
Azizah akhir-akhir ini mulai uring-uringan. Ichi mulai sering membantah perintahnya. perkara apapun, anak itu pasti akan melakukan pembantahan terlebih dahulu, kemudian melaksanakan perintah ibunya.
Azizah melongok ke jendela menyaksikan langit yang mendung dan mulai menjatuhkan rintik hujan, dan kembali tatapannya terhampar pada pakaian-pakaian yang menggantung di tali jemuran, melambai dan berkibar disebabkan hembusan angin kencang.
"Ichi, ambil pakaian itu." pinta Azizah.
Ichi hanya menanggapi dengan dingin. Azizah, seperti biasanya akan terpancing emosi ketika perintahnya tak diindahkan anaknya.
"Kamu dengar Umi bicara?!" sergah Azizah.
"Dengar." sahut Ichi dengan tenang.
"Lalu kau tak mau melaksanakannya?!" pancing Azizah hendak mengancam.
"Nggak." jawab Ichi dengan tenang, bahkan terkesan menantang.
Azizah memicingkan mata. "Memang kau pikir, baju-baju siapa yang Umi jemur itu?"
"Manusia..." sahut Ichi dengan senyum mengejek dan melangkah meninggalkan Azizah.
Wanita berupaya menahan amarah yang menggelegak, nyaris melangkah dinding ketahanan sabarnya. Kalau saja tidak mengingat pesan suaminya, tentu tubuh ecyomorphis sang anak sudah terkena lagi pelampiasan kemarahan berupa tumbukan tinju atau hujaman martil kepalan yang akan singgah bertubi-tubi di punggung dan pundak Ichi.
Azizah melangkah cepat menuju kamar. Diraihnya gawai yang sementara di charge itu, membiarkan kabel USB tercolok pada lubang transmisi energi, langsung menekan tombol-tombol elektrodigital pada layar sentuh gawai tersebut.
Terdengar nada memanggil.
TUUUT... TUUUUT... TUUUT...
Akhirnya panggilan itu disahuti.
📲 "Halo, Assalamualaikum..." sapa suara lelaki yang dikenalnya diseberang sana.
📲 "Bi, Umi mau bicara..." sela Azizah dengan cepat.
📲 "Uhmmm... Ya... Bicaralah..." sahut suara lelaki itu.
📲 "Kurasa kita harus segera memasukkannya ke pesantren!" tukas Azizah dengan suara gemetar penuh marah.
📲 "Waaahhhh... kenapa lagi ini?" tukas balik sang suami yang heran dengan suasana marah sang istri dipagi hari itu.
📲 "Anak itu benar-benar telah menjadi pemberontak!" ujar Azizah mengadu, "Bayangkan, aku menyuruhnya mengangkat jemuran sebab mau hujan, tapi dia tak menanggapiku." ujar Azizah dengan berang. "Dia pikir dia siapa?!"
Terdengar suara sekehan tawa pelan diseberang sana, kemudian disusul dengan suara,
📲 "Jangan diladeni..." ujar sang suami. "Capek kamu meladeninya. Biarkan saja dia. Tapi segala kebutuhannya jangan diurusi supaya dia tobat. Mulai sekarang, Ichi sudah harus bisa mengelola hidupnya sendiri meski secara sederhana..."
📲 "Mengelola hidup secara sederhana gimana maksudnya Abi?" tanya Azizah masih dengan berang. "Aku kalau nggak ingat pesanmu, sudah ku kondo-kondo'o dia! Sudah ku hedeng-hedeng sampai terpulepe dilantai berkali-kali. Sialan benar!" umpat Azizah seraya mendengus.
Terdengar suara sekehan tawa lagi lalu disusul dengan suara,
📲 "Nih, Umi.... baru punya anak satu sudah stres bukan main. Gimana kalau anaknya dua? tiga? atau..." sindir sang suami.
📲 "Abi menyindir nih?!" tukas Azizah.
📲 "Sekedar mengingatkan Umi saja." sahut sang suami meluruskan paradigma yang sempat terbangun dalam benak Azizah. "Umi maksa kita buat program kehamilan, sekarang lagi ngurusi anak yang baru tumbuh gede, baru tumbuh sifat keakuannya, muncul pubertas pertamanya... Umi sudah stress bukan main..."
Azizah tercenung mendengar suara suaminya. Akhirnya ia mengakuinya,
__ADS_1
📲 "Iya juga sih..." akunya.
📲 "Nah toooo.... taklukkan dulu sifat Ichi. Aku tak melarang kamu melakukan tindakan keras ketika tindakan lembut tak lagi berfungsi untuknya.... silahkan menampar, asal jangan gunakan telapak tangan dan jangan sampai kena rahang." ujar sang suami.
