KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
KALBU YANG MULAI LULUH


__ADS_3

Selina menatap tajam kearah Azkiya. Namun yang ditatap hanya menatap santai terkesan tak tertekan dengan kesinisan yang dipancarkan Selina.



"Sejauh mana pengetahuan Kakak tentang kami?" tukas Selina dengan datar.


"Aldi adalah lelaki yang baik. Aku mengenalnya. Kami sama-sama pengusaha... dia pemilik beberapa konter-konter gawai di daerah ini, kan?" tukas Azkiya.


Selina tersenyum. "Apakah... Kakak berdua datang sebagai perwakilannya?" tebak gadis itu dengan tulus.



Azkiya tersenyum lagi dan menggeleng membuat Selina kembali rusuh.


"Lalu siapa?" todong Selina kembali. Namun sekejap kemudian ia teringat seseorang dan menatap Azkiya dengan kaget.


"Kenapa, Selina?" tanya Azkiya dengan lembut.


Wajah Selina memerah. Matanya memicing. "Apakah... Ishak?" tebaknya.


Azkiya tersenyum lagi. "Kelihatannya...kamu kenal benar anak itu." pancingnya.


Wajah Selina langsung kelam. Perogolan itu masih tergambar jelas dibenaknya. Bagaimana begitu perkasa dan kurang ajarnya Ishak menjebol dan merusak keperawanannya dengan batang rudapaksanya itu. Jujur, Selina merasai kenikmatan aneh yang belum pernah dialaminya. mungkin inilah yang dirasai oleh seorang wanita ketika melakukan persetubuhan, tapi bukan perkosaan.


"Kau kenal anak itu, Selina?" tanya Azkiya.


"Lelaki paling bejat yang kukenal." tukas Selina dengan kebencian segudang.


Azkiya tersenyum. "Ya, dia memang bejat." ujar wanita itu membuat Selina terkejut. Sebenarnya itu hanya pelampiasan kebenciannya saja. Selina belum benar-benar tahu siapa pemuda yang menidurinya itu. "Apa lagi yang kau ketahui tentang dia, Selina?" tanya Azkiya lagi.


"Pemerkosa! Perusak masa depan orang dan..." pekik Selina emosi dan tak mampu berkata lagi. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata. Hatinya beristighfar.


"Kau membencinya?" tanya Azkiya dengan lembut.


Selina membuang napasnya. "Bukankah Kakak sudah tahu?"


Azkiya mengangguk-angguk. "Tapi dia tidak membencimu... dia jatuh cinta padamu."


"Lelaki macam apa yang menyatakan cinta dengan pemerkosaan?" tukas Selina.


Azkiya mengangguk-angguk. "Aku paham hatimu."


"Kakak nggak paham." tukas Selina melengos.


"Tahu dari mana kamu, kalau aku tak memahamimu?" tanya Azkiya dengan lembut.


Selina hanya menatap hamparan taman, tak berani ia menatap wanita disisinya itu. Azkiya menghela napas lalu menyapu punggung Selina dengan lembut.


"Ishak... memang lelaki bejat. Itu benar." ujar Azkiya menegaskan. "Dengan memaksakan persetubuhan itu, ia memperlihatkan kebejatannya dengan jelas."


Selina tanpa sadar melelehkan airmatanya. Azkiya tersenyum dan tetap menyapu pelan punggung gadis itu. "Tapi dia mencintaimu... dia hanya tak tahu cara mengungkap perasaannya..."


"Jadi... menurut Kakak, perkosaan yang ia lakukan padaku, adalah bentuk pengungkapan cintanya?" tukas Selina kembali.


Azkiya tersenyum lagi. "Aku tak mau menandaskan hal itu. Tapi Ishak... mau bertanggung jawab, makanya... melalui kami, dia hendak melamarmu menjadi istrinya..."


"Ada hubungan apa Kakak dengan dia?" selidik Selina. "Jika bicara marga, jelas tak sekandungan. Dia bermarga Rompies..."


"Kau tidak suka dengan lelaki bermarga Rompies?" pancing Azkiya.


"Bukan begitu Kak." kilah Selina.


"Apa kau masih memikirkan Aldi?" tanya Azkiya.


Selina tak menjawab.


