
Selamat Tahun Baru 2022!!!
Ichi tersenyum memandang wajahnya yang terpantul pada cermin. Tahun telah berganti maka segala hal-hal tak layak pun semestinya sudah harus diganti.
"Aku berharap ditahun yang baru ini, keberuntungan akan selalu menyertaiku." gumamnya seraya menatap cermin. "Ya Allah... sebagaimana Engkau mempercantik diriku, kuharap Engkau pun akan mempercantik hatiku."
"Kenapa kamu pelangak-pelongok begitu rupa didepan cermin?" tegur Azizah yang baru muncul dari dapur. Kesehariannya memang seperti itu. Rutinitas yang tak pernah berubah.
"Ih, Umi kagetin saya saja." omel Ichi sejenak lalu kembali mematut-matut dirinya di cermin.
"Ih, narsis kali ini anak." sindir Azizah yang duduk disofa seraya mengamati kelakuan putrinya. "Nih lama-lama bisa gila nih."
"Isyyy... kok Umi malah bicara yang nggak-nggak sih?" omel Ichi lagi seraya menghadap kearah ibunya dan menghentakkan kakinya.
"Habis, lagakmu itu... persis peragawati yang kuatir nggak bisa ikut pagelaran di catwalk." komentar Azizah dengan cuek sambil kembali menatap ke layar televisi.
Sejak tadi memang tabung elektronik bernama televisi itu sudah berkoar-koar sendiri menayangkan acara demi acara seperti saudagar mempromosikan barang dagangannya. Namun kini, hanya orang-orang yang tak memiliki akses ke Internet terpaksa harus merelakan dirinya menikmati tayangan demi tayangan yang kian hari kian tak bermutu.
Sekarang adalah jaman virtual, segalanya menumpu pada kecanggihan gawai yang selalu bersaing tak kenal waktu. Perusahaan yang bergerak dibidang teknologi informatika saling bersaing merebut pasar dan konsumen demi sebuah barang komsumtif artifisial bernama smartphone.
Perangkat itu, entah ia berbentuk telepon genggam, tablet atau jam tangan yang terhubung ke Internet mengandalkan perangkat lunak sistem operasional, telah berhasil menggeser sebagian hal yang bersifat privasi menjadi publik.
Azizah menyaksikan tayangan film India, sekarang yang lagi booming di Indonesia menggeser kedudukan drama korea yang berinisiatif menjamah hati para penggemarnya melalui aplikasi virtual.
Sebagai generasi muda milenial, Ichi pun tak luput dari arus jaman yang semakin menenggelamkan itu. Berkali-kali Azizah mengingatkan putrinya agar jangan terlalu mendewa-dewakan perkembangan teknologi sebab akan menjadi taqlid dan menganggap teknologi mampu memenuhi segala keinginan manusia.
"Ichi... jadi perempuan jangan terlalu menor." tegur Azizah lagi. "Kamu itu masih kecil."
Ichi mengerutkan alis sejenak lalu tertawa. "Umi gimana sih. Aku orang sudah besar kok, masih dibilang kecil." bantahnya. "Coba Umi berdiri sama-sama denganku. Ketahuan kalau aku lebih sedikit dua senti panjangnya dari tubuh Umi sendiri." kilahnya.
__ADS_1
"Okey, Umi akui perkembangan tubuhmu memang cepat." sahut Azizah mengiyakan pendapat anaknya, "Bahkan Umi nggak ragu jika panjang tubuhmu nanti ke depan akan bisa menjangkau langit-langit rumah ini. Tapi perkembangan jiwamu belum sepenuhnya beradaptasi dengan perkembangan tubuhmu sendiri."
"Coba Umi sebutkan apa-apa saja dari diriku yang tak sesuai perkembangan tubuhku." tukas Ichi menantang sambil bercakak pinggang.
Azizah mendengus. "Oh, jadi sudah merasa besar sehingga berani mengomentariku?" tukas wanita itu kemudian berdiri. "Kau mau tahu dimana letak sifat kekanakanmu?"
"Iya... aku ingin tahu." balas Ichi tak kalah menantang.
Azizah tersenyum sinis. "Sering melaksanakan sholat kau?"
"Lho? Melaksanakan sholat nggak masuk hitungan kedewasaan." bantah Ichi berkilah.
"Chi! Melaksanakan sholat adalah salah satu bentuk kedewasaan hidup. Sholat itu ibadah dan kewajiban kita. Mau tak mau, suka tak suka kau harus melaksanakannya. Ingat, Ichi." tukas Azizah menudingkan jemarinya di dagu putrinya.
