KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
TA BANDULELENGA TO PERASAAN...


__ADS_3

Menikah itu bukan sekedar menyatukan dua manusia, namun kamu juga harus menikahi bobroknya, cerewetnya, ngomelnya, malasnya, cemburunya, bau badannya, beleknya, kerutan di wajahnya, harga skincarenya, cicilan hutangnya, masakannya yang nggak seenak mamamu, bahkan keburukannya....TUNAI !!!!!


Menikahlah dengan pria yang mau menghubungimu kembali setelah bertengkar, menyelesaikan masalah, dan kembali mengingatkan padamu bahwa betapapun sulitnya keadaan, dia tidak akan meninggalkanmu. Sebab... itulah tipe pria yang enggan lari dari kenyataan dan bertanggung jawab atas perasaan.


Lelaki ingin sukses dan berkuasa karena ia takut menjadi tiada, sebab ia tercipta dari ketiadaan... sedangkan wanita bisa jadi tergila-gila, minder dan merawat kasih sayang karena dia takut kehilangan sesuatu yang dicintainya sebab dia tercipta dari seseorang....


...*******...



Lelaki itu hanya terperangah ketika Azizah sudah marah-marah melampiaskan kekesalannya. Padahal lelaki itu baru saja tiba dari Tolinggula memenuhi kewajibannya menemui istri yang hanya bisa dilakukan ketika waktunya luang. Semprotan kemarahan sang istri berupaya diantisipasi meskipun ia dalam keadaan lemah fisik dan pikiran.


"Sudah berani kamu main di belakangku, ya?!" tukas Azizah setelah memperlihatkan screenshoot beberapa rekam percakapan yang telah diperlihatkannya kepada suaminya.


"Astagfirullah, Umi... itu hanya teman." tangkis lelaki itu. "Abi hanya kebetulan samperi akun instagramnya, mau tanya-tanya bagaimana caranya nulis novel di F****o." tuturnya menjelaskan latar belakang rekam percakapan itu.


"Lalu kenapa dia menghubungi kamu pake videochat?!" todong Azizah lagi sambil bercakak pinggang.


"Tapi kan kamu lihat toh? Aku nolak. Alasanku, wajahku jelek." tangkis lelaki itu lagi.


Azizah kemudian mengeluarkan bukti-bukti rekam percakapan yang lain lagi dan disodorkan kepada suaminya. Seperti biasa, lelaki itu kembali tertawa.


"Umi, umi... rekam percakapan tiga tahun lalu kok masih diungkit-ungkit sih?" tegur sang suami dengan senyum dikulum. "Abi nggak punya maksud apa-apa cakap-cakap yang begituan."


"Aku nggak nyangka kamu masih ngechat dengan perempuan lain dibelakangku!" tukas Azizah dengan muntab. "Iiiih.... nana wa'u..." sindirnya.


"Umi, beneran sumpah Abi nggak ada motif apa-apa ngechat sama dia." tangkis lelaki itu berupaya meyakinkan.


"Biarpun tak ada maksud." tandas Azizah, "Tapi kena ngechat-ngechat sama dia?!"


Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu kembali bicara dengan nada yang dilembut-lembutkan.


"Ya, sudahlah... Abi minta maaf kalau sudah buat Umi marah." ujar lelaki itu memelas.


"Aaah... Tak sudi!" seru Azizah membalikkan tubuhnya dan melipat tangannya didada. "Kamu yang duluan ngechat sama dia." wanita itu kemudian berbalik dan mencengkeram kerah jaket suaminya. "Sudah berapa kali kamu ngechat sama dia?!"


"Hanya dua kali itu." tangkis lelaki itu menangkupkan kedua tangannya didada dengan senyum memelas. "Jangan pasang muka marah begitu dong."


"Bukan cuma dua kali, tapi banyak!" tukas Azizah mendorong tubuh suaminya. "Aku kecewa sama kamu!"


"Umi... Abi..." lelaki itu berupaya membujuk.


"Begini saja." sela Azizah. "Ceraikan saja aku, supaya kamu bisa bebas ngechat-ngechat sama perempuan lain."


"Umi! Kalau bicara itu tolong dipikir dulu." tegur sang suami. "Mailongola yi'o mo hile cerai?"


"Ngana pe sikap kase bae dulu." sela Azizah langsung menggunakan dialek Manado. "Kamu sudah tahu, kan? Aku paling benci kamu ngechat dengan perempuan lain. Berarti ngana olo jang marah kalau kita mo baku chat deng laki-laki lain."


