
Tubuh Ishak menggeloyor lemah jatuh dalam posisi duduk bersimpuh. Kekuatan fisiknya seakan menguap ketika Azkiya menyerang titik-titik vital dibagian tubuhnya dengan berbagai teknik pukulan beruntun itu. Ki miliknya buyar membuat bioplasmik tubuhnya kacau dan tak mampu melakukan pranic healing untuk menolak efek tumbukan pukulan itu.
Azkiya berdiri dan mengangkat tangan hendak mengayunkan tetsui uchi (pukulan martil) mengarahkannya ke batok kepala Ishak.
"Toshisada... apa kau menyerah?" tanya Azkiya menyebut nama asli dari Ishak Rompies.
Perlahan Ishak mengangkat wajah menatap Azkiya. "Watashi ga akiramete iru no o mimasu ka?" (Apakah kau lihat aku menyerah?) ujarnya mengejek Azkiya.
Azkiya tersenyum dan mendengus. "Anata wa yūkandesu... shikashi... orokadesu!" serunya sambil mengayunkan tetsui uchi menghantam batok kepala Ishak.
Pemuda itu tersentak dengan mata melebar dan mulut membuka. Tak lama kemudian tubuh itu roboh ke tanah dan pingsan diiringi oleh suara ribut para santri. Azkiya kemudian memungut Si Penebas Angin yang menggeletak ditanah dan menyarungkan pedang jenis gunto tersebut. Wanita itu mengambil pula jaket mantelnya yang menggeletak ditanah kemudian mengenakannya kembali.
Saripah sendiri maju dan menyarungkan pedang yang semula digenggam Ishak kedalam warangkanya kemudian berdiri menatap Azkiya. Wanita itu memberikan Si Penebas Angin kepada Saripah untuk disimpan dalam kendaraannya.
Kenzie hanya menghela napas dan bangkit. "Pak Ustadz... aku harus bicara dengan anda dan pengurus pondok pesantren." ujarnya menatap Ustadz Gau.
"Baiklah... kita akan bicara di ruang kepengasuhan." jawab Ustadz Gau, "Saya akan menghubungi kepala pondok dan yayasan."
Kenzie mengangguk lalu menatap lelaki parobaya yang juga mengangguk ke arahnya. Adapun Ishak yang pingsan kemudian digotong oleh Faisal dan Yanto menuju ke asramanya.
...******...
"Abi, kapan datang?" tanya Ichi.
Gadis itu memang sejak lama didera penasaran sebab kedatangan sang ayah, tak ada pemberitahuan tentang itu. Lelaki parobaya itu tersenyum dan membelai kepala putrinya.
"Abi datang mendadak, sayang." jawab lelaki itu. "Umi saja nggak Abi kasih tahu, tiba-tiba dia terlonjak saat melihat Abi sama orang-orang Buana Asparaga dirumah."
Ichi mengangguk-angguk. Lelaki parobaya itu mencondongkan wajahnya. "Kenapa?" tanya sang ayah.
Ichi terlonjak lagi. "Ahhh... nggak apa-apa." jawab gadis itu dengan cepat.
Lelaki parobaya itu menarik wajahnya. "Mana pemuda bernama Faisal itu? Abi mau ketemuan dengan dia."
Ichi terkejut saat ayahnya menyebut nama pemuda arab itu. Siapa yang memberitahukannya? Benak Ichi mulai dipenuhi macam-macam pertanyaan.
"Nggak usah su'udzoon dengan teman-temanmu. Abi dapat informasi ini dari orang lain." jawab lelaki parobaya itu dengan datar.
"Dari siapa sih?" tanya Ichi dengan penasaran.
"Nggak perlu tahu." pungkas sang ayah. "Cepat, panggil pemuda bernama Faisal itu." perintahnya dengan nada datar.
"Ya... bukannya Abi lihat kalau Kak Fais menggotong Kak Ishak ke asrama?" elak Ichi. "Temui saja dia disana. Perempuan nggak boleh masuk wilayah laki-laki."
"Iya ya..." seru lelaki parobaya itu menyadari hukum yang berlaku di pondok pesantren tersebut. "Ya, sudah. Kau kasih tahu saja letaknya, Abi akan kesana."
...*****...
Kenzie dan istrinya diterima oleh pimpinan pondok pesantren, Kyai Hakim, dan Ketua Yayasan, Ustadz Hamdi yang telah dihubungi beberapa saat lalu oleh Ustadz Gau disela-sela kegiatan mereka menonton pertandingan antara Ishak dengan Azkiya tadi. Sementara Saripah memilih duduk diluar menemani Ustadz Gau yang juga memilih tidak mencampuri urusan antara pimpinannya dengan orang-orang dari Buana Asparaga tersebut.
