
Lelaki itu duduk dengan tenang. Kenzie berdiri menghadap dinding kaca menatap hamparan lanskap kota Gorontalo dari tempatnya berpijak. Adapun Azkiya hanya duduk di sofa menemani si aparat sipil negara yang bertugas diujung barat propinsi Gorontalo itu.
"Jadi... Skullen telah melakukan pelanggaran moralnya sendiri." ujar Kenzie kemudian terkekeh.
Lelaki itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan menyengir. "Ya, mau bagaimana lagi, Ken? Oom kan sudah cukup memberikan dia beberapa penguatan moral. Bagaimanapun... ia juga hanya makhluk yang terdiri dari tulang, daging dan darah... bisa juga salah."
"Lalu maunya Oom bagaimana?" tanya Azkiya dengan lembut.
"Ya... nikahkan dia dengan perempuan yang diperkosanya itu." tandas aparat sipil negara itu. "Aturan Fiqihnya seperti itu, kan?"
Kenzie mengangguk-angguk. "Benar juga..." Lelaki itu kemudian menatap pria parobaya yang duduk disofa itu. "Bisakah dia datang kesini?"
"Nggak bisa..." tolak lelaki parobaya itu. "Kalian berdua yang kesana."
"Lho? Kenapa?" protes Kenzie.
"Skullen saat ini masih ku sembunyikan dari musuh-musuhmu dan kami, para Apocalyps..." jawab pria parobaya itu. "Ada segelintir orang yang mulai mengorek-ngorek lagi peristiwa masa lalu disaat para Apocalyps masih aktif menjelajahi dunia bawah tanah."
"Musuh-musuhku?" tukas Kenzie.
"Ya... aku menengarai ada dari sekian musuhmu yang memiliki niat untuk menggunakan Skullen untuk merobohkan akses-aksesmu." jawab lelaki itu dengan tenang.
"Terus?" tanya Kenzie. "Apakah Oom Andy, Oom Anto dan Oom Mamin juga sementara diselidiki?"
Lelaki itu menggeleng. "Mereka bersih dan pastinya tidak akan terjamah selama aku juga tidak tersentuh oleh para pencari itu. Skullen adalah muridku. Dia adalah kunci identitasku. Jika dia tertangkap oleh Para Pencari yang dikirim organisasi, maka itu sangat berbahaya."
"Bukankah Skullen hanya seorang makhluk buatan? Dia seorang klon, kan?" tebak Kenzie.
"Benar... tapi dia klon yang berguna sebab dia juga seorang purwarupa hidup dari sebuah obyek percobaan. Dan dia nyaris sempurna dengan perasaannya yang manusiawi itu sehingga birahinya yang kebablasan membuat seorang anak gadis terancam hilang masa depannya jika tidak diselamatkan!" ujar pria parobaya itu dengan wajah kesal.
Kenzie tertawa lalu melangkah menuju meja kerja dan duduk dikursinya. "Oom ini aneh... disatu sisi perasaan benci menyeruak dari benak Oom kepada lelaki itu, tapi disisi yang lain, Oom tak tega menghabisinya..." sindir Kenzie sembari mengambil cube yang terletak diujung meja dan mulai memutar-mutar petak-petak cube tersebut.
Pria parobaya itu menghela napas dan menatap langit-langit ruangan direktur itu. "Sejak pensiun dari Pengsen'k... aku benar-benar merubah karakterku dan menanam sifatku sebagai Pangeran Kematian... Aku sendiri telah mengubur Phallitos, kendaraanku sebagai bentuk pertobatanku untuk kembali sebagai manusia biasa... hanya senjata Osiris milikku yang tak ku kuburkan, sebab aku akan mewariskannya kepada putriku, Ichi..."
Lelaki parobaya itu menatap
Azkiya menoleh menatap Kenzie. Kedua suami-istri itu saling bertatapan lama seakan mengadakan pembicaraan lewat batin sebagaimana yang mereka lakukan setiap hari jika membicarakan hal-hal yang sensitif.
Kenzie menghela napas. "Baiklah... kami berdua akan kesana untuk melamarkan perempuan itu."
"Terima kasih." ujar lelaki parobaya tersebut dengan senyum tersungging.
