KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
THE UNITY... (PANDANGAN PRIBADI SANG AYAH)


__ADS_3

Buntulia Tengah, Kediaman Bobihu. Pukul 02.45.


Aku hanya tersenyum saja dengan pertanyaan putriku yang bengal itu. Jika hal ini dikatakan sebagai sesuatu yang pernah, maka aku pun pernah bertemu dengan-Nya, dalam skala visi saja.


Mulanya aku nggak percaya dengan hal semacam itu. Mungkin gaya kehidupan perkotaan, membuatku merasa teralienasi dari kehidupan spiritualku sendiri.


Aku terlahir dari lingkungan orang-orang yang skeptis dengan hal-hal berbau supranatural meskipun hal-hal semacam itu dekat tak ubahnya nyawa dalam kehidupan masyarakat. Pandangan skeptis itulah yang membuatku tumbuh sebagai pemuda yang tidak mempercayai hal-hal spiritual. Aku seorang remaja mesjid. Itu tak diragukan. Namun jika bicara tentang keimanan, rasanya masih perlu dipertanyakan sebab umumnya syari'at masih bisa dijadikan sebagai topeng.


Syari'at ibarat ilmu eksakta. Pasti dan tak bisa diganggu gugat. Kalau bukan hitam, pasti putih. warna abu-abu nggak laku diranah itu. Sebaliknya, Keimanan dan Keihsanan adalah wilayah mantiq (logika) dan kadang terasa abu-abu dihadapan tatapan mata manusia.


Kehidupan spiritualku dimulai pada saat wafatnya ibu angkatku. Kematiannya membuatku berpikir untuk segera hengkang, sebab aku tak lagi memiliki landasan kuat untjk tinggal dirumah itu lagi. Kematiannya membuatku merasa sebagian besar jiwaku tercabik.


Aku tak pernah merasai hal itu sebelumnya. Wafatnya ayah kandungku ditahun 2003, tak menyisakan perasaan apapun, bahkan ketika mereka memberitahuku kabar duka itu, tak setitikpun airmata mengalir, justru bulatan bibir dan suara, "Oooo...." saja yang keluar. Guru Spiritualku, Pak Haji Man saja pernah menegurku dan hal itu kurasai sebagai sabda seorang sufi.


Sehari setelah penguburan ayahku di Tolis (Toli-Toli), Pak Haji Man pernah bertanya, apakah aku tak punya keinginan untuk menjiarahi ayahku?


Bagiku, kepergiannya tak menerbitkan perasaan apapun. Hal yang wajar. Mungkin ini dendam pribadi karena mereka berdua meninggalkanku sendirian di Gorontalo, sejak orok diasuh oleh Ibu angkatku yang notabene adalah kakak paling tua dari keluarga ibu kandungku. Aku menyebutnya Mama.


Diamku mungkin menerbitkan rasa penasaran dihati Pak Haji Man. Lelaki tua itu bertanya lagi, "Berapa jarak perjalanan dari Kwandang ke Toli-Toli?"


"Butuh waktu Dua Hari Tiga Malam." jawabku enteng.


"Kira-kira berapa biaya perjalanannya?" pancing Pak Haji Man.


"Kurasa.... 64 Ribu Rupiah... itu kalau belum naik." jawabku lagi dengan enteng, tanpa beban.😏


Pak Haji Man sejenak mengangguk-angguk lalu kemudian merogoh saku belakangnya. Lelaki itu mengambil dompet lipat dan membukanya lalu merogoh kedalam dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan emisi cetakan tahun 1999.



Pak Haji Man menyerahkan selembaran uang itu padaku. Aku yang tak mengerti, kontan bertanya. "For apa uang ini, Pak Haji?"


"Pergilah kamu menjiarahi ayahmu. Aku bantu perjalananmu kesana. Pergilah!" ujarnya dengan suara mantap. Suaranya yang khas mengguntur mirip hantaman palu mjolnir itu menghentak dadaku. Aku sejenak meringis. Sifat slenge'an ku muncul.


