KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
DAEMÖN ĞIŁŁETŌ


__ADS_3

Ustadz Gau saat itu baru saja selesai menyabit rerumputan yang tumbuh rimbun di halaman rumah pengasuhan ketika ia mendengar gawainya yang menggeletak di meja berbunyi.


Lelaki parobaya itu bangkit dan menaiki beranda rumah lalu meraih ponsel tersebut, menatap layarnya sejenak lalu menjawab panggilan.


📲 "Assalamualaikum..." jawab Ustadz Gau.


📲 "Wa alaikum salam... Guru..." balas suara pemuda diseberang.


📲 "Ada apa Ishak?" tanya Ustadz Gau dengan nada datar.


Penghubung itu memang Ishak. Ia menghubungi pengasuhnya dari Puskesmas Marisa.


📲 "Hari ini, aku belum masuk sekolah, Ustadz." ujar Ishak. "Aku masih menemani Selina yang sekarang ini ada di Puskesmas."


Ustadz Gau mengangguk-angguk. Berita itu memang baru dia terima dari Faisal.


📲 "Nanti akan kusampaikan kepada guru-gurumu... tapi kelihatannya... kau sudah lama tidak bersekolah, Ishak." tegur Ustadz Gau.


📲 "Saya mohon maaf untuk itu Ustadz." ujar Ishak. "Tapi, Selina juga penting untuk saya. Saya harap, Ustadz dapat memakluminya."


Ustadz Gau hanya menghela napas.


📲 "Aku tahu kedudukanmu dan aku memahaminya... hanya saja aku tak tahu apakah mereka akan memahamimu atau tidak." tukas Ustadz Gau.


📲 "Terima kasih... besok saya akan menghadap Ustadz." ujar Ishak. "Assalamualaikum..." ujarnya kemudian memutuskan percakapan seluler itu.


Ustadz Gau hanya menghela napas lagi lalu membalas pelan. "Wa alaikum salam."


...*****...


"Kau sudah terlalu banyak berkorban." tegur Selina. "Pikirkan juga pendidikanmu."


"Itu sudah kupikirkan sejak lama." jawab Ishak menatap Selina lalu bangkit dan melangkah menuju jendela. "Aku berencana untuk berhenti sekolah."


Selina terkejut.


Ishak berbalik menatap gadis itu lalu tersenyum. "Setelah menikahimu, aku akan bekerja." ujar Ishak. "Pendidikan memang penting. Tapi bukan lagi menjadi prioritas utama. Menafkahimu itulah prioritas utamaku saat itu."


Selina terdiam. Ishak kembali melangkah menuju ranjang dan duduk ditepian dipan itu. Pemuda itu mengulurkan tangannya dan membelai rambut Selina dengan jemari kekarnya.


"Mulai saat ini, aku yang akan melindungimu... dari siapapun!" tandasnya.


Selina sejenak menunduk. Ishak menyentuh dagu gadis itu dan menegakkan wajahnya kembali.


"Kau mau kan? Bersamaku menjalani hari-hari mulai saat ini?" tanya Ishak dengan lembut.


Selina akhirnya tersenyum dan meraih tangan Ishak lalu mengecupnya dengan lembut. Gadis itu kemudian memandang pemuda itu dan berkata, "Aku bersedia..."


...*****...


Bataviereen, 06 Maret 1826.


Imagawa Toshisada memutuskan tidak pulang ke Jepang. Ia satu-satunya samurai yang memilih mengembara kembali setelah sebagian besar sahabat-sahabatnya memutuskan meninggalkan Banda Naeira setelah peperangan itu dan menuju Luzon, bergabung dengan beberapa warga Jepang yang menetap disana sejak Takayama Ukon membawa pengikutnya ke pulau itu dan mengganti namanya menjadi Don Justo.

__ADS_1


Toshisada memutuskan menaiki kapal menuju Bataviereen dan menetap disana, kemudian mengabdi pada salah satu pedagang timur yang kaya sebagai pengawalnya. Lelaki itu bernama Abdullah Hamdi Assegaf, seorang saudagar sekaligus mubaligh dan keturunan keluarga Alawiyin dari Hadramaut.