"Baik. Persoalan pertama sudah dianggap selesai... sekarang persoalan kedua." gumam Kenzie. "Jika Skullen nanti menikah, dia akan membiayai hidup istrinya dengan apa?"
pria parobaya itu tertawa. "Kamu nggak usah pusingkan dia. Pemuda itu punya banyak cara menyambung hidup." ujarnya, "Tanggung jawab sebagai seorang suami pasti akan membuatnya bekerja lebih giat."
Kenzie hanya mengangkat alis sebelahnya. "Akhir-akhir ini aku tak tahu dimana keberadaan Trias. Nomornya tak bisa kuhubungi.... padahal aku membutuhkannya untuk menjebol arsip keamanan dari Putra Pomalango, Tbk."
"Hubby macam tak mengerti saja dengan Trias." tukas Azkiya. Lelaki itu kalau sudah tenggelam dalam tugasnya, kayak lupa dengan kita. Ipah saja dicueki, apalagi kita." dengus Azkiya.
"Tapi kan... dia..." protes Kenzie.
"Tempatkan saja Skullen sebagai tenaga sementara di Divisi Tangan Ketiga." sela lelaki parobaya itu dengan cepat.
"Apakah dia seorang hacker?" tanya Azkiya.
"Bisa dibilang begitu." jawab lelaki itu sedikit merenung. "Itu kompetensi barunya setelah sekian lama menghilang dari Darkest." ia menatap Azkiya dengan tatapan nakal. "Selain itu... Kamu bisa mengetes ilmu Kurama Hachi ryu Kenjutsu miliknya dengan Koga Koryu Bujutsu milikmu."
Azkiya terkejut. "Apa? Dia alumni perguruan Kurama Hachi?" tukasnya.
"Who knows???" ujar pria itu mengangkat bahu. "Tapi... dia memang seorang pakar bujutsu."
Azkiya langsung menatap Kenzie. "Hubby... kita ke Marisa yuk, ketemu lelaki itu." ajak wanita itu dengan antusias.
"Aahhh Wiffy..." olok Kenzie sambil senyum-senyum cemburu. "Giliran yang ada begitunya langsung deh di iyakan." tukasnya membuat Azkiya tertawa. Kenzie langsung melengos. "Aku cemburu nih!"
Azkiya langsung bangkit mendekati Kenzie yang berlagak duduk membuang wajah tak sudinya. Wanita itu membujuk dan merayu.
"Hubby... kok cemburu sih?" tukas Azkiya dengan lembut dan duduk berlutut lalu menyentuh paha suaminya. "Wiffy kan hanya tertarik dengan ilmunya... bukan orangnya... dihati aku ini, hanya ada Hubby seorang kok."
Kenzie menatap istrinya. "Benar nih?" tukasnya mengangkat alis sebelah.
Azkiya mengangguk lalu pasang wajah memelas. Kenzie menatap lelaki parobaya itu.
__ADS_1
"Salahnya Oom nih!" tukasnya.
"Lho? Kok jadi salahnya aku?" protes lelaki itu dengan heran.
Kenzie mendesah keras lalu mengangguk. "Ya, ya, kita akan ke Marisa." ujar Kenzie.
Azkiya langsung melonjak gembira lalu mencium pipi suaminya. Setelah itu Azkiya langsung pasang sikap siap dengan wajah yang kembali dingin, menatap lelaki itu.
"Oom... kami berdua akan ke sana besok." ujar Azkiya.
"Jangan besok... dua hari kedepan saja... gimana?" tanya pria itu. "Itu kan kebetulan hari sabtu sama minggu. Kalian nggak kerja, kan?"
Azkiya kembali melonjak gembira. "Wah, benar juga Hubby."
Kenzie masih pasang wajah cemburunya. "Yaaaa... kita berangkat kesana, Sabtu ini..."
Lelaki itu tersenyum. "Bagus. Terima kasih." Ia bangkit dan menatap kedua pasangan muda itu. "Oom balik ke Tolinggula dulu. Nanti kita ketemuan disana dua hari mendatang."
"Siiip..." jawab Kenzie dengan senyum.
Lelaki itu mohon ijin pamit. Saat hendak meninggalkan ruangan itu, masih sempatnya ia mendengar Kenzie bicara lirih kepada Azkiya.
