
Ichi tidak lagi tinggal dikamar yang dihuni oleh Indah dan Rahmi. Ustadz Gau telah memindahkannya ke bilik bagian ujung yang hanya dihuni olehnya dan seorang anak lagi yang merupakan senior, namun dikenal lekat olehnya.
Ia adalah Rita, adik seangkatan Asraf Goi yang dipercayakan mengawasi sepupunya itu. Asraf sendiri memang telah menghubungi Ustadz Gau untuk membahas hal tersebut, sebab untuk menghindari hal yang sama terulang lagi. Dan terbukti, Rahmi memang merupakan sosok penghasut-menurut mereka yang bersikap netral-dalam masalah itu.
Ada beberapa orang kakak kelas yang memberitahu Pak Maman maupun Kepala Madrasah dan Ustadz Gau selaku pimpinan pengasuh, bahwa semua persahabatan mereka yang terjalin bersama Ichi hanya bersifat artifisial saja. Hangat jika ada maunya.
Berdasarkan keterangan itu Ustadz Gau berketetapan memindahkan Ichi ke bilik yang lain. Gadis itu senang bukan main, sebab ia tak lagi mendapatkan gangguan psikis dari kedua orang tersebut. Ichi memang terganggu dengan mereka, namun ia hanya menahan perasaannya saja sebab Ustadz Gau menempatkannya bersama kedua perempuan itu.
Barusan gadis itu tahu kalau Indah membencinya sebab Faisal condong kepada Ichi ketimbang dirinya. Rahmi mengetahui hal itu dan memanfaatkan perasaan gadis itu untuk menghasutnya. Setidaknya, gadis bontet itu merasai tendangan Ichi saat mereka bertanding pada malam itu.
Malam itu Ichi menghabiskan waktunya mengaji Al-Qur'an diruangan masjid. Lebih baik mencari ilmu daripada mencari persahabatan yang semu.
"Nak, teman sejati itu susah dicari, bukan tidak bisa ditemukan." ujar ayahnya suatu kali saat Ichi meminta nasihat, bagaimana menemukan seorang sahabat. "Kau berapa kali akan menemukan sebuah hipokrisi dalam sebuah interaksi sosialmu dengan personal-personal yang kau temukan hingga kau merasakan sendiri bahwa dialah teman sejatimu."
"Lalu bagaimana aku menemukan mereka? Haruskah aku merubah diri?" tanya Ichi.
"Segi tampilan atau kepribadian?" pancing ayahnya.
"Dua-duanya... mungkin?" ungkap Ichi dengan lirih seraya mengangkat bahu.
Sang ayah menggeleng. "Untuk apa kau merubah diri demi mereka? Jangan menyakiti diri hanya demi sebuah penghargaan, nak." tandas lelaki itu. "Seberapapun berharganya kamu, posisimu akan selalu dapat digantikan oleh orang lain pada nantinya, apakah itu dalam dunia pertemanan, pekerjaan, apalagi... percintaan."
Lelaki besar berpostur mirip beruang itu kemudian memegang kedua pundak putrinya. "Camkan ucapanku ini, dan tetaplah berkarya yang baik." ujarnya lalu tersenyum, "Dan jika pada nantinya, kamu dibuang... atau digantikan... kamu bisa selalu dengan mudah menemukan tempat bernaung yang baru." tambahnya sambil menampar-nampar pelan pundak Ichi.
Gadis itu tersadar dari lamunannya lalu menatap jendela yang terbuka. Cahaya rembulan menyeruak masuk dari sana. Sedikit lagi waktu Isya akan tiba.
Ichi menutup mushaf tersebut lalu mendekatkannya ke wajah dan menciumnya dengan sikap takzim. Setelah itu, ia bangkit dan melangkah menuju rak, dan meletakkan mushaf itu disana.
Ichi keluar dari ruangan. Niatnya untuk mengambil air wudhu. Sisi-sisi mukena miliknya berkibar bagai lembar panji yang dipermainkan.
"Ichi..." panggil seseorang.
Ichi sudah tahu siapa yang memanggilnya. Gadis itu tidak menoleh. Ia terus melangkah.
"Ichi, tunggu..." panggil orang itu lagi.
__ADS_1
Ichi tetap saja melangkah hingga orang itu langsung menghadang jalannya. Ichi berhenti sejenak menatap si pencegat itu.
"Aku tak mau mencari masalah, Wafiq." ujar Ichi dengan datar dan dingin. Ia hendak melangkah lagi.
"Aku minta maaf..." ujar Wafiq.
"Aku sudah memaafkan semuanya." ujar Ichi hendak melangkah lagi.
"Kau tak tulus." tukas Wafiq.
Ichi berhenti lagi. "Ketulusan macam apa yang kau inginkan dariku? Jika aku tak tulus, aku sudah melaporkan tindakan pencemaran ini pada ayahku... dan kujamin kepadamu... ayahku, bukan seorang pemaaf yang baik." gadis itu hendak melangkah lagi. "Menyingkirlah..."
"Betapa arogannya dirimu." tukas Wafiq lagi. Sekali lagi langkah Ichi tertahan dan tatapan tajam gadis itu kembali mencorong ke wajah Wafiq.
