KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
THE CASANOVA KELAS NANGKA


__ADS_3

Ichi menjalani hari-hari pertamanya di asrama sebagai seorang santri pondok pesantren. Itu hal yang sangat berat baginya. Seakan keputusan kedua orang tuanya bagaikan serunai sangkakala Israfil yang ditiupkan, menghancurkan inti galaksi pengharapannya dengan ledakan thermonuklir dalam hal ini adalah keputusan mereka memondokkannya.


Untunglah ada beberapa pula teman sekolahnya yang ikut dimondokkan. Sayangnya, mereka tak sebilik. Semuanya dicampur secara merata. Dalam sebuah bilik ada yang senior dan ada yang pemula.


"Tenang Chi, kan ada aku juga disini." ujar Milan dengan santai.


"Kamu enak, anaknya salah satu pejabat disini. Biarpun mondok, kan kamu bisa tidur dirumah." bantah Ichi dengan sewot.


Milan tertawa mendengar kegelisahan sahabatnya itu. "Lho? salah sendiri rumahnya jauh." tukasnya.


"Aku bukan mikir tentang jauh tidaknya rumahku. Kalau itu mah aku sudah rela." kilah Ichi lagi.


"Trus? Apa yang buat sahabatku ini melenguh kayak anak sapi kehilangan induk?" tanya Milan.


"Kamu tahu saja, aku lahiran di zodiak Taurus?" tukas Ichi dengan wajah kesal.


Milan mengangkat alis. "Oh, kamu Taurus ya?" ujarnya lalu tertawa. "Aku nggak tahu, cuma asal bicara saja sih. Habisnya suara kamu nyaring mirip khuwar anak sapi."


"Sialan kamu!" umpat Ichi hendak menimpukkan kepalannya.


"Ampun Non Jago." seru Milan memelas namun gadis itu tertawa. "Sudah, gitu saja kok marah?"


Ichi melengos memandang halaman madrasah. Milan mencolek dagu sahabatnya. "Apa sih yang membuatmu gundah?"



Ichi sejenak mendesah pelan lalu bicara, "Aku ikut pelatihan Taekwondo di BTTC." ungkapnya. "Latihan itu sudah berjalan selama dua bulan. Aku kuatir, kalau mondok, nanti jadwal latihanku terganggu."


"Ooh... kamu ikut latihan Taekwondo?" seru Milan. "Hebat dong." komentarnya, "Pantasan kelakuanmu kayak preman ya?"


"Jancouk!" umpat Ichi dengan kesal membuat Milan tertawa.


"Jangan terus-terusan mengumpat. Nanti Allah sindir kamu." tegur Milan.


Ichi menatapnya dengan mengangkat alis sebelah. Milan langsung membacakan terjemahan ayat pertama QS. Al-Humazah.



"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." ujarnya dengan mata yang dibesar-besarkan.


"Lendengilamu! Kau kira aku termasuk golongan itu?!" sergah Ichi dengan kesal dan menghentak-hentakkan kakinya. "Aku bukan seperti yang Allah firmankan dalam surah itu! Kamu jangan takut-takuti aku dong!"


Milan makin tertawa. "Hahahaha.... ternyata preman takut juga disindir pake ayat ya?" oloknya.


"Tapualemu, tinggolopumu, bicara lagi kau ku sumpal pakai tanah mulutmu, huangangamu ti..." umpat Ichi lagi yang sudah dalam mode marah.


"Sabar son... jangan turuti nafsu." ujar Milan mengingatkan.


Ichi hanya bisa menarik napas panjang untuk meredakan kemarahannya. Milan tersenyum dan mengulurkan tangannya menyapu-nyapu punggung gadis itu.


"Kalau soal itu kan bisa didiskusikan dengan pihak pengasuh. Suatu hal yang mustahil jika mereka tak mengijinkan. Latihan Taekwondo kan bagus untuk kesehatan, juga pertahanan diri." kilah Milan memberi semangat.


"Bisakah?" tanya Ichi dengan lirih sebab ragu.


Milan mengangguk mantap. "Coba deh. Jangan menyerah sebelum mencoba. Jangan patah sebelum menghantam." ujar Milan dengan penuh semangat.


"Sialan kau." ujar Ichi yang langsung bangkit dan meninggalkan Milan yang bengong disana.


"Perempuan itu kenapa ya? Kesambet jin dari pohon ketapang?" gerutu Milan.


...******...


Hari itu seperti biasanya dikelas riuh. Tiba-tiba Ustadz Gau, perwalian kelas mereka masuk. Anak-anak yang sementara itu ribut bermain-main dalam kelas langsung membubarkan diri dan duduk dibangkunya masing-masing.


