
Faisal menepikan kendaraannya. Keduanya turun dan melangkah memasuki halaman. Azizah langsung keluar menyambut mereka diikuti oleh dua orang aparat penegak hukum.
"Ini, kenapa Umi?" tanya Ichi dengan heran.
"Kamu kemana saja, nanti sekarang baru muncul? Ini jam berapa?!" sembur Azizah menegur putrinya sambil menunjuk-nunjuk arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Umi lupa lagi ya?" balas Ichi. "Aku kan lagi latihan Taekwondo. Ini juga baru tiba, sudah dimarah-marahi."
"Habisnya kamu lama sekali." tukas Azizah. "Itu kamu sudah ditunggui lama..."
Ichi menatap sejenak dua aparat penegak hukum, kemudian memandang ibunya. "Ini kok sudah bawa-bawa polisi segala? Umi kira saya diculik?" tanya anak gadis itu.
"Bukan." bantah Azizah. "Memang siapa yang nuduh nyulik kamu?"
"Terus?" tuntut Ichi.
"Mereka mau menanyakanmu beberapa hal." ujar Azizah. "Memang kamu terlibat dalam sebuah kasus yang melibatkan putrinya Pak Qomaruddin baru-baru ini?" tanya wanita itu.
"Ooooo...." seru Ichi kemudian mengangguk. "Iya... aku dan kakak ini, menggagalkan upaya penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan Aldi kepada Kak Selina."
"Hah? Pemerkosaan?" tanya Azizah dengan kaget.
Ichi mengangguk-angguk. Azizah kemudian menatap Faisal yang mengangguk santun. Wanita itu mendesah sejenak lalu menatap putrinya.
"Ayo masuk. Bicara didalam saja." ujar Azizah mengajak keduanya kedalam rumah.
...******...
Rusli mengangguk-angguk mendengar laporan yang disampaikan Riswan kepadanya. Lelaki itu kemudian bangkit dan melangkah menuju jendela yang terbuka tirainya.
"Kalau begitu, aku akan mengunjunginya besok." gumam Rusli kemudian tersenyum-senyum sendiri.
"Boleh saya bertanya, pak?" ujar Riswan.
Rusli menoleh menatap asisten pribadinya. Riswan mendehem sejenak menghilangkan rasa gugupnya. Tidak ada satupun pegawai dan relasi bisnis yang bicara seenaknya dihadapan Rusli. Mereka tahu siapa lelaki itu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menjilat yanv menginginkan apa yang diinginkannya terpenuhi meski dengan cara merendahkan harga dirinya dihadapan lelaki itu.
Diantara relasi-relasi bisnis, hanya Kenzie Lasantu yang diseganinya. Pengusaha itu termasuk kedalam jajaran enterpreneur yang tidak mudah diintimidasi. Ia punya fundasi yang kuat yang telah dibangun oleh Adnan, ayahnya sejak mendirikan Buana Asparaga Tbk dan mengembangkannya. Ditangan lelaki itu beserta istri jepangnya tersebut, Buana Asparaga menjelma menjadi perusahaan besar yang mulai menggurita koneksinya.
"Ada apa, Riswan?" tanya Rusli.
"Sebelumnya, saya minta maaf jika perkataan atau pertanyaan saya dapat menyinggung anda, Pak." ujar Riswan.
"Pertanyaan yang mana dulu?" ujar Rusli kemudian tersenyum.
"Ada apa dengan perempuan itu? Ia masih kecil Pak, baru juga menjajaki bangku kelas tujuh." tuntut Riswan.
__ADS_1
"Apakah kau sudah bertemu dengan anak perempuan itu, Riswan?" tanya Rusli dengan tenang.
"Pak, ini nggak ada hubungannya dengan pertanyaan saya." ujar Riswan.
"Apakah kamu sudah pernah ketemu dengan anak itu, Riswan?" tanya Rusli sekali lagi.
Riswan menghela napas sejenak lalu melepaskannya. Ditatapinya sang atasan kemudian menggeleng.
"Belum Pak." jawab Riswan dengan pelan.
"Kalau begitu, kau ikut denganku." ujar Rusli. "Kau akan menyadari bahwa apa yang kau tanyakan padaku merupakah sebuah hal yang nggak perlu dijawab."
Riswan menunduk menyadari kesalahannya. Ia telah membangunkan Anoa yang sementara tidur.
"Maafkan saya." jawab Riswan pada akhirnya.
"Nggak, nggak usah meminta maaf." ujar Rusli sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Aku tahu sifat kritismu itu, dan aku menghargainya. Biasanya aku tak begini kepada setiap orang, kau tahu, kan?"
