
Selina berdiri menatapi bayangannya pada cermin besar. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang yang melekat dipermukaan kulitnya. Dalam benaknya kembali terkenang perogolan yang dilakukan oleh Ishak Rompies, entah kerasukan apa sehingga ia melakukan tindakan amoral tersebut.
Tindakan itu menyebabkan hymennya robek meneteskan darah perawan yang berupaya dijaganya. Namun anugerah itu dirampas paksa Ishak melalui tindakan rudapaksanya itu. Namun entah mengapa, Selina tanpa sadar menikmati setiap senti daging panjang lembut mirip teripang yang menempel diwilayah selangkang pemuda itu.
Ujungnya yang bulat bagai kepala jamur itu terasa menghentak menyentuh permukaan dasar pintu serviks membuat Selina didera sensasi aneh dari kenikmatan yang menusuk kedalam pori-pori otaknya. Semburan cairan saripati seputih susu kental itu terasa benar memasuki ruangan uterusnya.
Ishak telah berani menjamah batas terlarang yang menuntut konsekuensi paling dasar dalam hakikat keberadaan manusia, yaitu reproduksi dan berujung pada pertanggungjawaban moral untuk memberikan perlindungan hukum kepada gadis yang ditidurinya dengan paksa di ruangan UKS itu.
Selina mengangkat tangan dan jemarinya menyentuh salah satu gundukan mammalnya yang membulat sempurna. Bulatan areola yang coklat kemerahan dan putingnya yang proporsional itu telah dijamah dan dibelai Ishak disela-sela aktifitas rudapaksanya itu.
Selina kembali menatap bagian perutnya dan membelainya. Gadis itu merasakan ada hawa hangat dalam perutnya. Apakah saripati itu telah berhasil menjebol dinding sel telurnya dan memulai proses pertama dari reproduksi?
Gadis itu mendesah. Ishak... kau harus bertanggung jawab untuk ini... aku tak mau jika sesuatu yang menggeliat banhun dalam tubuhku ini tumbuh menjadi sosok tanpa ayah...
Selina menatap pakaiannya yang berserakan di sisi ranjang. Ia melangkah mendekati ranjang dan meraih pakaian itu kemudian mengenakannya lagi. Gadis itu mengurai rambutnya lalu duduk disisi ranjang.
Terdengar ketukan. Selina mendongak menatap pintu. "Siapa?!" serunya.
"Seli... Itu Aldi datang bertamu, lho." seru suara ibunya dsri balik pintu.
Selina melebarkan matanya. Aduh... Aldi...
"Ya, sebentar Maaa..." ujar Selina.
Gadis itu bangkit dan mengenakan jilbabnya. Setelah itu ia melangkah menuju pintu dan membukanya. Nampak sang ibu menatapnya dengan wajah keruh.
"Itu Aldi sudah menunggumu. Temui dia, ayo!" ujar ibunya.
Selina mengangguk lalu melangkah meninggalkan ibunya menuju ruang tamu, dimana seorang pemuda sedang duduk meremas jemari-jemarinya. Kemunculan Selina membuatnya menghentikan perbuatan mubazir itu dan bangkit lalu menyambut gadis itu.
"Bagaimana kabarmu? Kulihat kau lesu akhir-akhir ini." ujar Aldi dengan senyum.
Selina hanya tersenyum datar saja menanggapi ucapan pacarnya. Maafkan aku Aldi... aku sudah tak suci lagi... aku sudah tak pantas bagimu...
"Aku... lagi... kau tahulah..." ujar gadis itu berkilah.
Aldi tertawa. "Ah ya... tamu bulanan..." sahutnya menyebut istilah untuk menstruasi yang dialami kaum wanita. "Sudah berapa hari?"
"Baru tiga hari." jawab Selina berbohong. Aldi... pergilah... carilah yang lebih baik dariku... aku sudah tak suci lagi...
Aldi menghela napas. "Sebenarnya, aku kepingin mengajakmu jalan-jalan malam ini. Tapi, kurasa kau tak akan berminat." ujarnya dengan wajah yang agak kecewa.
"Katakan kemana kita akan pergi?" tanya Selina.
"Kau mau pergi?" tanya Aldi dengan senyum yang tersungging.
Selina mengangguk. Maafkan aku Aldi... kurasa ini akan jadi malam kencan kita yang terakhir...
Aldi mengangguk-angguk. "Baik... minta ijinlah sama ibu. Aku akan menunggumu."
"Baiklah... tunggu sebentar..." ujar Selina kembali bangkit. Gadis itu ke belakang, menemui ibunya.
...*****...