Aku menimang-nimang uang itu lalu tersenyum cengengesan. "Wah, Pak Haji... kurang nih." ujarku.


"Kenapa kurang?" tanya Pak Haji Man.


"Ya, kuranglaaaa... Pak Haji." jawabku, "Pak Haji kan cuma membiayai ongkosku kesana. Lha kalau pulang gimana? tambahin deh." ujarku dengan enteng.


Dengan wajah tenang (namun ku yakin, beliau menyimpan kekesalan yang dalam), beliau mengambil lagi uang tersebut, memasukkannya kembali ke dompetnya setelah itu berujar.


"Kalau begini caramu.... selamanya, kamu nggak akan pernah bersua dengan orang tuamu." tandasnya.


Ujarannya waktu itu kuanggap saja angin lalu. Ternyata ucapannya adalah Sabda yang mengakibatkan karma. Wafatnya nenekku ditahun 2006 menambah duka keluargaku. Menyusul pamanku dari sebelah nenek juga meninggal berturut-turut hingga akhirnya tibalah saat bagi Ibu angkatku pergi menghadap ke Hadirat-Nya.


Aku terpukul. Aku goncang. Saking goncangnya aku, sampai-sampai saat penguburannya, aku tak hadir, justru malah main playstation dirumah temanku. Andy Divine, temanku sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, takjub dengan kebobrokan mentalku.


Kalau sudah tiada... baru terasa...


kalimat itu terbukti benar terhadapku. Sehari paska wafatnya beliau, aku benar-benar didera siksa kehilangan itu. Bayangnya yang setiap saat duduk diatas pembaringan begitu nyata dalam realitas virtual benakku saat aku melongok menatap ranjang bekas tidurnya. Aku jadi gampang menangis saat melihat ranjang itu. Terkena depresi menyebabkan pihak keluarga meminta sepupuku menghijrahkan aku ke Marisa, menyepi di Pondok Pesantren Hidayatullah. Kebetulan disana juga ada kerabat jauhku.


Kehidupan spiritualku dimulai di Pondok Pesantren itu. Aku benar-benar tenggelam dalam ritual sholat dan dzikir. Disitulah aku pertama kali merasai yang namanya kasyaf.


Apa itu kasyaf? Bayangkan bagaimana dirimu tiba-tiba langsung memahami keseluruhan makna dari tiga huruf itu-Alif, Lam dan Mim... bayangkan bahwa kamu merasakan bahwa kamu tak berada ditempat itu... tapi itu hanya berlangsung sepersekian detik saja. Aku memang belum mampu menangkap sinyal semesta.😊

__ADS_1


Aku menikah di 2008 melalui peristiwa tak terduga. Tapi aku tak perlu menceritakan semuanya, kan? 😇


Perjalanan spiritualku dimulai lagi dengan wafatnya ibu kandungku. Sebagaimana telah kuceritakan. Karma terjadi melalui sabda yang terucap lewat lidah guruku itu.


Kurang ajar benar.....


Kami selalu berselisih jalan. Jika aku datang ke kota, Ibuku sudah pulang ke Toli-Toli. Begitu juga sebaliknya. Bahkan Ibuku seakan tak diberikan kesempatan oleh Allah hanya untuk sekedar menengokku beserta cucunya itu. Cucu yang tak pernah dilihatnya hingga ia wafat. Padahal Ibuku sempat singgah di Marisa dan tidur sehari disana.


Ah, sabda sialan itu benar-benar mengganggu kehidupanku...


Kematiannya kemudian menyadarkanku. Aku tak lupa hari itu. Itu terselenggara pada hari Jum'at, tepat jam sepuluh, telpon masuk memberitahuku tentang wafatnya ibu kandungku.


Aku menangis dipangkuan istriku. Kakak perempuanku bertanya apakah aku akan menyambangi mereka? Kukatakan, aku akan menyambangi mereka.


Sekaligus untuk memutus rantai kutukan tersebut...


