
Satuan Shabara kepolisian Polsek Marisa yang dikerahkan telah menggerebek rumah Aldi. Namun apa yang mereka cari tiada mereka dapatkan. Target penangkapan telah melarikan diri dan menyembunyikan dirinya entah dimana. Qomaruddin yang mendengar penjelasan dari Kanit Serse Polsek Marisa hanya bisa mengencangkan rahang mengetahui Aldi berhasil melarikan diri.
Usaha dagangnya kemudian ditutup sementara oleh pihak kepolisian dan para pegawai dengan terpaksa diliburkan. Mereka bahkan saling bisik tak percaya ketika mendengar berita bahwa bos mereka melakukan tindakan penculikan dan hendak memperkosa perempuan yang dicintainya.
...******...
Kendaraan yang ditumpangi Rusli dan kawanannya telah tiba di Pohuwato. Mereka beristirahat sejenak disalah satu penginapan yang ada di Paguat.
Rusli kemudian memerintahkan beberapa orang menuju Kota Marisa untuk mencari-cari informasi tentang keberadaan orang yang mereka buru.
"Sementara ini, biarkan orang itu merasa telah memenangkan pertempuran. Kita akan melakukan tindakan yang akan membuatnya menyesali apa yang pernah ia lakukan kepada kita." ujar Rusli kepada sekretarisnya, Riswan.
"Untuk ini anda mohon bersabar." pinta Riswan. "Orang-orang kita sementara mencari informasi tentang itu."
Rusli mengangkat tangannya lagi. "Aku minta bantuanmu sekali lagi Riswan." pintanya.
Riswan menegakkan tubuhnya.
"Cari tahu perempuan bernama Ichi... apakah ia masih bersekolah di Alkhairaat itu atau sudah pindah?" pinta Rusli.
"Ichi? Apakah dia siswa aliyah?" tanya Riswan.
Rusli menggeleng. "Anak itu masih dibangku tsanawiyah..."
Riswan tersenyum aneh. "Tsanawiyah? Untuk apa anda mencari-cari dia?"
Rusli menatap Riswan dengan dingin. Terang saja Riswan langsung mengangguk patuh.
"Baiklah Pak. Saya akan melaksanakannya." ujar lelaki itu langsung bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Riswan, lelaki itu bangkit dan mondar-mandir diruangannya. Kenangannya terhadap gadis itu terbit lagi. Senyumnya sesekali muncul dan hilang.
Orang bercadar itu... siapa dia? Apakah dia mengenal Ichi? Aku harus mencari tahu...
...*****...
Faisal menyempatkan diri menonton latihan Taekwondo yang diselenggarakan dihalaman aula kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Pohuwato. Senja itu para kyongrye sedang mengikuti setiap aba-aba yang diujarkan oleh instruktur.
Faisal tersenyum-senyum sendiri mengamati Ichi yang terlihat elegan mengenakan dobok itu. Meskipun tingkatannya masih putih, namun gadis itu bisa mengikuti berbagai perintah yang disuruh.
Beberapa gibon dasar dipraktikkan Ichi sesuai arahan instrukturnya. Faisal mengamati ada beberapa seobae juga yang memperhatikannya. Sedikit rasa cemburu menyelusup disanubari pemuda itu.
"Ya! kalryeo!!!!" seru instruktur itu menyerukan jeda ditengah latihan yang berlangsung.
Para kyongrye berhenti sejenak dan beristirahat. Ichi sejenak mengalihkan tatapannya ke arah Faisal yang duduk disisi tembok pembatas taman. Pemuda itu tersenyum dan mengacungkan jempol kearahnya. Ichi hanya membalasnya dengan dengan senyum tersipu.
"Ya, sijak!!!" seru instruktur itu kembali menyerukan latihan.
para kyongrye tingkatan hubae, termasuk Ichi disana kemudian melakukan praktek dasar kyoruki. Gerakannya hanya dua langkah dasar menyerang dan menangkis sebab hanya sebatas itu kurikulum yang diajarkan pada tingkatan sabuk putih.
