KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
THE BULLIESS...


__ADS_3

Seperti biasanya. Ichi paling pertama hadir ditempat itu. Gadis itu dididik ayah-ibunya sedisiplin mungkin. Jaman yang mulai mendekati kiamat semakin menghilangkan sekat bahwa kemapanan merampas sifat pejuang dalam diri setiap anak bangsa.


Sang ayah dan ibunya, paling benci lihat Ichi kalau sudah tenggelam dalam permainan game online. Bawaannya pasti seperti alien yang terpenjara dalam sekat virtual yang tersembunyi dalam realitas kehidupan manusia.


Hanya satu cara yang dilakukan Azizah untuk menarik paksa putrinya yang terjebak dalam kondisi subsconcius vitual itu. Longungu (tamparan keras ditengkuk) atau tedu'o waw tepa'o (sepakan dan tendangan) diwilayah pantat, pasti akan membuat anak perempuan itu tersadar dan membanting-banting kakinya dengan kesal jika diperlakukan begitu oleh ibunya.


Sang ayah tak pernah melarang apapun hal yang dilakukan Ichi. Prinsipnya, selama itu tak melanggar syari'at, etika, dan kepatuhan kepada orang tua, ya... sah-sah saja. Sang ayah yang seorang guru memang memiliki pemikiran yang pasti akan di cap sesat oleh para pendidik konvensional bin ortodoks sebab nyeleneh mirip gayanya Syaikh Siti Jinnar. Yang bisa memahami gaya pikiran lelaki itu dan sekaligus mendebat serta membungkamnya, hanyalah seseorang yang punya pemikiran sekaliber Jebeng (Sunan) Kalijaga.


Mengapa demikian?


Ada beberapa arch rival didunia ini yang menjadi penyeimbang ekosistem pemikiran manusia tentang alam semesta. Dalam konsep pewayangan dikenal rival Arjuna-Karna, jika bicara tentang rivalitas dikalangan para ulama salaf, mungkin sekelas Umar bin Khatthab versus Abu Bakr ash-Shiddiqh.


Kasus impeachment sang ayah dari Pesantren Hidayatullah Marisa waktu itu (Sang ayah menyebut lembaga itu dengan sebutan Hiddentullen😁😁😁) disebabkan oleh kesalah pahaman memahami konsep pemikiran sebab kebanyakan guru dan orang-orang yayasan itu memiliki pemikiran berbasis tekstual, sedang si lelaki memiliki gaya pemikiran kontekstual tentang kedudukan Al-Qur'an itu sendiri.


Masih banyak kesesatan yang dipamerkan sang ayah dalam hal pemikiran. Itulah mengapa, rivalnya adalah orang-orang sekelas Thariq Modanggu, S.Ag, M.Pd.I (sekarang menjabat sebagai Wabup Gorontalo Utara) atau Arton Nasaru, S.Ag, M.Sc. (Pimpinan Yapis Al-Ihsaan Patilanggio) yang sama-sama filosofis. Bagi siapapun yang melihat sang ayah pasti akan menganggap lelaki itu adalah Dajjal Pemikiran.


Ichi melangkah santai setelah memarkir sepeda motor listriknya, melintasi lapangan menuju kelasnya. Namun sayup-sayup ia mendengar suara-suara disisi bangunan. Dengan rasa penasaran, jilbaber itu melangkah pelan setengah mengendap untuk memergoki suara-suara tersebut.


Tibalah dia disisi bangunan dan mengintip sedikit. Nampak seorang lelaki kurus kerempeng, sebelas-dua belas dengan tampangnya Ichi, dirundung oleh dua orang siswa. Kelihatannya mereka sekelas karena siswa yang merundung dan mengancam itu mengungkit-ungkit tentang contekan.


Ichi menimbang-nimbang. Haruskah ia mencegah hal tersebut? Sekali lagi gadis itu mengintip dan menyaksikan lelaki kurus itu dipermak dan dipermalukan. Hati Ichi bimbang. Haruskah? Biarkanlah? Haruskah? Biarkanlah?


Ditengah kecamuk kebimbangan relung hatinya, Jilbaber itu mengintip lagi dan menyadari bahwa acara perundungan itu telah berakhir. Dua orang lelaki itu telah pergi sambil tertawa-tawa, seakan puas menggagahi lelaki lemah kurus itu dari segi kekuasaan fisik.


Lelaki kurus itu perlahan menggelosorkan tubuhnya, hingga akhirnya duduk jongkok memegangi perutnya yang melilit sakit bercampur rasa mual yang memerihkan ulu hati.