"Ya iya deh. Abi minta maaf." ujar lelaki itu kembali memelas.


"Abi masih ingat, kan?" ungkit Azizah. "Sudah lupa ya, chat-chat dulu itu, yang pake emoticon 😘??? Kong ini ada beken lagi? Debo mbaku-baku chat lagi?!" sergah wanita itu.


Lelaki itu terkaget-kaget mendengar suara istrinya yang menggelegar. Wanita itu kini lebih mirip singa betina yang lagi ngamuk-ngamuk. Hal yang alamiah bagi lelaki itu sebab ia hafal benar tabiat Azizah berdasarkan zodiak dan shio kelahirannya. Leoni Serpentia...


"Walaupun itu ngana pe teman sesama penulis novel, jangan sampai segitu mesranya." cela Azizah. "Terserah jo pa ngana apa yang ngana mo beken." tandas wanita itu. "Yang jelas, aku sudah sangat kecewa!"


Lelaki itu hanya diam menanggapi kemarahan istrinya. Lelaki itu hanya berpegang pada pepatah jika lawanmu lebih muda darimu, hitung dulu sampai 10, lalu bicara. Jika lawan seusia denganmu maka hitung dulu sampai 30, lalu bicara. Jika lawanmu lebih tua darimu, hitung dulu sampai 50, lalu bicara. Dan jika lawanmu adalah istrimu sendiri, maka hitunglah terus dan jangan pernah bicara!


"Kamu kan sudah tahu apa hukumnya ngechat dengan perempuan lain selain istri, ibu dan saudara-saudara perempuanmu?! Sedangkan mo ba cerita berduaan saja, so haram! Apalagi so baku chat begitu?!" tukas Azizah bercakak pinggang.


Lama lelaki itu diam sampai akhirnya ia memberanikan diri bicara lagi. "Ya, sudah... Abi minta maaf ya, Umi." ujar lelaki itu dengan nada yang sangat lembut.


"Anggu ngana selalu minta maaf, baru ngana mo beken lagi." tegur Azizah mengeluh. "Baru kita pe karja bolo ba kase maaf turus? Yang selalu baku chat deng orang lain, ngana tidak pernah mo ba jaga kita pe perasaan."

__ADS_1


Lelaki itu kembali diam. Jika lawanmu adalah istrimu, maka hitunglah terus dan jangan bicara.


"Atau kau suka pula jika aku ngechat sama teman-teman kamu? Itukah yang kau mau?" pancing Azizah.


Lelaki itu tetap diam. Azizah meneruskan. "Kau itu suamiku! Jaga perasaanku dong!" sergah Azizah.


Lelaki itu mengangguk-angguk. "Baiklah, baiklah... aku tak akan mengulang lagi."


"Ulang, ulang, ulang... kamu kira kata-kata itu seperti putaran roda proyektor?!" omel Azizah.


Lelaki itu kembali diam. Kesunyian menyergap suasana. Azizah menghela napas lalu bicara pelan.


"Bi. Aku nggak pusing lelaki itu mau kawin lagi. Aku nggak pusing lelaki itu chatingan dengan orang lain." ujar Azizah.


"Wah... kamu bijak sekali Umi." puji lelaki itu.


"Bijak, bijak kepala kau! Aku nggak pusing lelaki itu mau kawin lagi, mau chatingan lagi, asalkan lelaki itu bukan suamiku, tahu?!" sergah Azizah menghentakkan kakinya dengan marah lalu berbalik melangkah masuk kamar dengan langkah cepat.


Lelaki itu hanya bisa terperangah melihat kelakuan istrinya.


Benar-benar seorang Leoni Serpentia....


...******...


Rumah Makan Mawar Sharon, Jalan Sudirman Kota Marisa. Kabupaten Pohuwato.



Seorang pemuda duduk menunggu seseorang. Ia telah selesai memesan menu. Pemuda itu mengenakan kaos hitam dan celana safari empat kantong yang juga warnanya hitam. Sepasang sepatu lars yang diikat sekenanya melapisi kedua kakinya. Kelihatannya pemuda itu tidak ingin dikenali, makanya ia mengenakan topi bisbol hitam pula dengan masker. Penampilannya sering membuat para pelayan canggung.


Tak lama kemudian masuklah seorang lelaki parobaya mengenakan pakaian batik. Ia sejenak menghamparkan tatapannya ke seluruh ruangan lalu melangkah menuju ke tempat dimana pemuda berpakaian serba hitam itu duduk.


"Sudah lama menunggu, Skullen?" sapa lelaki itu.


