
Rusli membanting apa saja yang disentuhnya. Pria itu murka luar biasa. Kematian Jensen membuat semua rencana yang disusunnya sontak porak-poranda. Lelaki itu melangkah pelan dengan napas tersengal akibat emosi yang nyaris tak bisa dikendalikannya.
Skullen! Aku janji! Aku akan menemukanmu, siapapun kamu, dimanapun kamu, aku akan mengejar, memburu, menangkap dan mencincangmu hingga kau menyesal terlahir ke dunia!!!
Seketika Rusli mendongak menatap langit-langit ruangannya dan meraung sekuat tenaga
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHH....."
Gelombang bahana yang ditimbulkannya menyebabkan perih, siapapun pengawal yang mendengarnya. Mereka sebagiannya meringis dan tanpa sadar mengucek-ngucek liang pendengarannya.
Sekali lagi Rusli menatap jenazah Jensen yang buntung kepalanya. Genangan darah sebagiannya telah kering dan bercampur bau busuk khas pembusukan jaringan. Beberapa senti dari jenazah itu, menggeletak sebuah topeng tengkorak. Itu adalah ciri khas Skullen, meninggalkan jejak sebagai identitas khasnya.
Seorang lelaki berpakaian formal muncul. Ia kemudian berdiri dekat Rusli dan mencondongkan wajahnya, membisikkan sesuatu ke telinga presdir itu. Sejenak mata Rusli melebar dan menatap pengawal itu.
"Kau yakin?!" desisnya dengan dingin.
Pengawal itu mengangguk. Rusli melengos kearah jenazah buntung kepala itu dan mengencangkan rahangnya.
"Kalau begitu, aku akan ke Pohuwato..." ujar Rusli. Sejenak senyumnya terukir saat benaknya membayangkan wajah seorang gadis yang kemudian menyelusup disanubarinya.
"Sekarang, Pak?" tanya pengawal itu.
"Kau mau tunggu Idul Adha tahun depan?!" hardik Rusli.
"Ah, tidak! Tidak! Tidak!" seru pengawal itu dengan tangkas dan menggeleng kemudian melangkah balik meninggalkan Rusli yang masih berdiri disana.
...*****...
Selina sedang melangkah santai ketika Aldi muncul mengendarai sepeda motor gede kesayangannya. Lelaki itu menghentikan kendaraannya tepat disisi Selina, membuat gadis itu menepi sejenak.
"Hai, Seli." sapa Aldi.
Selina hanya menyapanya dengan datar saja. Aldi menebar senyum.
"Sudah pulang sekolah?" tanya lelaki itu dengan lembut.
Selina hanya mengangguk datar saja membuat Aldi sedikit heran dengan perangai gadis itu barusan.
"Aku akan memboncengmu pulang." ujar Aldi, namun lelaki itu heran ketika melihat Selina menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Terima kasih, Kak." jawab gadis itu.
"Tapi cuaca begitu panas, Selina." bujuk Aldi sembari menyodorkan jemarinya ke depan.
Selina kembali menggeleng. "Maaf, Kak. Tapi saya bisa pulang sendiri." tolaknya.
"Kenapa kau berubah akhir-akhir ini, Seli?" tanya Aldi dengan bingung.
"Kak... mulai hari ini, kita nggak boleh ketemuan lagi." ujar Selina dengan datar.
"Lho? Kenapa?" tanya Aldi memprotes.
Karena kau telah selingkuh dengan perempuan itu, Kak Aldi!!!
Selina tersentak dari lamunan ketika suara Aldi yang agak keras menggedor gendang telinyanya.
"Selina, jawab aku!" pinta Aldi dengan setengah menghardik. "Mengapa akhir-akhir ini, kau seakan menjauhiku?"
"Kak, sebulan lagi, aku akan menikah." ujar Selina dengan datar membuat Aldi langsung terkejut.
"Apa?! Menikah?" seru Aldi dengan kaget.
Selina mengangguk. Aldi turun dari sepeda motornya. "Menikah dengan siapa?!" tanya lelaki itu dengan suara agak meninggi. "Menikahi bocah itu?!"
