
"Ada apa kau menelponku, Natasha?" tanya Faisal dengan nada datar tapi dilembutkan sedikit. Pemuda itu tak terbiasa membentak perempuan.
Natasha diseberang terkekeh kecil. "Aku baru saja tiba di Gorontalo, ada urusan yang hendak aku lakukan." jawab gadis itu kemudian bertanya, "Kita bisa ketemuan dimana, Fais?" ujar gadis itu dengan suara rendah namun menggoda.
"Memang kamu dimana?" pancing Faisal.
"Aku ada di Perumahan Pulubala, Kompleks PLN dan SMK 3 Kota Gorontalo." jawab Natasha, "Kamu sendiri dimana?"
"Kalau begitu, kamu nggak akan menemukan aku." ujar Faisal dengan senyum kemenangan.
"Lho? Memang kamu dimana? Bukankah kau sekolah di Gorontalo?" tukas Natasha dengan kaget.
"Ya, tapi bukan di kota." jawab Faisal masih dengan senyum kemenangan yang terus bertengger dibibirnya.
"Wah, sayang sekali." ujar gadis itu dengan nada kecewa. "Dimana aku bisa menemukanmu?"
"Aku nggak akan memberitahukannya." jawab Faisal. "Bukankah kau pernah mengatakan di tepian Kali Mas bahwa disanalah pertemuan terakhir kita?" pancing pemuda itu.
"Ayolah... jangan begitu terhadapku." rengek Natasha dengan lembut. "Pertemuan terakhir, tapi bukan untuk yang terakhir kalinya, Faisal... katakanlah... dimana aku bisa menemukanmu?"
Faisal tersenyum lagi, "Find it out for yourself..." jawabnya kemudian memutuskan pembicaraan tersebut lalu tertawa pelan sambil melangkah. Tak lupa Faisal langsung memblokir nomor tersebut untuk mencegah Natasha menemukannya melalui aplikasi Google Map.
...****...
Ichi menjalani rutinitas belajarnya sejak itu dengan menyenangkan diri sendiri. Nasihat samar Faisal melalui penalaran logika matematika membuatnya sadar bahwa sebenarnya tak ada yang sia-sia didunia ini. Semua atas kehendak Allah.
Segala puji Bagi-Mu, yang dengan Nikmat-Mu, bisa sempurnalah segala kebajikan... Ya Allah... Tiadalah Engkau menciptakan semuanya dengan sia-sia... peliharalah aku dari kejelekan dan siksa neraka...
Ichi menjalani semua. Segala hal yang tak terasa sesuai dihatinya hanya diademkan saja dalam hati. Ia merelakannya saja, selama hal tersebut tidak menyentuh sisi terdalam di dalam dirinya.
Bunyi bel pulang akhirnya membuat gadis itu tersenyum. Makin lebar senyum begitu sang guru memberikan beberapa refleksi dan wejangan sebelum mengakhiri kegiatan pembelajarannya. Para siswa kemudian berhamburan keluar menyusul guru yang melangkah meninggalkan kelas.
Ichi melangkah santai menyusuri koridor sekolah. Ia tiba diujung koridor dan melompat pendek menjejak tanah dan kembali melangkah menyeberangi sebagian lapangan dan bergerak ke sisi gedung yang jalannya tembus ke tempat parkir.
Sepeda motor listriknya sedang bertengger disana. Ichi kemudian membuka gembok elektroniknya dan membimbing kendaraan itu ke jalanan. Nun dijalanan masih banyak para siswa yang berjalan seiringan, ada yang bergerombol dan ada yang jalan sendirian tanpa membaur dalam kelompok. Ada juga yang menggunakan kendaraan seperti sepeda motor.
Sang ayah melarang Ichi mengendarai sepeda motor umumnya sebab lelaki itu kuatir sang anak tak bisa mengendalikan kegilaannya bepergian. Kendaraan BBM jenis RON entah dari Ron 80 hingga 90-an tetap saja dikenakan hukum yang mana hanya bisa dikendaraan oleh pengguna yang memiliki SIM sebab kendaraan jenis itu memiliki STNK. Adapun sepeda motor listrik, nggak perlu menggunakan SIM sebab tak memiliki STNK, kecuali kendaraan itu memiliki kapasitas kecepatan diatas 40 Km/jam, tetap saja harus didaftarkan ke pihak kepolisian untuk mendapatkan SIM dan Samsat untuk mendapatkan STNK sebab status kecepatannya sudah sama dengan kendaraan BBM.