Latihan itu berakhir pada pukul 17.40. Gadis itu menatap langit merah senja yang sedikit lagi meredup disebabkan oleh malam yang akan menjelang. Sang Raja Siang sudah sejak tadi membenamkan diri di ufuk barat, hanya bias cahayanya saja yang masih menerangi cakrawala.
Faisal bangkit ketika menyongsong Ichi yang melangkah mendekatinya.
"Bosan ya?" tanya Ichi.
Faisal tersenyum dan menggeleng. Ichi menjebikan bibir.
"Uhm... bosan tuh, tapi dibilangnya nggak." tukas Ichi. "Jujur, kenapa sih?"
"Aku nggak akan bosan kalau jalan sama kamu." ujar Faisal.
"Ooo... gara-gara sudah ciumi bibir saya ya?" todong Ichi yang langsung membuat wajah Faisal bersemu merah.
Pemuda itu menggeleng. "Nggak! Nggak! Bukan karena itu kali." kilah Faisal.
Ichi mengeluarkan pakaian bagian atas, membiarkan kaos hitam yang membalut tubuhnya dikeringkan oleh lambaian angin senja itu. Ichi bergidik.
"Kak, saya ganti baju dulu ya?" ujar Ichi.
Faisal kembali mengangguk dengan senyum. Ichi melangkah menuju toilet dan masuk ke sana. Gadis itu bersalin pakaian, mengenakan kaos agak longgar yang dipadu dengan jilbab dan celana kain. Ichi memasukan dobok dan ti miliknya kedalam ransel bersama kaos hitam itu lalu keluar melangkah santai mendekati Faisal.
"Bosan lagi ya?" olok Ichi.
Faisal hanya menghela napas membuat Ichi tertawa. "Ayo pulang." ajaknya.
Faisal tersenyum dan mengangguk. Kedua insan itu melangkah meninggalkan tempat latihan itu. Mereka tiba di tempat dimana kendaraan milik Faisal diparkirkan.
Faisal menaiki kendaraan itu. Ia menatap Ichi. "Ayo naik." ajaknya.
Ichi mengangguk lalu naik ke boncengan. Ia duduk menyamping sesuai dengan adat yang diajarkan ibunya dengan keras. Faisal menyalakan mesin dan kendaraan itu kemudian melaju pelan meninggalkan kompleks perkantoran Kesekretariatan Daerah Kabupaten Pohuwato.
Mereka menyusuri jalan dua arah setelah meninggalkan Tugu Maleo menuju utara.
"Chi..." panggil Faisal.
Ichi mendekatkan wajahnya. "Apa?"
"Kamu tahu, kemana Ishak beberapa hari ini?" tanya Faisal.
"Nggak..." jawab Ichi.
"Bukankah dia..." tukas Faisal.
"Bukan berarti aku tahu segalanya tentang dia." sela Ichi.
Mereka tiba diperempatan besar. Faisal membelokkan kendaraannya ke kiri. Mereka menuju barat, pusat kota.
"Untung ya, kita bisa mencegah laki-laki itu memperkosa Selina." ujar Faisal.
Ichi mengangguk. "Moga saja Pak Qomaruddin bisa membekuk lelaki itu." Gadis itu mencengkeram pundak Faisal. "Kakak benar-benar mempingsankannya, kan?" tanya Ichi.
Faisal mengangguk. "Ya... tapi aku tak yakin pula kalau ia pingsan. Aku nggak memukul sekuat itu. Tapi memang kena dirahangnya sih..." jawabnya dengan ragu.
"Waduuuuh... bisa-bisa dia sadar dari pingsannya dan melarikan diri dong." tukas Ichi dengan cemas.
__ADS_1
"Sudahlah... itu bukan urusan kita." ujar Faisal. "Yang penting, Selina selamat dan sekarang sementara dijagai oleh ibunya." Faisal menoleh sedikit. "Tugas kita sudah selesai, Ichi."
Ichi mengangguk-angguk pula. "Iya juga ya?" ujarnya menerawang sejenak lalu tersenyum. "Kak, makasih ya, sudah bantu aku menyergap lelaki itu."
