KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
ALL IS WELL...


__ADS_3

Ichi mencak-mencak sendirian. Nilai matematikanya jeblok. Gadis itu mengumpat-ngumpat sejadi-jadinya. Tapi segala macam makian itu tak diumbarnya didalam kelas. Bisa-bisa dia dijewer dan skorsing nggak boleh ikut lagi mata pelajaran Matematika tanpa waktu yang tak ditentukan oleh pengampuh mata pelajaran itu.


Mau meremas kertas ulangan, gadis itu tak berani. Pengajar mapel matematika menyuruh masing-masing siswa membawa kertas ulangan itu ke rumah untuk ditandatangani oleh perwakilan orang tua masing-masing siswa.


Namun memperlihatkan kertas ulangan yang nilainya jeblok, sama saja mengumpankan kepala ke mulut singa betina yang penuh amarah. Gadis itu kalut bukan main. Ichi memang tak dituntut sang ayah untuk bisa menjuarai setiap mapel yang ada. Namun yang diinginkan sang ayah adalam penguasaan yang sempurna terhadap materi pembelajaran itu sendiri.


"Jangan mengejar poin. Tapi kejarlah pemahaman. Kau akan memahami kesempurnaan jika kau memahami sebuah ilmu pengetahuan." ujar sang ayah berkali-kali disetiap pertemuan dengan Ichi. Gadis itu memahaminya benar-benar.


Namun ibunya tidak menganut sistim pemikiran yang dianut ayahnya. Sang ibu terbiasa dalam kondisi kemenangan sehingga sebuah kekalahan, setitik saja akan membuat dirinya meradang.


Tengah kusut menghadapi dilema, terdengar sebuah sapaan. Ichi menoleh. Disana, bersandar Faisal Husein menatapnya dengan senyum.


"Kenapa sih wajahnya kusut begitu?" tegur Faisal. "Cantiknya nanti hilang lho."


Wajah Ichi tetap saja merengut. Gadis itu melangkah mendekati Faisal lalu duduk di sisi gazebo. Pemuda itu memajukan tubuhnya mendekati gazebo dimana Ichi duduk sambil menatapi kertas ulangan matematika itu. Ia duduk disamping gadis itu, melongok sedikit kearah kertas tersebut lalu mengangguk-angguk.


"Nilainya jeblok ya?" gumam Faisal pelan.


Ichi hanya mendengus.


"Ah... santai saja, Ichi." ujar Faisal. "Ini bukan hari kiamat, kan?"


"Kalau nggak paham kondisi, nggak usah nasihati hal yang bikin aku tambah nggak eneg!" ujar Ichi dengan ketus.


"Memangnya kenapa? Kok mukanya kusut begitu? Cantiknya hilang lho." ujar Faisal lagi dengan wajah yang tetap tenang.


Ichi menoleh menatapnya, "Kak Fais, nggak lucu!" ujarnya tambah ketus.


"Okey, sekarang katakan padaku. Ada apa?" tanya Faisal dengan lembut.


Ichi jadi tak tega memarahi pemuda itu. Ia kemudian menjelaskan latar belakang mengapa ia mengumpati mapel tersebut.


"Siapa sih yang nemui matematika ini?! bikin dunia tambah ribet saja! Kalau nggak ada matematika, pasti dunia tambah aman!" omel Ichi uring-uringan.


Faisal tertawa. "Justru matematika mempermudah kehidupan Ichi. Bayangkan jika angka-angka tak ditemukan. Kita mau menghitung menggunakan simbol apa? Nggak mungkin lah menggunakan simbol abjad."


"Tapi aku benci sekali. Jika perhitungan sederhana, mungkin saja aku bisa menyelesaikannya. Tapi kalau sudah rumus-rumus yang modelnya saja sudah kayak cako-cako, mata aku, juga otak aku, juga ikut terbelit-belit pula. Brengsek benar..." umpatnya kemudian menatap Faisal, "Siapa sih yang nemui matematika pertama kali?!"


Faisal tersenyum. "Allah..." jawabnya pendek dan padat.


"Yeee... itu juga aku tahu!" gerutu Ichi, "Maksudku, ilmuwan siapa sih yang nemui matematika ini?!"


"Sebenarnya matematika bukan bahasannya ilmuwan. Matematika justru pertama kali dibahas oleh para pilosof. Matematika berasal dari kosakata yunani, mathema yang berarti mata pelajaran. Mathema merupakan materi pembahasan logika atau mantiq yang dibahas para pilosof menggunakan simbol-simbol angka." ujar Faisal kemudian melempar senyum kepada Ichi.


Langsung saja minat Ichi terhadap sejarah muncul. Wajahnya langsung berbinar. "Terusin penjelasannya dong." tuntut Ichi kemudian memasang sikap duduk siap dikuliahi.


