KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
NEGOSIASI HATI KE HATI...


__ADS_3

Ishak menatap Faisal yang juga menatapnya dengan tajam. Pemuda itu tersenyum-senyum sejenak.


"Ya." Ishak mengaku, "Akulah yang melaporkan segala kegiatanmu kepada lelaki itu." ujarnya memperbaiki duduknya yang bersila. "Aku dikirim kemari untuk mengamati semua kegiatan Ichi."



"Kau... Skullen?" tukas Faisal dengan lirih.


Ishak tersenyum. "Panggilannya padaku..." desahnya bercakak pinggang.


"Nyonya itu memanggilmu Toshisada." selidik Faisal.


"Namaku, Toshisada Fujimoto Imagawa... Ishak Rompies adalah nama mualafku." jawab Ishak kemudian menatap langit-langit ruangan.


"Kau terlalu banyak menyimpan misteri." sindir Faisal. "Sisi mana lagi yang belum kuketahui darimu?"


Ishak tertawa pelan. "Sesama setan nggak usah saling menyindir, Fais!" balas pemuda itu menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arah Faisal yang mengerutkan alisnya ketika Ishak mengemukakan kalimat satire itu.



"Apa kau pikir, aku tak mengetahui rahasiamu?" pancing Ishak membuat Faisal terdiam. "Tapi aku penasaran, Fais."


"Penasaran tentang apa?" tanya Faisal yang kemudian duduk disisi ranjang milik Yanto.


"Apa kau menganut mazhab Syi'ah?" tanya Ishak dengan senyum misteriusnya.


"Bukankah kau mengetahuinya?" balas Faisal menguji kembali sahabat sekamarnya itu.


"Aku hanya ingin memastikan saja." kilah Ishak masih dengan sikap santai."


Faisal tertawa. "Aku yakin tidak semuanya kau tahu tentang aku dan keluargaku." tebaknya.


"Katakan saja, apakah kau seorang penganut mazhab ahlu sunnah atau Syi'ah?" tanya Ishak.


Faisal menghela napas sejenak lalu menjelaskan. "Aliran Syi'ah banyak dianut oleh keluarga-keluarga Ba'Alawi di wilayah Iraq dan Iran. Sedangkan kami keluarga Assegaf menganut aliran Ahlu Sunnah." jawabnya.


Ishak mengangguk-angguk lalu tersenyum.


"Kalau kamu apa? Khawarij?" todong Faisal menukas.


"Sembarangan saja kau bicara!" seru Ishak dengan gusar. "Aku bukan golongan itu."


"Terus?" pancing Faisal.


Ishak kembali tersenyum misterius. "Cari saja sendiri..." oloknya.


Suara getar pada gawai di nakas membuat Ishak mengalihkan perhatiannya pada tempat itu. Pemuda itu beringsut bangkit meraih gawai tersebut dan melihat isi pesan singkat pada layarnya. Wajah Ishak mengangguk-angguk sejenak lalu mematikan kembali ponselnya.


"Pesan dari mana?" tanya Faisal.


"Nggak usah kau tahu!" ujar Ishak dengan ketus dan kembali berbaring membelakangi Faisal.


Pemuda arab itu hanya mendengus lalu menjebikan bibir dan bangkit berdiri melangkah meninggalkan kamar itu.


...******...


Candra Qomaruddin Tagoi, tidak menyangka akan mendapatkan tamu. Ia kenal siapa laki-bini tersebut. Wajah lelaki itu cerah benar saat menerima tamu, apalagi ada perwakilan dari Alkhairaat, yaitu Ustadz Hamdi Alamri sendiri sebagai mediator.


"Saya benar-benar surprise dengan kedatangan anda." ujar Candra kemudian tertawa pelan.


Kenzie hanya tersenyum saja menanggapi sambutan lelaki itu. Ia juga mengenal lelaki tersebut saat Buana Asparaga masih dibawah kendali ayahnya, Adnan S. Lasantu. Mereka berdua beberapa kali menjadi mitra kerja.


