
Setiap sang suami menjalani dinasnya di Tolinggula, pasti Ichi akan merengek agar bisa tidur dengan ibunya. alasannya klise saja. Nggak suka diganggu neneknya. Azizah sering mengingatkan putrinya perihal usia sang gadis yang bukan anak-anak lagi, jadi nggak boleh tidur barengan orang tuanya.
"Tapi kan Ichi sudah besar. masa tidur terus sama Umi?" tegur Azizah saat membersihkan wajahnya memakai krim pembersih wajah. wanita itu mengenakan daster sedang Ichi mengenakan babydoll.
"We, Umi." tukas Ichi sambil tersenyum, "Nunu kan tidur disini kalau Abi lagi nggak ada." kilahnya. "Lagian, Umi tuh dititipin Abi sama aku."
Azizah mengerutkan alisnya lalu menatap Ichi. "Memang Abi titip Umi sama Ichi for apa?"
"Umi kan masih cantik." tukas Ichi memperbaiki gaya baringnya sambil memeluk guling menatap ibunya, "Abi suka cemburu sendiri. Beliau bilang sama saya, nitip Umi ya?"
"Abi kamu saja yang masih kurang kepedean." balas Azizah kemudian tersenyum. "Gini-gini, Umi kan masih banyak penggemarnya."
"Nah, itu dia!" jawab Ichi sambil menjentikkan jarinya. "Umi tuh punya inner beauty yang sering bikin Abi jadi minder sendiri. Kan dia gendut macam beruang, sedang Umi..."
"Hush! nggak baik ngatai Abi kamu begitu." tegur Azizah kepada putrinya. Ichi meladeninya dengan tawa kecil saja. Azizah kembali menyambung. "Dulu badan Abi nggak segembul itu. Dulu badannya atletis lho. Bahkan sewaktu masih sekolah dan kuliah, badan Abi itu kurus ceking."
"Darimana Umi tahu? Abi cerita ya?" tukas Ichi menggoda ibunya.
Azizah tersenyum, "Sebagian dikisahkannya dan sebagiannya Umi saksikan sendiri." jawabnya. "Buktinya, kamu sekarang kan kurus ceking... Kutilang Darat..." olok Azizah, tersenyum kepada putrinya.
"Kutilang Darat?" gumam Ichi.
Azizah mengangguk-angguk kepalanya. "Kutilang Darat... Kurus, Tinggi, Langga'i, Dada Rata..." jawab wanita itu menjabarkan antonimnya.
"Aaaa.... Umi..." rengek Ichi sambil memukul pelan lengan ibunya. Azizah hanya tertawa pelan.
"Sekarang... Umi bisa jawab nggak pertanyaan saya?" pancing Ichi.
"Apa hayo?" tantang Azizah.
"Orang apa yang kakinya empat?" tanya Ichi dengan senyum dikulum.
"Itu sih gampang." tukas Azizah menarik selimut ke perutnya. ia menjawab, "Orang lumpuh."
"Salah!" tukas Ichi lalu tertawa kecil.
"Orang yang kakinya empat?...." gumam Azizah menatap langit-langit kamar lalu menebak lagi. "Alien, kayaknya."
"Salah!" tukas Ichi lagi lalu tertawa.
"Umi nyerah deh." ujar Azizah. "Orang apa sih?" tanya sang ibu dengan penasaran.
"Orang bilang sih, Kuda!" jawab Ichi dengan enteng dan langsung berbalik.
"Te Huma'apa ti..." umpat Azizah sambil menimpuki tubuh putrinya dengan bantal peluk.
...******...
Seperti biasa, sebelum berangkat mandi, lelaki itu pasti akan menyetor presensi kepada sang istri via seluler. ia menekan nomor panggilan Azizah. Tak lama kemudian terdengar suara jawaban.
📲 "Assalamualaikum..." sapa Azizah.
📲 "Wa alaikum salam." balas lelaki itu. "Lagi ngapain?"
📲 "Lagi setrikain baju seragamnya Bolonji." jawab Azizah sambil melipat pakaian hasil seterikaan itu. "Abi sendiri lagi ngapain?"
📲 "Nelpon kamu, sayangku." jawab lelaki itu dengan enteng kemudian tertawa.
📲 "Ya itu, Umi juga tahu." gerutu Azizah namun bibirnya tersungging senyuman.
Lelaki itu mengintip jalanan melalui tirai jendela kemudian menyahut lagi.
📲 "Nggak ada masalah apa-apa, kan?" pancing lelaki itu.
📲 "Kalau Abi?" balas Azizah memancing suaminya.
📲 "Aku punya masalah besar." jawab lelaki itu datar.