Sepeda listrik Volta 202 yang dikendarai Ichi sebenarnya memiliki kapasitas kecepatan 35 hingga 45 Km/jam dan hanya bisa mencapai jarak sejauh 45 kilometer dari rumahnya sebab kapasitas listrik yang dimiliki hanya sekisaran 500 Watt dan menggunakan baterai 48 Volt 12 AH LEAD ACID.
Ichi mengendarai sepedanya dengan kecepatan normal saja melintasi jalanan trans itu menuju ke selatan, ke arah kampung kediamannya. Semakin cepat ia menarik setang gas, semakin cepat pula energi baterainya terkuras.
Tak berapa lama, muncul dari belakang sebuah sepeda motor Kawasaki Ninja ZX-25R warna biru. Pengendaranya menggunakan Jaket kulit dan sepatu jeans. Wajahnya tak kelihatan, tertutup oleh kaca gelap dari helm F**ullface Mds Prorider.
Ichi sejak mula curiga dengan dengan keberadaan kendaraan itu. Pengendara tersebut mendempetkan kendaraannya mendekati kendaraan yang dikendarai gadis itu. Tatapan gadis itu memicing.
Mau apa gerangan orang ini?
Keduanya telah melewati kawasan Buntulia Utara, ketika tiba-tiba tanpa sempat diantisipasi oleh Ichi. Tangan pengendara Kawasaki Ninja ZX-25R itu terjulur dengan cepat menyentuh bagian dada sang gadis. Ichi hanya bisa kaget dan sejenak speechless diakibatkan kelakuan pengendara kurang ajar itu.
Sejenak kemudian, gadis itu dengan kemarahan penuh memuntahkan amunisi muntabnya kepada pengendara itu. Suaranya terdengar jelas meneriaki dan menyumpahi pengendara itu sedang yang diumpati hanya memperlihatkan jari tengahnya ke arah Ichi.
Masih dikuasai kemarahan tinggi, Ichi menarik setang gasnya membuat sepeda motor listriknya melaju mengejar pengendara Kawasaki Ninja ZX-25R yang lebih dulu melaju itu. Sementara target pengejaran membelok ke sebuah lorong yang mengarah ke barat. Ichi ikut mengejarnya pula.
Tak diperdulikannya bebatuan kerikil yang menghampar dijalanan yang rusak itu. Kendaraannya melompat-limpat akibat menabrak tetumpukan bebatuan kerikil itu. Ichi masih tetap mengejar pengendara tersebut.
Mereka memasuki delombongo (hutan kecil) dan diujung sana kendaraan Kawasaki Ninja ZX-25R itu berhenti dan pengendaranya turun menjejak kaki dijalanan yang membelah delombongo tersebut. Ichi ikut menghentikan kendaraannya lalu menjejak jalanan itu.
"Akhirnya berhenti juga kamu, hei pengendara cabul!" seru Ichi menuding-nudingkan telunjuknya kearah pengendara tersebut.
Terdengar sekehan tawa yang makin lama makin keras. Akhirnya pengendara itu melepas helm fullface miliknya dan meletakkannya disadel kendaraannya.
Ichi benar-benar terhenyak menyadari siapa pengendara yang berani melecehkan dirinya itu.
"Rusli.... rupanya kau!" seru Ichi dengan marah.
Rusli tertawa dan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu melangkan santai mendekati Ichi yang telah memasang sikap waspada sambil tetap menghujamkan tatapannya ke arah si peleceh tersebut.
__ADS_1
"Ya. Memang aku." jawab Rusli dengan jujur. "Habisnya, kau telah menghinaku didepan orang-orang. Bukankah itu pembalasan yang manis?" goda lelaki itu mengepal-ngepalkan jemarinya seakan *******-***** sesuatu.
Ichi mendengus. "Dasar pemetik bunga! Kau akan menyesal berurusan denganku!" tukas gadis itu mengarahkan telunjuknya kepada Rusli.
Rusli tertawa lalu melambaikan tangannya kearah Ichi. "Kalau begitu, datangilah aku." panggilnya kemudian memasang sikap siaga bertarung. "Namun jangan salahkan aku terhadap apa yang kulakukan pada dirimu kelak." gumamnya.
Dipicu kemarahan yang menggelegak, Ichi melangkah maju dan mulai berlari menerjang Rusli. Lelaki itu sudah siap dan maju pula melayangkan tinjunya.
BAM!!!