Ustadz Gau berdiri didepan kelas dan mengamati wajah siswa-siswinya. Lelaki itu sejenak menarik napas lalu memulai bicara.


"Assalamualaikum, anak-anak." sapa beliau.


"Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..." jawab siswa-siswi itu secara bersama-sama.


"Hari ini, kita kedatangan murid baru, pindahan dari kota." ujar Ustadz Gau yang kemudian menatap keatah pintu. "Silahkan perkenalkan dirimu."


Terdengar langkah sepatu yang mendekat dan dari arah pintu muncul seorang pemuda, mengenakan pakaian seragam dan kopiah yang bertengger dikepalanya. Wajah pemuda itu chinesse dan tersenyum simpatik. Ia masuk kedalam kelas dan berdiri disisi Ustadz Gau.


"Perkenalkan, Ini adalah Ishak Rompies, pindahan dari SMUN 1 Kota Gorontalo." ujar Ustadz Gau memperkenalkan siswa disisinya.


Ishak mengangkat tangannya dan menyapa. "Salam kenal." ucapnya dengan senyum simpatik.


Para siswi kelas 10 Madrasah Aliyah saling bisik-bisik dan sesekali melirik kagum kearah Ishak. Sementara para siswanya menatap dengan tatapan iri.


Waduuuh... saingan baru nih....

__ADS_1


Faisal Husein menatap Ishak dan tatapan keduanya bertemu. Pemuda itu kaget mendapati tatapan lelaki dihadapannya yang dipenuhi aura intimidasi.


Siapa dia, mengapa tatapannya begitu dipenuhi hawa misterius... prana milikku terasa terdesak...


Ustadz Gau menyadari hal yang sama, namun pura-pura bodoh dan berujar lagi. "Saya harap kalian memperlakukan dia dengan baik. Sekarang Ishak Rompies adalah warga kelas kalian."


Ustadz Gau menatap Ishak. "Silahkan duduk disamping Faisal."


"Terima kasih, Guru." jawab Ishak dengan senyum simpatiknya dan melangkah santai mendekati tempat dimana ia disuruh. Pemuda itu duduk dibangku sebelah Faisal Husein.


Ustadz Gau mengamati anak-anak perwaliannya. "Hari ini guru yang mengampuh mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak hadir sebab terhalang agenda kepegawaiannya di kantor Kementerian Agama." ungkapnya, "Sementara ini, kalian silahkan mencatat materi belajar dan buku referensinya diambil diperpustakaan." Lelaki itu menatap seorang jilbaber. "Fatma..." panggilnya.


Seorang jilbaber langsung bangkit dan menyahut. "Ya, Pak?"


"Lakukan yang saya perintahkan tadi." pinta Ustadz Gau lalu menatap lagi anak-anak perwaliannya. "Kalian jangan ribut ya?!"


"Ya Pak Guru...." sahut para siswa dengan kompak.


Ustadz Gau mendengus sejenak lalu melangkah meninggalkan kelas. Para siswa menunggu sejenak untuk memastikan perwalian mereka yang suka menjebak suasana itu tak muncul-muncul dikelas. Setelah yakin guru itu tak lagi muncul, kelas menjadi riuh sebagaimana biasanya. Beberapa jilbaber mendekat ke tempat Ishak.


"Halo, nama saya Tania Wadipulu." ujar salah satu jilbaber memperkenalkan namanya dan mengulurkan tangan.


Ishak tersenyum dan mengangguk. "Ishak Rompies. Senang berkenalan denganmu."


"Kamu itu mualaf ya?" tanya Widya.


Ishak mengangkat alisnya. "Nggak." jawabnya. "Aku islam turunan kok." lelaki itu kemudian tersenyum, "Pasti karena margaku ya?" tebaknya.


Faisal sendiri hanya mengamati dan tak berniat membuka percakapan. Ia membiarkan saja pemuda itu menjalin keakraban dengan anak-anak kelas. Hal yang alamiah jika memang kaum hawa dikelasnya tertarik dengan pemuda itu. Ishak menatap Faisal.


"Hei, kamu kok diam saja?" tukas Ishak.


"Memang aku harus bilang waw gitu?" sahut Faisal menggerutu lalu bangkit dan melangkah meninggalkan kelas.


Ishak menatap pemuda itu dengan heran dan menatap para wanodya yang mengelilinginya. "Kenapa dengan laki-laki itu? Merasa tersaing ya?"


ucapannya hanya disambut sorakan oleh para jilbaber itu dan sekali lagi Ishak menyadari tatapan beberapa lelaki dikelas itu yang terkesan merasa tersaingi olehnya. Tapi pemuda itu tak perduli.