"Aku nampakkan aroganku, karena kalian memaksanya. Tidak bisakah kemarin itu... menyanggupi sajalah... kita ini teman, Wafiq... teman sekelas..." tegur Ichi. "Apa salahnya aku mentraktir teman sekelasku? Bukankah kemarin-kemarin kalian juga pernah mentraktirku?! Lalu ketulusan jenis apa yang harus kupersembahkan kepadamu dan yang lainnya?"
Ichi kembali hendak melangkah. Wafiq bicara lagi.
"Apa yang kau pakai sehingga kakak-kakak kelas menyukaimu?" tukas Wafiq lagi.
...******...
Faisal membolak-balik buku namun pikirannya tak tertuju pada lembar-lembar halaman buku yang dibolak-balikkannya. Benaknya terkenang kembali akan perkataan lelaki parobaya yang mengaku sebagai ayah dari Ichi.
Apakah ia menantangku agar aku berani mengutarakan perasaanku? Apakah dia sengaja mengintimidasi supaya aku mempertahankan keyakinanku? Aura gelapnya begitu terasa... aku merasa bagai tersedot ke ruang hampa ketika aku menantang tatapannya...
Faisal meletakkan buku itu lalu bangkit dan mondar-mandir diruangan tersebut. Ahmad sejak tadi sudah melengkungkan tubuhnya dalam sarung, tidur dengan nyenyaknya, melayarkan ruhnya dilautan mimpi, nyata terdengar dari suara ngoroknya yang mirip bagai suara gergaji yang memotong kayu.
Faisal tidak memperdulikannya. Pemuda itu tetap saja mondar-mandir diruangannya. Dipan kosong milik Ishak beberapa kali ditatapnya. Sudah dua hari pemuda itu meninggalkan asrama demi misi dari sang guru. Entah apa yang diperintahkan sehingga begitu takzimnya Ishak mengangguk.
Faisal masih tetap mondar-mandir namun wajahnya menunduk dan jempolnya sesekali masuk ke mulut dan membiarkan geligi serinya mengelupas kuku.
Apakah aku ditantang???
Faisal merasa pikirannya mulai mumet dengan pertanyaan dalam benak sendiri. Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya lagi.
__ADS_1
Ichi... haruskah aku menantang ayahmu untuk memenangkanmu???
Faisal mendesah lalu menatap langit-langit ruangan. Merasa sumpek, ia kemudian melangkah menuju jendela dan membukanya. Nampak dihamparan granit malam, menghampar kerlap-kerlip berlian angkasa dan meski ada beberapa hampar mega putih keabu-abuan, sang purnama bersandar santai dihamparan awan tersebut. cahayanya menyeruak masuk kedalam ruangan.
Faisal memandang rembulan itu. Warnanya putih kelabu sebab sembunyi malu-malu dalam peraduan awan.
"Ah... mengapa sesulit ini???" gumam Faisal.
...*****...
Ishak menatap sebuah paket berujud kotak kayu panjang. Itu adalah kiriman yang dijanjikan gurunya. Pemuda itu kemudian berlutut dan menyentuh permukaan kotak itu lalu mengelusnya pelan.
Pemuda itu kemudian memegang gembok yang mengalung pada engsel pengunci kotak.
TRAKKK... CRINGGGG...
Dengan sekali sentakan, gembok itu mematahkah engsel pengunci tersebut. Kuat juga pemuda itu mengerahkan ki miliknya.
Ishak menyentuh pinggiran dan mulai mendorong ke atas. Kotak itu membuka dan menampakkan sebuah senjata berbentuk golok berbentuk aneh dengan gagang yang sedikit panjang. Di ujung gagang itu terdapat sebuah hiasan sebuah kepala anjing.
Ishak melihat ada secarik kertas disisi benda tersebut. Ia memungutnya dan membaca tulisan dalam lembaran itu.
Perkenalkan... Fenriszähne... itu adalah pedang buatan seorang pandai, Mpu Hounder Hunde... kurasa itu cocok bagi seorang pengawal Klan Tengkorak.
Ishak tersenyum mendengar kalimat itu. Sekarang sang guru sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya. Ia membaca lagi.
Seminggu dari sekarang, aku ingin kepala pengkhianat itu tiba di mejaku. Dan setelah itu, bubarkan Darkest... Bentuk kelompok baru dengan nama... Daemon Gilleto!
Ishak mengangguk-angguk lalu melipat lagi surat itu dan meletakkannya dalam kotak. Ia meraih golok itu dan menyandangkannya dipundaknya.
"Ahhh... kelihatannya aku terlihat keren juga dengan senjata ini..." gumam Ishak sambil tersenyum.
Pemuda itu kemudian melangkah menuju sebuah manekin. Disana terpasang sebuah suit armor rakitannya. Ishak memesannya dari beberapa toko online dan kemudian merakitnya sendiri.
"Lihatlah kawan... kau punya pendamping baru..." ujar Ishak meletakkan golok itu didepan manekin tersebut.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian melangkah meninggalkan tempat tersebut. Ia akan istirahat total malam ini hingga besok, sebab setelah itu, ia akan melakukan perburuan. Perburuan menemukan Jensen dan membawa kepalanya ke hadapan sang guru, Golgotha Calvatorch sebagai pemenuhan sumpahnya sebagai pengikut dan muridnya. []