
Pemuda itu baru saja menyelesaikan dzikirnya saat seorang santri muncul memberitahukan bahwa ia dipanggil oleh Ustadz Gau untuk segera menghadap.
Faisal mengangguk lalu bangkit dan melangkah mengikuti santri tersebut meninggalkan masjid yang masih dipenuhi jama'ah.
Bunyi selop yang dikenakannya menggemakan suara lirih saat menjejaki tanah, terseret-seret dengan ritme teratur.
Mereka tiba di rumah pengasuhan. Santri tersebut menatap Faisal dan mengisyaratkannya untuk masuk. Faisal menghela napas lalu melangkah masuk setelah meninggalkan kedua selopnya ditangga beranda.
"Assalamualaikum..." sapa Faisal.
"Wa alaikum salam..." jawab Ustadz Gau yang kala itu duduk sendiri.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Faisal.
"Duduklah Faisal." pinta Ustadz Gau menunjuk salah satu sofa.
Faisal melangkah lalu duduk disofa tersebut. Ustadz Gau kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di meja.
Faisal menatap amplop itu lalu kemudian memandang wajah pengasuh tersebut.
"Apa ini, Ustadz?" tanya Faisal tak faham.
"Surat dari keluargamu..." jawab Ustadz Gau.
Faisal menatap amplop itu beberapa lama kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan meraih amplop tersebut dan membukanya. Ia mengeluarkan secarik kertas disana. Alisnya langsung berkerut saat membaca sebaris kalimat pada kertas putih itu. Hanya sebaris kalimat!
TEMUI AKU DI LINTANG BATAS LAUTAN...
Faisal memicingkan mata sejenak lalu melipat kembali surat itu dan memasukkannya kembali kedalam amplop.
"Kamu disuruh menemui mereka dialamat ini..." ujar Ustadz Gau kembali menyerahkan secarik kertas kepada Faisal.
Pemuda itu menerima carik kertas itu dan membaca isinya. Pemuda itu menghela napas lalu menghembuskannya.
"Guru..." ujar Faisal menatapi Ustadz Gau yang duduk dengan tenang. "Apakah aku harus menemui mereka?" tanya pemuda itu seraya melipat kertas tersebut dan ikut memasukkannya kedalam amplop.
"Mereka adalah keluargamu, Faisal." tegas Ustadz Gau. "Kau wajib membaktikan hidupmu kepada kedua orang tuamu."
Faisal kembali menghela napas dan menghembuskannya dengan pelan kemudian bertanya lagi. "Kapan Ustadz menerima surat ini?"
"Sejam yang lalu." jawab Ustadz Gau. "Dikirimkan oleh seseorang yang berpakaian gaya safari serba hitam."
Faisal mengangguk-angguk. Rupanya mereka memang sudah menginginkan aku untuk pergi.
"Baiklah Ustadz. Saya akan berangkat besok." ujar Faisal dengan ketetapan hati.
Ustadz Gau tersenyum dan mengangguk.
...*****...
Ishak berdiri, seperti biasa, mengenakan kemeja tipis lengan panjang yang digulung sedikit dan kerahnya membuka. Rambut pendeknya bergoyang-goyang dibelai angin malam.
Dihadapannya, berdiri juga Faisal yang membelakanginya, menatap pepohonan Tolite (Terminallia catappa) yang seakan ikut menggoyangkan dahannya karena terpaan angin malam.
"Kenapa tak memberitahunya sendiri?" pancing Ishak dengan datar.
__ADS_1
Faisal tersenyum. "Kurasa... aku tak akan sanggup mengucapkan sebuah kalimat perpisahan..." kilahnya.
Ishak melangkah mendekat dan posisi keduanya kini berdampingan ikut memperhatikan pohon ketapang yang dilanda angin itu.
"Bagaimana kalau aku tak mau menyampaikannya?" pancing Ishak.
"Aku tak menyalahkanmu." jawab Faisal. "Namun... aku akan menyesalinya seumur hidupku."
"Maka katakan padanya dan buktikan kalau kau adalah lelaki sejati." ujar Ishak.