Candra adalah seorang pengusaha yang bergerak dibidang distribusi barang dan jasa. Perusahaannya bergerak dibidang agensi dan supplier. Sedikit-banyak kedua perusahaan ini terhubung dalam suatu kerjasama beberapa kali. Adnan banyak memakai jasa Candra dibidang penyaluran tenaga kerja eksplorasi yang dibutuhkan Asparaga Mining, cabang usaha Buana Asparaga yang berada di Pohuwato.


"Bagaimana kabarnya, Pak Candra." sapa Azkiya dengan lembut.


"Ah, kami baik-baik sampai saat ini, Alhamdulillah..." jawab Candra kembali tertawa dan ditanggapi cara yang sama oleh Kenzie dengan pelan.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Candra. "Apa ini berurusan dengan kerjasama kita?"


"Ooo bukan, bukan." bantah Kenzie. "Kalau bicara hal semacam itu, kita tak akan berada disini pak."


Candra mengangguk-angguk namun belum paham juga. Ia menatap Ustadz Hamdi. "Kemarin malam, Pak Ustadz nelpon saya. Beliau bilang, anda berdua akan datang mengunjungi saya..." lelaki parobaya itu mendehem lagi sejenak. "Tapi sampai saat ini saya belum lagi paham. Apalagi ketika saya menyinggung tentang perusahaan, anda sekalian malah membantah. Bisa dijelaskan lagi maksud kedatangannya?"



"Saya datang untuk mengeratkan tali silaturahmi dengan keluarga anda." ujar Kenzie dengan senyum.


Candra seketika gugup mendengar ucapan Presdir Buana Asparaga tersebut. Azkiya tiba-tiba menyela.


"Apakah Selina ada?" tanya Azkiya. "Saya ingin ketemu dengan dia."



"Oooo.... Selina ada." jawab Candra. "Kemarin Pak Ustadz sudah pesan supaya dia jangan dulu bersekolah hari ini." alis lelaki parobaya itu kemudian mengernyit menatap Ustadz Hamdi. "Kira-kira kenapa ya, Ustadz?"



"Bisa saya ketemu dia sekarang?" tanya Azkiya.

__ADS_1


Candra sejenak diam. Azkiya tersenyum. "Saya mau lebih dekat mengenalnya."


Candra akhirnya mengangguk dan bangkit melangkah meninggalkan ruangan itu sejenak. Tak lama kemudian, Ia muncul bersama istrinya dan Selina yang jelas terlihat begitu kebingungan dengan kemunculan orang-orang Buana Asparaga yang ditemani Ustadz Hamdi.


"Ustadz..." sapa Selina dengan santun dan mencium takzim tangan lelaki itu.


Ustadz Hamdi mengangguk-angguk lalu mengisyaratkan Selina untuk menyalami pula Azkiya dan Kenzie. Gadis itu melakukan apa yang diperintah gurunya. Setelah itu Selina duduk diapit oleh Candra dan istrinya.


Azkiya tersenyum. "Selina... bisakah kita jalan-jalan? Bisa kau tunjukkan tempat yang cocok untuk.... wisata, misalnya?" usul wanita itu.


Selina menatap ayah dan ibunya. Candra mengangguk tak kentara. Selina akhirnya pula mengangguk. "Baiklah, Tante."


"Jangan panggil Tante dong. Aku belum berusia tiga puluh tahun." ujar Azkiya dengan merajuk membuat mereka tertawa, kecuali Selina. Wanita itu kemudian tersenyum. "Panggil saya, kakak. Bisa, kan?" pintanya dengan wajah berbinar.


Selina kemudian tersenyum. "Ya, Kak."


"Nah... gitu dong." puji Azkiya membuat Selina tersipu. "Ayo." ajaknya.


"Sekarang?" tanya Selina dengan bingung.


"Ya, memangnya tunggu Idul Adha ya?" jawab Azkiya melontarkan ungkapan sarkas sambil berdiri kemudian menatap Kenzie.


"Watashi wa kanojo ni kono kekkon o ukkeireru yō ni settoku shimasu..." ujarnya dengan lembut. *)


*) Aku akan membujuknya supaya ia mau menerima pernikahan ini.