"Kamu dilahirkan ke dunia, karena telah mengikat kontrak dengan Allah, yaitu pernyataan dan pengakuan tentang Dia itu sendiri." ujar Azizah. "Dan setibanya disini, kau tiba-tiba berdalih bahwa itu bukan sebuah kewajiban?"
Ichi terdiam dan hanya bisa mendengus sambil melipat kedua tangannya didada sambil melengos. Azizah tak perduli. Ia terus menekan putrinya.
"Lho? Kok?" protes Ichi.
"Chi!" tandas ibunya, "Jangan karena dalam gawaimu ada aplikasi baca Qur'an, dan kau meremehkannya. Sekarang, bisakah kau membaca dengan lancar sesuai hukum-hukum bacaannya?"
Ichi sekali lagi terdiam. Seperti biasa, Azizah tak memberikan kesempatan putrinya membela diri.
"Kau sudah melaksanakan kewajiban kamu lainnya?" todong sang ibu.
"Kewajiban yang mana lagi sih, Umi?" tanya Ichi dengan memelas.
"Bangun setiap pagi buta, sholat Shubuh lalu menyapu halaman. Sore, sholat Ashar lalu membantu di dapur memasak nasi dan terakhir selepas sholat maghrib, mendaras Al-Qur'an dan menghafalnya." ungkap Azizah. "Apakah kau telah melaksanakan semua itu? Tidak, kan?!"
__ADS_1
"Umi... kok..." Ichi mulai protes lagi.
"Ichi.... Umi memberimu berbagai tugas bukan semata untuk membuatmu menjadi seperti budak belian. Tapi memang itulah kenyataannya! Tanpa pemberian tugas, kamu akan tumbuh menjadi anak-anak konsumtif yang taunya hanya ingin enak tanpa berusaha." tukas Azizah.
Azizah kemudian menyambung lagi. "Kau jangan ikut-ikutan dengan paman-pamanmu." ujar Azizah lagi. "Mereka manusia-manusia gagal. Umi nggak mau kamu menjadi seperti mereka!"
Ichi melangkah dan duduk disisi ibunya. Azizah terus saja nyerocos.
"Kamu tahu dan lihat bagaimana perilaku mereka, kan?" uhar Azizah kepada Ichi lalu menatap layar televisi. "Kalau punya uang banyak, tak satupun anggota keluarga yang diberi. Mereka lebih senang menghabiskan uang mereka bersama teman-teman, berfoya-foya sekehendak hati. Begitu giliran nggak punya uang, kerjanya terus saja memberatkan nenek dengan banyak meminta ini dan itu. Kau mau seperti mereka, Hah?!" sergah Azizah dengan sengit.
Lama keduanya saling diam. Azizah berupaya menenangkan hati yang terlanjur bergejolak dan menggelegak. Napasnya diatur satu persatu dan memejamkan mata.
"Astagfirullah al-adhiimmm...." gumam Azizah beberapa kali.
Ichi akhirnya terpekur dan mempermainkan ujung kaosnya. Azizah membuka matanya lalu menatap putri kecintaannya.
"Umi mungkin saja salah, hanya melahirkan kamu seorang." ujar Azizah pada akhirnya, "Sehingga kamu merasa kaulah satu-satunya... kaulah The One yang tak bisa disingkirkan... Siapa yang mengetahui takdirnya?" ujar Azizah dengan suara serak. "Dan mungkin saja Abi tak pernah punya niat menyakitimu secara fisik, sebab hanya kau satu-satunya putrinya yang ia cintai. Tapi yang akan kulakukan untuk membuatmu berubah lebih baik, Umi tak segan menempuh cara paling ekstrim."
Ichi menarik napas dalam. Sang ibu kembali meredakan gejolak dalam hatinya yang membara.
"Umi tak bisa lagi mentolerir segala sikapmu." ujar Azizah lagi. "Umi juga sudah konsultasikan hal ini dengan Abi, dan dia menyetujuinya. Tak ada alasan lagi bagi Umi untuk mempertahankanmu."
"Apa sih yang Umi pikirkan?" tukas Ichi dengan kesal. "Mestinya setiap hal yang berhubungan denganku, kalian berdua harus mendiskusikannya. Kalian harus melihat bagaimana perasaanku." protesnya.
"Kau tak berhak protes, Ichi..." ujar Azizah lalu menambahkan, "Mulai minggu depan, kau akan berasrama."
"Apa?" protes Ichi.
"Ya! Kau akan mondok di pesantren selama masa waktu yang tak ditentukan!" seru Azizah langsung bangkit.
__ADS_1
"Umi! Tunggu!" seru Ichi memanggil.
Namun sang ibu tak menjawab apapun melainkan terus melangkah meninggalkan Ichi dalam kekalutan besar sepanjang hidupnya. []