
Jensen baru saja tiba di kediamannya. Lelaki itu, sejak menjadi bawahan langsung dan andalan Rusli, semakin meningkat taraf hidupnya. Dibawah kendali lelaki berhati besi itu, Jensen mempergunakan Para Darkest untuk melakukan serangkaian gerakan menaklukkan wilayah-wilayah kekuasaan golongan-golongan bawah tanah yang dianggap berpotensi mengancam dinamika saham milik perusahaan Putra Pomalango.
Sedapat mungkin, Jensen benar-benar menempatkan Darkest sebagai ujung tombak untuk menghadapi pesaing bisnis. Hanya beberapa perusahaan yang solid dengan fundasi kokoh yang tak gampang ditundukkan. Salah satunya adalah Buana Asparaga milik Keluarga Lasantu.
Adnan Lasantu sebagai pemilik utama perusahaan itu memang memiliki koneksi yang kuat dan menggurita sehingga tiang-tiang kekuatannya begitu kukuh, sulit untuk ditaklukkan. Lagipula mereka bermain dalam area yang dianggap bersih hingga tak tercela dimata hukum. Hal itu tentu mendokrak kredibilitas, bonafitas dan integritas perusahaan tersebut dimata para investor maupun pemerintah daerah dan provinsi.
Tender-tender berskala besar, masih dikuasai perusahaan itu. Apalagi Kenzie, sang pewaris yang kini menduduki tahta presdir utama, jauh lebih dingin, tegas, kejam dan sulit tersentuh ketimbang pendahulunya. Kesalahan-kesalahan masa lalu membuatnya mendirikan dinding-dinding pengamanan disekitarnya sehingga jarang sekali lelaki itu bisa terjebak oleh permainan-permainan picisan yang dilemparkan pesaingnya.
Jensen melangkah santai menyusuri taman. Sejauh ini segala tindakannya menerbitkan hasil yang memuaskan dimata Rusli. Beberapa digit uang virtual ditransfer si presdir ke rekening pribadinya. Jensen benar-benar menjadi orang kaya dikalangan kaum bawah tanah itu.
Tak lupa, ia menyuap beberapa pimpinan regu Darkest sehingga mereka mampu mengerahkan anak buahnya ketika diperlukan untuk sebuah aksi. Jensen kini menjelma sebagai raja kaum bawah tanah.
Lelaki itu tiba didepan pintu. Tangannya masuk ke dalam kantong dan merogoh kunci pintu rumahnya. Lelaki itu memasukkan kunci ke dalam liang kunci dan memutarnya beberapa kali.
KLEK!!!!
Tuas pembuka itu bergeser dan Jensen memutar gagang lalu mendorong pintu itu ke depan. Ia masuk lalu menutup lagi pintunya. Tangannya mengulur ke tuas saklar.
KLIK!!!
HEH???
Alis Jensen berkerut. Saklar lampu ditekannya namun tak sedikitpun ruangan itu terang. Kegelapan menyelimuti ruangan itu, meski tak terlalu gelap sebab beberapa pantulan cahaya menyeruak masuk melalui celah-celah ventilasi, menerangi ruangan tersebut.
Jensen tak menyerah. Tangan lelaki itu terus terulur dan menekan-nekan saklar.
KLIK... KLIK... KLIK... KLIK...
Jensen mulai kesal. Namun dia ingat kemungkinan, bola lampu yang terpasang di ruangan itu padam sebab mengalami putus tungsten filament yang berfungsi memendarkan arus listrik menjadi cahaya. Sudah lama juga bohlam diruangan itu belum diganti.
Dengan kesal, Jensen melangkah meninggalkan tempat itu terus menyeberangi ruang tamu. Ia tiba didapur. Lelaki itu kembali menyentuh saklar disana. Namun sama juga. Bohlam tak menyala sedikitpun.
Hei... kok lampu-lampu dirumahku kompak pada mati semua ya????
DEG!!!!
Kecurigaannya langsung muncul. Instingnya sebagai seorang petarung langsung memperkirakan sebuah pikiran yang menyelusup dalam benaknya.
Ada yang mengirim penyusup disini...
Jensen kehilangan rasa lelahnya. Adrenalinnya langsung meningkat dan kewaspadaannya langsung terpasang.
"Apa kabar Jensen..." sapa seseorang dikegelapan. Datar dan dingin.
Suara itu sangat dikenal. Dengan pias namun waskita Jensen langsung membalik menghadap ke ruang tamu.