Faisal mengangkat alisnya lalu tersenyum melihat sikap gadis itu. Ia senang terhadap gadis itu karena Ichi paling suka mendengar materi bahasan yang menyinggung tentang sejarah, tentang asal mula. Pemuda itu kemudian menjelaskan lagi.


"Thales dari Miletus, juga Pythagoras dari Samos diakui sebagai orang-orang yang pertama membahas mathema dalam setiap diskusi filosofinya dengan para muridnya. Bahkan dikatakan, Pythagoras sendiri pernah mengembara ke Sumeria dan Mesir hanya untuk mempelajari hitungan, geometri dan astronomi dari para pendeta mesir." ujar Faisal.

__ADS_1


"Hah! mereka berdua rupanya yang harus kuganyang karena berani mempublikasikan matematika ke khalayak ramai hingga kemudian terkenal didunia! Tunggu saja. Aku akan menemui mereka nanti dan ku umpat-umpat keduanya." omel Ichi sambil mengacungkan tinjunya.


Faisal tertawa. "Masih mau dengar nggak?" pancingnya.


Ichi menurunkan tinjunya lalu menatap Faisal. "Teruskan penjelasannya kak." pintanya.


Faisal kembali menyambung, "Thales menggunakan geometri untuk menghitung tinggi piramida dan jarak perahunya sendiri dari garis pantai. Thales adalah orang pertama yang menggunakan penalaran deduktif dalam geometri. Ia menggagas idenya dalam bentuk teorema Thales."


"Kalau si Pythagoras?" tanya Ichi.



"Pythagoras menggagas ide dengan kalimat segalanya adalah bilangan. Dengan kalimatnya itu, beliau mendakwakan bahwa matematika adalah unsur utama dalam alam semesta." jawabnya membuat Ichi mengangguk-angguk paham lalu mendengus.


"Mereka berdua pantas menerima umpatanku." ujar Ichi dengan wajah yang dibuat seberingas mungkin membuat Faisal malah tertawa.


"Bukan cuma mereka saja yang patut kau umpat." tukas Faisal, "Masih ada Eudoksos, Aristoteles, Euklides, Eratosthenes, Archimedes dari Sirakusa dan masih banyak lagi. Kamu bakalan capek mengumpati mereka satu persatu." ujarnya kemudian menertawai kekonyolan Ichi.


"Memang mereka memiliki andil apa sih dalam matematika?" tukas Ichi.


"Eudoksos merintih teori integrasi, Aristoteles membahas ilmu logika dengan menggunakan rumus-rumus matematika. Apalagi? Euklides? Dia adalah perintis pengertian definisi, aksioma, teorema dan bukti serta penghitungan kerucut. Euklides menulis kitab matematika, Elemen yang membahas tentang membahas tentang bukti dari akar kuadrat dari dua adalah irasional beserta betapa tak terhingganya angka-angka prima yang pernah dibahas oleh Eratosthenes." jawab Faisal membuat Ichi kembali menghela napas.


"Hmmm... aku terpaksa mengakui mereka dengan dasar kebodohanku sendiri." gumam Ichi lalu kembali menatap Faisal. "Sekarang pertanyaannya.... apakah mereka pernah membuat keajaiban dengan ilmu matematika?" tantang Ichi.


Faisal mengangguk. "Archimedes pernah mengangkat sebuah perahu yang tenggelam kembali ke permukaan air dengan teorema yang digagasnya. Kamu tahu apa isi dari teori archimedes?" pancingnya.



Faisal tersenyum lalu menjelaskan. "Archimedes menemukan bahwa gaya apung keatas yang diberikan pada benda yang direndam dalam cairan, entah yang terendam keseluruhannya ataupun hanya sebagiannya, adalah berbanding sama dengan berat cairan yang dipindahkan benda tersebut dan bekerja dalam arah keatas dipusat massa dari cairan yang dipindahkan."



Ichi hanya bisa mengangguk-angguk saja mendengar isi dari hukum atau prinsip Archimedes yang dipaparkan oleh Faisal. Pemuda itu bertanya, "Pernah baca novelnya Andrea Hirata, nggak?" pancingnya.


"Aku hanya tahu novel Laskar Pelangi..." jawab Ichi kemudian terkekeh.


"Novel keempatnya... Mimpi-mimpi Lintang... Maryamah Karpov... pernah baca nggak?" tanya Faisal.


Ichi menggeleng dengan jujur.