📲 "Hulodumu! Lo Buta Ambunguma!" umpat lelaki itu dengan berang. Ia benar-benar murka. "Aku memberimu tugas untuk mengawal putriku! Bukan untuk meniduri anak orang, Telelilamu ti!!!!"
Skullen hanya bisa menghela napas bernada keluh saat dimaki-maki lelaki itu lewat percakapan seluler. Ia diam saja sebab itu kesalahan besar yang dilakukannya menurut kacamata lelaki parobaya itu.
📲 "Skullen? Skullen? Masih disana kau?!" panggil lelaki itu.
📲 "Saya disini, Sensei." jawab Skullen dengan pelan.
📲 "Siapa perempuan itu?! Apa ia sekelas dengan Ichi?!" selidik lelaki tersebut.
📲 "Tidak... perempuan itu kakak tingkatku di Madrasah Aliyah... kelas 12 IPA." jawab Skullen lagi dengan pelan.
📲 "Brondong pemakan daun juga kau ya?!" sindir lelaki itu. "Kau kalau memang sudah pengen menikah, katakan saja Skullen. Aku akan mencarikan perempuan sesuai keinginanmu! Kenapa kau buang-buang air m**i kamu sembarangan ke liang m***k perempuan lain, hah?!"
Skullen sekali lagi menghela napas.
📲 "Sudahlah Sensei." pungkas Skullen, "Semuanya sudah terjadi. Aku tak bisa memutar kembali waktu yang berlalu. Aku hanya bisa melakukan tanggung jawab sebagai seorang lelaki."
📲 "Ya! Itu wajib kamu lakukan! Aku tak pernah memelihara serigala, Skullen!" tukas lelaki tersebut. "Hari ini, segera temui perempuan itu dan nyatakan pertanggungjawaban kamu! Kau seorang samurai, Skullen. Kata-kata adalah beban yang tak gampang disandang!" tandasnya.
__ADS_1
📲 "Saya akan melakukannya, hari ini juga." ujar Skullen.
Lelaki itu langsung menutup percakapan seluler, mungkin kemurkaan telah menjalari hatinya sehingga tak berminat lagi meneruskan percakapan. Ia menghempaskan punggungnya pada bantal yang disandarkan ganda. Tak lama setelah itu, lelaki itu kemudian menghubungi istrinya.
📲 "Halo, assalamualaikum..." sapa lelaki itu.
Azizah tersenyum lalu menjawab.
📲 "Wa alaikum salam... wololo habari li Abi tetomola?" tanya Azizah dengan lembut.
📲 "Alhamdulillah, piyo-piyohu..." jawab lelaki itu.
📲 "Mayilongola utiye paitua'u ti bo ja semangat mo bisala? Tandu maluwo poli masalah?" tebak Azizah sekalian menyelidik. Wanita itu memang paling tahu nada suara suaminya. Bahkan suara deru kendaraan roda dua miliknya dihafal benar oleh sang istri.
Lelaki itu tertawa pelan.
📲 "Dila..." elaknya, "Bo Asam lambung naik lagi..."
📲 "Pe-endapo..." sela Azizah. "Asam lambung naik... beehhh... masalah damanga poli utiye..."
Lelaki itu tertawa lagi.
📲 "Abi bilang lagi kena gastritis... ti bo po i'iya??... uhmmm... mo himbulowa poli laliti..." tukas Azizah menjebikan bibirnya.
📲 "Terserah to bayamu am... ma ti hilamu." olok lelaki itu.
📲 "Tapi di sekolah, baik-baik saja kan? Nggak ada masalah?" selidik Azizah.
📲 "Untuk saat ini nggak ada masalah berarti... kalau masalah aplikasi GTK, sudah Abi tangani... tinggal tunggu intruksi untuk menerbitkan berkas..." jawab lelaki itu.
📲 "Alhamdulillah, kalau begitu." sahut Azizah.
📲 "Uhm... da bo itu yang ada cari-cari, toh?" olok lelaki tersebut, menerbitkan tawa Azizah.
📲 "Ya iyalaaaah... masa iya-iya dong?" sahut Azizah lagi.
📲 "Bagaimana kabar anakku? Apa Umi belum mengunjungi asramanya?" tanya lelaki itu.
Azizah menarik napas sejenak.
📲 "Asramanya ketat sekali aturannya..." jawab Azizah. "Kasihan dia..."
Alis lelaki itu berkerut.
📲 "Ya, kasihan Abi..." ungkap wanita itu. "Bayangkan, tidur dilantai, belum lagi perkara makan hanya dua kali dalam sehari... itu anak kita biar makan berapa kali tetap saja kurus... apalagi kalau makannya diatur hanya dua kali sehari? Bisa kerempengan anak kita!"