Faisal tersenyum. Mereka tiba di perempatan Polsek Marisa. Ada traffic light disana. Tepat mereka melambat, lampu traffic light itu berubah warna menjadi hijau.
Faisal memutar stik motor menaikkan gasnya. Kendaraan yang mereka naiki melaju kembali, membelok ke kanan ke arah kompleks Pasar Sentral Kota Marisa.
"Ichi...." panggil Faisal lagi.
Ichi mendekatkan wajahnya lagi. "Ya?"
Faisal menoleh sedikit namun kedua matanya awas menatap jalanan. "Kamu nggak marah kan dengan ciumanku kemarin-kemarin itu?"
Ichi langsung menunduk dan menarik wajahnya. Ia diam meski akhirnya sebaris senyum terbit dibibirnya.
"Ichi... kamu.... nggak marah kan?" tanya Faisal agak keras karena suaranya teredam sedikit oleh deru angin.
"Kenapa? Kakak takut ya?" pancing Ichi.
Faisal terkekeh, namun tak terdengar oleh Ichi sebab terhalangi deru angin yang menampar mereka.
"Ya .... takut sih..." gumam Faisal dengan pelan.
"Kalau Kakak takut, kenapa nyosor?!" tukas Ichi dengan alis berkerut.
"Ya... pengaruh rasa.... rindu... mungkin?" gumamnya dengan pelan, takut terdengar gadis itu.
Kendaraan itu tiba diperempatan lagi. Faisal membelokkan kendaraannya ke kanan menuju jalanan Hulude Bunggu.
"Kalau Kakak takut, jangan sok nekat!" tegur Ichi dengan ketus. "Itu kan... ciuman pertama..." ujarnya dengan pelan.
Alis Faisal langsung terangkat. "Hah?! Apa?!"
"Nggak!!!" seru Ichi.
"Aku tahu kau mengatakan sesuatu." tukas Faisal. "Apa yang kau katakan tadi, Ichi?"
"Ya... nggak ada." kilah Ichi dengan ngotot.
"Eh, meskipun telingaku ini sulit menangkap suara sebab bertengkar dengan suara deru angin, taoi sayup kudengar kau mengucapkan sesuatu... seperti... ciuman?" tebak Faisal. "Ciuman apa Ichi?"
"Ciuman apa?!" bantah gadis itu, "Memangnya aku bicara tentang ciuman?"
"Ya!" tandas Faisal dengan mantap. "Aku yakin kau bicara tentang ciuman..."
Kendaraan itu melambat ketika menemukan sebuah persimpangan. Faisal membelokkan kendaraannya ke kanan memasuki jalanan kecil yang diaspal tersebut.
"Ciuman apa Ichi? Ciuman kita ya?!" tebak Faisal.
Ichi hanya bungkam. Faisal melambatkan kendaraannya lalu menghentikannya. Tubuh lelaki itu memutar sejenak dan tatapan pemuda itu menghujam Ichi yang duduk menegakkan tubuhnya diboncengan.
"Kau bicara tentang ciuman kita, kan?" tebak Faisal sembari menegakkan penonggak samping untuk menyangga kendaraan roda duanya.
Ichi menunduk sambil mempermainkan tali ranselnya.
"Apaan sih... sudah mau maghrib tuh." balas Ichi dengan ketus, takut tertebak isi hatinya.
Faisal tersenyum. "Aku nggak akan menjalankan kendaraan ini sampai kau menjawab jujur."
"Ya, sudah." seru Ichi langsung meluncur turun. "Aku jalan kaki saja. Lagipula sudah dekat." Gadis itu melangkah santai meninggalkan Faisal yang terkejut.
"Eh, tunggu dong. Main tinggal saja!" omel Faisal langsung turun dari sepeda motornya dan mengejar Ichi. Dengan cekatan dipegangnya pergelangan tangan gadis itu. Ichi berhenti dan menoleh menatap Faisal.
"Kak, lepasin! Itu sudah mau maghrib!" ujar Ichi dengan ketus.
"Nanti kita sholat maghrib sama-sama." kata Faisal.
Ichi langsung tertawa, "Mau barengan? Eh, maksudnya mau jama'ah?" pancingnya dengan senyum terkembang.