"Dikisah dalam novel itu, Lintang, sahabatnya Andrea berhasil mengangkat bangkai sebuah bangkai kapal bajak laut melayu yang sudah lama mendekam didasar sungai sejak jaman kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie milik Kerajaan Belanda, muncul ke permukaan dan menggemparkan masyarakat pada waktu itu. Dengan sisa-sisa kayu serut dari bangkai kapal itu untuk membuat perahunya untuk berlayar ke wilayah musuh demi menyelamatkan kekasihnya A Ling." tutur Faisal.



"Hm... aku harus membaca novel itu." gumam Ichi kemudian.


Faisal tersenyum lagi. "Kamu tahu nggak, angka-angka ajaib dalam matematika?" pancingnya.


"Angka-angka ajaib?" tukas Ichi. "Apalagi tuh?" ujarnya kemudian tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu percaya nggak, jika kukatakan bahwa angka 1, 2, 4, 5, 7, dan 8 adalah angka ajaib?" pancing Faisal lagi sambil tersenyum.


"Ah, yang benar?" tukas Ichi, "Buktinya?"


Faisal meminta Ichi membuka aplikasi kalkulator pada gawainya. Ichi melakukan apa yang diminta pemuda itu.


"Coba kalikan 2, angka 142857." pinta Faisal.


Ichi menekan angka 142857 pada layar kalkulator kemudoan mengalikannya. Alisnya berkerut sejenak dan menatap Faisal. "Dapat 285714." jawabnya.


"Perhatikan... apakah ada yang unik?" pancing Faisal.


Ichi tersenyum. "Hm... ya... jika 142857 kukalikan dua maka angka 1 dan 4 akan pindah dibelakang, jadi 285714." ujarnya. "Menarik juga." komentarnya.


"Oke, sekarang angka yang semula dikalikan 3." pinta Faisal.


"Angka semula? Maksudmu 142857?" tanya Ichi.


Faisal mengangguk. Ichi melakukan apa yang perintahkan pemuda itu. Alisnya terangkat dan sekehan tawa pelan keluar dari mulutnya.


"Kali ini angka 1 yang pindah dibelakang.... 428571..." jawab Ichi yang mulai muncul minatnya.


"Okey, sekarang angka semula dikalikan dikalikan 4?" pancing Faisal.


Ichi kembali melakukan apa yang diperintahkan Faisal. Tak lama ia kembali terkekeh, "Angka 57 pindah ke depan... 571428..." ujar Ichi.


"Coba kalikan 5." pinta Faisal.


"142857 dikali 5..." gumam Ichi menekan tuts layar sentuh. Ia tersenyum lagi. "715285.... kok bisa begitu ya?" tukas Ichi menatap Faisal.


Pemuda itu hanya mengangkat bahunya. Faisal kembali memerintahkan untuk mengalikan angka 142857 dengan 6. Ichi melaksanakan intruksi itu. Tak lama ia menatap Faisal lagi.


"Angka semula yang dibelakang. Angka 142 yang semula prioritas digantikan oleh 857 yang kini bersanding didepan..." jawab Ichi. "Semua angka tak pernah selesai. Tetap sama dan tak berubah... yang berubah hanya posisinya saja."


Faisal mengangguk. "Coba kau kalikan angka semula dengan angka semula pula." pancing pemuda itu.


Ichi mengalikan angka 142857 dengan 142857. Kedua mata lentiknya makin membulat. Ia menatap Faisal.


"142857142857...." ujar Ichi. "Kedua angka semula itu berdempetan." gadis itu speechless benar dengan keunikan angka-angka tersebut.


"Benar, kan penalaranku?" ujar Faisal. "Sekarang bersiaplah untuk terkejut lagi. Coba kalikan angka semula dengan angka 7. Kali ini, ku yakin kau akan makin bungkam..."


Ichi melaksanakan perintah itu. Tak lama ia kemudoan memekik kaget. "Subhanallah.... angka itu berubah... menjadi 999999.... ini aneh banget!" serunya.


"Sekarang kau paham bahwa matematika sangat berguna dalam kehidupanmu, kan?" tukas Faisal.


Ichi akhirnya hanya bisa tersenyum canggung dan mengusap-usap bagian atas jilbabnya. Faisal tersenyum.


"Masih banyak sebenarnya keajaiban matematika. Nanti kau akan menemukannya." ujar Faisal. "Sudah nggak jengkel lagi?"

__ADS_1


Ichi terkekeh lalu menggeleng. Faisal mengangguk lagi. "Beranilah sebagaimana namamu, Ichi. Bukankah arti namamu adalah Pengibadat cantik yang taat dan memiliki pengetahuan luas?" sindir Faisal dengan senyum.


Ichi hanya bisa tersipu saja, sedangkan Faisal bangkit dan meninggalkan gadis itu duduk sendirian di gazebo setelah terlebih dulu pamit meninggalkan sensungging senyum simpatik yang berkesan dihati jilbaber tersebut. []


__ADS_2