"Kalau boleh tahu... apa keperluan Bapak menyambangi pondok kami?" tanya Kyai Hakim dengan santun.
Kenzie tersenyum lalu merogoh sesuatu dibalik jaketnya. "Maaf jika sekiranya, tuan-tuan sekalian menganggap saya lancang dan tak sopan." ujarnya kemudian meletakkan secarik kertas cek tunai yang kemudian disorongkan ke arah Kyai Hakim. "Kedatangan kami, memiliki dua maksud yang berhubungan dengan anak bernama Ishak Rompies."
Kedua mata Kyai Hakim langsung memicing sejenak. Batinnya menebak bahwa Ishak memiliki hubungan dengan orang-orang ini. Ustadz Hamdi kemudian bertanya.
"Kalau boleh kami tahu, kedua tujuan anda itu apa?" selidik Ustadz Hamdi dengan senyum. Sebenarnya ia telah menebak sendiri jawabannya, hanya saja ia ingin memastikan apakah tebakannya itu benar.
Kali ini Azkiya yang berbicara mewakili suaminya. "Kami sudah mendengar tentang protes yang diajukan oleh orang tua dari salah satu siswi, berhubungan dengan Ishak. Jadi keberadaan kami disini adalah mengklarifikasi tentang kesalahpahaman persepsi tentang Ishak dari perspektif orang tua siswi tersebut. Yang kedua, kami mohon kepada Bapak Kyai untuk memediasi pertemuan kami dengan orang tua dari siswi tersebut." tutur Azkiya mengakhiri perkataannya.
"Lalu... lembaran ini untuk apa?" pancing Kyai Hakim dengan senyum.
"Maaf sekali lagi, Pak Kyai. Mohon jangan tersinggung. Kedatangan kami, dua laki-bini ini juga hendak sowan dan berbagi sedikit dari rejeki yang dilimpahkan Allah untuk Buana Asparaga. Mohon diterima, Pak Kyai." jawab Kenzie dengan santun.
"Oooo... saya pikir ini gratifikasi supaya antum meminta kemudahan kepada saya untuk memediasi pertemuan dengan pihak keluarga dari Selina." tukas Kyai Hakim. "Terima kasih atas sedekahnya, Pak Kenzie. Semoga amal anda sekeluarga makin lancar..."
"Jangan doakan kami, Pak Kyai." ujar Kenzie membuat Kyai Hakim heran.
"Maksudnya?" tanya Kyai Hakim lagi.
"Mohon doakan orang-orang yang menggantungkan rejeki Allah lewat Buana Asparaga... dengan ini Kyai telah membantu mendoakan kami sekeluarga juga." jawab Kenzie membuat Kyai Hakim tertawa.
__ADS_1
"Anda memang orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi." puji lelaki itu sekaligus menyindir dan menggoda membuat Kenzie tersipu dan membungkuk takzim lagi.
"Mohon doanya, Kyai." ujar Kenzie.
"Anakmu yang laki-laki itu, sekolah di Madrasah Diniyah Alkhairaat Gorontalo, ya." tukas Kyai Hakim tiba-tiba membuat Kenzie terkejut dan memandang lelaki itu.
"Kyai... darimana Pak Kyai tahu?" seru Azkiya dengan heran.
Kyai Hakim hanya manggut-manggut lalu terkekeh. "Aku suka anak itu. Dia memiliki aura seorang raja. Kelihatannya dia akan menjadi raja disebuah daerah... apakah itu ditanah kelahiran ayahnya... mungkin juga tanah kelahiran ibunya."
Azkiya langsung terhenyak. Penuturan lelaki itu nyaris sama dengan penuturan Bapu Ridhwan. Wanita itu benar-benar takjub dengan pengetahuan gaib ulama tersebut.
"Kalian orang tuanya harus benar-benar membimbing anak itu dengan baik. Auranya sangat besar... ia akan banyak memiliki wanita... kalau nggak salah... sebanyak ini." ujar Kyai Hakim memperlihatkan tiga jemari yang ditegakkan.
Azkiya makin terkejut. "Pak Kyai..." ujarnya. "Apakah bapak tahu tentang masa depan Saburo?"
"Saburo?" gumam Kyai Hakim, "Kok aku malah mengenalnya sebagai Sandiaga, ya?"
"Anak kami memang memiliki dua surat lahir." jawab Kenzie. "Mertua saya membuatkan sebuah di jepang dan menamai putra saya, Saburo Koga Mochizuki. Dan ayah saya membuatkan pula baginya disini dengan nama Sandiaga Hermawan Lasantu."