Keduanya bertemu di pelabuhan Sunda Kelapa saat kapal-kapal dari Gujarat berlabuh dan menurunkan bawaan. Abdullah baru saja menurunkan barang-barang pesanannya dari Gujarat ketika terdengar teriakan panik orang-orang di pelabuhan.


"Orang amuk! Orang amuk!"


ternyata ada seorang serdadu Belanda bertubuh tinggi besar sedang mengamuk. Rupanya ia dalam keadaan mabuk. Abdullah melihat sendiri bagimana para opas lokal tak mampu membendung serangan amuk si tinggi besar itu.


Hingga akhirnya Si Tinggi Besar itu menghampiri Abdullah. Para pelayan lokal lelaki Hadramaut itu sudah sejak tadi berlarian menyingkir, membiarkan barang-barang yang mesti dijaganya menggeletak saja ditempat itu.


"Kamu orang Siak! Menyingkirlah!" sergah serdadu Belanda itu.


"Kompeni kafir memang tidak letih membuat kerusuhan!" gerutu Abdullah langsung pasang kuda-kuda. Ia mencabut kelewang dari pinggangnya.


"Oooo... wil je je leven geven?" seru serdadu mabuk itu menyeringai buas.*)


*)Kamu mau setor nyawa?


Abdullah tidak menjawab, melainkan menatap saja serdadu yang mabuk itu. Merasa diremehkan, serdadu mabuk itu maju mengayunkan pedangnya.


TRANGG... TRANGGG... TRANGG...


Terjadi tarung tanding antara si serdadu VOC yang mabuk itu dengan Abdullah. Sebagai seorang saudagar, lelaki itu memang dibekali ilmu beladiri untuk menjagai diri dan kelompoknya dari sasaran penyamun.


Namun Abdullah juga harus mengakui lawannya adalah seorang pakar pedang yang hebat. Kelihatannya ia seorang petarung profesional.


TTRANGGGG.


Si serdadu menyeringai buas. "Je hebt niets meer om te vechten... geef je leven vrijwillig..."*)


*)Kau sudah tak punya apa-apa untuk melawan. Serahkan nyawamu dengan rela!


Serdadu itu maju mengayunkan pedangnya. Abdullah sempat menghindar namun ia terpeleset tanah becek membuatnya jatuh terjungkal ke tanah. Serdadu itu tertawa senang.


"Vecht niet... geef gewoon je leven."*) serunya kembali mengayun pedang.


*) Jangan melawan. Serahkan nyawamu dengan rela.


Pedang si kompeni itu terayun hendak menetak Abdullah. Lelaki itu hanya bisa menyilangkan tangannya menghalangi wajah ketika bilah pedang si serdadu itu sedikit lagi menetak dirinya.


TRANGGG...


Terdengar bunyi logam beradu dan sedetik kemudian Abdullah melihat si serdadu terpental sedang seseorang dengan rambut tersanggul berdiri membelakanginya sambil menggenggam pedangnya.


Abdullah berdiri dibelakang penolong nya. "Terima kasih."


Si lelaki bersanggul itu menoleh sedikit dan Abdullah baru tahu kalau lelaki itu bermata sipit.


"Aaaa... ik weet wie je bent..." seru serdadu tersebut. "Ben Jij de moordenaar uit Banda neira?" tebaknya.*)


*)Aku tahu siapa kamu. Kamu kan pembunuh bayaran dari Banda Neira?


"Watashi wa oranda hito no tesakide wa arimasen... jibun no ishi de jiyū ni arukeru." tandas Toshisada kembali mengibaskan pedangnya.*)

__ADS_1


*)Aku bukan antek orang-orang Belanda. Aku bebas melangkah dengan kehendakku sendiri.