Ichi keluar dari persembunyiannya. Langkah gadis itu pelan terayun hingga tiba ditempat laki-laki yang meringis kesakitan itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ichi dengan pelan.


Wajah pemuda itu menengadah menatap seorang jilbaber dihadapannya. Tatapan gadis itu datar, dingin namun terarah. Sembari meringis, pemuda itu bangkit perlahan lalu berdiri meskipun masih menjadikan dinding sebagai landas sangga tubuhnya yang lemah akibat dipukuli.


"Semestinya, kau melaporkan mereka kepada konselor madrasah." tukas Ichi melirik sejenak kearah menghilangnya dua lelaki yang merundung pemuda tadi. "Mereka anak-anak asrama ya?"


Pemuda itu mengangguk. Ichi menatap pemuda tersebut. "Kau juga anak asrama?" pancingnya.


"Iya..." jawab pemuda itu. Ia meringis lagi, "Percuma melaporkan mereka ke Konselor."


"Kenapa?" tanya Ichi penasaran.


Gadis itu sudah menjalani empat bulan keberadaannya di madrasah itu. Rencananya, kedua orangtuanya hendak merencanakan agar gadis itu bisa menetap di asrama. Harapannya tentu untuk melatih kemandirian juga kepemimpinan. Namun pandemi berhasil mengurungkan niat kedua ayah-ibunya untuk merealisasikan keinginan itu.


"Mereka anak-anak pejabat. Banyak dukungan yang mereka peroleh..." ujar pemuda itu dengan lirih.


"Semisal?" pancing Ichi lagi.


"Semisal... kekebalan hukum..." jawab pemuda itu.


Ichi menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sikap prihatin lalu mendekat lagi.


"Kau masih kuat berjalan?" tanya gadis itu.


"Semoga saja bisa." ujar pemuda itu berupaya menjauhi dinding.


Ichi dengan tanggap meraih tangan pemuda itu lalu memapahnya menjauhi tempat tersebut. Mereka berdua melangkah pelan hingga tiba di gazebo. Ichi mendudukkan pemuda tersebut disisi gazebo itu.


"Kalau aku tak salah..." ujar pemuda tersebut. "Namamu... Adiratna Ardhanareswari, kan?" tebaknya.


"Iya..." jawab Ichi pada akhirnya. "Panggil saja aku, Ichi..."


"Ichi?" tukas pemuda itu kemudian tersenyum, meskipun setelah itu ia meringis lagi. "Bukankah Ichi, dalam bahasa Jepang artinya Satu?"


Ichi mengangkat alis dan mengangguk-angguk. "Iya... aku dinamai Ichi, karena aku tunggal... anak semata wayang." jawab Ichi.

__ADS_1


"Nggak mungkin cuma perkara itu." tukas pemuda itu lagi.


Ichi kembali menghela napas lalu berkisah. "Abi adalah seorang Weabo. Beliau pernah cerita... ketika Umi masih mengandungku, Abi senang menonton film Ichi, yaitu gadis yang diajari seni iaijutsu oleh Zatoichi... makanya beliau memberikan nama itu untukku." setelah berkisah, senyum datar muncul dibibir jilbaber itu.


"Senyummu indah..." puji pemuda itu.


NYESSSSSSS.....WENGWENGWENG....


semburat lembayung samar nampak dipermukaan kulit pipi jilbaber itu namun Ichi kemudian mendehem keras menghilangkan baper itu. Tatapan datarnya kembali muncul.


"Lain kali, bagaimanapun itu, bagaimanapun caranya... para Bulliess itu harus dilaporkan ke Konselor." tegur Ichi. "Mereka nggak boleh seenaknya memperlakukan kamu begitu. Kita manusia ini memiliki hak asasi." gadis itu berdiri. "Aku lapar..." ujarnya meringis memegang perut. "Aku tinggalkan kamu. Aku hendak ke kantin...."


"Silahkan..." ujar pemuda itu dengan senyum yang perlahan mulai mengembang.


Ichi mengangguk-angguk pelan lalu berbalik hendak melangkah lagi.


"Ichi...." panggil pemuda itu, membuat langkah kaki gadis itu tertahan lagi. Ichi menoleh menatap pemuda tersebut. ia mengangkat alis...


"Namaku Faisal Husain Polontalo..." ujar pemuda tersebut.


Terdengar sejenak sekehan tawa pelan. Ichi menyahut, "Aku nggak nanya..." ujarnya.


Wajah lelaki yang duduk di gazebo itu memerah. Kemungkinannya ia malu di sogol gadis itu. Ichi langsung tertawa, "Tapi makasih ya, sudah memberi tahu namamu.... bye... Is.." ujar Ichi melambaikan tangan lalu berbalik lagi dan melangkah cepat meninggalkan gazebo tersebut.