Riswan mengangguk.
Rusli tersenyum. "Awas kalau kau kepincut anak gadis itu, Riswan..." ancam Rusli sambil tersenyum. "Aku akan benar-benar memisahkan nyawa dari tubuhmu jika kau mengalaminya." Lelaki itu berbalik dan melangkah mendekati Riswan.
Lelaki itu menelan salivanya ketika Rusli telah berada tepat dihadapannya.
...******...
"Terima kasih atas keterangan yang ananda berikan." ujar salah satu aparat tersebut. "Ini sangat membantu kami dalam mengembangkan penyelidikan."
"Sama-sama Pak." jawab Ichi dengan senyum dan mengangguk.
Aparat itu mengangguk lalu bangkit diikuti oleh rekan sejawatnya. "Ijinkan kami pamit." ujarnya.
"Silahkan..." ujar Azizah juga ikut bangkit dan mengantar kedua pegawai negara itu menuju pintu.
Faisal memandang punggung kedua polisi tersebut kemudian menatap Ichi.
"Kamu nggak gugup?" tanya Faisal.
"Gugup sih iya..." jawab Ichi sekenanya. "Tapi, posisi kita kan saksi, ngapain gugup ?"
Faisal mengangguk-angguk. Azizah masuk kembaki ke dalam dan menatapi dua anak tersebut.
"Kamu sekarang sholat dan lanjutkan pelajaran menghafal." perintah Azizah kepada Ichi kemudian menatap Faisal.
Ditatapi seperti itu, Faisal langsung paham. Pemuda itu bangkit.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Tante." ujar Faisal kemudian meraih ranselnya.
"Hati-hatilah dijalanan, nak." pesan Azizah dengan datar.
"Iya, Tante." jawab Faisal dengan sopan lalu pamitan dengan santun.
Ichi baru hendak bangkit, terpaksa mengurungkan niatnya sebab dipelototi oleh ibunya sendiri. Dengan wajah masam, anak gadis itu terpaksa mendekam saja di sofa tersebut. Azizah mengantar Faisal sampai dipintu.
Pemuda itu kemudian membalik menghadap kepada wanita itu.
"Saya permisi dulu, Bu." ujarnya pamit. "Assalamualaikum..."
"Wa alaikum salam wa rahmatullah..." jawab Azizah.
Faisal kembali mengangguk santun lalu berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu. Pemuda itu melangkah menuju kendaraannya sambil terus diawasi oleh Azizah.
Faisal menaiki sepeda motor gedenya dan menghidupkan mesinnya. Tak lama kemudian pemuda itu telah melaju meninggalkan kediaman tersebut.
Azizah menghela napas sejenak lalu berbalik masuk ke dalam rumah. Diruangan tamu, Ichi duduk menanti di sofa.
"Umi bicara apa saja sama dia?" tanya Ichi dengan penasaran.
"Nggak bicara apa-apa." jawab Azizah dengan tenang, lalu duduk di sofa disisi putrinya.
"Umi... aku lihat wajahnya nggak enak. Kayaknya ia tertekan sama Umi." tegur Ichi.
"Wajar..." ujar Azizah dengan tenang.
"Wajar gimana?" respon Ichi dengan kesal. "Awas ya Umi... aku nggak mau pertemananku dengan dia jadi bermasalah gara-gara Umi."
"Lho? Kok Umi yang disalahkan?" protes Azizah.
Ichi hanya melengos.
"Lagipula, ngapain kamu teman-temanan dengan anak laki-laki? Kamu itu perempuan, Ichi. Teman-teman kamu juga harus berjenis kelamin sama." tegur Azizah.
"Yang ada, aku malah jadi lesbian, Umi." balas Ichi kemudian tertawa sementara Azizah terkejut.
"Ih, astagfirullah!" seru Azizah. "Kok malah begitu responmu?!"
"Ya iyalah Umi." tandas Ichi dengan santai. "Pertemanan dengan anak laki-laki juga perlu, supaya kita bisa mengetahui karakter anak lelaki secara umum. Kalau cuma temenan dengan anak perempuan, yang ada malah justru terjebak dalam hubungan sesama jenis."
"Uhm... Umi tahu kalau kau sudah mengeluarkan berbagai salih dalam retorikamu itu, hanya untuk membela anak laki-laki tadi itu, kan?" selidik Azizah kemudian memicingkan kedua matanya. "Hati-hati, Ichi... setiap tindakan itu dilandasi oleh motif."
"Suka-suka Umi sajalah..." ujar Ichi lalu bangkit dan meninggalkan Azizah sendirian diruangan tamu itu. []
__ADS_1