...*****...


Ichi duduk menekur mempermainkan ujung lengan bajunya. Suara langkah kaki mendekat dan jilbaber itu mengangkat wajah menatap Faisal Husein yang datang lalu duduk disisinya. Mereka memandangi keheningan disekolah itu karena memang sebenarnya itu belum berada pada jam istirahat.


Faisal menatapnya. "Lho? Kamu juga kok kenapa disini?" balas pemuda itu.


"Kok malah saling nanya itu sih?" gerutu Ichi yang melengos kembali menatap suasana yang masih sunyi.


"Kelas sepi, nggak ada guru?" tanya Faisal.


"Lagi malas ngikuti pelajaran." jawab Ichi dengan malas.


"Berarti lagi mabal (bolos) dong?" tebak Faisal.


"Terserah deh menurut Kakak." tukas Ichi dengan ketus.


Faisal menarik napas panjang. "Ummm... kayaknya lagi PMS nih..." ujar pemuda itu kemudian bangkit.


"Kakak mau kemana?" tanya Ichi.


"Mau balik." jawab Faisal dengan singkat. "Jadi hampa, kayaknya dicueki sama kamu..."


"Aaaahhhh.... jangaaaannn..." rengek Ichi.


Faisal tersenyum melihat gaya gadis itu merengek manja. "Tapi kamu ngejawabnya kayak nggak mau diganggu." kilah pemuda itu.


"Aaaa... temani..." rengek Ichi kembali meminta.


Faisal tertawa kecil. "Baiklah... asal jangan dicueki lagi." ujarnya kemudian.


Pemuda itu duduk lagi disisi Ichi. "Sebenarnya lagi kenapa sih?" tanya Faisal.


"Lagi KZL... Umi sama Abi kompak mondokin aku." ujar Ichi.


"Ooo... jadi kamu sudah mondok?" tukas Faisal kemudian tertawa kecil lagi, "Pantasan tadi seharian kemarin aku melihat kamu sibuk bersih-bersih bilik."


"Kakak senang, aku mondok ya?" tanya Ichi dengan gusar.


"Ya, senanglah." seru Faisal dengan spontan. "Aku jadi sering melihat kamu. Setidaknya rasa rinduku terobati."


Ichi terdiam mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan Faisal. Pemuda itu tersenyum. "Kamu tahu nggak manfaat dari mondok?"


Ichi menghela napas dan mengangkat bahunya. "Aku sudah tahu." jawabnya dengan sendu.

__ADS_1


"Terus? Apa yang membuatmu seperti gundah kelihatannya?" selidik Faisal seraya memicingkan mata.


"Aku itu ikut latihan Taekwondo di BTTC." ujar Ichi dengan galau. "Aku kuatir, jadwal latihanku terganggu dengan program-program pondok. Aku tak perduli dengan program-program itu. Aku akan menjalaninya, selama itu tak mengganggu jadwal latihanku."


"Oooh... soal itu ya?" guman Faisal sambil manggut-manggut. Lelaki itu kemudian mengangkat wajah dan menyentuh punggung lengan Ichi. "Bagaimana kalau kamu menghadap kepada Ustadz Gau? Beliau kan bagian kepengasuhan. Kurasa, jika hal itu baik, beliau tak akan menghalangi." usul pemuda itu.


Ichi masih diam. Faisal tersenyum. "Mau aku dampingi?" pancing pemuda itu lagi.


Ichi menatap Faisal. "Kakak bisa membantuku?" tanya jilbaber itu dengan ragu.


Faisal tersenyum, kali ini kelihatan begitu lembut. "Aku akan membantumu sekuat tenagaku." ujarnya dengan tulus.


Ucapan pemuda itu menerbitkan rasa haru dihati gadis itu. Ichi menghambur memeluk Faisal dan mulai terisak. Pemuda itu sejenak terkejut dan mengamati keadaan sekelilingnya dengan tatapan periperalnya, setelah itu berani memeluk Ichi dengan lembut saat ia memastikan tak ada siapapun penguntit di wilayah itu.


"Kamu tahu? Teman yang baik akan meminjamkan pundaknya untukmu yang ingin menumpahkan tangis... tapi sahabat yang baik... akan meminjamkan pentungan untuk menggebuk orang yang membuatmu menangis..." ujar Faisal berupaya menghibur gadis itu.


"Apa itu artinya... Kakak siap menghadapi Abi?" tanya Ichi.


"Maksudnya?" tanya Faisal kembali.


"Bukankah Abi dan Umi yang membuatku mengalirkan airmata ini?" ungkap Ichi kembali terisak dan memeluk lebih erat, menyembunyikan wajahnya dalam pelukan pemuda itu.