"Cepat atau lambat... Aldi akan mengetahui bahwa kau sudah ditiduri oleh Ishak... kau tak ingin dia tahu, dan mencampakkan kamu... kan?" ujar Azkiya dengan hati-hati.


"Kakak mengancamku?!" seru Selina mulai emosi.


"Aku tak mengancam kamu, Selina..." tangkis Azkiya. "Aku memberikanmu opsi-opsi. Dan setiap opsi memiliki kadar riskan tertentu."


Selina menatap tajam wanita itu. Azkiya menegakkan wajahnya. "Dengarkan Selina....Aldi memang mencintaimu dan kau juga mencintainya. Kalian bisa saja menyatu dan menolak lamaran ini. Aku tak akan memaksakan hal itu Selina..."


Selina masih diam.

__ADS_1


"Saat ini, jika kau menolak pertanggungjawaban Ishak, aku akan langsung menghubungi suamiku dan membatalkan khitbah ini. Semua tergantung keputusanmu. Jangan membuat keputusan disaat hatimu dikuasai amarah." Pesan Azkiya dengan lembut.


"Jadi semua adalah keputusanku?" tandas Selina.


Azkiya mengangguk. "Semua adalah keputusanmu." tandasnya pula. "Tapi pikirkanlah... bagaimana jika ke depan, Aldi pun meninggalkanmu?"


"Dia tak akan meninggalkanku." ujar Selina.


Azkiya tersenyum. "Kau yakin?" tanya wanita itu.


Selina kembali diam.


Azkiya mengangguk. "Jujurlah padanya... katakan semuanya. Kita akan melihat, bagaimana sikap Aldi terhadapmu. Jika kau menyembunyikan aib itu, silahkan. Tapi Selina... yang namanya kebohongan, tidak akan bertahan lama."


"Kakak menakutiku." tukas Selina lagi.


"Aku bukan Kuchisake Onna ataupun yokai-yokai yang bertebaran di sini, Selina... aku tak ada niat menakuti atau melunturkan semangatmu dalam mencintai Aldi. Tapi apakah Aldi akan menyambutmu setelah ia mengetahui kebenarannya?" ujar Azkiya.


Selina terdiam. Azkiya kemudian menyentuh bahunya dan menyapu dengan pelan. "Bagaimana?"


Selina tertunduk. Ia dipenuhi beban pikiran. Ia bingung dan terjatuh dalam ketidakpastian. Lama ia menimbang, menyaring hingga akhirnya ia hanya bisa mengucap, "Beri aku waktu... Kak."


"Berapa hari?" tanya Azkiya.


Selina kembali diam. Azkiya menyentuh lagi dada gadis itu. "Berapa hari, Selina?" tanya wanita itu dengan lembut.


"S-s-sebulan...K-kak." jawab Selina dengan gagap.


"Terlalu lama, Selina... jangan sampai, Ishak kehilangan minat terhadap kamu. Mumpung dia masih ingin bertanggung jawab." tegur Azkiya.


"Kalau dia... memang lelaki bertanggung jawab... dia pasti akan menunggu." ujar Selina kembali dengan emosi yang mengusik benaknya.


Azkiya tersenyum. "Ishak... bukan lelaki semacam itu. Dia membutuhkan kepastian..." ujar wanita itu. "Bagaimana kalau seminggu?" usul Azkiya.


"Kak..." protes Selina.


"Seminggu, Selina." ujar Azkiya dengan tegas dan Selina dengan jelas melihat pendaran cahaya biru dikedua mata wanita itu. Azkiya memang mengaktifkan jurus Karasu Tengu no shisen miliknya untuk meredupkan keinginan Selina untuk memberontak.


Selina akhirnya memghembuskan napasnya dan mengangguk dengan lemah. Azkiya mengangguk-angguk tersenyum.


Sentuhan tangan Selina pada lengannya membuat Azkiya menjeda sejenak kegiatannya menghubungi suaminya itu. Ditatapinya Selina.


"Ada apa... Selina?" tanya Azkiya dengan lembut.


Selina lama diam, setelah beberapa saat ia mulai bicara terbata-bata. "Bagaimana kalau saya tiba-tiba terjebak diantara mereka berdua?"


"Terjebak dalam hal apa? Rasa cinta?" tanya Azkiya.