"Jalan di Paleleh masih dalam perbaikan... jika kau tak datang, kami bisa memaklumi." ujar Kakak Perempuanku.


"Tidak!" tandasku. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap kesana... entah nanti aku kesosor ke jurang atau kesosor ke laut, yang penting saat ini bagiku adalah melihat kuburannya. Hanya itu yang bisa kulakukan."


Kakak perempuanku menyerah dan mengiyakan saja. Hari Sabtu aku menuju Kota Gorontalo untuk menjalani ujian seleksi CPNS yang akan diselenggarakan di SLTPN 1 Kota Gorontalo, dekat Gelora Nani Wartabone pada hari minggunya. Senin, aku berangkat mengikuti jalur pantai utara. Banyak juga halangannya dan posisinya pada saat safar itu, aku menjalani puasa sunnah Senin-Kamis.


Ya Allah... aku tahu bahwa seorang yang sedang safar, boleh tidak berpuasa. Namun, Engkau lebih tahu bahwa inilah puasa sunnah pertamaku. Jika aku hentikan ini maka aku kuatir, Syaithan berhasil menggodaku untuk tak pernah menjalaninya lagi. Maka maafkan aku yang tetap menjalankan puasa ini meski dalam keadaan safar....


Rintangan itu berhasil kulalui, meski sempat mengalami hancur girigi gear rantai sepeda motorku di pegunungan perbatasan antara Kecamatan Monano dan Kecamatan Sumalata Timur. Bahkan aku berbuka puasa jauh setelah maghrib selesai sebab waktunya tepat ketika perjalananku masih menyusuri jalanan yang membelah rimba belantara.


Aku tiba di Toli-Toli pukul 22.00, tepat dimana Kakak perempuanku juga masih belum tidur. Aku istirahat dan esoknya, Kakak lelakiku yang tinggal di Manado, tiba.


Aku menjiarahi makam ibu dan ayahku. Tangisku pecah dan kembali aku mengalami kegoncangan jiwa. Aku nyaris jatuh ke titik nadir. Aku menatap angkasa, dalam visiku aku menganggap Allah duduk dihadapanku. Disisinya berdiri Jibril dan Mikail. Aku mulai berdoa, lebih tepatnya memgeluh ditengah deras air mataku dan ingus yang membanjir dari lubang hidungku.


Tapi Kau pun pasti tahu... aku sudah tak punya apa-apa didunia ini. Aku tak punya lagi siapa-siapa yang bisa menolongku. Aku tak mungkin menghiba kehadirat kakak-kakakku sebab kutahu mereka pun punya kebutuhan untuk menghidupi keluarganya. Aku pun tak mungkin merengek-rengek dihadapan adikku, sebab kutahu dia juga punya kebutuhan yang mungkin lebih besar dariku. Aku hanya punya Kamu. Jadi kumohon Pada-Mu.... kembalikan rejekiku yang pernah Kau tahan disebabkan dosa-dosaku. Kembalikan rejekiku, Ya Allah. Aku sudah benar-benar membutuhkannya.


Kemarin aku mengikuti seleksi CPNS. Aku ajukan nazarku. Jika Engkau jadikan aku PNS, aku rela puasa selama 70 hari dan hanya makan nasi putih serta hal-hal yang berwarna putih saja di 30 terakhir! Engkau bersedia mendukungku, Tuhan*?!


Seakan sebuah perjudian, Aku langsung membuang kartu joker milikku. Kedua-duanya! Dalam khayaliku, aku melihat seakan-akan Dia berdiskusi dengan kedua malaikat-Nya.


"Bagaimana Jibril?" tanya Dia.


"Ya Tuhanku. Engkau lebih mengetahui bahwa hamba-Mu itu sudah berniat hendak membunuh dirinya. Dia sudah menjadikan niat shaum itu untuk menghabisi dirinya sendiri." ujar Jibril. "Maka alangkah baiknya jika Engkau ikuti kemauannya. Bukankah dia telah sesumbar? Kita bisa menarik anugerah kita jika anak monyet itu mencuriangi kita."


