KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
SELAYANG TATAP UFUK KENANGAN.


__ADS_3

Buntulia Tengah, pukul 07.15 a.m.


seluruh tugas rumah sudah diselesaikan gadis itu, mulai dari tugas membersihkan pekarangan rumah, membantu mencuci perkakas makan hingga menjerang air untuk bakal minum yang nantinya ditambah kopi atau teh.


Rumah kediaman mereka adalah rumah budel, yang kedepannya menjadi hak atas Azizah sebagai satu-satunya anak perempuan dalam keluarga ayahnya. Tanahnya sendiri merupakan hasil pembelian patungan dari sang ayah bersama suaminya. mereka membangun rumah itu perlahan-lahan, mulai dari mulanya hanyalah sebuah gubuk berdinding pitate (anyaman bambu) dan beratap katu (pelepah dan daun pohon enau), yang akhirnya bertahap-demi tahap diganti menjadi bangunan berdinding beton dan beratap seng.


Bagian depan rumah itu merupakan hadiah dari Pemerintah Desa dalam program Rumah Layak Huni Sangat Sederhana. Azizah tinggal menambah bagian tengah ruangan dan dapur yang disambungkan dengan ****** bekas proyek desa sepuluh tahun lalu. renovasi itu menggunakan dana suaminya yang berasal dari penghasilan perbulannya yang kini telah mencukupi sebab sang suami telah terangkat sebagai Aparat Sipil Negara (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Pemerintahan Daerah Gorontalo Utara dan sekarang bertugas disana sejak tahun 2014 hingga sekarang. lelaki itu pulang kapan-kapan, jika waktunya lowong, atau memanfaatkan perjalanan dinas yang jatuh pada hari Jumat, kemudian balik lagi ke tempat kerjanya pada hari Minggu agar bisa bertugas tanpa cela dihari Senin.


Ichi duduk-duduk santai sambil mengutak-atik aplikasi dalam gawainya. sayup-sayup dia mendengar ibunya bercerita dengan ayahnya. melepas kangen (😁😄😆😅😂)....


memang sejak menjalani status Long Distance Relationship, sang ayah wajib menghubungi ibunya saban selepas subuh, setengah jam setelah istirahat (menurut jam kerja kepegawaian) dan setelah berada di kost-kostan(kalau ini terserah mau jam berapa, yang penting terjadi percakapan selularis).


📲 "Lagi ngapain?" tanya sang ayah.


📲 "Ini, lagi buat sarapan untuk anak." jawab sang ibu.


Ichi senyum-senyum sendiri kalau lagi mendengar percakapan itu. Kadang ia sempat memergoki, atau kadang menguntit kalau kejahilannya merasuki benaknya lagi, sang ibu yang bicara gayanya manja sekali, mirip sekali dengan muda-mudi yang sementara pacaran. Dimabuk cinta...


Ya... muda-mudi jaman bahuela...


📲 "Bagaimana pekerjaannya, Bi?" tanya sang ibu.


📲 "Alhamdulilah... sekarang lagi ngawasi anak-anak membersihkan halaman dan selokan sekolah." jawab sang ayah dari seberang sana.


📲 "Abi tugas piket ya?" tanya sang ibu. nada suaranya terdengar agak marah.


Terdengar suara tawa sejenak.


📲 "Nggak juga sih. Lebih ke arah ngimpal doang." kilah sang ayah, "Soalnya petugas piketnya belum datang. apalagi waktu sudah menunjukkan pukul delapan. sudah lewat setengah jam dari batas waktu aktif mengajar nih..."


📲 "Ya sudah... teruskan dulu kerjanya." pungkas ibunya, "Nanti teleponan lagi jam sembilan ya?"


📲 "Ya, kalau waktuku lowong..." jawab sang ayah diakhiri dengan tawa. percakapan selularis itu berakhir.


"Abi pulang lagi minggu depan, nggak?" tanya Ichi tiba-tiba selagi asyik berselancar mencari-cari hal-hal terupdate di mesin pencari data.


"Kelihatannya belum." terdengar suara menyahut dari belakang. "Abi masih banyak tugas. kelihatannya program Penilaian Kepala Madrasah mampu membuat Abi kamu nggak bisa memenuhi komitmennya sejak dulu-dulu."


