullen dengan posisi menelungkup.
CUPPPP....
HMHHMMMHH...
Bibir keduanya bertemu. Mulanya Selina meronta dan menggumam keras namun dekapan adik kelasnya itu begitu ketat sehingga pemudi itu tak bisa melepaskan diri dari pelukannya. Kedua mata Selina yang semula membelalak perlahan mengendur menjadi sayu dan ikut dalam permainan itu.
Setelah puas mempermainkan bibir ranum jilbaber itu, Skullen melepaskan ciumannya dan memperhatikan wajah Selina yang jengah kemerahan.
PLAKKKK...
Skullen tersentak ketika wajahnya menerima tamparan keras dari perempuan itu. Namun pemuda itu tak terkejut. Ia sudah memperkirakan gadis itu akan melakukan demikian. Selina menampakkan ekspresi marah yang tersirat pada pipi yang merona merah dan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Tega kamu ya?!" sergah Selina dengan datar.
"Aku... aku.." seru Skullen tergagap.
Selina mulai terisak pelan, namun wajahnya justru terlihat cantik.
"Aku nggak nyangka kamu sebejat itu, Ishak." tukas Selina kemudian menyusut airmatanya yang sempat keluar. "Aku pastikan padamu, Aldi tak akan membiarkan kamu!"
Skullen tersinggung. Masalah Darkest yang membebaninya ikut memompa kemarahannya. Pemuda itu bangkit dan berdiri disisi ranjang.
"Aldi? Siapa? Pacarmu?" todong Skullen dengan datar.
Selina hanya diam. Gadis itu memilih tak bicara dan langsung berbalik lagi hendak pergi. Sekali lagi Skullen dengan cepat menangkap tubuh Selina dan membantingnya diranjang.
Selina tidak sempat berteriak dan meronta sebab Skullen dengan cepat menotok bagian pembuluh darah tertentu pada tubuh gadis itu menyebabkan ia mengalami hemiplegia.
Selina mengalami kelumpuhan dibagian tubuhnya. Mulutnya terkunci tak bisa mengeluarkan suara meski gadis itu berusaha sekuat tenaga berteriak. Ia ketakutan ketika melihat Skullen mendekat dengan wajah beringas setelah sebelumnya mengunci pintu ruangan UKS tersebut.
Selina menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah memelas namun Skullen hanya membalasnya dengan sesungging senyum bengis. Pemuda itu tiba di depan Selina yang terbaring mengangkang. Dengan jantung berdebur kencang ia menyaksikan Skullen perlahan memasukkan tangannya kedalam rok dan menyentuh bagian pribadinya.
Selina hanya bisa menangis saja saat ia merasakan pelindung bagian pribadinya direnggut Skullen dan penuda itu menarik pahanya yang membuka mendekat kearah bagian genital yang telah dimunculkan.
Selina mendongak dengan wajah memerah, mata melebar dan mulut membuka ketika dirasakannya bagian pribadi pemuda itu mulai menjelajahi sesenti demi sesenti dinding-dinding daging pukasnya hingga akhirnya ujung penjebol itu mentok tepat didasar rahimnya.
Skullen tersenyum senang dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya yang perlahan-lahan memberi rasa biasa bagi tubuh gadis itu saat ia dirudapaksa. Makin lama tindakannya makin cepat dan tak beraturan. Skullen mengencangkan rahangnya sedang Selina hanya bisa menggigit bibir merasai kulminasi sanggama itu menyelimuti dirinya. Urat lehernya terlihat menegang.
Setelah menyelesaikan ekstasi dari ******* yang terjadi, Skullen mencabut benda miliknya dari liang bekas rogolan yang mengeluarkan sisa-sisa semen bercampur tetesan darah hymen yang robek. Skullen memperbaiki lagi letak rok yang awut-awutan beserta pakaian Selina yang teracak-acak ketika Skullen menggerayangi tubuh dan mencengkeram kedua bukit kenyal gadis itu saat merogolnya.
"Maaf Selina... aku sudah dirasuk birahi tadi." ujar Skullen dengan senyum getir. "Tapi kamu nggak usah kuatir. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk tindakanku."
Skullen maju hendak mencium Selina ketika gadis itu langsung melengos tak sudi. Skullen tersenyum lagi dan mengangguk-angguk.
"Maafkan aku." ujarnya dengan pelan. "Kelumpuhan yang menyerang tubuhnya akan berakhir setengah jam lagi. Setelah itu kau akan seperti sediakala."
Pemuda itu mengatur pola tubuh Selina seakan-akan ia sedang tiduran santai diruangan itu. Skullen memperlihatkan cawat milik gadis itu. "Aku menyimpan benda ini Selina, demi tanggung jawabku." ujar pemuda itu mencium aroma unik pada cawat tersebut. "Uhmmm... Selina..."
Setelah itu, Skullen berbalik menuju pintu dan membuka kunci lalu melangkah pergi meninggalkan Selina yang menangisi ketidak berdayaan tubuhnya saat dirudapaksa oleh Skullen sekehendak hati.
__ADS_1
Namun dibalik tangis itu, Selina mengakui bahwa ia menikmati persenggamaan itu. Ia mengakui bahwa Skullen telah berhasil membuatnya merasakan kulminasi cinta. Selina tak tahu harus bagaimana menghadapi pemuda itu setelahnya, namun ia tahu bahwa hidupnya setelah ini, tak akan sama lagi sebagaimana biasanya.[]