"Ooh... kalau itu, aku nggak berani." jawab Faisal dengan spontan.


Ichi menarik diri dari pelukan pemuda itu dan membersihkan sisa-sisa tangisnya yang membekas disekitaran mata.


"Kenapa?" tanya Ichi.


"Ya... aku nggak mau dipanggil sebagai anak durhaka." jawab Faisal lalu tertawa pelan.


Ichi meninju pelan dada Faisal. "Nggak lucu!" gerutunya dengan ketus.


"Eh... itu menjadi sesuatu yang lucu, kalau kamu berani menentang kedua orang tuamu yang menginginkan kebaikan untukmu." ujar Faisal membela argumennya.


"Apakah memondokkan aku tanpa persetujuanku, merupakan sebuah kebaikan?" tanya Ichi menantang. Wajahnya terlihat keruh.


"Ichi... suatu saat kau akan menyadari... dan akan berterima kasih kepada mereka yang kau benci." tandas Faisal. "Ingatlah Chi... tak ada orang tua yang ingin menjatuhkan anaknya, kecuali mereka memang ingin jatuh sendiri."


"Maksud Kakak?" tanya Ichi.


"Dengan menentang keputusan mereka, kau sama saja telah menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan." ujar Faisal. "Ingatlah kalau perkataan kedua orangtua itu layaknya sabda seorang nabi yang harus dituruti selama yang diperintahkannya benar."


"Tapi..." protes Ichi.


"Chi... percayalah padaku. Kau tak akan menyesalinya dikemudian hari." ujar Faisal berupaya meyakinkan jilbaber tersebut. "Akan banyak manfaat yang kau dapatkan nanti, Dan disaat itu kau akan mengakui dan berterima kasih kepada kedua orang tuamu."


Pemuda itu menerawang angkasa. "Dijaman yang penuh kepalsuan dan kemerosotan moral seperti sekarang ini, pembentengan iman dan akhlak sangat diperlukan dan pondok pesantren bisa menjawab tantangan itu." Pemuda itu kemudian menatap Ichi lagi. "Aku akan membantumu menjalani kehidupan sebagai seorang santri."


Ichi tanpa sadar tersenyum. Faisal kemudian tersenyum pula. "Dipikir-pikir... kamu sebenarnya cantik juga." goda pemuda itu.


"Dasar... perayu cap nangka!" umpat gadis itu namun bibirnya tersungging senyuman.


Tanpa keduanya tahu, seseorang mengamati keduanya dari jarak pandang yang aman. Ia menekan tombol kecil pada headset realme buds Q2 yang menancap diliang dria pendengarannya.


🎧 "Skullen disini." ujar orang itu dengan lirih.


Terdengar suara serak seorang lelaki dari seberang.


📲 "Kau sudah berada pada posisimu?" tanya orang itu.


🎧 "Tentu saja, dan sekarang aku seperti penjaga nyamuk saja disini." gerutu Skullen dengan lirih. "Apa Sensei pikir, enak memata-matai orang?"


📲 "Aku tak menyuruhmu memata-matai, tapi hanya mengamati saja." bantah orang bergelar guru itu.


🎧 "Sama saja, Sensei." gerutu Skullen dengan lirih. "Tuh putrimu masih asyik memadu kasih dengan lelaki arab di gazebo taman sekolah. Mau ku dokumentasikan?" pancing Skullen menantang.


📲 "Dokumentasikan dan kirim gambarnya kepadaku." pinta orang itu. "Ingat, tugasmu hanya menjadi pelindungnya dalam bayangan. Jangan bertindak lebih dari itu." pesan orang tersebut.


🎧 "Kurasa Sensei tak perlu mengutusku menjadi guardian angel bagi putrimu. Lelaki itu bisa menjalankan perannya dengan baik." tolak Skullen.


📲 "Apakah mereka berdua terlihat serius?" tanya orang itu.


🎧 "Tentu saja. Apa harus ku pastikan dia mengungkapkan secara terus terang?" tantang Skullen.


📲 "Lakukan dan laporkan secara berkala padaku." titah orang itu kemudian memutuskan percakapan seluler.


Skullen menonaktifkan gawainya dan mengeluarkan headset dari kupingnya lalu berbalik melangkah meninggalkan tempat itu.


Sialan, lagi-lagi aku harus menerima tugas tak keren ini. Aahhh... dasar... nasib... nasib...


Lelaki itu menggerutu panjang-pendek disertai keluhan seraya mengayun langkahnya lebih jauh.[]

__ADS_1


__ADS_2