Ichi mengangguk-angguk sambil terus mengutak-atik gawainya. tak lama kemudian Azizah muncul dari ruangan makan sekaligus ruangan santai. ia menatap putri semata wayangnya itu.


"Eh, nggak ada tugas dari sekolah?" tanya Azizah.


"Nggak." jawab Ichi tanpa menoleh. "Kalau ada kan pasti kusamperi Umi."

__ADS_1


"Lagi nyari apa kamu?" selidik Azizah.


"Lagi cari kue Onde-onde kecebur di pohon pisang." jawab Ichi membuat Azizah langsung menggeram. gadis itu langsung meralat jawabannya. "Sudah lihat orang lagi buka-buka situs berita, ditanya lagi ngapain?"


"Sudah setor hafalan nggak?" tanya Azizah dengan datar dan mengintimidasi. kedua lengannya tercakak dipinggangnya. Gaya khas seorang ibu yang hendak memberi tugas pada anaknya. Gaya yang diilhami dari kaum militer yang menginterogasi tahanan.


Ichi menoleh menatap ibunya memasang wajah memelas. namun kali ini tatapan Azizah justru makin mencorong dan terlihat ia menggigiti bibir bawahnya. Gaya anak-anak tahun sembilan puluhan yang pamer kemarahan. 🤣


"Mi... sebentar lagi ya? masih tanggung tuh." pinta Ichi.


"Nggak boleh." tolak Azizah mengacung-acungkan kemoceng ditangannya. "Kamu sudah janji sama Abi, kalau kau akan melaksanakan semua hal yang telah kau pilih dalam kehidupanmu. Bukankah itu kontrak kerjanya, kan?"


Ichi memanyun-mayunkan bibirnya yang ranum itu. Wajah anak itu identik benar dengan wajah ayahnya. Wajah sang anak itulah yang selalu membuat Azizah terkenang-kenang suaminya yang menjalani dinas disalah satu desa di kecamatan terjauh Gorontalo Utara. sebuah kebiasaan dan kutukan yang harus diterima suaminya yang paling senang kerja diwilayah yang kurang suara bisingnya.


"Ya... mulai menghafal nih..." ujar Ichi dengan kesal dan membuka aplikasi baca Al-Qur'an di gawainya. gawai android itu diserahkan ke tangan ibunya dan mulailah ia melantunkan tilawah Qur'aninya. memang tak terdengar merdu. alih-alih mengikuti kemerduan ayahnya yang pandai mendendangkan suara dan mengatur nada lagu, suara lantunan itu terdengar seperti raungan gajah dibelantara hutan.


Ichi kontras benar perbedaannya dengan sang ayah. Ia bagaikan sisi koin lain dari karakteristik kompetensi ayahnya yang segudang. Ayahnya seorang guru bersertifikat dibidang sejarah, namun juga menguasai beberapa pengetahuan lain kecuali pelajaran sains, khususnya Matematika dan Fisika yang sarat dengan rumus-rumus yang membuat otak sang ayah cako-cako dan ta kambulula. namun kalau soal sastra, dan ilmu-ilmu sosial, ayahnya begitu mahir, bagai seorang pakar yang mampu menjelaskan apapun tentang itu.


selain itu, sang ayah juga meminati beladiri, dan juga seorang wibu atau otaku sebab tergila-gila dengan kehidupan gaya samurai sejak ia mendalami seni Karate-do sejak jaman SMP dulu. sang ayah adalah seorang praktisi Karate-do aliran Shotokan. namun selain itu, ia juga mempelajari seni beladiri Jepang yang lain seperti Yawara (Judo dan Aikido) serta kenjutsu (Iaido dan Kendo), meski hanya lewat youtube. Memahami falsafah menjadi kesehariannya selain tugas wajibnya sebagai guru mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan.


dulu sang ayah, masih gila-gilanya menjalani masa remajanya, nyaris hendak melumuri tubuhnya dengan irezumi. menurutnya itu keren. hampir saja.


Untungnya dia sempat diskusi dengan penasihat spiritual tak resminya, seorang pensiunan pegawai negeri Kementerian Agama yang menjabat sebagai pimpinan Panti Asuhan Yatim Marhamah, Abdurrahman Mahmud, yang juga salah satu petinggi organisasi Persyerikatan Muhammadiyah se-Propinsi Gorontalo kala itu.