Faisal mengangguk.
"Kakak siapa?" sindir Ichi. "Keluarga juga bukan. Kalau sahabat sih iya..." oloknya.
"Sahabat?" tukas Faisal. "Jadi kamu anggap aku hanya sahabat?" ujarnya dengan kecewa.
"Mau Kakak bagaimana?" tanya Ichi memancing.
"Yaaa...." ujar Faisal namun ia benar-benar tak mampu menyebutkan dalihnya.
"Pacar? Kekasih? Suami?" pancing Ichi lebih berani.
Faisal menelan salivanya dengan wajah yang memerah. "Kau.... mau?" tanyanya dengan lirih san melengking.
"Apanya?" tanya Ichi.
"Itu..." ujar Faisal.
"Itu apa?" tanya Ichi, "Yang jelas ngomongnya!" omelnya.
"Itu...." ujar Faisal membelalakkan matanya.
"Itu..." gumam Ichi menerawang, lalu sejenak kedua matanya melebar dan menunduk menatap kedua dadanya. Sontak gadis itu meronta.
"Enak saja! Nggak! Eh, Kakak mau perkosa aku ya?!" seru Ichi dengan marah dan meronta.
"Eh, yang mau perkosa kamu siapa?!" tukas Faisal dengan berang.
"Itu! Tadi Kakak kan bilang itu, itu sambil melotot ke arah dadaku! Memangnya dadaku apaan?!" seru Ichi kembali meronta. "Lepaskan! Atau kutendang selangkang Kakak, pecah dua kanikernya dan Kakak langsung impoten, Mau?!" ancam Ichi juga membelalakkan matanya.
"Ih, sadis benar kamu!" seru Faisal melepaskan pegangannya, takut Ichi benar-benar mengaplikasikan kata-katanya.
Keduanya kini berdiri berhadapan. Ichi berdiri dengan sikap siaga.
"Lalu kenapa Kakak tadi memelototkan mata sambil menatap dadaku?!" todong Ichi.
__ADS_1
"Siapa yang melototi dadamu, Chi?!" bantah Faisal.
"Terus?!" tuntut Ichi.
"Tadi kau kau tanya...." ujar Faisal dengan sabar.
"Tanya apa?!" tuntut Ichi.
"Itu..." ujar Faisal tanpa sadar memelototkan lagi matanya.
"Tuh kan?! Melotot lagi matanya?! Kakak ini monduhu ya?!" tukas Ichi menudingkan jarinya ke wajah Faisal.
"Tadi kamu bilang kalau aku mau jadi pacar, kekasih dan suami kamu?! iya kan?!" seru Faisal membuat Ichi terdiam.
Keduanya kini diam saling menatap. Ichi mengatur napasnya lalu melangkah mendekat. "Memang....aku pernah bilang... itu?" tanyanya dengan lirih dan mengangkat alisnya sebelah kiri.
Faisal menampar keningnya sejenak, kemudian menatap Ichi. "Tadi... kan kamu bilang..."
Ichi langsung tersipu-sipu. Faisal menghela napas.
"Iya kah?" tanya Ichi lagi.
Faisal mengangguk.
"Kakak.... mau... ya?" pancing gadis itu.
Faisal langsung mengangguk, dan langsung membuat Ichi tersipu-sipu lagi.
Faisal terhenyak kembali namun tak bisa lagi berkilah. Akhirnya ia mendesah.
"Ahhhh.... aku tak bisa lagi menyembunyikan hatiku..." desahnya lalu menatap Ichi dan tangannya terulur memegang lagi tangan Ichi.
"Ichi... maukah kau menjadi pacarku?" tanya Faisal dengan suara lirih.
Ichi hanya tersipu-sipu lagi.
"Chi.... aku butuh jawabanmu..." pinta Faisal.
"Nggak!" jawab Ichi menggeleng.
"Nggak?" ujar Faisal dengan kecewa.
Ichi mengangguk namun bibirnya terus tersungging senyuman lebar. Faisal menatap memelas.
"Kenapa?" tanya pemuda itu dengan perasaan hancur.