Kyai Hakim manggut-manggut lagi. Ia tersenyum. "Aku tak punya kekuasaan melihat masa depan seseorang, Nyonya Kenzie." ujar Kyai Hakim kepada Azkiya. "Tapi aku akan mendoakan semoga putra kalian akan menjalani kehidupannya dengan baik."
"Amiin..." jawab Azkiya dengan senyum penuh syukur.
"Tapi jangan bilang-bilang sama anakmu tentang ini ya?" pinta Kyai Hakim. "Nanti dia jadi malas mengejar takdirnya dan Allah tidak menyukai hamba yang pemalas! Justru kalian harus mendidiknya dengan lebih baik lagi. Bisa, kan?"
"Insya Allah, Pak Kyai." jawab Kenzie dengan senyum bahagia.
Kyai Hakim manggut-manggut lagi lalu menatap Ustadz Hamdi. Lelaki itu seakan paham dari tatapan pria disisinya langsung tanggap.
"Besok saya akan menghubungi orang tua dari Selina. Sebelumnya, saya ingin tanya. Apakah pertemuannya diselenggarakan disini, atau dirumah dari siswi tersebut?" tanya Ustadz Hamdi.
"Alangkah baiknya kedua bapak menemani kami menemui orang tua dari Selina itu." ujar Azkiya.
"Biarlah Ustadz Hamdi yang akan memediasi pertemuan kalian. Insya Allah... selama pertemuan itu bertujuan untuk kebaikan, Allah pasti akan gampang memudahkan." ujar Kyai Hakim.
"Baik. Insya Allah saya hubungi beliau besok untuk membahas pertemuan tersebut." ujar Ustadz Hamdi.
"Tolong dipercepat ya? Sebab mereka ini banyak memiliki agenda kerja." pinta Kyai Hakim.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita membawa nampan berisi kue dan beberapa cangkir berisi minuman.
"Silahkan dinikmati." ujar Kyai Hakim sambil tak lupa menyuguhkan pula minuman untuk Saripah dan Ustadz Gau diluar ruangan.
...*****...
"Siapa yang bernama Faisal Husein disini?!" seru lelaki parobaya itu dengan suara menggelegar.
Yanto benar-benar terlonjak kaget sebab suara lelaki itu bagai bahana guntur yang menjebol kamar tersebut. Faisal menoleh menatap lelaki itu kemudian bangkit dan berdiri.
"Saya, Faisal Husein Polontalo." jawab Faisal dengan datar namun santun.
Lelaki parobaya berbadan besar mirip beruang itu mengangguk-angguk sejenak lalu melangkah masuk. Ia menatap Yanto.
"Kurasa kau tak dibutuhkan disini, anak muda!" ujar lelaki itu dengan tatapan tajam membuat nyali Yanto seketika ciut. pemuda itu lekas-lekas bangkit dan lari meninggalkan kamar itu membiarkan ketiga lelaki itu berada disana.
Setelah meyakinkan ketiadaan Yanto disana, lelaki itu kembali menatap Faisal. "Kau jangan bohong. Bukankah margamu sebenarnya adalag Assegaf?!"
Faisal terhenyak. "Oom? Darimana Oom tahu?" tanya pemuda itu dengan penasaran.
Lelaki itu tersenyum lalu melangkah menuju dipan dan duduk dipinggirannya. Ia menatap Faisal. "Duduklah nak." pintanya.
Faisal kemudian duduk ditepi ranjang yang ditiduri Ishak. Pemuda itu balas menatap lelaki parobaya itu dengan tajam.
"Aku adalah ayah dari Azkadiratna...." ujar lelaki parobaya itu membuat mata Faisal melebar. "Kudengar... kau begitu akrab dengan putriku."
"Tapi tak sejelek menurut sangkaan Oom." tukas Faisal.
"Apakah aku menyinggungmu, anak muda?" tukas lelaki parobaya itu memicingkan mata.
"Aku sedikit-banyak paham gaya-gaya para orang tua yang protektif terhadap anak perempuannya." jawab Faisal.
__ADS_1
Lelaki itu mengangguk-angguk. "Hm... berarti penuturan Skullen tentang kamu, benar."
"Skullen? Siapa itu Skullen?" tanya Faisal.
"Nggak usah diperdulikan." ujar lelaki itu mengibaskan tangannya. "Aku hanya ingin menegaskan satu hal."
"Apa itu Oom?" tanya Faisal.
"Jauhi... putriku." pinta lelaki parobaya tersebut.
Alis Faisal berkerut. "Apakah itu tantangan atau ancaman?" tanya pemuda tersebut.
"Kamu tahu, mengapa kau diberi nama Faisal oleh orang tuamu?" pancing lelaki itu.
"Bisakah Oom memberitahu?" balas Faisal sekali lagi.