📲 "Nggak masalah... selama hal itu menumbuhkan rasa hormatnya terhadap makanan." tangkis lelaki itu. "Dengan demikian, ia akan menyadari betapa penting dan berharganya sebuah makanan."
Lelaki itu sudah bisa menerka bahwa alis istrinya langsung berkerut saat itu. Lelaki itu lalu menjelaskan ulang.
📲 "Selama ini, dalam masa kepengasuhan kita berdua, Ichi sering tak menghargai makanan. Ia hanya makan sedikit saja dan lebih sering tenggelam dalam game online. Sekarang anak itu merasai betapa tak enaknya tidur dan melakukan aktifitas tanpa makan. Aku yakin... saat dia makan, ia sedang melahap makanan itu dengan senang sebab tak ada lagi hal semacam itu diterapkan dirumahnya." tutur lelaki tersebut.
📲 "Asal jangan sampe kena gejala asam lambung kayak Abi!" tekan Azizah dengan raut tak suka.
📲 "Ya, biar saja." ujar lelaki itu. "Penyakit lambung itu, penyakitnya orang-orang yang banyak pikiran... kayak aku ini."
📲 "Ya jangan terlalu banyak berpikir, Abi." ujar Azizah memelas. "Penyakit autoimunnya nanti kambuh lagi."
📲 "Yang bikin penyakitku kambuh kan kamu, Umi." olok lelaki itu tertawa. "Ada masalah dikit, ngecurhat lagi sama aku. Lha??? Aku ikut kepikiran, kan?"
📲 "Kamu itu kalau bukan suamiku, aku nggak ngecurhay sama kamu." tukas Azizah dengan kesal.
📲 "Iya... tapi kan nggak semua harus dicurhat ke aku, sayang. Kalau hal itu masih bisa kamu tangani baik dari kacamata seorang istri atau wanita... kan kamu bisa solving sendiri problema nya." tangkis lelaki itu. "Aku selalu percaya kalau Umi sebenarnya biangnya manajerial. Hanya saja Umi yang terlalu malas menggali potensi diri dan takut untuk melakukan tindakan."
📲 "Aku malas karena Abi sering audit segala kegiatan ekonomiku." balas Azizah dengan kesal. "Cobalah paham bagaimana kerja seorang istri."
📲 "Ya, aku paham." ujar lelaki itu. "Tapi semua pertimbangan ekonomi rumah tangga harus didasarkan pada dasar anggaran... sebesar apa gaji suamimu, seberapa besar hutangnya di bank, seberapa mampu dia memenuhi segala impianmu?"
Azizah hanya mendesah.
📲 "Baiklah Abi... Umi akan cukup-cukupkan pembiayaan rumah tangga... asalkan Abi jangan menyesal lho." ujar Azizah.
Lelaki itu tertawa...
📲 "Memang aku pernah protes kau kasih makan apa? Nasi dan garam saja biasa ku embat, kok." tangkis lelaki itu. "Cuma kan ganjil saja... suami punya penghasilan kok makannya saban hari hanya nasi pake garam?" oloknya.
📲 "Lho? Berarti yang kemarin-kemarin ku kasih lauk nike ilepa'o, gulai sotong, udang goreng dan lain-lain... belum masuk dalam hitungan?!" todong Azizah.
📲 "Masuk kok..." sahut lelaki itu. "Makanya aku berterima kasih sama kamu, istri cantikku... makasih ya?"
📲 "Huh, cantik-cantik-cantik... lalu di Tolinggula kau selingkuh lagi..." tukas Azizah dengan kesal.
__ADS_1
📲 "Eh, aku nggak selingkuh lho. Kamu saja yang nuduhnya begitu?!" balas lelaki tersebut. "Umi... kalau cuma perkara mau nusuk lubang, gampang kok... banyak pohon pisang disini... banyak juga kambing..." olok lelaki itu.
📲 "Memang sudah pernah merasai pohon pisang?!" selidik Azizah.
📲 "Uhhh... perih coy..." sahut lelaki itu.
📲 "Tapi kamu selingkuh, kan?!" selidik Azizah lagi.
📲 "Umi, ngapain aku sekingkuh sih? Meski kita Dalam posisi Long Distance Relationship semacam ini, kan cintaku padamu nggak kemana-mana. just to your heart. Ke hatimu saja kok." tangkis lelaki itu.
📲 "Uhm... gombal kelas terasi." ejek Azizah.
📲 "Biarin... yang penting aku ngegombal kamu." ujar lelaki tersebut.
📲 "Ada maunya nih..." tebak Azizah.
📲 "Tahu saja..." ujar lelaki itu kemudian tertawa.
Azizah menjebikan bibirnya sejenak lalu tersenyum.