"Is?..." gumam pemuda itu sejenak, kemudian tersenyum.


Sementara Ichi telah berjalan jauh menyusuri jalanan SIS al-Jufri... menuju kantin, membeli nasi kuning kegemarannya.


...*****...


Ichi mengikuti ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Gau tentang pentingnya mengenal sifat-sifat dan kekuasaan Allah. Hari itu adalah giliran anak-anak madrasah tsanawiyah menghadiri kegiatan tersebut, dari kelas 7 hingga kelas 9, terkecuali yang mengalami menstruasi. Para pendidik dari kalangan wanita disuruh memeriksa untuk memastikan anak-anak siswi itu tidak berbohong. Bagi yang terkena menstruasi, disuruh untuk melakukan kebersihan dikelas dan taman disiang terik itu, dipantau oleh masing-masing perwalian kelas.


Ruangan masjid dipenuhi oleh membludaknya jumlah siswa-siswi madrasah tsanawiyah. Ustadz Gau selesai menyampaikan materi ceramahnya kemudian menatap para siswa.


Ichi menoleh kesana kemari melihat, apakah diantara siswa-siswi yang berjubel itu. Tak ada satupun mereka yang mengangkat tangannya. Ustadz Gau mengangguk-angguk pelan.


"Baik... kupikir kalian sudah paham." ujar Ustadz Gau hendak menutup ceramah. Namun ia tertahan sejak dikerumunan siswa yang duduk itu, mengacunglah keatas sebatang lengan.


"Ya, yang mengangkat balik tangan!" ujar Ustadz Gau, "Silahkan berdiri..."


Ichi bangkit dan berdiri tegak. Ustad Gau kaget, menyadari siapa gadis yang berdiri itu. Waddduuuhhh... si sesat kecil ini lagi....


"Yang lain saja dulu." sela Ustadz Gau.


Ichi paham mengapa pria itu menyuruh siswa yang lainnya untuk bertanya. Lelaki itu sudah tahu kapasitas otak Ichi yang sesisi benar dengan ayahnya. Ichi mengedarkan pandangannya menantang siapapun yang hendak berdiri untuk menggantikan dirinya.


Ustadz Gau kecewa karena tak ada satupun siswa yang berdiri agar gadis itu tidak lagi berdiri disana. Ustadz Gau menghela napas.


"Ya, sudah..." ujar Ustadz Gau memasang wajah siap menerima pertanyaan yang kemungkinannya bersifat rundungan itu. "Apa pertanyaanmu?"


Ichi tersenyum sejenak dan Ustadz Gau merasai bahwa senyuman gadis itu bagaikan seringai wangubi jelita yang hendak memangsanya. Ustadz itu bergidik.


"Pak...apakah Allah mampu menciptakan sebuah benda yang Dia sendiri tak mampu mengangkatnya?" tanya Ichi.


Seketika ruangan masjid itu heboh lagi dengan gaya pertanyaan Ichi yang nyeleneh itu. Sebagian saingannya langsung mengatainya sesat, kafir dan sebagiannya hanya ternganga tak percaya jika gadis itu mengutarakan pertanyaan yang begitu rawan menggoncang wilayah keimanan seseorang.


Ustadz Gau diam sejenak menilai respon para siswa. Lelaki itu kemudian menatap Ichi.


"Adiratna... apakah kau tak menyadari jika pertanyaanmu ini, jika tidak dicermati baik-baik, akan membuat orang-orang kehilangan keyakinan terhadap sendi agamanya sendiri?" pancing Ustadz Gau menatap tajam jilbaber itu.


Ichi tersenyum sejenak ia mengedarkan tatapannya kepada para siswa-siswi, entah itu teman sejawat, seleting maupun kakak-kakak kelasnya. Gadis itu kembali menatap Ustadz Gau dan melempar senyum licik.


"Justru Ustadz harus menjelaskannya sekarang supaya mereka bisa paham." ujar Ichi tetap dengan senyum liciknya.

__ADS_1


"Mereka sebagiannya akan sulit menyelami hal itu." tukas Ustadz Gau memicingkan mata. "Ini masalah ketauhidan, Adiratna..."


"Berarti Ustadz tak mampu menjawabnya?" tukas Ichi tetap mempertahankan senyumnya. "Bahkan Abi yang dianggap sesat, mampu menjawab pertanyaan gampang ini."


Tiba-tiba seorang pemuda berdiri. "Ichi... terkadang pengetahuan tidak boleh sembarangan disampaikan." tandas pemuda itu.