Tumbukan tinju yang dilayangkan Rusli dan hujaman tendangan yang diarahkan Ichi bertemu menimbulkan suara dentam. Tubuh Ichi kembali terdorong ke belakang sedang Rusli maju kembali mengayunkan tinjunya.
Ichi membuang wajah kebelakang bertepatan dengan ayunan tinju lawan yang nyaris menyerempet wajahnya. Sekali lagi Rusli mengayunkan tinjunya. Namun kali ini Ichi telah siap. Tiba-tiba ia mengayunkan telapak tangan menampar lengan Rusli sekaligus menangkapnya.
TAP!!! HEH?!
Rusli terkejut ketika serangannya tertahan dan sekali lagi Ichi menyorongkan tinjunya.
BUK!!! OCHHH...
Rahang lelaki itu perih terkena tinju kecil gadis itu. Gaya dorong membuat wajahnya memental kebelakang seiring dengan dengan itu, Ichi maju lagi mengayunkan tamparannya.
PLAK!!! UFFF....
Tamparan jilbaber itu kena lagi tepat diwajahnya. Rusli membuang tubuh ke belakang, memberi jeda sekaligus mempersiapkan tubuhnya kembali. Sekali lagi Ichi maju, kali ini mengayunkan tinju palu dari atas mengincar batok kepala lelaki itu.
Namun Rusli sudah tanggap. Lengan kirinya terjulur dan jemarinya mencengkeram pergelangan tangan ichi. Dan tubuh gadis itu terhentak ke belakang ketika tinju lelaki yang besar itu menghantam perutnya.
BUK!!!! IIIHHHH...
Ichi merasai perutnya mulas. Belum sempat ia bersiap, tiba-tiba tubuhnya dipeluk ketat oleh Rusli. Ichi terkejut dan seketika berupaya meronta.
"Lepaskan!!!!" teriaknya dengan kalap.
"Hahahaha.... Ichi... kali ini aku tak akan melepaskanmu!" seru Rusli yang kemudian memaksa menjejalkan bibir besarnya mencaplok bibir kecil gadis itu. Ichi berupaya melepaskan daging bibir si lelaki yang telah menyumpal bibirnya, sambil berontak.
...******...
Lelaki itu tiba-tiba membuka matanya dengan nyalang. Tidur siangnya terganggu. Mimpi buruk menyergapnya. Dalam visual mimpi itu, ia melihat sang putri dikejar celeng besar.
Matanya membelalak saat melihat Ichi berhasil dijatuhkan celeng itu dan makin menggeramlah si lelaki saat melihat sang celeng menyerudukkan taringnya berhasil merobek-robek pakaian yang dikenakan Ichi.
Ya Allah.... anakku! selamatkan anakku!!!!
Sang lelaki merasakan tubuhnya tak bisa bergerak. Ia tak mampu melakukan tindakan untuk menolong putrinya menyelamatkan diri dari amukan celeng itu.
Pakaian Ichi robek-robek dan celeng itu kemudian mendatanginya.
Aaaaaaaaa......
Sang lelaki mengenali kamarnya sendiri. Ia bergegas bangkit namun hanya diam berdiri saja diatas kasur bolsak itu. Tubuhnya gemetar dan tatapan nanar menatapi hamparan pakaiannya yang tergantung.
Ichi.... anakku... apa yang terjadi padamu, nak???
...*****...
Ichi hanya bisa menangis sambil terus berteriak, berontak berupaya dengan sisa tenaga terakhirnya dapat membendung tindak pelecehan, pencabulan bahkan mungkin saja Rusli akan memperkosanya ditempat sunyi itu. delombongo itu akan menjadi saksi hancurnya masa depannya yang sedikit lagi dipersekusi oleh Rusli secara seksual.
Ya Allah... aku memang hamba-Mu yang tak pernah taat kepada-Mu... namun ku mohon Ya Allah... selamatkan aku dari iblis keparat ini!!!!
Rusli masih tertawa-tawa kesenangan ketika jemarinya benar-benar menancap didada kiri gadis itu dan mempermainkannya. Tubuh Ichi yang kecil itu telah tertindih oleh tubuhnya yang berat, membatasi gerakan Ichi yang meronta-ronta. Pakaian gadis itu mulai tak beraturan, dipaksa terbuka oleh lelaki bejat itu.
tiba-tiba...
SRINGGGG.... CRASHHHH....
AAAAAAAAKKKKKHHHH....