Selina diam lagi, namun setelah itu ia mengangguk dengan ragu. Azkiya tersenyum.


"Dek... jika kamu terjebak dalam rasa cinta kepada dua orang lelaki di waktu yang sama, maka pilihlah yang kedua." saran Azkiya kembali menepuk pundak gadis itu.


Selina dilanda bingung. "Maksudnya, Kak?" tanya gadis itu.


"Jika kau benar-benar mencintai yang pertama... maka kau tak akan jatuh cinta pada yang kedua..." jawab Azkiya kemudian menghubungi Kenzie.


Wanita itu sengaja menggunakan bahasa jepang agar percakapan itu tidak dipahami orang-orang yang tak dianggap perlu. Selina sendiri hanya mengamati saja wajah Azkiya yang sesekali serius saat berbicara. Setelah beberapa lama, percakapan itu selesai dan Azkiya menatap arloji dipergelangan tangannya.


"Heeeeeeehhhh?!" pekiknya, "Ini sudah pukul lima ya?" serunya dan langsung membereskan sisa-sisa cemilan ke dalam kantong kresek tersebut lalu menarik tangan Selina meninggalkan kawasan wisata tersebut.


...******...


Ishak mempraktekkan bacaan wirid yang baru saja di ijazahkan oleh Ustadz Gau. Pemuda itu duduk dengan pola teratai, mirip dengan gaya semadi buddha dan kedua tangannya tersandar di antara mata kaki. Jemarinya membentuk mudra kosmik dan kedua matanya terpejam.


Pemuda itu selalu mengenakan pakaian lengan panjang untuk menutupi rajahan irezumi pada tubuhnya. Azkiya berhasil membuka rahasia tubuh bagian atas pemuda itu sehingga semua santri laki-laki dan perempuan mengetahui bahwa tubuhnya penuh dengan rajahan itu.


Bagaimanapun Ishak hanya berupaya menampilkan sikap santun, meski tak sepenuhnya sopan. Ia seorang pimpinan kelompok Darkest yang diakui oleh dunia bawah tanah. Dia juga mantan samurai pada Era Edo-Bakumatsu. Pembawaan keras memang melekat kepadanya.


Sedang asyiknya pemuda itu tenggelam dalam wiridnya, Ichi datang dan mendekat lalu duduk didepannya.


"Bangun!" perintah Ichi dengan ketus.


Ishak masih betah pada sikapnya. Ia tak memperdulikan anak itu. Ichi jadi kesal dibuatnya. Tangannya terangkat dan terayun hendak menampar pipi pemuda itu. Namun terkejut benar gadis itu ketika menyadari bahwa tangannya tak menjangkau wajah Ishak sebab pemuda itu berhasil mencengkeram pergelangan tangannya dengan mata tertutup.


"Jangan ganggu orang lagi wiridan, Ichi..." tegur Ishak kemudian membuka matanya Ichi dengan tajam.

__ADS_1


"Hebat juga kamu." puji Ichi tapi tanpa senyum. "Bisa menangkap pergelangan tanganku."


"Aku bisa merasai perubahan suhu saat kau melayangkan tamparan, Ichi... aku bisa merasai Ki milikmu." ujar Ishak kemudian melepaskan cengkramannya. Tubuh pemuda itu menjadi rileks.


"Kamu mau apa kemari? Kamu kan tahu, berduaan beda kelamin seperti ini sangat dilarang?" tegur Ishak lagi.


"Lagakmu macam ulama saja!" olok Ichi sambil tertawa lalu menunjuk beberapa ikhwan dan akhwat yang juga berada disana dengan aktifitas mereka masing-masing. "Kita nggak sendirian, Boneng."


Ishak mengedarkan pandang menatap para santri disana. Ada yang mengaji, ada yang berdiskusi dan beberapa kegiatan lain yang mereka lakukan di masjid. Ustadz Gau duduk di mihrab, mengawasi kegiatan setiap santri.


"Mau apa, sih?" tanya Ishak dengan lirih.


"Kamu itu, bodyguardku, ya?" tanya Ichi.


"Siapa yang bilang? Faisal?" balas Ishak. Ichi mengangguk.


"Terus, kalau iya, kenapa?" tanya Ishak lagi. "Kamu kalau memang nggak berkenan di awasi ya, bilang saja sama beliau. Aku dengan senang hati akan pergi dari sini." pemuda itu mendekat. "Lagian... aku sekolah juga, bohongan disini." ujarnya dengan berbisik.