Ichi menatap pemuda itu. "Ooo... Faisal Husain..." gumam gadis itu sejenak lalu tersenyum. "Apa kau bisa menjawabnya?"


Pemuda itu, Faisal Husain yang tadi pagi menerima rundungan dari seniornya itu sejenak menghela napas panjang lalu menunduk.


"Apakah kau bisa menjawab pertanyaan itu, Kak Is?" tantang Ichi lagi kali ini bercakak pinggang.


Faisal Husain mengangkat wajah menatap Ichi. "Aku bisa menjawabnya... tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?" tanya Ichi mengangkat dagunya.


Faisal menatap Ustadz Gau kemudian mendatanginya. Pemuda itu kemudian duduk berlutut dihadapan lelaki itu dan berbicara dengan sangat pelan. Ustadz Gau mengangguk-angguk kemudian bangkit berdiri. Ia menatap seluruh siswa-siswi madrasah tsanawiyah tersebut.


"Ceramah siang ini selesai. Silahkan kalian semua meninggalkan tempat ini." ujar Ustadz Gau dengan lantang.


Terdengar suara gaduh, campuran gerutuan para siswa dan suara langkah kaki meninggalkan ruangan masjid itu. Kini tinggallah Ichi, Faisal dan Ustadz Gau ditempat itu.


"Aku akan menjawab pertanyaan kamu itu." ujar Faisal. "Syarat kedua... jangan pernah mengajukan lagi pertanyaan demi pertanyaan yang menggoncangkan benak teman-teman yang masih awam tentang ilmu ketauhidan. Kau bisa melakukannya?" tuntut Faisal menudingkan jarinya kearah Ichi.


Ichi dengan kesal menampik tangan pemuda itu. "Sembarangan tunjuk-tunjuk dadaku." gerutu gadis itu. Ia bercakak pinggang lagi. "Coba dijawab saja pertanyaanku itu."


Faris kemudian melangkah menuju whiteboard yang digunakan untuk menuliskan beberapa materi dakwah disetiap pertemuan kajian interen pondok pesantren. Pemuda itu menghapus beberapa tulisan pada whiteboard itu.


Faisal kemudian mengambil spidol yang diletakkan disisi whiteboard dan mulai menggambar suatu pola. Setelah menggambar pola itu, pemuda itu menatap Ichi.



"Kau kenal pola ini?" pancing Faisal.


"Hei... aku kenal pola ini." tukas Ichi. "Di film Avenger-End Game, Tony Stark membuat pola ini di meja holografis miliknya untuk menguji perjalanan lintas waktu."


Faisal mengangguk. "Ya. Tapi apakah kau tahu pola apa jni?"


"Nggak." jawab Ichi dengan enteng.


"Lho? Katamu tadi ayahmu sudah menjelaskan konsep itu padamu." tukas Faisal.


"Ya, tapi nggak pake gambar-gambar pola itu." ujar Ichi dengan kesal, "Memangnya pola apa itu? Bikin penasaran saja." gerutunya.


"Ini disebut Mobius Strip." jawab Faisal, "Pola ini paling terkenal dalam pelajaran eksakta, menunjukkan sesuatu yang tidak terbatas... unlimited...itulah sifat-Nya."


"Oh, kalau itu, aku juga tahu." tukas Ichi mendengus, "Tapi bagaimana ia bisa menciptakan sesuatu yang tak mampu diangkat oleh-Nya sendiri?"


"Itu gampang!" tandas Faisal. "Caranya adalah merubah hukum itu sendiri. Bukankah kau tahu bahwa Allah menciptakan hukum yang disebut Sunnatullah dan Inayatullah, kan?"


Ichi mengangguk.


Faisal melanjutkan, "Dia akan merubah hukum yang dibuat-Nya sendiri sehingga ia bisa menciptakan sesuatu yang tak bisa diangkat-Nya."


Alis Ichi berkerut-kerut sendiri. Faisal tersenyum. "Bingung ya?"


Ichi hanya mendesah. "Baiklah... Saya menyerah kalah kali ini. Mulai hari ini, saya tak akan bertanya yang menurut anda semuanya aneh." Gadis itu membungkuk datar kepada Ustadz Gau. "Saya permisi, Ustadz. Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam." jawab Ustadz Gau dan Faisal berbarengan. Ichi melangkah keluar ruangan itu dan melangkah meninggalkan masjid dengan langkah gontai.


Sepeninggal Ichi, lelaki berpeci itu menatap Faisal. "Bagus. Kau membuatnya bungkam. Aku jamin setelah ini, ia akan menjadi gadis yang paling adem."


Faisal hanya tersenyum menanggapi ungkapan gurunya itu.[]

__ADS_1


__ADS_2