KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
WIR SCHAFFEN ES


__ADS_3

Lelaki itu diam mendengarkan keluh kesah istrinya. Ia tiba di rumah tepat pukul sepuluh malam, dimana para penghuni sudah tidur, kecuali ipar-ipar lelakinya yang masih betah mempertahankan matanya dilayar gawai, memainkan game online kegemaran mereka.


Azizah mengeluhkan gaya hidup adik-adiknya yang konsumtif itu. Mereka tak lagi produktif disebabkan oleh keinginan untuk mengecap kesenangan tanpa mau berupaya.


Lelaki itu hanya tersenyum. "Sebuah kelaziman ketika sifat manja masih ada disebabkan oleh keberadaan orang tua." ujar sang suami. "Kedua ayah-ibumu masih hidup. Itulah sebab mengapa mereka masih begitu bergantung kepada mereka. Bukankah mereka berpikir masih ada yang memberi makan mereka. Mama yang sakit-sakitan, Papa yang kelelahan itu tidak terbetik sama sekali dalam pikiran mereka."


Azizah mencermati keterangan suaminya. Lelaki itu menyambung lagi. "Kedewasaan seseorang akan tiba pada saatnya ketika mereka dihadapkan pada masa kritis. Kematian orang tua akan memicu pikiran seorang anak untuk mencari jalan bagaimana harus bertahan hidup sendirian. Bagaimana mereka akan bisa memandirikan dirinya tanpa bergantung sepenuhnya kepada saudara-saudaranya."


"Kok Abi bicara begitu? Abi mau Mama atau Papa cepat mati ya?" rajuk Azizah kemudian melengos.


"Suka atau tidak, rela atau tak rela, kematian itu pasti datang. Yang tidak kita tahu adalah waktunya." jawab lelaki itu. "Aku bicara ini bukan dalam rangka mendoakan Mama dan Papa cepat mati. Tapi dalam rangka untuk menjelaskan bahwa ketiadaan mereka berdua pada akhirnya akan memicu pikiran adik-adikmu atau kakakmu untuk mencari cara bertahan hidup. Yang jelas, jangan biarkan mereka menjadi parasit. Mama dan Papa tetap bertanggung jawab atas pendidikan dan sikap mereka sampai pada akhirnya mereka mampu mandiri hingga akhir hayatnya. Selama mereka masih bergaya hidup konsumtif seperti itu, Mama dan Papa tetap akan ditagih pertanggungjawaban mereka oleh Allah."


Lelaki itu kemudian memeluk pelan istrinya yang memunggunginya. "Lakukan saja apa yang di inginkan Mama. Jika Mama bilang jangan urusi mereka, jangan tegur mereka, lakukan saja. Lakukan sebagaimana yang diminta Mama kepadamu. Namun ketika Mama mengalami hal yang tak terduga pada dirinya, ingatkan beliau bahwa ada anak lelakinya yang akan mengurusnya sebab mereka adalah anak emasnya."


"Seharusnya sejak dari dulu aku mengikuti keinginanmu mendirikan rumah sendiri, jauh dari orangtua." keluh Azizqh dengan pelan.


"Memang..." sahut lelaki itu tertawa pelan. "Kau itu banyak membantah kepadaku. Makanya Allah menegurmu melalui sikap Mama kepadamu."

__ADS_1


Azizah terdiam.


"Jangan salahkan siapa-siapa atas itu. Kamu mengambil sendiri keputusan untuk tinggal bersama beliau. Menyambung rumah beliau dengan rumahmu sendiri." ungkit lelaki itu. "Bukankah sudah kukatakan bahwa jarak rumah bukan menjadi alasan kekuatiran kamu tidak bisa menjaga dan memelihara Mama dimasa tuanya. Tapi inilah yang disarankan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam sejak dari mulanya ketika seseorang memutuskan membina rumah tangga. Jika kau pikir kau tertekan dengan sikap keluargaku, apa kau pikir aku juga tak tertekan dengan gaya hidup keluargamu? Timbal baliklah pikiran itu."


Azizah masih diam. Lelaki itu menyambung. "Tapi semuanya telah terjadi. Apa yang terjadi, biarlah terjadi. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mawas diri saja."


Lelaki itu membalikkan tubuh Azizah mengarah kepadanya. "Yang harus kau perhatikan adalah... Jangan pernah membantah perintahku lagi, selama itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Kau paham?!"


Azizah hanya diam. Responnya hanyalah genggaman tangannya dipergelangan tangan suaminya yang makin erat, seakan meminta sang suami untuk lebih memeluknya lebih erat. Keduanya memejamkan mata dan mulai memasuki dunia mimpi.


...*******...


Tiga hari di siang hari Ichi digembleng sang ayah dengan teknik-teknik seni beladiri tingkat tinggi.


"Jangan terlalu mengumbar emosi. Aku mengajari kamu seni tingkat tinggi dari beladiri bukan untuk menaklukkan orang lain, bukan untuk menguasai dan bukan untuk memperbudak orang lain... namun justru untuk membuatmu menahan diri karena sadar bahwa kau memiliki seni yang dapat membuat seseorang cacat, bahkan kehilangan nyawanya." ujar sang ayah.


"Ingatlah terus dalam benakmu bahwa, Qabil putra Adam alaihisalam hingga saat ini menanggung dosa para pembunuh sebab dialah yang memulai pembunuhan untuk pertama kalinya. Ia menjadi orang pertama yang menderita dalam neraka karena menuruti keinginan Iblis." ujar sang ayah menasihati.

__ADS_1


"Bukankah Abi pernah bilang bahwa beladiri digunakan untuk menegakkan keadilan dan ketika tak ada cara lain yang bisa digunakan untuk membuat mereka berhenti menindas kita..." ungkit Ichi. "Tapi, bukankah aku sudah melaksanakan apa yang Abi inginkan? Lalu, mengapa justru aku yang harus menjalani skorsing?" protes gadis itu.


"Karena secara umum kau melanggar ketertiban. Pernah ingat hadis yang menyinggung bahwa yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk neraka?" jawab sang ayah dengan senyum.


Ichi mendengus dan melengos. Sang ayah terkekeh, "Tapi, kan Abi bilang kau tak sepenuhnya salah. Kau hanya berada pada posisi yang salah saja."


Ichi diam mendengarkan petuah ayahnya. Lelaki itu tersenyum.


"Ayo kita latihan lagi!" ujar lelaki itu mengajak putrinya untuk melanjutkan latihannya.


...*******...


Sang ayah, seperti biasanya, berangkat lagi pada hari minggu pagi ke Tolinggula. Azizah sudah menetapkan diri untuk tak mau lagi mencari masalah dengan ibunya. Sebagaimana kata suaminya, sesalah-salahnya Ibu, ia tetap seorang ibu. Cara menghadapi orang tua hanyalah bersikap baik kepadanya.


"Nanti kalau Abi sudah benar-benar berada disini, mengabdi di Pohuwato kembali, kita akan memikirkan langkah selanjutnya." ujar sang suami dengan senyum yang meredakan gejolak hati istrinya. "Pada umumnya, segala permasalahan didunia itu nggak ada yang susah... asalkan dikerjakan sebagaimana rumusnya. Aku yakin kita bisa melakukannya. Jika kita bersatu, melangkah bersama, segalanya akan terasa baik-baik saja."


Azizah mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Sang suami hanya mengacungkan kepalannya. "Semangatlah istriku... Wie Schaffen es... We Can do That..." ujarnya memberi semangat sebelum mengendarai kendaraan kesayangannya meninggalkan rumah itu.[]


__ADS_2