
Disebuah ruangan, duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Mereka empat orang. Lelaki itu menatap ketiga orang didepan dan sisi kanan-kirinya berganti-ganti.
"Bagaimana keputusannya?" tanya lelaki itu kembali memancing.
Lelaki kurus disisi kanannya, mengisap filter rokok dengan nikmat dan mengepulkan asapnya ke tengah. Ia menatap lagi si lelaki berpostur tubuh mirip beruang itu.
"Terjun ke dalam perang gangster sekali lagi, bukan masalah bagiku." ujarnya. "Lagipula... akulah yang lebih dulu terjun dan memulai perang pertama..."
"Ini bukan saatnya membahas latar belakang hadirnya Pengsen'k, Pyrenes..." tegur lelaki berkulit agak gelap berpenampilan layaknya seorang enterpreneur metroseksual. "Ini membahas tentang keharusan kita, tampil kembali atau tetap menggunakan boneka untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang kita timbulkan, dan itu belum selesai sepenuhnya."
"Aku paham hal itu, Orchido." ujar Pyrenes Kaizer kepada lelaki berkulit gelap itu. "Aku hanya mengingatkan kembali kesalahan yang kita buat dengan berpihak kepada salah satu pelaku perang."
"Kita sudah berpihak sejak dari dulu, Kaizer." ujar lelaki bertubuh sedikit mirip dengan lelaki beruang itu. "Kita tidak netral sepenuhnya... Lagipula... Apocalyps hanya sebuah penyeimbang ekuilibrum yang condong kesatu sisi. Kita hanya meluruskan keadaan dengan memihak satu diantara mereka."
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kita hanya menyeimbangkan dominasi kekuasaan mereka yang mengusai masing-masing petak tanah dari tanah Hulonthalangi ini?" tegur Nereus Orchido mengingatkan Pyrenes Kaizer.
Pyrenes, si lelaki kurus berambut ombak yang sudah dipotongnya pendek, diam dan merenung kembali. Lelaki itu memang pendiri kelompok itu. Dialah sang singa yang menjadi motor penggerak organisasi.
"Bro..." ujar si lelaki beruang. "Saat ini Darkest yang kita kendalikan telah diambil alih oleh Jensen dan dia memihak Rusli, pewaris perusahaan Putra Pomalango, Tbk. Aku tak mempermasalahkan siapa raja didepan layar yang akan bertarung, mereka bertarung hanya untuk menduduki tampuk kekuasaan ekonomi. Tapi raja dibelakang layar yang harus kita waspadai. Kekuasaannya jauh lebih besar dari gubernur sendiri, bahkan jika disandingkan dengan Sembilan Naga, bahkan orang sekelas presiden pemimpin negara akan kalah tanding." tukasnya sembari memukul meja. "Kalian tahu, mengapa Ibu Kota Negara (IKN) dipindahkan dari Jakarta ke wilayah Kalimantan Timur?"
"Menurutmu... itu adalah pengaruh Para Sembilan Naga terhadap arah kebijakan ekonomi dan politik negara kita, begitu menurutmu?" pancing lelaki bertubuh besar berkulit terang.
Lelaki bertubuh beruang itu hanya mengangkat bahu. "Aku tak tahu apa yanh merka bahas diranah permukaan tanah itu. Yang jelas, apapun yang didengar dan dikonsumsi masyarakat, sebagiannya hanya sebuah utopia saja. Tapi wilayah bawah tanah, itu spesialisasi kita, turut mengalami imbas dari gelombang dan gesekan diatas permukaan tanah itu."
"Lalu, apa hubungannya pemindahan ibukota negara dengan gesekan yang ada di Gorontalo?" tanya lelaki berkulit terang itu dengan penuh minat.
"Nggak ada..." jawab lelaki berpostur beruang itu dengan tenang.
"Teleliloloooo...." umpat Pyrenes Kaizer yang langsung tertawa dan menampar pundak lelaki berpostur tubuh mirip pegulat itu.
"Te huma' apa tiiii.... o kira 'u ti oluwo sababu..." umpat lelaki berkulit gelap itu lalu tertawa lagi.
Lelaki berkulit terang dengan perawakan mirip orang blasteran belanda itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Bionguma, lalu apa yang kau bahas kesana-kemari mengungkit proses pemindahan ibukota... justru malah tak ada hubungannya dengan pembahasan kita. Seriuslah sedikit Calvatorch..." tegur lelaki itu.
Lelaki berpostur tubuh beruang itu hanya menggaruk-garuk kepala yang memang sudah beberapa hari ini terasa gatal, mungkin ketombenya muncul lagi akibat penyakit psoriasis yang disebabkan oleh autoimunnya bereaksi kembali.
__ADS_1
"Kamu nggak kutu-an, toh?" olok Kaizer dengan senyum.
"Huange'emu, apa kau lihat ditiap batang-batang rambutku bertengger kutu-kutu?" ujar Calvatorch dengan kesal.
"Hei, hei, sudahlah..." tukas lelaki berkulit terang itu. Ia menatap sahabat kentalnya itu. "Kudengar kau telah mengirim kembali Skullen kesini. Apakah kau akan mengobarkan perang?"
"Bukan secara terang-terangan... lebih kearah spesialisasi kita." ujar Calvatorch. "Tenang sajalah, Divine... dia bisa diandalkan..."
"Menurutmu seperti itu?" pancing lelaki berkulit gelap, tak lain adalah Nereus Orchido.