📲 "Gimana mau nampar nggak boleh pakai telapak tangan? Abi ini ada-ada saja deh.... terus harus kena pipi, ya iyalah! Masa Umi mau menamparnya dirahangnya?" tangkis Azizah.
📲 "Keempat jemari itu dirapatkan dan tamparkan ke pipi. Akan terasa sakitnya, tapi hanya berdampak merah pada pipi.." saran sang suami.
📲 "Tinggal cara itukah yang harus ku lakukan untuk menundukkan keliaran putriku?" tukas Azizah dengan ketus.
📲 "Iya..." jawab sang suami dengan ketus pula."Atau jika Umi nggak tega... pergi saja ke pasar Marisa dan belilah sebuah lecut sapi."
📲 "Ini apa hubungannya dengan penaklukan sifat Ichi?" tukas Azizah dengan curiga.
📲 "Pecut itu, Umi gunakan untuk mencambuki betisnya." usul sang suami dengan nada yakin.
📲 "Tapualemu tinggolopumu! Kau kira anakmu sapi?" umpat Azizah. Meskipun wanita itu marah kepada putrinya, namun ia akan membela mati-matian putrinya jika sang anak diganggu.
📲 "Hanya itu caranya." ujar sang suaminya. "Asal jangan dialamatkan ke anggota tubuh yang terlarang. Dibetis saja, itu nggak apa-apa, sayang."
📲 "Eh, Abi! anakku bukan sapi, tahu nggak kau?!" sergah Azizah dengan berang.
Lelaki diseberang sana tersenyum.
📲 "Ya, terserah Umi sajalah. Yang penting Ichi akan nurut. Abi sudah jelaskan caranya..." ujar lelaki itu.
📲 "Abi, cara-caramu tadi hanya bisa diterapkan pada orang-orang Gestapu, bukan anakmu!" sela Azizah dengan ketus.
📲 "Bah, kakak perempuanku saja, dihukum kurung seharian sama ayahku hanya gara-gara minta uang sama teman ayahku tanpa sepengetahuannya." bantah lelaki itu mulai kesal.
📲 "Kakakmu enak dikurung di kamar seharian..." elak Azizah.
📲 "Bhairawa???" gumam Azizah.
📲 "Itu lho, sosok pemakan manusia, titisan dari Shiwa." jawab lelaki itu.
📲 "Ooo... kanibal maksudmu?" tebak Azizah.
Terdengar suara tawa si lelaki.
📲 "Hahahaha.... hati-hati kalau ucapanmu itu kedengaran orang-orang Hindu. Bisa diganyang kau." ujar lelaki itu.
📲 "Habisnya Abi bilangnya begitu." kilah Azizah, "Setahuku, yang makan-makan daging manusia itu, ya kanibal."
📲 "Sudah! Kok kita ngebahas itu sih?" tukas lelaki itu, "Intinya begini sayangku. Cara mengajar anak itu menurut Imam Hanbali ada tiga tahapan. Tujuh tahun pertama, cara mendidiknya adalah menjadikan Ichi seperti ratu. Tujuh tahun kedua, cara mengajarnya adalah menjadikan Ichi seperti budak, yaitu disuruh-suruh mengerjakan segala kecakapan hidup... dan itu harus diajar dengan keras sebab dimasa itu Ichi akan kaget dengan perubahan hidupnya. Dari yang biasanya diikuti kemauannya, ini sekarang sudah disuruh mengerjakan apa-apa, plus bentakan jika tidak mengerjakannya. Biasakan dia dengan suasan itu sampai usianya mencapai lima belas tahun... Dan ditujuh tahun ketiga, perlakukan Ichi seperti sahabat. Sebab pubertasnya sudah tumbuh dan dia mulai mengenal lelaki. Ia akan mengalami fase dimana ia merasai cinta." ujar lelaki itu.
📲 "Abi, sekarang jaman telah berubah. Justru di tujuh tahun keduanya, ia sudah terjebak dengan perkenalan dengan laki-laki. Abi nggak tahu? Di aplikasi chatting miliknya, bertebaran tiga ratusan akun laki-laki tanpa batas usia." papar Azizah, "Abi, aku sendiri sudah pusing memikirkannya. Anak kita sudah matang sebelum waktunya, gara-gara apa?!" keluh wanita itu.
📲 "Karena adanya perkembangan teknologi. Ichi sudah mengenal gawai dan aplikasi-aplikasi didalamnya, justru lebih terampil dari kita, orang tuanya." jawab lelaki itu dengan datar. "
📲 "Ichi nggak terbuka sama kamu, karena reaksimu berlebihan. Kamu bertanya, menempatkan dirimu seperti polisi yang menanyai tersangka. Ingat, kita sebagai orang tuanya adalah tempat diskusi mereka. Jangan jadikan rumah seperti penjara dimana kita berdiskusi justru mirip dengan interogasi." tukas lelaki itu, "Jaga bicaramu untuk tetap tenang menghadapi Ichi. Kamu mau dia mempercayaimu, kan?"