"Kamu kan tahu, kalau dia tinggal di asrama putri." kilah Faisal lagi. Pemuda itu kini menghadapkan tubuhnya kepada Ishak. "Bisakah kau menyampaikannya?"
"Aku tak tahu." kilah Ishak lagi seakan menolak permintaan Faisal. "Aku hanya tidak ingin membuatnya terluka sebab kau pergi tanpa memberitahukannya."
Faisal diam dan kembali menatap pepohonan ketapang itu. Ishak menarik napas dan berbalik melangkah meninggalkan Faisal yang masih memandang pepohonan itu.
"Ingatlah Faisal..." terdengar suara Ishak yang dikirim melalui pengerahan ki yang terarah. "Kau telah mencuri ciuman pertamanya di beranda rumah bibinya di Taluduyunu. Kau telah memaksakan hatinya kepadamu. Sebagai lelaki, aku menuntutmu untuk memenuhi janjimu kepadanya. Jika kau tidak melakukannya... aku akan mengambil nyawamu, bagaimanapun caranya."
Faisal masih diam dalam lambaian lembut angin malam.
...*****...
Asrama Putra, Kamar ketiga Pondok Pesantren Alkhairaat Buntulia, Pukul 02.45. a.m.
Faisal larut dalam ritual sholat Qoyamullailnya. Entah mengapa ia begitu khusyuk dalam setiap rakaat yang dilaksanakannya. Bahkan tak biasanya air mata malam itu menetes tanpa bisa dibendungnya. Delapan rakaat dari Sholat Lail telah dilaksanakannya. Dalam simpuhnya ia mengangkat kedua tangannya dan menatap langit-langit kamar seakan menvisualisasikan wujud Sang Rabb disana.
*Wahai Pemilik Kehidupanku... aku hanya meminta satu kepadamu... sebagaimana aku bersyukur Engkau memberiku kehidupan ini. Aku pun bersyukur Engkau menyisipkan rasa indah ini dalam sanubariku. Namun panggilan mereka kini menjadi beban pikiranku sebab aku akan meninggalkannya sendirian disini... sedangkan aku disana mengurusi nasib kaumku.
Wahai Rabb Yang Berdiam di Arsy... aku hanya memohon Engkau memberiku janji bahwa Kau akan mempertemukanku kembali dengannya... sebab aku terlanjur diri melancang aturan dan telah membuatnya memaksakan hatinya terpaut kepadaku. Maka tetapkan aku pun terpaut kepadanya sebagaimana dia kepadaku. Peliharalah cinta kami berdua Ya Allah... peliharalah kesetiaan kami sebagai wujud kesetiaan kepada-Mu.
Wahai Dzat Maha Cinta... sesungguhnya perasaan ini begitu berat dan menyiksa, begitu merusak dan membinasakan kehidupan. Jika hatus memilih, sesungguhnya aku tak ingin jatuh cinta. Tapi, tidak ada manusia yang nisa menghindarinya, termasuk aku.
Wahai Dzat Yang Maha Indah... tiada kini yang kuminta, kecuali hanya kesetiaan saja... hanya cinta yang terpelihara antara aku dan dia. Perasaan yang tidak terkotori oleh apapun. Kabulkan permohonan lancangku ini Ya Allah*...
Faisal mengusapkan kedua tangannya ke wajah dan ia menangis tanpa suara. Diranjang lainnya, Ishak berbaring memunggungi. Namun kedua mata pemuda itu pun menganak sungai airmata. Ia pun tak bersuara. Ia hanya terseret dalam arus empati yang kuat sebab mereka memiliki nasib yang mirip.
Oh Qomariah... semoga kau tetap damai disana... maafkan aku yang tak bisa membelamu dari kekejaman orang-orang Belanda itu... Tapi... aku akan tetap mencintaimu dari sudut hatiku yang terdalam...
Ishak menyembunyikan wajahnya dibalik bantal peluk yang dipelukinya erat-erat.
...****...