"Baiklah! Aku setuju!" seru Tuhan yang langsung menggebrak pegangan pada Arsy-Nya.


Keajaiban terjadi. Aku yang tak pernah tahu jawaban dari soal-soal yang diberikan, mendapati diriku pemegang juara satu peringkat guru PAI dengan nilai 350, selisih tipis 1 poin dari sainganku yang peringkat dua. Untuk mensyukuri hal itu, Aku melakukan puasa dari tanggal 1 Januari hingga akhir Maret.


Belakangan aku baru tahu bahwa rumus dari kebaikan adalah ketika kita mengalami musibah dan mengucap kalimat istirja' ditambah doa Allahumma ajjirni fii mushibati wa akhlifli khairan minha, akan membuat semuanya menjadi baik tanpa masalah.


Rumusnya, ketika Allah memberikan aku musibah, sebenarnya Dia telah menyiapkan ganti yang lebih baik dari itu. Kuncinya hanyalah Syukur dan Sabar. Aku pun pernah membaca sebuah riwayat Malaikat Jibril pernah bertanya mengapa Allah belum mengabulkan permintaan seorang hamba.


Allah hanya menjawabnya dengan santai...


"Aku suka mendengar suaranya. Aku sengaja menunda agar dia terus menghiba kepada-Ku. Aku kuatir, jika cepat Ku kabulkan permintaannya, dia tak akan datang lagi menemui-Ku dan Aku tak lagi mendengar suaranya yang kusukai..."


Sialan... ternyata Engkau Maha Bercanda juga rupanya...


...******...

__ADS_1


Aku menatap istri dan anakku yang tenggelam dalam pulas tidurnya. Aku menatap jam. Sebentar lagi memasuki waktu subuh. Kelihatannya... aku harus kembali merayu-Nya.


Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu berdoa, menangislah... agar Allah tersentuh dan Dia mengabulkan doamu..."


Umar bin Khatthab menyela, "Bagaimana denganku? Aku tak pandai menangis."


Rasulullah SAW hanya tersenyum dan menjawab, "Maka berpura-puralah menangis..."


...*****...


Aku baru tahu... selain Maha Pecinta, Dia juga Maha Pencemburu... Maha Bercanda... dan Maha Slenge'an...


Dan bercanda-Nya sadis, Bro... bikin kamu kelimpungan nyaris tak punya pegangan... Aku sudah mengalaminya.


Banyak sekali....


Tapi... aku tahu, Dia tak pernah meninggalkanku.


Kamu tahu kenapa?


Karena sesungguhnya, kami berdua adalah sebuah kesatuan dalam dualisme dzat. Dia Yang Tak Terhingga, dan aku hanyalah materi yang terhingga.


La... jubbati... illa... Allah...


Seperti lantunan lagu Dewa 19....


Aku ini adalah diri-Mu


jiwa ini adalah jiwa-Mu


rindu ini adalah rindu-Mu


raga ini adalah raga-Mu


tak ada yang lain selain diri-Mu yang selalu ku puja.


ku sebut Nama-Mu disetiap hembusan napasku...


ku sebut Nama-Mu...


dengan tangan-Mu, aku menggenggam


dengan kaki-Mu, aku berjalan...


dengan mata-Mu, aku memandang


dengan telinga-Mu, aku mendengar


dengan lidah-Mu, aku bicara


dengan hati-Mu, aku merasa....


Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah Kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu mengerjakan amalan sunnah, niscaya Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dengan itu ia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatannya yang dengan itu ia melihat dengannya, menjadi tangan yang dengan itu ia memukul dengannya, menjadi kaki yang dengan itu ia berjalan dengannya. Jika dia memohon Kepada-Ku, niscaya Aku berikan, dan ketika dia memohon ampun, pasti Aku ampunkan, dan jika dia meminta perlindungan, pasti Aku lindungi.... (Hadits Qudsi).


Serasa jadi seorang avatar 🤣🤣🤣....

__ADS_1


Unitas... Extra Namus Nulla Sallus... []


__ADS_2