Si serdadu itu menggeram dan menyerang lagi. Namun Toshisada sudah siap. Ia hanya menghindar selangkaj ke samping saat serdadu mabuk itu mengayunkan pedangnya ke depan.


TRANGGG


Toshisada menampar pedang si serdadu lalu mengayunkan pedangnya ke samping menebas tubuh lelaki bule itu. Si serdadu terhentak sejenak tubuhnya menerima tebasan pedang dari lawannya dan sesaat kemudian ia rubuh ke tanah lalu menghembuskan napas penghabisannya.


Toshisada kemudian menyarungkan pedangnya dan menatap Abdullah. Lelaki Hadramaut itu baru saja hendak mengucapkan terima kasih ketika rombongan opas Belanda dan lokal muncul menghampirinya.


Salah satu opas, kelihatannya pemimpinnya menatap mayat si serdadu mabuk itu. Ia kemudian menatap Toshisada.


"Heb je hem vermoord?" tanya serdadu itu dengan datar. *)


*)Kau yang membunuhnya?


"Orang ini menyelamatkan saya, Tuan." ujar Abdullah tiba-tiba maju dan membela Toshisada. "Kalau tak ada dia, tentu Tuan dapati mayat saya yang menghampar ditanah ini."


"Oh... Tuan Abdullah?" seru serdadu itu. Kelihatannya ia mengenal lelaki Hadramaut tersebut.


"Iya Meneer... saya memohon belas kasih meneer untuk membebaskan orang ini." pinta Abdullah.


Serdadu itu mendengus sejenak. "Tapi Tuan Abdullah... orang ini telah membunuh salah satu perwira... tentu Gubernur De Carpentier tidak akan berkenan membiarkan pembunuh itu lolos dari sidang." ujar serdadu tersebut menganggukkan kepala ke arah Toshisada yang hanya berdiri diam meski nampak kalau ia waspada.


"Kalau begitu, biarkan aku menjadi saksinya pada sidang itu. Sebab akulah saksi sekaligus korban dari orang ini." ujar Abdullah sembari menunjuk mayat serdadu yang menggeletak ditanah itu.


"Akan saya laporkan dulu kepada Tuan Gubernur De Carpentier." ujar serdadu itu berupaya menenangkan Abdullah. "Untuk saat ini, saya harus menangkap orang ini untuk pemeriksaan." ujarnya lalu mengisyaratkan yang lainnya untuk membekuk Toshisada.


Samurai itu ditangkap dan dua pedangnya disita. Pemuda itu dibawa meninggalkan lokasi pelabuhan tersebut.


...****...


Ishak membuka matanya, lalu memandang Selina yang nyenyak dalam tidurnya. Kenangan itu melintas lagi saat ia melakukan meditasi. Ishak mendesah. Entah sampai kapan ia bisa menahan rahasia dirinya.


Lelaki itu kemudian bangkit dan mengambil ponsel dari saku. Ia kemudian mengetik beberapa jumlah kalimat. Setelah itu ia mengirimkannya, entah untuk siapa.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Ishak kemudian bangkit dan melangkah mendekati Selina yang tertidur nyenyak. Ia menatapinya.


Kau mirip sekali dengannya, Selina... itulah mengapa... aku tak bisa melepaskanmu...


Ishak tersenyum, namun sejenak senyumnya itu hilang sebab getaran gawai disaku mengganggu rasa sentimental yang bersenandung dibenaknya. Ishak mendekatkan benda itu ke telinga.


📲 "Halo... bagaimana?" tanya Ishak.


📲 "Aku sudah menuliskannya di blog. Sebentar lagi kita akan mengetahui beritanya." jawab seseorang di seberang.


📲 "Bagus... nanti bayaranmu menyusul setelah semuanya klop." ujar Ishak.


📲 "Kau sudah membubarkan Darkest... sekarang kau mau buat kelompok apa lagi?" tanya orang itu.


Ishak tersenyum.


📲 "Namakan saja... Daemön Ğiłłetō..." ujar Ishak memberi nama baru untuk kelompok barunya. []

__ADS_1


__ADS_2