KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
NAMA DALAM KENANGAN


__ADS_3

Faisal tersenyum-senyum sendirian menyusuri lorong sekolah itu. Tak lama kemudian gawainya bergetar. Pemuda itu berhenti dan merogoh kantongnya mengeluarkan perangkat komunikasi seluler itu. Ia memperhatikan layar sentuhnya dan alisnya mengerut.


nomor baru... siapa nih?


Gawai itu masih bergetar menandakan panggilannya belum terjawab. Lagipula itu masih didetik ke tujuh. Faisal menyentuh penjawab panggilan. Ia mendekatkan gawai itu ke telinganya.


"Assalamualaikum... halo?" Sapa Faisal dengan lembut hendak melangkah.


"Hai Faisal...." Sapa suara seorang gadis membuat pemuda itu urung melangkah. "Kau masih mengingatku, kan?"


Wajah Faisal mendatar saja.


"Natasha...." ujarnya dengan pelan.


Seketika, kenangan Faisal akan gadis itu melintas lagi dibenaknya.


...*******...


Surabaya, Juni 2021.


Faisal melangkahkan kaki menyusuri jalanan di Bandara Juanda. Ia baru saja menjalani liburan semester kenaikan kelas. Tidak seperti kebanyakan milyader keturunan arab lainnya, Husein Assegaf justru mengirim putranya ke Gorontalo, ke salah satu familinya yang tinggal di Pohuwato untuk bersekolah di Pondok Pesantren Alkhairaat Buntulia.


Husein Assegaf pernah bertemu muka sekali dengan Sayyid Habib Saggaf bin Muhammad aljufri pada tahun 2018, sebelum kemangkatannya pada 3 Agustus 2021 kemarin, ketika dirinya dalam lawatan dagang ke Palu. Husein semlat mengunjungi Pondok Pesantren Alkhairaat Palu.


Ia terkesan dengan kesehajaan Sayyid Saggaf yang seorang keturunan bani Ba'alawi Sada dari Hadramaut yang masih terhitung golongan Alawiyin.


Sayyid Saggaf tersenyum jika mendengar keinginan Husein untuk menyekolahkan putranya di Alkhairaat.


"Mengapa tidak menyekolahkannya di Gontor? Atau di Gunung Tembak, Kalimantan sana? Lagipula Gontor sangat dekat dengan wilayah tempat tinggalmu. Apa kau tak sayang kepada anakmu yang harus melintasi lautan hanya untuk mengenyam pendidikan gaya wong cilik disini?" pancing Sayyid Saggaf.


"Entahlah... saya hanya merasa cocok saja." jawab Husein dengan nada mantap.


"Tapi.... tanah tempat mencari ilmu untuk putramu bukan disini..." ujar Sayyid Saggaf.


pernyataan sang habib mengecewakan hati Husein. ulama itu tersenyum, "Dia tidak ditakdirkan sekolah disini... tapi di Gorontalo..." ujar habib tersebut.


Husein hanya tersenyum. Semangatnya hilang. Sang Habib tertawa. "Dia akan sekolah di Alkhairaat... tapi di Gorontalo..."


Husein sedikit tenang ketika sang habib menyatakan demikian. Saudagar itu menatap sang guru. "Maksud Habib, saya sekolahkan putra saya di Alkhairaat kota Gorontalo?" tanya Husein.


Sang Habib kembali menggeleng membuat Husein menjadi bingung.


"Sekolahkan dia di Alkhairaat Buntulia... Pohuwato..." ujar Sayyid Saggaf. "Dia akan menemukan belahan jiwanya disana."


Husein terperangah. "Habib...."


Sayyid Saggaf mengangguk pelan. "Salah satu dari tulang rusuk sebelah kirinya, tertancap disana. Jika kau hendak mencari kebaikan untuk putramu... didiklah dia disana."


Kegembiraan meluap dari hati Husein. Saudagar itu mengangguk mantap. "Aku punya famili disana. Anak itu akan kutitipkan kepada mereka."


Sejak itulah Faisal mengenyam pendidikan di Alkhairaat leat bangku Madrasah Aliyah dan aktif dalam kegiatan kepondokan.


...******...


Faisal menghubungi kedua orang tuanya.


📲 "Assalamualaikum, Abi." sapa Faisal.


📲 "Wa alaikum salam... kamu sudah tiba?" ujar Husein, sang ayah. "Jam berapa kamu berangkat?"

__ADS_1


📲 "Abi bagaimana sih? Kan yang ngirim jet pribadi itu siapa? Raja Abrahah?" tukas Faisal dengan kesal.


Terdengar tawa diseberang sana. Langkah kaki pemuda itu masih terayun santai.