📲 "Mempercayai bagaimana?" tanya Azizah.
📲 "Kita, selain sebagai orang tuanya, juga partner diskusinya. Ingat. Jangan biarkan Ichi belajar tentang laki-laki lewat sinetron atau tayangan video di youtube, facebook atau aplikasi-aplikasi lainnya. Dia harus belajar tentang laki-laki dari kita, kedua orangtuanya. Apalagi dia takut membicarakan masalah pribadinya dengan kamu tapi justru malah curhat ke teman-temannya. Apa kamu pikir teman-temannya akan membantunya? Ya, membantu tapi dengan cara pandang mereka pula dan jika cara itu buruk, justru malah membuat Ichi makin jatuh kedalam jurang dan itu adalah dosa kita berdua karena tidak mempercayainya."
📲 "Kamu jangan nakut-nakuti aku dong." ujar Azizah.
__ADS_1
📲 "Nggak, aku nggak nakut-nakuti kamu. Aku juga disini menggali informasi tentang perilaku anak-anak usia belia yang sudah berpacaran. Aku juga sementara mencari-cari solusi yang tepat untuk anak kita." sahut lelaki itu. "Menyukai lawan jenis itu nggak dilarang. Yang dilarang adalah belum tercapainya usia yang patut untuk itu."
📲 "Aku sudah menyampaikan hal itu kepadanya. Tapi Ichi memang dasarnya keras kepala. Dia sama sepertimu." tukas Azizah dengan kesal.
📲 "Ya, jelas dia mirip sepertiku." seru lelaki itu. "Dia kan anakku! Sifatnya harus mirip denganku. Kalau sifatnya lain, pasti kau selingkuh!" tukas lelaki itu membalas.
📲 "Eh, aku nggak selingkuh ya?!" sergah Azizah dengan berang.
📲 "Ya kalau begitu, jangan mengeluh mengajari Ichi yang sifatnya sama denganku. Masa sama bapaknya, kamu bisa mengendalikan, sama anaknya kamu malah kapok-kapokan? yang hebat siapa nih? Ibunya, atau anaknya yang pintar memanipulasi?" sindir lelaki itu.
Azizah mendengus kesal mendengar olokan suaminya.
📲 "Intinya ngajar sama dia itu tarik-ulur. Bukan aturannya yang ditarik-ulur, tapi kondisi dan perasaan Ichi saat itu. Apakah kita bisa mendoktrinasi dia atau belum bisa." ujar lelaki tersebut.
📲 "Suka-suka Abi sajalah. Aku sudah mulai capek nih." keluh Azizah.
📲 "Eh, nggak boleh capek, sayang." ujar lelaki itu. "Urusan kita sudah selesai dengannya kalau dia sudah dinikahkan. Apa kamu mau Ichi segera cepat nikah?"
📲 "Enak saja! Nggak! Nggak akan pernah!" tandas Azizah. "Cukup aku saja yang merasai nikah muda. Jangan dia."
📲 "Oooo.... berarti Umi nyesal dong nikah sama Abi diusia muda." pancing lelaki itu.
📲 "Isy... Abi ini menjebak dengan kata-kata! Sudah ah, Umi mau istirahat." ujar Azizah.
Lelaki itu tertawa.
📲 "Woh, nggak usah marah." ujar lelaki itu. "Digoda sedikit marah."
Azizah tersenyum.
📲 "Sudah dulu ya Abi. Abi istirahat juga ya. Jangan lelah, nanti autoimunnya kambuh lagi." pesan Azizah.
📲 "Aku nggak perlu check in ke puskesmas kalau begitu." tukas lelaki itu.
📲 "Kenapa?" tanya Azizah.
📲 "Ada dokter pribadi yang senantiasa mengawasi kesehatanku." jawab lelaki itu.
Cemburu langsung terbit dihati wanita itu. Namun Azizqh berusaha menenangkan dirinya.
📲 "Siapa dokter pribadinya?" tanya Azizah dengan datar.
📲 "Aku yakin kamu cemburu." tebak lelaki itu. "Nada suaramu sudah bisa kutebak."
📲 "Siapa dokter pribadi itu? Laki-laki atau perempuan?" tanya Azizah dengan datar.
📲 "Perempuan..." jawab lelaki itu dengan tenang.
📲 "Siapa dia?" tanya Azizah mulai gusar.
📲 "Azizah Bobihu, M. KN." jawab lelaki itu.
Azizah sontak tertawa.
📲 "MKN itu apaan?" tanya Azizah.
📲 "Menantu Keluarga Nursalam..." jawab lelaki itu dengan senyum.
__ADS_1
Azizah tersenyum lagi mendengar gombalan suaminya. Percakapan seluler itu berakhir dengan salam dan kecupan indah lewat isyarat.[]