Abdul Rahman Mahmud, panggilannya Pak Haji Man, saat itu diam agak lama mencermati wajah si penanya itu. pemuda dihadapannya ini memang termasuk diantara golongan berotak nakal sehingga harus hati-hati dan bijak dalam menjawabnya. Pemuda itu punya potensi mewarisi sifat sesat dari gaya pemikirannya.


"Pak Haji... bolehkah?" tanya pemuda itu sekali lagi.


Pak Haji Man menyesap rokoknya sesaat, lalu membuang asapnya bagai hembusan asap dari knalpot sepeda motor RX-King miliknya itu. Lelaki tinggi besar itu akhirnya mengangguk. Pemuda itu mendesah lega, tapi ia belum puas.


"Hukumnya?" pancing pemuda berambut panjang sebahu itu.


"Seperti stempel sapi..." jawab Pak Haji Man.


Ichi tersenyum kembali mengenang kisah yang pernah diceritakan ayahnya itu. Sang ayah pernah bilang, semestinya ia sudah harus paham ketika gurunya menyebut hukum irezumi sama dengan stempel sapi. harafiahnya, siapapun yang merajah tubuhnya, mirip dengan sapi.🤣


namun sang ayah yang kala itu juga masih belum puas, tetap memancing pembicaraan agar sang guru mengeluarkan kejujurannya.


"Benarkah?" pancing pemuda itu memicingkan mata.


Pak Haji Man kembali menyesap ujung sigaretnya lalu menjawab lagi. "Kalau kau ingin merajah tubuhmu, rajahlah ditempat yang hanya bisa dipandangi oleh istrimu kelak, bukan orang lain."


Pemuda itu terdiam. Ia merenung. lokasi yang hanya bisa dilihat oleh pasangan dalam hal ini istrinya kelak, hanya dua lokasi, yaitu pubik dan pantat. alis kanan pemuda itu bergerak-gerak menandakan berkutat benar ia dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Waduuuh... Nih Pak Haji, yang nggak-nggak saja ngasih argumennya. nggak mungkinlah aku rajahi bagian pubikku. memang mau gambar kepala gajah apa, mentang-mentang ada belalainya? lagian buat apa rajahin pantat? mau gambarin rajahan kupu-kupu? ada-ada saja....


Pak Haji Man terus mengamati raut wajah mahasiswa yang menjadi sparring partner nya pagi itu. Bapak tua itu, untuk terus menerbitkan rasa takut dibenak pemuda tersebut, menyambung lagi ucapannya.


"Dan hal paling dasar dari rajahan itu adalah... kamu todak boleh lagi setitikpun menumpahkan al-maniyyun." tandas Pak Haji Man.


ucapan terakhir pimpinan pengasuh anak-anak Panti Asuhan Yatim Marhamah itu seketika meredupkan, bahkan mematikan hasrat si pemuda itu untuk merajahi tubuhnya dengan irezumi. pemuda itu langsung berdiri dan menyalami guru spiritualnya kemudian melangkah gagah dengan semangat lesu nan kuyu akibat ditampol oleh aturan syari'at tentang hukum rajahan.


...******...


Namun sebadung-badungnya gaya pemikiran sang ayah, beliau tetap mendukung kegiatan keagamaan putrinya. bahkan mensupport ketika Ichi memilih jalan menjadi Hafidzah. Ketika itu ketiga duduk bercengkerama diruang makan. Ichi kala itu asyik menonton tayangan kesukaannya di televisi. ia duduk bersila di permadani.


"Aku berharap dari benihku yang tinggal sapa'e ini, akan lahir generasi yang tetap memanggul bendera Islam dipundaknya." ujar sang ayah merespon keinginan putrinya yang ingin masuk program hafidz di madrasah tersebut.


"Abi kan gaya pemikirannya nyeleneh, apa nggak akan konflik dengan Ichi nanti ketika ia sudah memahami Al-Qur'an?" goda Azizah membuat suaminya terkekeh.


"Ichi, kuyakin akan sekonsep denganku. kecuali ia memang tak menginginkan hal semacam itu." tukas lelaki tersebut lalu menyambung lagi, "Lagipula, aku nggak mau dituduh masyarakat sebagai satu dari sekian orang yang berperan dalam proses pembunuhan Tuhan." jawabnya dengan enteng.