Kenzie mengangguk. "Watashi wa anata o tayori ni shite imasu." balas lelaki itu sambil senyum. "Ganbatte...Wiffy." *)


*) Aku mengandalmu. Semangat... istriku.


Azkiya mengangguk dan tersenyum sementara Candra dan istrinya bengong melihat percakapan itu. Sedangkan Ustadz Hamdi yang juga tidak faham artinya hanya mengangguk-angguk saja. Selina menatap Azkiya saat wanita itu mengulurkan tangannya mengajak gadis itu.


Selina akhirnya berdiri dan melangkah disisi Azkiya yang langsung menggandengnya keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam Lamborgini Aventador kemudian melaju menyusuri jalanan.


...*****...


Azizah seperti biasa dengan senang hati memasakkan makanan kesukaan suaminya itu. Lelaki itu tak seperti suami-suami kebanyakan. Ia sudah cukup puas dengan nasi goreng rasa garam campur bawang merah dan tanpa pewarna saus tomat. Pria berpostur besar mirip beruang itu melahap habis makanan tersebut.


Azizah duduk berseberangan meja berhadapan wajah. Wanita itu menyeduh kopi untuk dirinya dan suaminya. Ia duduk disana menikmati tingkah suami yang melahap masakannya. Bahagia benar wanita itu sehingga setiap sendok yang masuk kedalam mulut suaminya, ia pun serasa pula merasai masakannya itu.


"Enak?" tanya Azizah.


Pria itu hanya mengangguk-angguk saja sambil terus menyantap makanan. Ia tak mau diganggu. Begitulah kebiasaannya. Azizah tersenyum-senyum senang menatapi isi dalam belanga habis. Suaminya berhasil menghabiskan tiga piring penuh nasi goreng itu.


"Bagaimana dengan Bolonji?" tanya sang suami setelah menegak habis air kopi yang diseduh istrinya.


"Hal yang manusiawi." sahut laki-laki itu dengan senyum. "Pubertas mulai merangsang daya dirinya... segalanya... termasuk sikap pembangkangannya itu."


"Dan makin banyak berbohong." tambah Azizah.


Lelaki itu memandang istrinya sambil menyingkirkan piring ke tengah meja. "Karena dia merasa terkungkung. Umi tak melakukan tindakan yang membuat ia nyaman dengan pubertasnya."


"Memangnya ada yang begitu?" tanya Azizah.


"Anak kita contohnya." ujar lelaki itu. "Tapi aku juga tak menyalahkanmu. Ichi mulai sekarang kelihatan banyak bohongnya.... tapi... itu adalah yang wajar kecuali ia berbohong tentang setiap aksi yang dapat menyeret orang tuanya dalam masalah."


"Aku sudah tak tahu harus berbuat bagaimana lagi untuknya." keluh Azizah lagi.


Laki-laki itu tersenyum. "Umi... baru punya anak satu segini saja sudah pusing tujuh kali keliling... gimana mau punya anak lagi? Mati berdiri nanti Umi dibikin dawdling sama mereka. Umi kan darah tinggian. Dikit-dikit marah."


Azizah menghela napas. "Abi saja yang ngurusi dia."


"Aku sudah mengancamnya untuk itu." ujar laki-laki tersebut. "Anak itu tidak akan berani macam-macam... kecuali kerjanya bikin Umi marah terus..."


"Lalu... aku harus begini selamanya?" keluh Azizah.


"Santai menghadapi Ichi, sayang." ujar lelaki itu. "Ichi itu sarat dengan masalah... itu pasti... kecuali ada angin syurga yang bersepoi diwajahnya... barulah ia menjadi alim... alim-alim bulotu sih..."


"Yang penting jangan bosan membimbingnya." ujar laki-laki itu. "Anak itu adalah investasi kita di akhirat. Ketika dia berbuat baik, maka amalnya juga kita rasakan. Ketika dia berbuat jelek, dosanya pun kita tanggung."


Kedua laki-bini itu kembali diam dalam kebersamaan mereka.


...******...


Talambukit, Makarti Jaya, Taluditi....