Azizah menghentikan sejenak kegiatannya. ia memperbaiki earset bluetooth ditelinganya.
📲 "Memang masalah apa, Abi?" tanya Azizah dengan nada biasa namun sebenarnya wanita itu nampak cemas.
📲 "Masalahku... adalah...." jawab lelaki itu seakan berat hendak mengungkapkannya.
📲 "Bilang Abi! apakah Abi membuat masalah di sekolah?" tebak Azizah.
__ADS_1
📲 "Nggak juga...." jawab lelaki itu.
Azizah menggigit bibirnya. ia mulai menebak lagi.
📲 "Terus apa dong?" desak Azizah, "Jangan bikin Umi deg-degan dong."
dikamar kostnya, lelaki itu tersenyum.
📲 "Masalahku adalah.... aku sangat merindukanmu." jawab lelaki itu dengan lembut.
POROGEGELOOOOO....
Azizah tertawa lepas dan lelaki itu juga menyungging senyum bahagia. jika sang istri tertawa, itu pertanda hatinya sedang bahagia dan lelaki itu pasti bahagia, jika orang yang ingin dibahagiakannya, akhirnya bahagia.
lelaki itu menarik napas sejenak dan menghembuskannya dengan pelan.
📲 "Okey Sayang. aku mandi dulu ya? sudah setengah tujuh tuh." ujar lelaki itu meminta persetujuan istrinya.
Azizah tersenyum lagi.
📲 "Ya sudah." pungkas Azizah. "Mandilah.... daaaaghhh..." jawabnya kemudian mengakhiri percakapan selular itu.
Lelaki itu tersenyum lagi dan meletakkan gawainya di tepian kasur bolsack itu. ia kemudian bangkit dan melangkah santai menuju kamar mandi merangkap ****** yang terletak diluar bangunan kost. Seraya menenteng keranjang kecil berisi pasta gigi, sikat gigi, dua sachet shampoo dan sebatang pencukur rambut, lelaki itu melangkah dengan handuk tersampir dipundaknya yang lebar.
Sebenarnya lelaki itu tak gemuk-gemuk sangat. Boleh dikata ia gempal. Perutnya saja yang agak mancung beberapa senti kedepan dari jarak dadanya. Sepir-sepir ditubuhnya terkemul dalam selulit-selulit lemak yang akhir-akhir ini banyak mengerumuni dirinya sebab memang sudah malas gerak-gerak badan.
Lelaki itu menimba air di sumur tanpa dinding yang lebih mirip kubangan dalam berisi air jernih. setelah memenuhi isi dalam loyang besar, lelaki itu kemudian meletakkan ember disisi kubangan itu dan masuk kedalam bangunan kecil itu untuk membersihkan dirinya.
...********...
Ichi baru saja memarkir sepeda motor listriknya di bangsal parkir saat menemukan sahabat sekelasnya, Kandar juga memarkir sepeda motor gedenya disisi kendaraan listrik milik jilbaber itu.
Ichi memperhatikan raut wajah sahabatnya itu. "Kenapa kamu? kayak baru digigit kambing dipantat saja." tegur jilbaber itu sembari mengunci kendaraannya.
Kandar sejenak menatap ke arah Ichi lalu mengunci setang kendaraannya juga. "Aku habis diputusin sama pacarku." jawabnya pelan.
Alis jilbaber itu kembali mengerut. Ia berdiri menanti pemuda itu dan keduanya melangkah bersama dengan ritme pelan, menyeberangi lapangan menuju kelas.
"Lho? memang kenapa?" tanya Ichi. Empati berbalut kepo bin karlota merasuki benaknya hendak menghilangkan rasa penasaran atas peristiwa berpisahnya sang sahabat dengan pacarnya.
Ichi menarik wajahnya ke belakang, namun alisnya masih saja tetap bertaut. "Bukannya kalian se-agama? Nggak ada siswi beragama lain di madrasah ini, Uyong."
"Memang..." ujar Kandar dengan lesu.
Alis Ichi sebelah kanan langsung terangkat segera. "Lho? Perbedaan keyakinan kamu dengan dia itu dimana? letak masalahnya dimana?" desak Ichi memegang lengan pemuda itu.
Kandar kembali membuang napas. "Itulah... Kamu tahu kan? selama ini aku selalu meyakini kalau diriku ini tampan..."
What?!
Kandar kembali menghela napas, "Tapi dia tak pernah menerima keyakinanku dan selalu mempermasalahkannya." tukas pemuda tersebut dengan kesal.
Ichi memanyunkan bibirnya dan langsung memukul lengan Kandar. pemuda itu meringis.