📲 "Lays bikhoyr, Hadza lays bikhoyr.... Abah sudah kirimkan Jamal untuk menjemputmu. Kurasa dia sudah ada diparkiran sekarang." ujar Husein.


Faisal mengedarkan pandangannya dalam ayunan langkah menyusuri jalanan itu. Ia menemukan seorang pria parobaya yang berdiri menyandarkan diri pada badan Rolls-Royce Phantom Extended.


Faisal baru saja hendak menyapa ketika tatapannya membentur seorang gadis yang kelihatannya agak kesulitan menarik kopor travel expandable. Faisal langsung mendekati gadis itu.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?" sapa Faisal dengan sopan.


Gadis itu menoleh. Sejenak senyum terbit dibibirnya. "Eh, ya. Bisakah bantu saya membawa koper ini?" tanya gadis itu dengan memelas.


Fandi menatap wajah cantik gadis itu. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah. Serahkan padaku." ujar Faisal dengan santun dan bergerak menggenggam pegangan koper itu.


Gadis itu tersenyum. "Terima kasih." jawabnya dengan ramah.


Faisal tersenyum dan mengangguk lalu keduanya jalan berbarengan. Jamal, sebagaimana seorang supir pribadi merangkap bodyguard hendak menyambut tuan mudanya. Namun tatapan Faisal kepadanya membuat Jamal mengurungkan niatnya.


Kedua muda-mudi itu berjalan seiring. Faisal menatap gadis itu. "Mau kemana sih?" tanya Faisal.


"Oh, Saya ada keperluan sejenak di Surabaya." ujar gadis itu.


Faisal mengangguk-angguk sambil sesekali mencuri pandang kearah Jamal yang masih setia menunggunya disisi kendaraan mahal itu. Faisal membuang wajah lagi.


Keduanya tiba disisi lain parkiran. Ada sebuah taksi disana. Faisal langsung melambaikan tangannya kearah supir taksi yang berdiri disisi mobilnya.


"Itu taksi. Mari kita kesana. Aku ingin kau cepat tiba ditujuanmu." seru Faisal.


"Ke Pakuwon, bang." ujar gadis itu.


Supir itu mengangguk lalu bergerak menuju bagian belakang mobil dan membuka bagasi. Ia menoleh kearah gadis itu.


"Silahkan kopernya ditaruh disini, Non." ujar supir itu.


Gadis itu menatap Faisal. "Terima kasih sudah mengantarku kemari. Kalau nggak ada kamu, kayaknya aku akan kesulitan menemukan tumpangan disini."


Faisal hanya tersenyum dan membiarkan kopor dalam genggamannya diraih supir itu yang kemudian mengangkatnya dan memasukkan benda itu ke bagasi mobil.


"Kau bisa membayarnya dengan menyebutkan namamu." ujar Faisal.


Supir itu kemudian membuka pintu belakang dan gadis itu menatap Faisal. "Namaku, Natasha Blezinsky." ujar gadis itu menyebutkan namanya lalu masuk kedalam mobil.


"Aku Faisal Husein Assegaf." sahut Faisal dikala mobil itu mulai beranjak. Pemuda itu melambaikan tangannya hingga taksi itu menjauh.


Setelah suasana sepi, Faisal melangkah lagi mendekati Jamal. Lelaki parobaya itu menyambut.


"Selamat datang Tuan Muda." sapa Jamal.


"Lama kita tidak bertemu ya?" sahut Faisal maju dan merengkuh Jamal dalam pelukannya. Keduanya bagai kakak-beradik saja. Sangat akrab.


"Tuan Besar sudah tak sabar menantikan anda." ujar Jamal menepuk-nepuk pundak Faisal.


"Baik. Kalau begitu, mari kita temui mereka." ajak Faisal.


Jamal membuka pintu belakang dan Faisal masuk kedalam kendaraan mewah itu. Tak lama kemudian kendaraan itu menarik diri dari barisan mobil yang terparkir diarea itu, bergerak meninggalkan Bandara Djuanda.

__ADS_1


...*******...


Faisal sejak itu meminta Jamal mencari keberadaan tempat tinggal Natasha di Pakuwon. Itu adalah wilayah hunian elit yang terdapat di Kota Surabaya. Meskipun Keluarga Assegaf termasuk milyarder dan niagawan terkenal di kota itu, keluarga itu justru memilih tinggal di kawasan Ampeldenta. Kawasan itu memang terkenal sebagai kota tua, didirikan oleh salah satu ulama Walisongo terkenal berdarah Kamboja, Raden Rahmat bin Ibrahim Zainudin Akbar as-Samarkand.