"Sudah mulai gila lagi pikiran kamu?" tukas Azizah dengan jengkel.


Lelaki itu tertawa dikatai gila oleh istrinya. sebuah kelaziman yang wajar. tidak ada satupun orang yang memahami jalan pikiran lelaki itu, bahkan istrinya sekalipun. hanya beberapa saja yang mengetahuinya dan bisa menangkap hasil olah pikirnya sebagai sebuah ide yang nakal namun sebenarnya baik dan brilian.


"Sekarang aku tanya sama Umi." tantang lelaki itu dengan senyum dikulum. "Mengapa Friedrich Nietzche mengatakan Tuhan sudah mati, Tuhan tetap mati dan kitalah yang membunuhnya?"


"Uh, kata-kata yang terlalu berat dalam dangkalnya aliran pemahamanku." keluh Azizah sekaligus menyindir intelektualitas sesat suaminya.


"Nggak..." tangkis lelaki itu. "Ini benaran. mengapa dia bilang begitu? apakah karena dia seorang komunis?"


"Jangan bicara begitu." tegur Azizah. "Jangan pernah membahas sesuatu yang nanti membuat Abi dikucilkan warga se-Kabupaten Pohuwato. Abi masih ingat kasus 2010 kemarin di Pesantren Hidayatullah?" pancingnya.


Lelaki itu terdiam ketika Azizah mengungkit peristiwa tersebut. sebuah kesalah-pahaman konsep dalam memahami posisi Al-Qur'an membuat dirinya menelan ujian di non-job kan oleh lembaga itu, bahkan tersiar kabar bahwa ia menyebarkan pemikiran sesat. tak ada satupun madrazah di kota Marisa yang menerimanya. Lelaki itu terkena penyakit post power syndrome yang membuatnya kelimpungan dan akhirnya hanya bisa melakukan sholat taubat serta menagih keadilan Allah untuknya.


Ya, Allah... jika sekiranya pemikiranku ini membuat mereka kehilangan keyakinan atas Engkau, maka ampunilah aku, sebab aku hanyalah hamba-Mu yang berupaya menempatkan konsep Al-Qur'an kepada mereka. namun jikalau aku benar dan hanya mereka yang tak memahami konsep penjabaranku, maka biarkan saja dan kembalikan saja rejekiku yang Engkau janjikan kepada hamba-hamba-Mu yang lemah ini.


Dan Allah menjawab doa lelaki itu. ia menghadap Bagian Kepegawaian di Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato dan menjelaskan tentang latar belakang peristiwa itu beserta keluhannya yang mengalami gejala post power syndrome akibat di nonjobkan oleh lembaga tersebut.


Kepala Bagian Kepegawaian kemudian memutasikan lelaki itu ke Kecamatan Patilanggio dan kembali mengabdi pada sebuah Pondok Pesantren disana di Desa Iloheluma. Usut punya usut, ternyata pimpinan pondok itu memiliki konsep pemikiran yang agak mirip dengan gaya pemikiran lelaki itu sehingga ia memahami penjabaran lelaki tersebut tentang konsep Al-Qur'an itu sendiri.


Bahkan pimpinan pondok itu menyindirnya sambil terkekeh. "Kau itu sangat pintar. saking pintarnya kamu, bahkan orang-orang nggak akan pernah paham, apa yang kau utarakan."


Lelaki tersadar kembalu dari ingatan itu dan menghela napas. "Aku hanya menjelaskan tentang konsep kematian Tuhan (bukan Allah) dari sudut pandang Nietzche sebagai seorang renaisans. kematian dalam sudut pandangnya adalah hilangnya keyakinan masyarakat Eropa waktu itu terhadap doktrin-doktrin gereja yang mereka anggap tak mampu menjawab perkembangan jaman ketika revolusi industri melanda benua Eropa pada masa itu." ujarnya kemudian melipat tangannya, kembali melanjutkan. "Agama waktu itu tak mampu menjawab kegelisahan spiritual mereka, ditambah perilaku para agamawan yang memanfaarkan ajaran agama untuk keuntungan diri sendiri."


"Seperti apa?" sela Ichi memancing sang ayah.

__ADS_1


"Indulgensia...." jawab lelaki itu dengan tenang. []


__ADS_2