"Aduh, Chi." sahut Kandar. "Sakit tahu!"
"Dasar Playboy cecak! ya memang kamu nggak tampan!" sembur Ichi dengan kesal dan langsung melangkah menuju ke bangkunya. jilbaber itu meletakkan tasnya lalu melangkah meninggalkan kelas.
Dengan santai, jilbaber itu mengayunkan kakinya menyusuri koridor kelas dan kembali menuruni tangga, menyeberangi lapangan hingga keluar dari gerbang sekolah. Kantin memang letaknya bukan berada dalam lingkungan madrasah yang terafiliasi dengan wilayah pondok pesantren itu. langkah gadis itu terus terayun menyusuri jalanan aspal berbatu-batu. biasanya orang-orang Gorontalo menyebut jalanan itu dengan istilah butas halua, mengingatkan pada sejenis permen tradisional Gorontalo, halwa yang terbuat dari jejeran kacang tanah yang disiram dengan cairan gula merah dan dipadatkan menggunakan kertas minyak.
langkah gadis itu tiba disebuah rumah sederhana. diberanda rumah itu dipasangi kain bekas spanduk kampanye Pilkada Pohuwato tahun 2020 kemarin, sebagai pembatas, menandakan bahwa ditempat itu didirikan kantin sederhana, tempat makan nasi kuning dan berbagai jenis masakan lainnya yang terjangkau oleh kocek siswa-siswi madrasah tersebut
Disana sudah lebih dulu, sahabatnya, Fadila duduk menikmati Tinutu'an. ia melambai ke arah Ichi saat melihat jilbaber itu mendekati tempat itu.
"Sudah lama?" tanya Ichi.
"Baru saja." jawab Fadila sembari mendecap-decapkan lidahnya menikmati sensasi rasa pedas dzat capcaisin yanv terdapat dalam cabe bercampur terasi yang melarut dalam sajian khas Menado itu. "Baru sepuluh menit lalu." sambungnya.
Ichi memesan nasi kuning kepada ibu penjual itu. sementara menunggu pesanannya disajikan, gadis itu duduk bersebelahan dengan sahabat sebangkunya itu.
"Kamu bikin apa si Kandar sampai lesu macam bayi nggak di imunisasi begitu?" selidik Ichi.
Fadila menatap Ichi dan membulatkan matanya. "Lho? Dia lagi kekurangan vitamin apa, harus di imunisasi segala?"
__ADS_1
"Kekurangan vitamin cinta dan kasih sayangmu." jawab Ichi kemudian tertawa. Tak lama kemudian ibu penjual datang membawa sepiring nasi kuning lengkap dengan laksa bercampur suwiran ikan dan bawang merah serta lidi-lidi kentang goreng yang renyah. piring itu diserahkan kepada Ichi dan gadis itu mulai mengambil sebotol kecap dan menuangkannya ke permukaan nasi kuning itu.
Fadila hanya merenggut digoda teman sebangkunya itu. Ichi mengembalikan botol kecap ke tempatnya lalu mengambil sebuah tempat berisi sambal cabai yang dihaluskan, menyendoknya sedikit dan menaruhnya di atas permukaan makanannya kemudian mulai mencampur-campurkannya.
"Memang kenapa dia harus diputusin?" tanya Ichi sambil terus mencampur-meratakan-mengaduk nasi kuning itu agar bercampur seimbang antara laksa, bawang goreng, ketang renyah dan sambalnya yang sudah melarut bersama larutan kecap.
"Banyak yang bikin ilfill sama dia, selain soal keyakinan itu." sindir Fadila dengan kesal disamping kegiatannya mengunyah dan menghabiskan makanannya.
"Misalnya?" pancing Ichi tanpa menoleh karena sibuk menikmati makanannya.
"Misalnya? pernah suatu kali aku menghubungi dia." cerita Fadila, "Saat nada sambung dijawab dia langsung nyerocos, ada apa Nilda?"
Alis Ichi terangkat lagi. setelah menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, gadis itu menatap lagi sahabatnya. "Lalu alasan kamu marah, apa?"
Fadila membulatkan matanya lagi ke arah Ichi. "Woy, namaku kan Fadila? kenapa dia memanggilku Nilda?!" omelnya.
Ichi nyaris tersedak. Untung saja tak terbatuk-batuk. cepat-cepat gadis itu mengambil gelas lalu menuangkan air dari poci ke gelas itu dan segera meminum isinya. Setelah meredakan sedaknya, gadis itu menggeser piring yang masih ada sedikit sisa nasi kuning itu ke tengah meja.
"Jadi menurutmu, dia menyelingkuhimu?" tebak Ichi mengelus-elus perutnya dan bersendawa sedikit.