Sebuah sosok tersamar dalam kegelapan, nampak duduk santai setengah membungkuk. Dihadapannya terdapat sebotol minuman dan dua buah gelas tinggi. Ia boleh saja menyamarkan dirinya dalam kegelapan. Namun, suara khasnya tak pernah hilang.
"Skullen...." tebak Jensen kemudian menelan salivanya. Secara refleks tubuhnya langsung memperlihatkan sikap mempertahankan diri.
"Kenapa kau tegang sekali, Jensen?" tanya Skullen dengan santai, namun suaranya tetap dingin dan mengintimidasi. Kesimpulannya, Jensen sebenarnya tahu jika sosok didepannya telah lama mengetahui segala tindakannya. "Apa kau berbuat kesalahan?"
"Apakah kedatanganmu untuk kembali mengambil alih Darkest?" tanya Jensen balik.
Sosok itu tak berubah. Tetap saja duduk dengan setengah membungkuk. Jensen menajamkan tatapannya. Disisi kanan sosok itu nampak tersandar pada sandaran sofa, sebilah golok berbentuk aneh. Sosok itu tetap tak kelihatan, terselimut baik oleh paparan gelap.
"Aku tidak punya lagi keinginan semacam itu." jawab sosok itu. "Temanilah aku minum, Jensen... seperti waktu dulu."
Jensen masih tegak ditempatnya. Sosok itu menggerakkan tangannya mengambil botol dan menuangkan isinya pada masing-masing gelas sama banyak dan meletakkan botol kosong itu agak jauh dari dua gelas yang berdiri bersisian itu.
"Kenapa masih berdiri disitu, Jensen?" tegur sosok itu. "Apa kau takut kematian?"
"Ketika aku melakukan tindakan ini, aku tak lagi memikirkan kematian." jawab Jensen dengan sedikit ketus.
"Bagus... prinsipmu tidak pernah berubah." puji sosok itu. "Meski aku tahu, kau bukan lagi seorang kukenal." sosok itu kemudian menyorongkan sebuah gelas sedikit ke depan. "Minuman itu tidak beracun, Jensen. Kau sudah tahu, siapa sosok dihadapanmu dengan baik, bukan?"
Jensen mengakuinya. Sosok itu, meski cerdik tapi jujur dalam memegang prinsip. Ia mungkin saja sedang menjalankan tugas untuk mengeksekusi mati, namun sosok didepannya bukan orang yang curang dan menghalalkan segala hal.
Jensen akhirnya memutuskan mendatangi sosok itu lalu duduk dihadapannya. Lama keduanya saling menatap.
__ADS_1
"Minum..." ajaknya seraya mengambil gelas dan mendekatkannya ke mulutnya.
Jensen pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan sosok itu. Keduanya kemudian minum seteguk demi seteguk.
"Aaaaahhhhh...." keduanya mendesah bersamaan dan meletakkan gelas itu bersamaan pula di meja.
Kembali ke sikapnya semula, sosok itu mulai menginterogasi bekas kepercayaannya itu.
"Mengapa kau lakukan ini kepadaku, Jensen?" tanya sosok itu dengan pelan, datar namun tetap dingin dan sangar.
"Aku tak punya pilihan lain." jawab Jensen kembali meraih gelas itu dan meneguk lagi isinya.
Sosok itu ikut pula mengambil gelas dan meneguk isinya. Keduanya kembali meletakkan gelas yang benar-benar kosong di meja.
"Mengapa kau membawa Darkest untuk melakukan hal itu?" tanya sosok itu. "Aku tidak keberatan, kau melakukan pengkhianatan secara personal. Tapi kau membawa mereka... maka dosa kalian kepadaku juga kolektif..."
"Aku tahu..." jawab Jensen.
"Dan kau melakukan ekspansi wilayah. Kau mengagresi wilayah bagian timur dan selatan." ungkit sosok itu, "Bukankah kita sudah memiliki wilayah utara? Untuk apa kau melakukannya? Apakah demi Rusli?"
"Aku tak memungkirinya..." jawab Jensen dengan tenang.
"Aku memberikan kesempatan padamu untuk kembali ke prinsip kita sebelumnya." ujar sosok itu. "Kau masih ingat hukum yang kita buat bersama-sama di Darkest, kan?"
Sosok itu kemudian mengeluarkan sesuayu dari balik pinggangnya dan meletakkan benda itu di tengah meja.
Jensen menatap belati itu. Hukuman yang dijatuhkan sosok itu padanya telah jelas. Ia harus melunasinya dengan darah. Jensen kemudian tersenyum lalu menatap sosok itu.
"Maaf... aku menolak!" tandas lelaki itu.
"Berarti, kau sudah siap dengan konsekuensinya?" ungkit sosok tersebut.