"Lumayan lama, Sensei." jawab pemuda itu.


"Silahkan Sensei memesan." ujar pemuda tersebut.


Lelaki itu mengangguk lalu meneliti daftar menu pada lembaran itu kemudian memanggil pelayan. Dihadapan pelayan tersebut si lelaki memesan beberapa menu makanan dan minuman sedangkan pelayan itu menuliskan semua pesanan tersebut pada lembar notanya.


Setelah pelayan itu pergi, lelaki itu sejenak memastikan suasana dalam rumah makan itu kondusif. Ia kemudian bertanya dengan lirih.


"Bagaimana kabar Darkest?" tanya lelaki itu.


"Sensei, kelihatannya ada musuh dalam selimut yang ingin mengambil alih kepemimpinan Darkest." tukas Skullen menukas. "Tapi aku lega. Ketiadaanku disana sebab menerima misi darimu, kuanggap sebagai cara untuk menilai orang itu. Apakah dia memang setia kepadaku atau telah mengkhianati kita."


"Kau bisa memastikan, siapa agen ganda yang disusupkan ke dalam Darkest?" tanya lelaki parobaya itu.


"Sensei juga mengenalnya." jawab Skullen.


Lelaki itu mengangguk-angguk. Tak lama kemudian beberapa pelayan muncul membawakan nampan berisi berbagai jenis hidangan dan minuman yang kemudian diletakkan pada meja milik Skullen dan lelaki parobaya itu.


"Terima kasih..." ujar lelaki parobaya tersebut dengan santun.


Pelayan-pelayan itu mengangguk sambil tersenyum kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua. Skullen nampaknya takjub melihat berbagai jenis makanan didepannya.


"Sensei..." sahut Skullen, "Apakah kau akan menghabiskan semua hidangan itu?" tanya pemuda itu terbelalak kagum.


Lelaki parobaya itu sejenak menatap Skullen lalu mengangguk-angguk dengan santai. Ia mulai menikmati ayam bakar kecap dengan semangkuk nasi putih. Kadang ia mencampurnya dengan kangkung cah. Skullen menghela napas lalu mulai menikmati nasi goreng pesanannya.


"Makanlah capcay itu, Skullen." titah lelaki itu. "Aku sengaja memesannya untukmu."


"Terima kasih, Sensei." jawab Skullen kemudian menyendok hidangan itu dan meletakkannya pada gundukan nasi gorengnya.

__ADS_1


Keduanya menikmati hidangan tersebut. Skullen sendiri sempat melongo melihat lelaki parobaya itu memesan lagi sepiring capcay dan tahu goreng. Ketika sajian itu telah terhidang, lelaki tersebut kembali menyantapnya dengan nikmat.


"Subhanallah... begitu sedapnya." puji lelaki itu seraya bertasbih. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Skullen. "Kau tahu? Aku menikmati makanan ini hanya sesekali saja. Di Tolinggula, kau tak akan mendapati makanan ini."


Skullen hanya bisa mengangguk-angguk setuju dan tak menjawab sepatah katapun sebab ia memang dalam posisi menikmati hidangan. Mulutnya penuh dengan nasi dan capcay.


"Jika memang orang itu hendak mengambil alih Darkest darimu. Lepaskan saja mereka." usul lelaki itu disela-sela makannya.


Skullen menelan makanannya lalu menyahut, "Apakah Sensei tak menyesal jika Darkest kelak menjadi alat lawan untuk menyerang anda?" pancingnya.


Lelaki itu terkekeh, mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. "Aku sudah terbiasa dengan pengkhianatan. Lagipula... sudah dekat saatnya mereka akan dibubarkan."


Skullen mengerutkan alis menatap lelaki parobaya dihadapannya. "Dibubarkan?"


Lelaki parobaya itu mengangguk lalu menghabiskan sisa dari paha ayam yang digigitnya. Ia kemudian memperlihatkan tulang paha kepada Skullen.


"Seperti benda ini." ujar lelaki tersebut. Dia meletakkan kembali tulang paha itu dipiring, meraih gelas dan meminum isinya hingga habis lalu mendesah dan bersendewa pelan.


"Alhamdulillah...." pujinya menikmati sedapnya hidangan itu.


Skullen sendiri masih menikmati hidangan gorengnya yang masih menggunung. Lelaki itu menegurnya. "Habiskan capcay itu, Skullen."


"Ya......." ujar Skullen kemudian mengambil mangkuk berisi capcay itu dan menuangkan keseluruhan isinya ke gundukan nasi goreng lalu menikmatinya lagi.