Selina mengangguk lagi.
"Kau bisa membatalkannya, Selina." bujuk Aldi. "Kita bisa kawin lari..."
"Aku nggak mau durhaka, Kak." ujar Selina dengan cepat menyela. Aldi terdiam mengencangkan rahangnya.
Selina kembali hendak melangkah ketika pergelangan tangannya dicengkeram oleh Aldi.
"Seli, tunggu!" tukas Aldi.
Langkah Selina terhenti lalu kembali menoleh menatap Aldi.
"Selina... bukankah kau tahu, aku sangat mencintaimu?" pancing Aldi.
Selina menatap dalam kedua mata Aldi. Seharusnya kau tak mengkhianati ikatan kita, Kak... aku tak akan menyerah dalam pelukan Ishak, jika kau masih setia...
"Selina... please... jangan buat aku begini." rengek Aldi memelas.
__ADS_1
Selina tersenyum. "Maaf, Kak.... orang tuaku sudah menyetujui lamaran itu... aku tak bisa menolaknya."
Aldi menunjukkan wajah rusuh putus asa, sementara Selina telah melepaskan pegangan lelaki itu dipergelangan tangannya.
Selina kembali hendak berjalan, namun sebuah hentakan keras yang menyerbu tengkuknya tiba-tiba membuat sensor motorik gadis itu langsung lumpuh dan Selina langsung menggeloyor pingsan. Aldi menangkap tubuh jilbaber itu.
"Maafkan Selina... aku terpaksa harus menodaimu, agar nanti kau tak bisa menolakku." gumam Aldi yang kemudian membawa Selina yang pingsan ke sepeda motornya.
Gadis itu diikat bersama dengan tubuhnya dan setelah itu, kendaraan tersebut melaju meninggalkan jalanan tersebut.
Namun sepasang mata telah menyaksikan tindakan penculikan tersebut. Seorang jilbaber mengeluarkan gawai dan menghubungi seseorang.
📲 "Halo?" sapa suara diseberang sana.
📲 "Ah, lama sekali Kakak mengangkat telpon!" omel gadis itu. "Kita harus menolong Kak Selina!"
📲 "Menolong?!" seru orang itu.
📲 "Ya! Dia diculik!" seru gadis itu. "Sekarang aku akan mengejarnya. Kau lacak keberadaanku lewat aplikasi peta, ya?"
Gadis itu memutuskan pembicaraan seluler lalu bergegas menyalakan sepeda motor listriknya lalu bergegas menuju jalan yang tadi dilalui Aldi.
...******...
"Sensei.... tugasku sudah selesai..." ujar Ishak kemudian menyerahkan golok berbentuk aneh itu kepada si lelaki berpostur tubuh bak beruang itu.
"Itu pemberianku... simpanlah." ujar lelaki tersebut.
Ishak menimbang-nimbang seraya menatap golok dalam genggamannya.
"Kau memerlukan benda itu..." ujar lelaki tersebut. "Semakin lama semakin berat perjuanganmu ya?" ujar lelaki itu. "Tinggal sebulan lagi kau melepaskan masa lajangmu! Aku hanya mengingatkan bahwa, jangan sedikitpun menyakiti perempuan."
Ishak menatap gurunya itu dengan tatapan dalam. Lelaki itu tersenyum. "Kelak kau akan tahu..." ujarnya sembari tersenyum nakal.
"Guru...." ujar Ishak.
Lelaki itu langsung merubah air mukanya. "Tunggu apa lagi? Pulang sana!" ujarnya berlagak mengusir.
"Tapi..." ujar Ishak.
"Tapi apa?! Nginap disini?! Nggak boleh! Pulang sana!" usir lelaki itu.
Meski sebenarnya, Ishak memang seorang pengacau...
"Kalau begitu, aku permisi, Sensei..." ujar Ishak.
Lelaki itu hanya mengangguk. Pemuda itu melangkah menuju jalanan. Ia tahu jika jarak antara Tolinggula dan Pohuwato hanya terbatas oleh garis gunung. Lagipula ada perintisan jalan yang telah dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum yang saat ini menghubungkan Desa terujung Tolinggula dengan Taluditi. Pemuda itu memutuskan untuk menjelajahi belantara.