Kedua perempuan itu menyusuri taman-taman yang dipenuhi bunga. Banyak juga pengunjung pada hari itu. Azkiya memandangi beberapa gazebo yang berderet di tepian taman. Ada miniatur kincir angin gaya Amsterdam, buatan warga lokal dan sebuah kolam pemandian kecil.


Hari menjelang senja dan Azkiya mengajaknya duduk disalah satu gazebo. Sebelumnya, Azkiya kembali ke kendaraannya, Lamborgini Aventador yang sudah sekejap menjadi tontonan dan obyek swafoto masyarakat disana. Sambil permisi, wanita itu membuka pintu mobil dan mengeluarkan sebungkusan besar cemilan yang dibelinya di Randangan kemudian membawanya ke gazebo dimana Selina duduk disana.


"Aaahhh... desa wisata ini pertama kali kujajaki." ujar Azkiya pada akhirnya. "Kelak aku akan mengajak Saburo dan Yuki kemari." Wanita itu meletakkan tas kresek besar berisi cemilan dan mengeluarkannya satu persatu.


Selina tersenyum. Azkiya tertawa. "Untung saja kamu nyuruh aku belanja cemilan banyak-banyak." godanya. "Pantesan disini nggak ada yang jualan. Murni taman bermain dan berwisata." Wanita itu mengambil sebotol air mineral dan mempersilahkan Selina menikmati cemilan kesukaannya.


"Sayangnya... tempat ini kurang terekspos. Jadinya ya belum dikenal oleh masyarakat... bahkan diwilayah Pohuwato sendiri." sesal Selina menghela napasnya. Gadis itu membuka cemilan singkong kemudian memakan satu persatu isinya.


"Oooo... kalau itu sudah tugas kamu sebagai warga daerah Pohuwato untuk merekomendasikan wilayah wisata ini ke masyarakat luas... apakah lewat artikel ataupun... paling gampang sosmed." tukas Azkiya.

__ADS_1


Selina teringat sesuatu. "Kak..." panggilnya.


Azkiya menatapnya sambil mengunyah cemilan. Selina menarik napasnya. "Kenapa sih kita kemari?"


Azkiya tersenyum. "Untuk saling mengenal..."


Selina masih ingin mengungkapkan rasa penasarannya, namun seakan lidahnya kelu. Wanita disisinya, meskipun tampangnya ceria, namun aura kewibawaannya sangat kuat memancar. Gadis itu tetap saja tertekan oleh pancaran pesona wanita berusia 30-an tahun itu. Azkiya kemudian memandang hamparan taman itu.


"Kamu tahu? Dulunya... aku adalah seorang siswa pertukaran pelajar... Aku dulunya warga negara jepang." tutur Azkiya. "Namaku sebelumnya adalah Chiyome Mochizuki..."


"Oooo... pantasan Kakak bisa bicara bahasa jepang." tukas Selina kemudian tertawa. "Rupanya memang orang sana."


"Aku berdarah campuran, Selina." ujar Azkiya. "Ibuku orang Gorontalo... makanya aku bisa berbahasa Indonesia dengan apik dan paham sedikit logat-logat Gorontalo."


Selina terkejut. "Benarkah?" serunya dengan takjub. Azkiya mengangguk.


"Mau dengar kisahnya?" pancing Azkiya.


Seketika dengan antusias, Selina mengangguk. Azkiya tertawa kecil lalu mengangguk-angguk dan mulai berkisah.


"Aku sengaja meminta program pertukaran pelajar pada Otoo-san ke Indonesia, entah kenapa... mungkin itulah yang disebut takdir. Okaa-San kemudian memberiku misi melindungi seorang wanita yang belakangan kutahu, bahwa ia adalah anak ibuku dari suaminya yang sebelumnya..." tutur Azkiya dengan senyum getir.


Selina memandangnya. Wanita itu menampakkan gurat kesedihan di wajahnya. Azkiya melanjutkan lagi kisahnya. "Aku bahagia bukan main ketika mengetahui itu. Selain itu... aku jatuh cinta pada Kenzie, yang rupanya adalah putra dari mantan suami Okaa-San."


Selina terkejut. "What?! Seriously???" pekiknya.