"Abi melarangku pacaran..." jawab Ichi dengan jujur.
"Lalu?" tanya Faisal, berharap jika gadis itu merubah kata-katanya demi menenangkan pemuda itu.
Ichi mendekat lebih dekat lagi. Jemari lentik gadis itu terulur menjamah pipi Faisal.
"Kalau Kakak serius... pergi sama Abi. Nyatakan niat Kakak dan tunggulah keputusan beliau." ujar Ichi.
Faisal terkejut. "Maksudmu melamar?"
Ichi mengangguk.
Faisal langsung menggaruk-garuk kepalanya. "Aduh, gimana ya?" desisnya dengan cemas.
"Aku ini masih kelas 7, Kakak masih kelas 10...masa depan kita masih jauh lho Kak." ujar Ichi dengan lembut namun tetap tersenyum. "Mau nikah dini?"
Faisal masih tetap menggaruk-garuk kepala. Ichi sejenak cekikikan lalu menyapu-nyapu dada bidang pemuda itu.
"Kakak..." panggilnya.
Faisal menatap Ichi.
"Kalau Kakak serius... ya... setidaknya jagalah hati...itu saja." ujar Ichi dengan lembut. "Ichi tahu kok... dari gaya ciuman itu...Kakak cinta sama Ichi... tapi..." Gadis itu kembali menunduk sejenak mengumpulkan hati, kemudian kembali menayap Faisal.
"Kita masih siswa yang membutuhkan bimbingan. Masih terpampang jauh masa depan kita." nasihat gadis itu. "Aku tak melarang Kakak mencintaiku. Aku bersyukur... tapi... aku juga tak mau mengikat Kakak dalam gaya percintaan monyet ini... dan jika prinsipku seperti itu, maka Kakak juga harus memahami bahwa tidak ada dalam ajaran islam tentang pacaran... yang ada itu ta'aruf. Jadi...kalau Kakak memang serius sama aku, alhamdulillah.... aku akan berupaya menjaga hati ini untuk Kakak. Tapi kalau Kakak juga sudah punya tambatan yang lain..."
"Aku nggak mau punya tambatan yang lain." sela Faisal dengan gusar.
Ichi sejenak tertawa pelan. "Iya... Ichi tahu hal itu. Makasih ya?..."
"Aku hanya mau sama kamu." tandas Faisal.
"Makasih..." jawab Ichi.
Faisal menghela napas dan memejamkan mata kemudian menghembuskannya dengan pelan dan menatap Ichi.
"Ana u hibbu alaik..." ujarnya dalam bahasa Arab.
Ichi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Jaga hatiku..." pinta Faisal dengan memelas.
"Insya Allah...." jawab Ichi.
Faisal tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Ichi memundurkan wajahnya.
"Kakak mau apa?!" tanya Ichi.
"Mau...." ujar Faisal kemudian memajukan bibirnya.
Sontak telapak tangan Ichi langsung menyumpal bibir pemuda itu. "Nggak! Kakak sudah berani nyosori bibirku, tanpa ijin! Jadi untuk saat ini hal itu tak akan kuberikan...." ujarnya sambil menatap tajam. "Kalau Kakak tetap maksa minta ngesun, tuh sana pohon jancukan (pohon tahi) sangat menginginkan ciuman kakak." ujarnya sambil menganggukkan kepala ke sebuah tanaman rimbun.
"Enak saja." seru Faisal langsung menarik wajahnya membuat Ichi tertawa geli. "Bisa bengkak bibir aku."
Keduanya tertawa.
"Kakak... antarin aku pulang dong." pinta Ichi lagi dengan manja.
"Pasti..." seru Faisal kembali naik ke kendaraannya.
__ADS_1
Ichi kemudian naik ke boncengan lagi. Tak lama kemudian kendaraan itu melaju lagi menyusuri bagian dinding belakang SDIT Al-Izzah hingga mengikuti alur jalan yang membelok dan menuru dan mendekati kawasan pemukiman.
Ichi terkejut. "Lho? Kok?" ujarnya dengan heran melihat dua buah mobil polisi parkir disisi pagar kediamannya.[]