📲 "Ya sudah Abi... kututup dulu ya? Soalnya sudah ngantuk." ujar Azizah dengan lembut.
📲 "Daaagh sayang... assalamualaikum..." jawab lelaki itu.
📲 "Wa alaikum salaam..." balas Azizah dengan lembut pula.
Percakapan seluler itu berakhir dan lelaki itu meletakkan gawai tersebut disisinya. Ia melirik sejenak ke jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit. Ia mendesah dan setelah itu memejamkan mata, merehatkan pikiran yang terlanjur mengganggunya.
...******...
Aldi semakin tersenyum menyaksikan Selina yang sibuk memasukkan lontong yang dibalur pecel. Gado-gado memang termasuk makanan favorit gadis itu. Menurutnya dalam hal medis, makanan ini mengandung vitamin paling banyak, apalagi serat.
"Kamu tahu nggak, asal makanan itu dari mana?" tanya Aldi menunjuk piring berisi gado-gado tersebut.
Selina menatap pemuda itu. Aldi kemudian bercerita. "Gado-gado aslinya berasal dari Betawi...berasal dari kata digado, yang artinya dimakan nggak pakai nasi."
"Oh ya?" respon Selina dengan senyum.
Aldi mengangguk. "Iya...makanan gado-gado saja sudah populer dikalangan masyarakat Betawi sejak tahun 1950-an hingga saat ini."
Selina mengangguk-angguk. Aldi membelai rambut bagian kiri gadis itu. "Kamu menyukai makanan ini sejak kapan?"
"Sejak aku mencari makanan yang bergizi." jawab Selina membesarkan matanya lalu tertawa. "Ya nggak lah. Makanan ini memang favoritku sejak kecil."
Aldi tertawa dan mengangguk-angguk. "Tapi makanan ini justru diminati banyak masyarakat Belanda sejak jaman kolonial. Mereka menamainya Bonensalade. Orang Portugis menyebut makanan ini Salada de Feijão." ungkapnya.
Selina menyuap makanan terakhirnya dan kemudian meminum air lalu mengambil tisu kertas, mengelap bibirnya dan menatapi Aldi.
"Di... aku mau bilang sesuatu." ujar Selina dengan datar.
"Katakan saja, Seli." jawab Aldi.
Selina menimbang-nimbang sejenak ungkapan perasaannya saat itu. Lama ia kemudian menutup mata menegaskan hati dan kemudian membuka matanya lagi.
"Aku minta... hubungan kita diakhiri saja." ujar gadis itu.
Kalimat yang baru saja keluar dari bibir gadis itu bagaikan palu godam yang menghantam batok kepalanya. Sejenak alis lelaki itu berkerut lalu mendatar lagi. Senyum terang diwajahnya meredup menjadi senyum samar, menyembunyikan kemarahannya sebab permintaan gadis itu dianggapnya tak masuk akal dan menyinggung perasaannya.
"Selina..." panggil Aldi dengan lembut, namun tubuhnya sedikit menggigil.
Selina mengangkat alisnya.
"Kamu... nggak serius dengan kata-katamu barusan, kan?" tanya Aldi sekali lagi. Semoga saja dia hanya ngelantur saat mengucapkan kata-kata itu...
Selina menarik napas lalu mendesah. "Aku serus, Di. Kita putus saja."
"Setelah lima tahun kita menjalin hubungan... kau minta putus?" ujar Aldi memicingkan matanya. "Katakan padaku Sel, siapa lelaki itu? Sejak kapan kalian berdua menjalin hubungan dibelakangku?"
"Nggak ada apa-apa. Kau salah mengira kalau aku selingkuh. Aku tak pernah selingkuh dibelakangmu. Tapi..." tutur Selina tercekat saat menjelaskan alasannya. Tapi... aku sudah terlanjur kotor untukmu Di...
"Tapi apa?!" tanya Aldi dengan datar.
"Aku merasa... kita tak akan bisa bersatu..." tandas Selina.
"Aku tak mengerti." tukas Aldi. "Dua orang tuamu sudah tahu hubungan kita. Orang tuaku juga sudah tahu hubungan kita. Mereka merestui. Selepas sekolah ini, kita akan menikah Selina. Tapi apa yang membuatmu memutuskan hubungan ini secara sepihak?!" todong lelaki itu.
"Aku... aku..." ujar Selina dengan berat hati. Lidahnya seperti kelu mengungkap kebenarannya.
"Apa Selina? Apa?!" desak Aldi.
__ADS_1
"Dia Sekarang milikku!" seru seseorang yang membuat keduanya menoleh. Seketika wajah Selina menegang.
"Kau!!!" []