Ia menyetop sebuah kendaraan barang dan bicara dengan supirnya.
"Ke Cempaka Putih?" tanya Ishak.
Supir itu mengangguk. Ishak tersenyum. "Numpang ya?" pinta pemuda itu. Supir itu hanya menatapnya saja. Ishak langsung mengeluarkan tiga lembaran uang kertas merah dengan gambar presiden pertama dari Negara Indonesia.
"Ini cukup?" tanya Ishak.
Supir itu tersenyum dan meraih tiga lembar uang seratusan ribu itu dan mengisyaratkan Ishak naik di belakang. Pemuda itu menatap sejenak laki-laki yang berdiri didepan pintu. Laki-laki itu mengangguk sekali lagi dan Ishak langsung melompat kedalam boks bagian belakang mobil itu. Kendaraan itupun meluncur meninggalkan desa Tolinggula Tengah.
...******...
Aldi meletakkan Selina yang pingsan diranjangnya. Gadis itu masih belum mendapatkan kesadarannya. Pukulan di tengkuk memang akan membuat korban tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.
Aldi tersenyum. Selina... aku sudah sejak lama menantimu... jika aku tak dapat merasai dirimu, maka bocah itu tidak boleh merasainya juga.
Aldi mulai berjongkok didepan tungkai kaki jilbaber itu. Tangannya mulai terjulur menyibak rok panjang yang menyelimutinya. Sepasang kaki yang indah nan putih terpampang membuat jakun lelaki itu naik turun.
Kedua tangannya mulai menjulur hendak menjamah ketika...
BRAKKKK!!!!
Aldi seketika menoleh dan tak sempat mengantisipasi serangan. Sebuah bogem mentah terjulur menghantam rahangnya membuat Aldi tak mampu mempertahankan keseimbangan diri.
Aldi terjatuh dan seorang pemuda berdiri dengan sigap penuh sikap waspada. Dialah Faisal yang dihubungi Ichi ketika gadis itu tanpa sengaja menonton pertengkaran Aldi dan Selina ditepi jalan hingga Aldi mempingsankan gadis itu dan menculiknya.
Tak berapa lama muncul Ichi yang langsung menghambur dan menuju ranjang.
"Kak Seli! Kak Seli!" seru Ichi menampar-nampar pelan pipi gadis itu.
Sementara Faisal maju menghantamkan kepalannya berkali-kali ke wajah Aldi yang hanya bisa pasrah dan akhirnya menggeletak pingsan setelah dipukili Faisal beberapa kali.
"Bagaimana ini?" tanya Ichi dengan panik. Faisal menoleh menatap Selina yang masih pingsan.
__ADS_1
"Kak Selina masih pingsan." ujar Ichi dengan cemas.
"Kita bawa dia ke puskesmas." usul Faisal.
"Lalu predator itu?" tanya Ichi menganggukkan kepala kearah Aldi yang pingsan.
"Biarkan saja dia..." ujar Faisal kemudian mendekati Ichi. "Yang terpenting menyelamatkan Kak Selina dulu. Aku tak mau Ishak, si Skullen itu mengamuk disini."
Faisal langsung memondong gadis itu sementara Ichi berlari keluar langsung menuju jalanan dan menghentikan sebuah bentor yang lewat.
"Puskesmas Marisa, Bang!" seru Ichi.
Abang bentor itu mengangguk. Tak lama kemudian Faisal muncul memondong Selina yang pingsan dan mendudukkannya di jok bentor itu. Faisal menatap Ichi.
"Kau temani Kak Selina. Aku dibelakangmu." ujar Faisal.
Ichi mengangguk lalu duduk dijok disisi Selina yang pingsan dan langsung memerintahkan Abang bentor itu menjalankan kendaraannya. Sementara itu Faisal berlari menuju sepeda motornya dan menyalakan mesinnya kemudian menyusul bentor yang membawa Ichi dan Selina menuju puskesmas Marisa.