Ichi hanya diam saat Ishak menyampaikan hal tersebut kepadanya. Gadis itu tak bereaksi apa-apa. Ishak mengamati raut wajah gadis itu sesaat ia menyampaikan permintaan maaf dari Faisal.
"Kau tak apa-apa, kan? Ichi?" tanya Ishak.
Ichi hanya menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Tak lama gadis itu tersenyum datar dan menjawab, "Dia telah menetapkan pilihannya. Aku tak punya hak untuk mencegahnya. Aku menghormati keputusannya untuk tak memberitahukanku. Aku memahaminya sebab ia pun paham akan perasaanku."
Ichi kemudian menatap Ishak. "Aku pernah bilang kepadanya untuk menjaga perasaanku ini. Selama dia tidak memindahkan hatinya kepada perempuan lain, selama itu juga aku akan mempertahankan hatiku kepadamu, sesulit apapun, aku akan berupaya menjaganya." Gadis itu melangkah menuju pagar dan menyentuh beton itu.
"Semoga dia mendapatkan apa yang diinginkan oleh keluarganya." ujar Ichi dengan pelan.
Ishak hanya diam lalu berbalik dan meninggalkan Ichi sendirian disana. Sepeninggal pemuda itu, barulah Ichi menumpahkan rasa kesedihannya. Gadis itu menangis tanpa suara dan tersimpuh pelan sembari memegang tembok pagar tersebut.
...******...
__ADS_1
Dipesawat terbang yang membawa dirinya mengangkasa meninggalkan Gorontalo, Faisal memandang daratan itu melalui jendela. Nama gadis itu kembali terbetik dalam benaknya.
*Azkadiratna Ardhanareswari...
Wahai sang belahan jiwa
namamu selalu ku ukir dalam pusara
disetiap langkah ku selalu berdoa
semoga kita bersama...
Wahai tambatan hatiku...
labuhkanlah cintamu dihidupku
tahukah kamu betapa aku merindu?
hiduplah engkau kelak denganku
Dengarkanlah... disepanjang malam aku berdoa
bersujud... aku selalu meminta
semoga kita bersama
kujaga senantiasa cinta kita
dan aku akan setia*...
Faisal menghela napasnya meredam rasa sakit yang menyengat hati. Cinta memang menyakiti. Tiada yang lebih tulus dari hati yang mencintai dalam perih dan mendoakan didalam diam.
Bahkan ulama sekelas Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan, andaikata orang yang jatuh cinta itu boleh memilih, ia pasti akan memilih untuk selamanya tak jatuh cinta. sebab cinta akan menghiasi hidup dengan air mata dan pengorbanan, pemakluman yang dihias dengan persyaratan. Akhirnya hanya rasa sakit yang akan dirasakan sebab ditinggalkan.
Seringkali perasaan cinta selalu dibarengi dengan perasaan benci. Namun itulah kenyataan dari sebuah cinta yang sejati.
*Jika kau tertawa karena seseorang, berarti kau memang menyukainya...
Namun jika kau menangis karena seseorang, berarti kau memang mencintainya*.
Pesawat itu terus melambung tinggi membawa hati yang terbelah perih. []
...BERSAMBUNG...
Bagaimana kelanjutan kisah Azkadiratna dan Faisal Husein? Apakah mereka mampu mempertahankan kesetiaan, ditengah hantaman ujian antara kewajiban terhadap keluarga atau kesetiaan kepada cinta?
Bagaimana kisah antara Ishak Rompies dan Selina Candra? Apakah mereka menyatu dalam pelaminan? Apakah masa lalu Ishak akan terungkap?
Bagaimana dengan Rusli? Apakah ia berhasil menjalankan rencananya untuk menundukkan Azkadiratna kedalam pelukannya? Apakah Azkadiratna akan melupakan kesetiaannya atau tetap teguh ditengah godaan dari hubungan cinta jarak jauh yang rentan fitnah?
Ikuti kisah selanjutnya dari KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU di kisah berikutnya, KU BENCI KAU DENGAN CINTA.
Salam dari Penulis.
Golgotha Calvatorch.👋
__ADS_1