Faisal menemukan keterangan dari Jamal bahwa Natasha sering menghabiskan waktu paginya, bersepeda santai dikawasan Laguna Raya, masih didalam kawasan elit Pakuwon itu.


Faisal mendapat ide menemui Natasha dengan kedok bersepeda santai pula. Esoknya, hanya dengan modal sepeda onthel pit pancal, Faisal menyusuri jalanan Laguna yang biasa dilewati Natasha dengan kendaraan anginnya itu.


Faisal menemukannya. Gadis itu mengendarai sepeda merk Polygon, sedang asyik menjelajahi jalanan Laguna Raya tersebut. Faisal perlahan mendekatinya dan mengiringinya. Ia menatap Natasha yang menatap jalanan. Tatapannya terkesan angkuh.


"Hai..." sapa Faisal.


Natasha menoleh dan sejenak kemudian wajahnya berbinar. Senyum kembali terbit dibibirnya. "Hai... kamu kan..." ujarnya berupaya mengingat-ngingat.


"Kita ketemuan di bandara..." sahut Faisal mengingatkan Natasha.


Gadis itu tertawa. "Faisal... iya kan?" tebaknya.


"Benar sekali..." jawab Faisal dengan anggukan santun.


Keduanya mengayuh pedal sepeda dan kendaraan itu berjalan seiringan. Natasha kembali menatap Faisal.


"Tumben kok kita selalu ketemuan." ujar Natasha dengan senyum namun alisnya bertaut.


"Mungkin itu adalah takdir." jawab Faisal.


"Jangan sangkut-pautkan takdir dengan pertemuan kita." tukas Natasha sambil tertawa, "Jangan-jangan kamu memata-mataiku ya?"


Faisal tertawa pelan. "Apakah setelah ini kau akan mengadukan aku ke pihak kepolisian dengan pasal penguntitan?" pancingnya.


"Stalking... kayaknya pasal 335 KUHP masuk tuh." celetuk Natasha kemudian tersenyum nakal. "Kamu stalker ya?"


"Kalau nge-stalking kamu sih, aku rela di bui." ujar Faisal membuat Natasha tertawa lagi.


Natasha menepikan sepeda Polygon miliknya ke sebuah taman. Faisal ikut menepikan kendaraannya juga. Diujung taman, nampak sebuah mobil Ferarri Pista Spider terparkir disana.


Natasha mengajak Faisal duduk disebuah balok yang membujur. Keduanya melepas lelah sambil berbincang. Nun jauh beberapa meter, nampak Jamal duduk sambil membaca koran, mengamati keduanya.


"Kamu asli sini?" tanya Natasha.


"Ya, tapi bukan di Pakuwon." jawab Faisal dengan jujur.


"Kamu bisa stalking aku pagi-pagi begini, pasti jarak rumahmu dekat dari Pakuwon." tebak Natasha. "Dimana sih?" tanya gadis itu penasaran.


Faisal mengingat-ngingat tempat yang cocok untuk kamuflase. Ia teringat salah satu rumah famili dari Jamal. Pemuda itu tanggap menjawab.


"Saya tinggal di Keputih." jawab Faisal.


"Wuah. Jauh juga." komentar Natasha. "Kamu jauh-jauh dari Keputih ke Laguna hanya untuk ngestalking aku?"


Faisal hanya tersipu saja. Natasha menggeleng-gelengkan kepala dan meninju pundak Faisal.


"Kamu berani juga ya?" komentar Natasha.


Sedang asyik-asyiknya mereka berbincang-bincang, dari arah utara muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian trainings pack berlari-lari santai. Ditangan kanannya tergenggam sebotol air mineral. Ketika melewati Faisal, laki-laki itu seakan sengaja membuka penutup botol itu hingga isinya berhamburan dan sebagiannya mengenai pakaian yang dikenakan Faisal.


"Hei, bro." tegur Faisal. "Hati-hati dong."


Lelaki itu hanya tersenyum dan mengangkat tangannya mengisyaratkan rasa bersalah dan minta maaf dengan sikap simbolisnya itu kemudian kembali berlari santai menuju Ferarri Pista Spider yang terparkir diujung taman.

__ADS_1


Laki-laki itu berhenti didepan kendaraan itu dan membuka pintu depannya. Sejenak ia menengok kembali kearah Faisal dan Natasha yang sedang berbincang-bincang. Tanpa setahu Faisal, gadis itu mencuri-curi pandang terhadap lelaki yang menatapnya itu. Setelah puas menatap, si lelaki masuk kedalam Ferarri Pista Spider itu dan kendaraan tersebut kemudian bergerak pelan meninggalkan taman itu.[]


__ADS_2