"Agar kau bisa memisahkan mana yang haq dan mana yanh bathil. Namamu adalah bentuk kata kerja dari kata hakim yang artinya penegas hukum." ujar lelaki tersebut. "Aku harap kau bisa melakukan hal sesuai dengan namamu itu."
"Apakah menjauhi Ichi adalah bagian dari kebenaran?" pancing Faisal.
"Kau seorang keturunan Ba' Alawi..." ungkap lelaki itu. "Derajat keturunanmu mungkin lebih tinggi dari Ichi..."
"Persetan dengan darah keturunan." ujar Faisal dengan jengkel. "Aku mencintai orang sekehendakku. Hanya Allah yang bisa mengintervensi keputusanku, selain itu tidak akan bisa."
"Termasuk aku?!" pancing lelaki parobaya tersebut.
Faisal bungkam dipancing seperti itu. Ia tak mau terjebak oleh kata-katanya sendiri. Lelaki itu menggeram sesaat dan Faisal dapat dengan jelas mendengar suara mirip geraman seekor hewan buas dari mulut lelaki parobaya tersebut. Setelah puas menggeram, lelaki parobaya itu kemudian mendesah.
"Hhhh... aku tak tahu, apakah ayahmu seorang penggemar seni beladiri atau nggak." ujar lelaki itu. "Yang jelas, namamu mirip dengan nama seorang pendekar cina muslim dari Kanton."
"Siapa?" tanya Faisal.
"Wong Fei Hung." jawab lelaki itu kemudian mendesah lagi dan meminta, "Bisakah kau keluar? Aku hendak bicara dengan anak yang terbaring pingsan itu."
"Ishak masih pingsan." ujar Faisal.
Lelaki parobaya itu bangkit dan melangkah mendekati ranjang yang didiami Ishak. Faisal seketika menyingkir ke samping membiarkan lelaki parobaya itu membungkuk sedikit dan menyentuh dada pemuda itu.
Faisal dengan jelas melihat lelaki parobaya itu menekan lembut dada Ishak dengan telapak tangannya. Tubuh Ishak bergetar sesaat dan kemudian kembali diam. Tak lama kedua mata yang terpejam itu mulai membuka dan memandang orang yang membangunkannya dari pingsannya.
"Sensei..." ujar Ishak dengan parau.
"Guru? Dia, gurumu?" tukas Faisal dengan kaget.
Ishak terkejut menyadari keberadaan Faisal disana. Lelaki parobaya itu mengangguk.
"Nggak usah terkejut begitu. Anak itu yang membawamu ke kamar." ujar lelaki parobaya.
Ishak bangkit perlahan dan duduk bersila diranjang itu. "Sensei, apa yang harus kulakukan sekarang? Kurasa aku tak bisa tinggal lagi didalam pondok."
"Aku tahu. Nanti aku akan memberitahu Ustadz Gau untuk mengeluarkan kamu dari pondok, tapi perkara sekolah, kau tetap sekolah disini." ujar lelaki parobaya tersebut.
"Boleh aku bertanya padamu?" ujar Faisal.
Ishak menatap pemuda itu. Faisal bertanya lagi, "Mengapa kau merajah sekujur tubuhmu? Apakah kau seorang yakuza?"
Ishak tersenyum. "Mengapa? Setelah melihat rajahan irezumi ini, nyalimu langsung ciut?" tantang pemuda itu. "Jika benar aku seorang yakuza... apa kau takut? Faisal Husein Assegaf?"
"Jangan pakai marga itu disini. Aku seorang anggota keluarga Polontalo." bantah Faisal.
"Sebaiknya kau diam dan tak perlu menyelami lebih jauh, Faisal... dan jauhi putriku." tandas lelaki parobaya tersebut.
"Anda tak memiliki hak untuk melarang saya berteman dengan putri anda. Kita berdua tak ada hubungan dendam." tukas Faisal.
"Persahabatanmu dengan putriku memiliki makna yang lain. Hubungan kalian tidak lazim." kilah pria parobaya tersebut.
"Anda takut aku akan menculiknya dari anda?" tukas Faisal menantang.
"Sudah kubilang, Sensei... berikan sajalah jabatan bodyguard itu kepada Faisal... dia lebih berkompeten." olok Ishak.
"Apa kau pikir hal ini lucu?!" hardik lelaki parobaya tersebut.
__ADS_1
Ishak langsung menunduk takzim. "Tidak, Sensei. Maafkan saya." ujarnya.
Lelaki parobaya itu kembali menatap Faisal. "Jika kau tetap meneruskan persahabatanmu dengan Ichi... kau akan menyesalinya." ujar lelaki itu kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut. []