"Aku sudah sangat siap!" ujar Jensen dengan mantap.
"Bagus...." ujar sosok tersebut.
TAK!!! SIUUUTTTTTT.... TRANGGGGG....
"Kau pikir, aku tak pernah mempersiapkan hal ini?" sindir Jensen seraya tersenyum dengan sinis.
Lelaki itu mendorong senjata tersebut lalu melayangkan tinjunya ke arah wajah sosok itu. Sosok tersebut dengan serta merta menampar pergelangan tangan Jensen.
SRINGGGG.... HEH?!
Jensen menghentakkan sedikit pergelangan tangannya yang ditahan dengan bilah golok oleh sosok itu. Sebilah pisau rahasia, mirip senjata para assassin tiba-tiba muncul dan nyaris menusuk wajah sosok itu. Sejenak terlihat sosok itu sedikit menarik wajahnya ke belakang.
Sosok tersebut setelahnya melayangkan bilah golok ke depan membuat Jensen terpaksa melempar tubuhnya ke belakang, bersandar pada sandaran sofa. Lelaki itu kemudian mendorong kakinya ke meja sehingga sofa itu terjungkir ke belakang.
Sosok itu tak tinggal diam. Ia melompat ke depan, seraya menggenggam gagang golok dengan kedua tangan, sosok itu mengayunkan senjata tersebut ke depan dengan sasaran bagian yang diduduki Jensen.
Sontak Jensen melakukan rolling belakang lalu duduk berlutut sejenak kemudian maju mengayunkan tendangan mengincar wajah pemilik golok tersebut.
Sosok itu tak tinggal diam. Ia memanfaatkan kedua tangannya dan senjata yang menancap di sofa sebagai poros, lelaki itu mengayunkan tubuhnya menggasing ke samping dan mengayunkan tendangan dari arah samping, menampar tendangan yang diayunkan Jensen ke depan. Menyusul ia menjejak sofa dengan kakinya yang menendang tadi dan kembali memutar tubuhnya melayangkan tendangan memutar.
BUK!!! UGHHH....
Kali ini tendangan memutar itu sukses mengenai pipi Jensen membuat lelaki itu terlempar beberapa jejak ke samping dan menabrak bufet. Untung saja ia masih memiliki kesadaran sehingga tendangan itu tidak memiliki efek mempingsankan, melainkan hanya rasa pusing saja.
Jensen menggeleng-gelengkan kepala mengusir rasa pusing lalu menatap lagi sosok yang maju menyerang. Lelaki itu menghentakkan kedua tangannya. Kali ini keduanya tangannya telah dilengkapi pisau yang meluncur turun dari dalam lengan pakaiannya.
Jensen balas maju seraya mengayunkan kedua pisau memberi desakan dengan gerakan-gerakan yang mengincar titik-titik vital ditubuh lawannya.
Sosok itu beberapa kali memainkan goloknya menangkis serangan yang bertubi-tubi tersebut, namun ia tidak panik.
Serangan Jensen pada dasarnya berpola sama, sehingga sosok itu tak mengalami kesulitan membaca gerak serang lawannya.
Jensen maju menghujamkan dua pisaunya. Sosok itu hanya menjauh selangkah ke belakang, sedang Jensen maju lagi mengibaskan kedua pisaunya membuat sosok itu mundur lagi selangkah.
Tiba-tiba sosok itu mengayunkan tendangan yang tanpa disangka Jensen maju menyusup diantara tangan dan celah disana menembus langsung ke dagu.
__ADS_1
DUAKKK!!! OOOCHHH....
Jensen terlempar ke belakang dengan posisi salto dan jatuh tertelungkup. Cepat-cepat lelaki itu bangkit. Sesekali tangan kirinya mengelus dada yang dirasakannya sakit akibat membentur lantai dengan keras.
Sosok itu kembali mempermainkan golok dihadapan Jensen, memberinya gerak tipu dengan permainan golok itu. Jensen termakan umpan sehingga refleks melangkah ke belakang.
Sosok itu maju seraya mengayunkan goloknya ke depan. Jensen langsung menunduk dan maju menebaskan pisaunya.
TAK!!! HMM????
Sosok itu menampar lengan yang digunakan Jensen untuk menebaskan senjata. Lelaki itu terkejut. Namun ia nyaris saja mengalami hantaman sebab dari menampar pergelangan tangan lawannya, sosok itu kemudian memajukan tangannya dengan dua ujung jari mengincar kedua mata Jensen.
Dengan sigap Jensen mengibaskan tangannya memperisai wajah dari incaran dua jemari kokoh milik sosok itu.