"Bagaimana kabar putriku?" tanya lelaki itu.


Skullen hanya mengangkat bahu. Pelayan datang lagi atas perintah lelaki parobaya tersebut untuk membenahi sisa-sisa dari hidangan yang dihabiskannya.


"Tambah sepiring penuh stik pisang goroho, perkedel milu, dan dua gelas es teler ya?" pesan lelaki itu.


Skullen nyaris tersedak mendengar lelaki dihadapannya memesan lagi makanan. Lelaki ini masih manusia atau bukan sih?


Lelaki itu kembali menatapnya. "Skullen, aku bertanya tentang putriku." tukasnya.


"Putri anda baik-baik saja." jawab Skullen disela-sela makannya. "Sensei nggak perlu sekuatir itu." pemuda itu sejenak menjeda makannya dan menatap lelaki parobaya yang duduk didepannya. "Bukankah sudah ada pemuda Ba' Alawi itu yang melindunginya?"


Pelayan datang lagi membawa nampan berisi sepiring penuh stik pisang goroho, semangkuk sambal terasi dan dua gelas tinggi es teler. Hidangan itu diletakkan di meja kemudian pelayan itu pergi meninggalkan tempat itu.


Lelaki itu mencomot sebatang stik pisang goroho dan mencelup-celupkannya ke dalam mangkuk berisi sambal terasi. "Bicara tentang pemuda itu... sejauh mana kini kau mengenalnya?"


"Masih sedikit yang kuketahui tentang pemuda itu." jawab Skullen. "Tunggula sedikit lagi, Sensei."


"Segeralah kau mencari tahu tentang pemuda itu." pinta lelaki parobaya itu sembari memakan stik pisang tersebut. "Uhm... enak juga stik ini." komentarnya memandangi kudapan didepannya lalu menatap Skullen. "Cobalah."


"Sensei, kurasa pemuda yang mendekati Ichi, bukan orang sembarangan." cetus Skullen seraya mencomot sebatang stik pisang goroho dan memakannya langsung tanpa dicelupkannya ke sambal terasi. "Aku merasai ki yang besar dalam tubuhnya. Kelihatannya, pemuda itu mempelajari seni beladiri."


"Terus kenapa? Apa kau akan melepaskan tanggung jawabmu?" pancing lelaki tersebut.


Skullen sejenak tersipu lalu memperbaiki sikapnya, kembali bicara datar. "Sensei, sudah puluhan tahun aku mengabdi kepadamu. Bisakah setelah ini, aku mendapatkan kemerdekaanku?"


"Kau lebih suka kembali menjadi tanah, dan dilupakan oleh sejarah, Skullen?" pancing lelaki tersebut.


"Sensei... sejujurnya, aku hidup dijaman ini hanya untuk mengabdi kepadamu saja sebagai balas hutang sebab kau menghidupkanku, entah dengan alasan apa. Tapi, bagaimanapun aku pernah mati, Sensei. Kau menarik ruh ku dengan paksa kembali ke tubuh palsu ini. Itu sangat menyiksa sekali." pemuda itu kemudian menerawang. "Kenangan empat puluh empat orang kaya yang kami cincang dihalaman Benteng Nassau itu selalu terkenang kembali. Apalagi tatapan seorang lelaki bersurban itu... aku tak bisa melupakannya. Dia selalu datang dalam mimpi-mimpiku."


Laki-laki parobaya itu mengangguk-angguk sejenak lalu menghela napas. "Jadi... aku harus kembali melakukan ritual pengembalian arwah..." ujarnya.


"Sensei... benarkah, Sensei akan melepaskan aku?" tanya Skullen dengan penuh harap.


"Laksanakan tugas terakhirmu ini dengan baik, Skullen. Setelah itu kau akan bebas, sebebas awan yang berarak dibumantara nanti. Aku janji." ujar lelaki parobaya tersebut kemudian bangkit dan mengambil dompethya dari saku belakang.


Dari dalam dompet itu ia mengeluarkan tiga lembar uang kertas nominal seratus ribuan dan meletakkannya di meja.


"Nikmati makananmu, Skullen." ujar lelaki parobaya tersebut. "Aku akan balik ke Tolinggula, besok. Kupercayakan anak perempuanku kepadamu."

__ADS_1


Lelaki parobaya itu kemudian melangkah meninggalkan Skullen yang kembali mencomot satu demi satu stik pisang goroho dan memakannya tanpa mencelupkan kudapan tersebut ke mangkok sambal.


Waktu telah menunjukkan pukul 17.40 sore.[]


__ADS_2