Azkiya tertawa. "Nggak nyangka, kan?"


Selina mengangguk-angguk. Azkiya tersenyum lalu berkisah lagi. "Aku dan Kenzie menjalin hubungan pacaran, di lima hari setelah perkenalan kami saat aku resmi menjadi siswa program pertukaran itu. Kami makin mesra dan Kenzie benar-benar mencintaiku..."


"Bagaimana dengan perempuan itu? Kakak kandung seibunya kakak itu? Siapa sih namanya?" tanya Selina dengan takjub.


Azkiya kembali tersenyum getir. "Namanya Aisyah Fatriana Lasantu... dia kakak sedarah dari Kenzie, suamiku."


Selina terdiam lama. Ia jadi salah tingkah melihat Azkiya yang menatap kembali hamparan taman itu. Tak lama kemudian perempuan itu kembali menatap Selina.


"Ada yang sangat menarik dari kisah percintaan kami." pancing Azkiya. "Kau mau dengar?"


Antusiasme Selina muncul lagi dan ia mengangguk-angguk.


Azkiya tersenyum. "Tahukah kau? Kami menikah saat sama-sama masih menikmati pendidikan di sekolah." bisiknya.


Selina kembali terkejut. "Apa? Serius nih kak?!"


Azkiya mengangguk-angguk dengan wajah lucu. Selina mendengus. "Ah, kakak bohong nih!" tukasnya.


Azkiya mengeluarkan gawainya dan memperlihatkan foto pernikahannya dengan Kenzie di Tokyo. Juga resepsi pernikahannya di Gorontalo. Tak lupa Azkiya juga memperlihatkan dokumen buku nikahnya kepada Selina. Jilbaber itu benar-benar takjub.


"Wah... luar biasa... lalu bagaimana kakak berdua menjalani sekolah?" tanya Selina.


"Seru..." jawab Azkiya singkat membuat Selina didera rasa penasaran.


"Ih, Kakak jangan gitu dong." tukas Selina dengan manja. "Ceritain sedikit, please..."


"Eh... jangan... itu konsumsi dua puluh tahun keatas..." tolak Azkiya membuat Selina makin penasaran. "Tapi... seru deh pokoknya..."


"Ih... Kakak nih. Nggak seru!" rajuk Selina.


"Memang kamu mau nikah dalam masa sekolah?" pancing Azkiya.


Selina tertawa. "Kalau melihat raut wajah kakak... sepertinya aku penasaran."


"Jadi mau nih?" pancing Azkiya.


Seketika Selina mengangguk lalu tertawa keras. Azkiya pun tertawa pula.


"Ini serius... kamu mau nikahan?" pancing Azkiya.


"Kok Kakak ngebahas hal itu sih?" tukas Selina dengan kecurigaan yang disamarkan namun tetap saja tertangkap oleh Azkiya, sebab wanita itu juga pakar fisiognomi.


"Memang kenapa?" tanya Azkiya.


"Aku kan masih sekolah Kak. Tinggal enam bulan lagi." ujar Selina.


"Sama... aku juga nikah saat masih duduk dibangku kelas dua belas... seperti kamu." ujar Azkiya.


"Kak... jujur deh. Kakak berdua nyambangi rumah saya... untuk membahas nikah ya?" selidik Selina dengan hati-hati.


Azkiya tersenyum lagi. "Menurutmu?"


"Kak... maaf ya kalau tersinggung." ujar Selina dengan datar. Azkiya sangat paham gaya bicara anak muda sekarang. Apalagi dijaman Gen-Alpha seperti ini. Karakter mereka cenderung blak-blakan.


Azkiya merubah posisinya dan duduk lebih tegak, namun wajahnya tetap santai dan teduh. "Apa?" tanya wanita itu dengan lembut.


"Saya ini punya pacar dan kami saling mencintai." ujar Selina.


"Aldi, maksud kamu?" tebak Azkiya dengan lembut.


"Jadi Kakak sebenarnya sudah tahu berapa banyak sih tentang kami?" selidik Selina lagi mulai agak emosi.[]

__ADS_1


__ADS_2