...*******...
Ichi mondar-mandir diseputaran koridor itu sementara Faisal duduk dengan tenang sambil mengutak-atik aplikasi gawainya. Tak lama kemudian muncul Qomaruddin Tagoi bersama istrinya.
"Bagaimana kabar putriku?" tanya lelaki parobaya itu menghambur ke arah Ichi.
Ichi baru saja hendak menjawab ketika pintu ruangan membuka dan seorang dokter keluar dari sana. Qomaruddin Tagoi langsung menuju kearah dokter itu.
"Dokter.... putriku..." ujar Qomaruddin.
"Orang tua dari Selina Candra?" tanya dokter menatap Qomaruddin. Lelaki parobaya itu mengangguk sedangkan sang istri hanya bisa meremas lengan suaminya dengan tatapan cemas.
Dokter itu mengangguk. "Selina mengalami whiplash injury... kemungkinan akibat pukulan ditengkuknya menyebabkan gadis itu kehilangan kesadaran dan mengakibatkan cedera otot disekitaran wilayah tengkuk itu...." tutur dokter tersebut.
"Pukulan ditengkuk?" desis Qomaruddin dengan lirih.
Dokter itu mengangguk. "Putri anda dibawa kemari oleh dua anak berseragam itu dalam keadaan pingsan... saya belum sempat mewawancarai mereka. Sebaiknya tanyakan kepada mereka, penyebab pingsannya putri anda."
Qomaruddin menggeram sejenak lalu mengangguk. Dokter itu mengangguk lalu pamit dan berlalu. Lelaki parobaya itu menatap Faisal dan Ichi yang telah berdiri, seakan siap menerima interogasi.
"Kenapa Selina pingsan?" tanya Qomaruddin dengan sabar.
Ichi dan Faisal saling tatap sejenak lalu pemuda itu menghela napas dan menjawab, "Kak Selina nyaris menjadi korban penculikan dan... perkosaan, pak."
Mata Qomaruddin membesar mendengar jawaban Faisal, sementara istrinya langsung menangis tanpa suara.
Qomaruddin memejamkan mata, mengatur napasnya, meredakan sedikit emosi yang memuncak sejenak lalu menatap Faisal dan bertanya, "Siapa... yang melakukannya?"
Faisal menghela napas lagi dan berkata dengan getir. "Aldi..."
Qomaruddin menggeram lagi. "Dimana anak itu sekarang?"
"Kami tinggalkan dikamarnya... saya pingsankan dia." jawab Faisal.
Qomaruddin menatap istrinya. "Kau tunggu disini, jaga Selina." ujar lelaki parobaya itu lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
Ichi mengekori punggung lelaki yang berlalu itu lalu menatap wanita parobaya yang masih menangis tanpa suara itu.
"Bu... " panggil Ichi dengan lembut.
Wanita itu mengangkat wajahnya. Ichi mendekat lalu membungkuk takzim.
"Maaf Bu, bukan bermaksud tak sopan... tapi bisakah kami berdua pergi? Kelihatannya kami terlambat pulang..." gadis bicara setengah berbisik. " Orang tua saya paling tak suka melihat saya pulang molor..."
Wanita itu tersenyum dan mengangguk ditengah basah.
"Silahkan nak. Hati-hatilah dijalan." pesan wanita itu.
Ichi tersenyum dan membungkuk lagi. "Kami pamit bu..." ujarnya.
Wanita itu mengangguk.
Ichi berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan disusul oleh Faisal yang sebelumnya ikut membungkuk takzim pula.
Keduanya melangkah menyusuri lorong-lorong dan tiba dihalaman depan.
"Aku antar ya?" pinta Faisal.
"Oke deh... terus ke dojang ya?" jawab Ichi.
"Ooo... kamu latihan?" pancing Faisal.
Ichi hanya mengangguk. Faisal menyalakan mesin dan Ichi kemudian membonceng. Kendaraan itu kemudian melaju membawa dua orang itu meninggalkan wilayah puskesmas.[]
__ADS_1