Ichi terkejut. Ia kemudian mendekat. "Jadi, seusia kakak nggak sekolah?" tanya Ichi dengan polos.


EHHEMMMM....


Terdengar deheman keras. Ishak menoleh menatap Ustadz Gau, begitu juga dengan Ichi. Rupanya guru itu sedang mengawasi mereka dan menegur agar menormalkan sikap dihadapan para santri.


Ichi manyun wajahnya sedang Ishak menampakkan wajah masam sejenak kemudian menatap Ichi. "Aku tanya jujur sama kamu."


"Apa?" tanya gadis itu.


"Kamu suka sama Faisal?" tanya Ishak.


"Nggak..." kilah Ichi.


"Jangan bohong. Nanti menyesal..." tegur Ishak. "Sensei telah mengintimidasi Faisal agar dia meninggalkanmu."


"Abi berani bicara seperti itu?!" pekik Ichi tiba-tiba.


"Ichi!!!" tegur Ustadz Gau.


Ichi tersentak, ia baru sadar kalau kelepasan bicara dengan nada yang keras sehingga menarik perhatian para santri. Gadis itu langsung memohon maaf berkali-kali ke setiap orang dengan wajah memelas lalu menatap Ishak yang memasamkan wajahnya lagi menatap Ichi.


"Kamu itu... benar juga kata Sensei." gerutu Ishak. "Hehhh... kelihatannya aku akan lama disini."


"Kenapa kakak nggak bilang saja sama Abi supaya melepaskan tanggung jawab itu?" tanya Ichi.


"Bodoh kamu!" sergah Ishak dengan berbisik. "Kalau aku bilang seperti itu, Sensei benar-benar akan membunuhku!"


Ichi tertawa. "Memang Abi berani membunuhmu? Lihat Kecoak saja dia melompat-lompat ketakutan dihadapan Umi."


"Kau belum sepenuhnya mengenal ayahmu!" ujar Ishak dengan kesal. "Dimana Faisal?"


"Mana aku tahu?" tangkis Ichi. "Memang aku istrinya?"


Ishak tersenyum. "Sedikit lagi..." ungkapnya.


"Sedikit lagi? Maksudnya?" tanya Ichi dengan bingung.


"Itu bego jangan dipiara!" omel Ishak dengan ketus. "Maksudku... aku yakin, Faisal akan datang melamarmu."


Ichi tanpa sadar tertawa lagi, kali ini lebih keras sehingga seisi ruangan menjadi hening, termasuk Ishak yang kaget tak menyangka jika gadis dihadapannya kembali kelepasan emosi.


Ustadz Gau kembali menatap Ichi dengan tajam. Namun gadis itu sudah tak perduli.


"Bagaimana latihanmu?" tanya Ishak.


"Baik... aku sudah mulai diajarkan Sabeum Wisnu, materi kyukpa." jawab Ichi.


"Hmmm... teknik tameshiwari jika di Karate-dō." sahut Ishak.


Ichi mengangkat alisnya. Ishak kemudian menatap Ichi. "Intinya permantap setiap materi yang diajarkan oleh guru kamu. Siapa yang tahu, jika nanti teknik-teknik beladiri itu akan berguna dimasa depan?"


Ichi mengangguk-angguk. Ishak kemudian tersenyum. "Kalau kau memang suka sama Faisal. Nyatakan saja. Setahuku tidak ada larangan seorang perempuan menyatakan rasa cintanya kepada laki-laki... tidak ada batasan seperti itu."


"Bukankah jika seorang perempuan melakukan hal demikian akan dipandang tidak sopan dari segi tatakrama dan etika?" pancing Ichi.


"Itu hanya kebohongan sosial yang diciptakan diatas dasar diferensiasi. Kalau kamu berpatokan seperti itu, ya nggak masalah... asalkan jangan menyesal jika suatu saat Faisal direbut perempuan lain yang lebih kreatif dari kamu." ujar Ishak kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan Ichi yang duduk sendirian disana, tenggelam sendiri dalam keriuhan aktifitas para santri yang berjubel diruangan masjid itu. []

__ADS_1


__ADS_2