Sosok itu menarik jarinya dan ganti menghujamkan senjatanya ke depan mengincar dada Jensen. Serta merta, Jensen mengayunkan tangannya mengibas ke arah golok tersebut.
TRANGGGG....
Senjata itu terpental meski tak terlepas dari genggaman sosok itu. Ia memutar dirinya dan kembali mengayunkan golok. Jensen kembali mengibaskan tangannya menangkis benda tersebut.
TRANGGGGG....
Jensen kembali tak mengira, sosok itu melayangkan tendangan yang menghujam dadanya. Jensen mendengus sambil terjajar ke belakang. Sosok itu kembali menyerang dengan ayunan tendangan lagi, kali ini menyarang di perut.
OOOOOFFFFFHHHH....
Jensen meraung dan tubuhnya kembali terjajar ke belakang dan akhirnya terjungkal lagi. Sosok itu melompat lagi mengayunkan goloknya ke arah Jensen.
Dengan cepat lelaki itu bergulingan ke samping membuat serangan sosok itu menjadi mentah. Ia bangkit dengan napas yang tersengal.
Sosok itu berdiri tenang lalu menatap Jensen dengan angkuh. "Aku sudah memberimu pilihan, Jensen... kau tak bisa lari dari ajalmu."
Jensen terkekeh disela napasnya yang tak teratur sebab terlalu banyak mengkonsumsi rokok.
"Aku tak pernah lari dari takdir.... tapi aku tak akan membiarkan takdir meraihku dengan gampang." ujarnya kembali memasang sikap bertarung.
"Bagus... aku suka semangatmu!" ujar sosok itu, kembali maju.
Terpaksa Jensen kembali meladeni serangan sosok itu. Nyata sangat benar Skullen tak sedikitpun merasai lelah. Apakah dia monster???
Gerakan-gerakan Jensen mulai payah sebab kelelahan. Tubuhnya sudah mulai banyak dihantam pukulan dan tendangan yang diterimanya. Namun sebagaimana seorang punggawa utama orang-orang Darkest, Jensen menolak kalah.
Skullen pun tak melewatkan hal itu. Ia menghormati lelaki itu meski ia telah banyak mengkhianatinya. Meskipun begitu bukan berarti pengkhianatan itu didiamkan.
Jensen tersentak kaget ketika golok aneh yang dilayangkan Skullen, sukses menebas tubuhnya dan merobeknya, memperlihatkan luka tebasan yang membuat gidik berdiri.
Jensen menatap sosok itu dengan gemetar. Ia mengerang namun suara itu tak kunjung keluar sebab rasa sakit lebih mengalahkan semuanya. Diselimuti rasa sakit yang menyengat, Jensen rubuh perlahan-lahan ke lantai dan terbaring disana dengan lantai yang basah sebab dipenuhi darah yang mulai membanjir.
Sosok itu kemudian berlutut disisi Jensen yang sekarat. Tangannya terulur menjamah wajah Jensen.
"Tidurlah kawan... tidurlah... biarkan aku mengantarkan nyawamu menuju ke sisi-Nya..." ujar sosok itu dengan pelan.
Ditengah naza sebab menuju tarikan napas terakhir, Jensen akhirnya hanya bisa mengangguk merestui tindakan sosok itu.
Sosok itu meletakkan bilah goloknya ke leher Jensen. Keduanya bertatapan lama. Sekali lagi Jensen mengangguk dengan lemah dan gemetar.
CRASHHHH.....
Tubuh Jensen tersentak sekali lagi ketika sosok itu menghujamkan goloknya, membelah dan membuntungi leher itu seketika. Setelah ritual itu berakhir, sosok itu mengeluarkan sebuah karung kecil dan memungut kepala Jensen yang terpisah kemudian memasukkannya ke dalam karung.
Sosok itu bangkit dan melangkah pergi menenteng karung basah berisi kepala pengkhianat itu.
...******...
Tolinggula, pukul 03.03
Sebuah ketukan dipintu, membangunkan si lelaki bertubuh beruang. Ritme ketukan yang khas membuat kantuknya menguap. Lelaki itu bangkit dan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu depan.
KRIEEETTTTT....
__ADS_1
Keheningan subuh membuat suara pintu membuka terdengar begitu jelas. Dihadapannya, duduk berlutut seorang pemuda menyandang golok ditangan kirinya dan tangan kanannya menyodorkan sebuah kantung besar berisi kepala.
Lelaki itu tersenyum. "Kau telah melaksanakan tugasmu... beristirahatlah, Skullen... kau sudah bekerja cukup keras." []