GROOOOOOOOOOOCCCHHHH.....
"Aaahhh.... nikmat... Alhamdulillah..." desis Ichi sementara Fadila hanya mengernyitkan alisnya, sedikit jijik dengan bunyi sendawa sahabatnya itu.
"Tentu saja! aku yakin!" tandas Fadila, "Makanya aku cepat-cepat mutusin dia supaya nyesalnya nggak kepanjangan kayak kabel listrik."
"Ya itu urusan kamu sama dia." sahut Ichi sembari merogoh kantungnya mengeluarkan selembaran uang warna kuning bergambar tokoh Dr. K.H. Idham Chalid, kemudian meletakkan lembaran uang itu diatas piring.
Ichi baru hendak bangkit saat Fadila menggenggam pergelangan tangannya. gadis itu menoleh, mengangkat alisnya.
"Kamu ada acara sore ini nggak?" tanya Fadila.
Ichi mengerutkan alis dan memejamkan matanya sejenak lalu membuka matanya, menatap Fadila dan menggeleng. "Kayaknya nggak ada tuh." jawabnya, "Kenapa?"
"Datang ke rumahku yuk." ajak Fadila. "Aku lagi pesta kecil-kecilan." sambungnya memperlihatkan deretan giginya yang berbaris rapi bak biji ketimun dalam sunggingan senyum itu.
"Aku minta ijin sama Umi dulu." ujar Ichi.
"Ya illaaah... ke rumahku juga, masa masih pakai acara minta ijin sih?" tukas Fadila dengan alis berkerut. "Kayak gadis pingitan saja."
Fadila mengeluarkan uang selebaran warna hijau bergambar tokoh Dr. G.S.S.J. Ratulangi, meletakkannya di meja dan mengambil uang kertas milik Ichi dan menyerahkannya kembali ke telapak tangan gadis itu.
"Kau sudah terlalu banyak mentraktirku." tegur Ichi dengan datar.
Fadila hanya mendesis lalu mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Ichi diam. gadis itu menatap ibu penjual. "Sisanya istirahat ya Mak, porsinya sama."
"Sama no'u ini juga?" tanya ibu penjual itu.
Fadila mengangguk lalu mengajak Ichi meninggalkan tempat itu dan menyusuri jalanan butas halua itu mendekati gerbang sekolah. Dari arah gerbang, muncul Kandar.
Melihat keberadaan Fadila yang didampingi Ichi, pemuda itu bergegas mendekati mereka. Fadila sebenarnya hendak berbalik pergi kalau saja nggak ditahan Ichi dipergelangan tangannya.
Sesampainya didepannya, belum sempat Kandar menyapa Fadila, Ichi langsung menghadang memperisai sahabatnya. "Mau apa kau?" todong Ichi menudingkan telunjuknya ke wajah Kandar. "Masih pagi, tau?!"
"Tapi aku mau bicara dengan Fadila, Chi." pinta Kandar.
"Ya, tapi nanti saja." tolak Ichi, "Siangan dikit, 'napa?"
Kandar masih saja bersikeras hendak bicara dengan Fadila. Ichi yang jengkel langsung mendorong Kandar dan mengancamnya dengan mementangkan tinjunya. Gadis itu nggak main-main.
"Kenapa kamu usil saja urusan orang sih?" tukas Kandar.
Ichi hanya mengencangkan rahang, lalu menyahut. "Woh, bukan mau kepoin urusan kalian. Urusan begini diselesaikan agak siangan dikit saja. masih pagi, mau ramaikan suasana ini dengan kicauan pertengkaran kalian berdua?!" todong Ichi memelototkan matanya.
Kandar diam, meski wajahnya masih menampakkan kekesalan sebab keinginannya dihalangi.
"Aku nggak mau ngurusi urusan kalian." ujar Ichi, "Tapi di pagi ini, aku nggak mau ketenangan pagi terusik dengan perdebatan kalian berdua." Ichi kemudian menggenggam pergelangan tangan Fadila namun tatapannya masih menghujam ke arah Kandar.
"Kalau mau makan, pergi sana." usir Ichi dengan ketus. "Urusan kalian berdua, selesaikan nanti saja. Bukan disini! Disini tempatnya sekolah, menuntut ilmu."
Kandar mendengus. Alis kanan Ichi terangkat.
"Mau ngelawan kamu ya?!" todong Ichi.
Kandar kembali mendengus kesal lalu melangkah pergi melewati Ichi yang memperisai Fadila. sepeninggal pemuda itu, Ichi cepat-cepat menarik sahabat sebangkunya itu meninggalkan tempat itu. []
__ADS_1