"Bukankah kalian sendiri yang melatihnya?" tukas lelaki bertubuh beruang itu.
"Tanpa kami latih pun, anak itu tetap saja seorang pembunuh... itu bakat lahirnya." ujar lelaki berkulit terang.
"Ya... tapi dia tidak menguasai teknologi, dan kalian yang mengajari hal itu... semuanya...." balas lelaki bertubuh besar itu. "Aku telah memberinya beberapa hadiah dari kolegaku, di Jerman. Dalam beberapa hari ini... Jensen akan segera berakhir..."
"Ingat Calvatorch..." tegur lelaki berkulit terang itu. "Bagaimanapun, setiap gerakan kita, entah itu rahasia maupun terang-terangan bisa memancing reaksi." ungkit lelaki berkulit terang itu. "Orang-orang the Foundman masih mencari-cari kita... jejak mereka semakin dekat. Aku tak mau jati diri kita terungkap dan akan menimbulkan chaos di permukaan maupun bawah tanah!"
"Pastikan kalau Rusli tidak terkoneksi secara langsung dengan orang-orang The Foundman." tambah si lelaki kurus lalu mendesah, "Aaaahhhh.... aku tak keberatan jika harus mengangkat senjata kembali... kalian tahu, kan kalau aku paling suka berperang?"
Si lelaki kurus hanya tertawa. "Aku tak bilang jika aku mau berperang, Divine." kilahnya, "Aku hanya bilang kalau aku menyukai perang."
"Mengapa aku harus bertemu dengan kalian berdua?" keluh lelaki berkulit gelap sambil menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
Ketiga orang itu tertawa mendengar keluhan Orchido.
"Ya... itulahnya yang namanya keseimbangan, Nereus..." ujar lelaki bertubuh bagai beruang itu. "Dua orang haus darah, bertemu dua orang haus sirup. Bukankah itu sebuah keindahan yang penuh harmoni?"
"Keindahan macam apa yang kau pikirkan itu, Golgotha?" sindir Orchido dengan jengkel. "Mana ada sirup disandingkan dengan darah? Dasar vampir!"
Lelaki itu tertawa dikatai vampir oleh Orchido.
"Memang, kelakuan orang sesat, yang begini ini, suka darah." tukas Orchido. "Kamu tahu? Kegemaranmu akan darah itu bisa menyebabkan kamu kena hemokromatosis?"
Lelaki berpostur tubuh beruang itu terkejut. "Iyakah?" ujarnya pura-pura bodoh.
__ADS_1
"Aahhh... dasar intelek hipokrit kau!" umpat lelaki berkulit gelap itu. "Tak kubilang juga sebenarnya kau sudah tahu! Berapa sekarang berat badanmu?"
Lelaki berpostur tubuh bagai beruang itu menerawang mengingat-ngingat. "Kira-kira... sembilan puluh delapan kilo, deh." gumamnya.
"Pilotepalo pombolu...." seru lelaki berkulit gelap itu terkejut, "Ente overdosis zat besi nih, kayaknya kamu kena patogen dalam cairan darah yang sering kau konsumsi itu."
"Kamu tahu darimana kalau aku sering mengkonsumsi darah?" tukas lelaki bertubuh besar itu.
"Lho? Bukankah kau yang sering bilang sama kita-kita ini, kalau kau mengkonsumsi darah?" tukas Orchido kembali dengan suara meninggi karena kesal.
Lelaki itu tersenyum. "Ya... aku memang menkonsumsi darah... tapi darah yang dihalalkan kok." kilahnya.
"Mana ada darah yang dihalalkan?!" bantah Orchido dengan sengit.
"Ada kok, darah yang dihalalkan." tandas lelaki itu dengan kukuh.
"Oh ya?" seru Orchido dengan wajah bengis. "Sebutkan!"
"Aku mengonsumsi hati dan limpa... itulah darah yang halal untukku." ujar lelaki bertubuh beruang itu dengan tenang.
Ochido hanya bisa mengencangkan rahangnya menahan kejengkelan, sementara yang lainnya tertawa.
"Alhamdulillah... sahabatku tidak mengalami kelainan jiwa." ujar lelaki berkulit gelap itu seraya mengelus-ngelus dada."
"Dikiranya kamu itu minum darah..." ujar lelaki kurus tersebut.
"Tapi dalam artikel Indiatimes, para ilmuwan di Universitas London (UCL) itu menyatakan akan membuat hidup lebih lama..." tukas lelaki berpostur tubuh besar itu membuat si lelaki berkulit gelap dan kakaknya si lelaki berkulit terang itu langsung pias, saat si beruang itu menyambung, "Kurasa... aku harus mencobanya."
"Jangan melakukan hal yang aneh-aneh, Calvatorch!" tegur lelaki berkulit terang itu. "Penyakit lycantropi kamu itu jangan sampai kambuh dan menggaduhkan seisi alam semesta."
Lelaki berpostur tubuh beruang itu hanya tertawa saja. "Bagaimana? Apakah kita terjun langsung atau tetap memanfaatkan Skullen untuk menegur mereka?"
"Gunakan bidak untuk menekan pion-pion yang bisa mempengaruhi mereka. Selanjutnya... kita akan tetap melakukan pemantauan." ujar lelaki berkulit terang tersebut.
Mereka sepakat dan akhirnya membubarkan diri meninggalkan tempat itu. []
__ADS_1