__ADS_1
Tiba-tiba Rusli mendongakkan kepala dan meraung sekuat tenaga mengumbar rasa sakitnya ke udara kemudian bergulingan menjauh dari tubuh Ichi yang sudah tergolek lemas. Dengan sisa-sisa tenaganya, Ichi menatap sosok yang berdiri disisinya.
Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tertutup masker. Di tangan kanannya tergenggam sebilah kodachi yang bilahannya berlumur darah si peleceh tersebut.
Rusli bangkit menatap sosok itu dengan wajah mengernyitkan rasa sakit luar biasa yang dideritanya akibat pembokongan bermoral itu.
"Siapa kau bangsat?!" umpat Rusli dengan muntab.
Namun sosok itu tak menjawab sepatah katapun. Lengannya yang menggenggam kodachi itu justru terangkat dan teracung kearah Rusli lalu melambai-lambai kesisi kiri, seakan menyuruhnya untuk menyingkir saja.
Rupanya Rusli paham juga dengan isyarat yang dibuat sosok itu. Ia mengangguk-angguk kepalanya lalu menggeram.
"Kita akan bertemu lagi." geram Rusli kemudian melangkah bertatih-tatih menuju kendaraannya yang terparkir tersebut. Tak lama kemudian, terdengar deru Kawasaki Ninja ZX-25R yang dikendarai si cabul menjauh dan tak terdengar lagi.
Sosok itu menatapi Ichi yang sudah sayup-sayup matanya akibat kelelahan. Sosok itu menyarungkan kodachi miliknya lalu jongkok disisi Ichi.
"Jangan kuatir... aku akan menolongmu." ujar sosok itu dengan lembut.
Ichi hanya menatapnya lesu dan setelah itu ia pingsan, tak ingat apa-apa lagi.
...*****...
Ichi membuka matanya dan berupaya mengenali ruangan tersebut. Itu ruangan lain.
Dimana aku????
Ichi menoleh ke samping. Ada sekat kain disisinya. Ia menatap ke arah kakinya lalu merasai sakit dilengan kiri. Ternyata sebatang jarum infus menancap disana. Gadis itu menatap sejenak kantung infus yang tergantung pada tiang pengait dan gadis itu mendesah.
Bagus... aku dirumah sakit...
Tak lama kemudian, sekat itu membuka dan muncullah seorang wanita berpakaian dan bermasker putih. Itu pasti suster yang merawatnya.
"Ah, sudah bangun rupanya?" ujar suster tersebut.
"Aku.... dimana ses???" tanya Ichi dengan lemah.
"Uhm... Ruang nginap Puskesmas Buntulia." jawab suster tersebut. "Bagaimana kabarmu?"
"Sudah mendingan ses..." jawab Ichi dengan lemah.
Suster itu tersenyum. "Kamu itu kelihatannya mengalami kecelakaan ya? Tubuhmu memar-memar begitu." ujar wanita itu, "Untung seorang lelaki membawamu kesini."
"Siapa dia, Ses?" tanya Ichi dengan pelan.
"Wah... dia nggak bilang namanya." ujar suster itu menyesalkan. "Tapi biaya pengobatan kamu sudah dilunasinya... semuanya! Mungkin sebentar lagi orang tuamu akan datang menjengukmu."
Ichi hanya diam saja mencerna kalimat-kalimat dari perawat tersebut. Setelah sang suster pergi, gadis itu mendesah panjang.
Hari ini... hari yang sangat jelek buatku.... Rusli...
Ichi menutup matanya dan setitik air bening perlahan jatuh dari matanya, membasahi wilayah sisi mata yang searah dengan telinga.
Ya Allah... terima kasih telah menyelamatkan aku dari lelaki itu... aku sumpah... aku akan membalas semua perlakuannya kepadaku...
Gadis itu mengepalkan tinjunya.
Demi ayah-ibuku.... lelaki bejat itu akan merasai akibatnya...
Rahang gadis itu mengencang.
Aku bernazar, tidak akan makan daging sebelum aku melumpuhkan alat reproduksinya yang sangat ia banggakan itu...
Ichi kembali memejamkan mata dan kembali gadis itu menangis....
Ya Allah... siapa lelaki yang menolongku itu? siapa lelaki yang bermasker itu?... mengapa ia menolongku? Apakah kami berteman?.... aku berharap bisa menemukannya... ijinkan aku menemukannya...
Ichi kembali menghela napas. Gadis itu masih menangis dalam diam.[]
__ADS_1