"Wiffy... nggak tahan niiih... ke kamar yuk." ajak Kenzie.
"Ih, Hubby... tunggu Oom Kartono balik, kenapa?" tolak Azkiya dengan enggan, takut membuat suaminya tersinggung.
"Tuh kan Oom sudah munggungi kita... ayo ke kamar dong." ajak Kenzie lagi mendesak.
Lelaki itu hanya tersenyum saja saat membuka pintu kaca, keluar dari ruangan direktur itu.
...******...
Yanto Lasimpala sedang tidur nyenyak dengan headset yang terpasang ditelinganya. Pemuda itu penggemar musik-musik beraliran metal. Ia paling senang mendengarkan lagu dari album Guns N Roses... salah satu lagunya, Don't Cry sukses menghantar jiwanya melayari cakrawala maya.
Faisal hendak membangunkan Yanto ketika lengannya dicekal oleh Ishak. "Jangan... jangan bangunkan dia. Kasihan, mungkin dia kelelahan..."
"Tapi lelah nggak ada yang beginian..." protes Faisal kembali menatap Yanto yang tidur dengan mata setengah terbuka, begitu juga dengan mulutnya yang membuka, lebih mirip dengan orang yang baru saja melepaskan nyawa.
Faisal yang menatapnya menampakkan ekspresi jijik sementara Ishak justru tersenyum nakal. Pemuda itu mengambil gawainya dan memotret Yanto yang lagi tidur.
"Eh, kamu mau apa?!" tegur Faisal.
"Kamu nggak lihat gayaku lagi sedang apa? Nggak mungkin kan gaya ini disebut gaya makan sambil pegang HP?" ujar Ishak dengan kesal. "Sudah ah, jangan ribut. Aku mau motret orang ini!"
"Tapi..." protes Faisal.
Ishak mendesis dan menyuruh pemuda alim itu untuk diam saja. Ishak melanjutkan kegiatannya memotret Yanto lalu dengan wajah terlihat bagai musang, pemuda itu mengupload gaya tidur teman sekamarnya itu ke sosial media sambil menambahkan caption bernada duka.
Ishak berupaya menahan tawa sambil mengajak Faisal meninggalkan kamar. Sesampainya di koridor, tiba-tiba tawa pemuda berwajah chinnese itu meledak.
BWA HAHAHAHAHA....
Ishak tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa keram. Disisinya, Faisal hanya menatap pemuda itu sambil memberenggut.
"Kamu memang tak punya rasa empati ya?" sindir Faisal dengan kesal.
"Ah, kamu..." tukas Ishak namun dengan senyum yang tersungging. "Nggak usah hipokrit begitu... aku tahu Yanto itu sering merundungi kamu. Nggak keberatan kan jika dia ku rundungi? Atau kau akan tampil sok jadi pahlawan kesorean bagi dirinya?!"
Sogolan Ishak membuat Faisal terdiam. Keduanya kembali berjalan seiring menyusuri lantai koridor itu.
"Tapi sebenarnya, aku itu kagum juga sama anak itu." ujar Ishak.
"Apa yang kau kagumi sama dia?" tanya Faisal.
"Kamu nggak lihat?" ujar Ishak dengan tatap takjub. "Dia begitu menjiwai musik yang mengalun di headset yang terpasang ditelinganya itu."
Faisal kembali menegakkan wajah. "Ya... kalau begitu... marilah kita berdua merelakan dia pergi bersama alunan lagu-lagu metal yang menghantarkannya ke alam khayali yang didambakannya dan mengembara disana sepuas hatinya."
Kalimat yang keluar dari bibir Faisal sontak membuat Ishak kembali tertawa dan menampar-nampar pundak lelaki arab itu dengan kencang.
"Benar! Benar Coy... toh kalau dia sudah lapar, dia pasti akan pulang dari mimpinya dan melangkahkan kaki menuju dapur." sahut Ishak.
__ADS_1
Keduanya kemudian tertawa bersamaan. Faisal menatap Ishak lagi.
"Tunggu..." sela Faisal dengan alis berkerut. "Kau motret dia untuk apa?"
"Lihatlah sosmed nanti..." ujar Ishak kemudian tertawa.
Langkah keduanya terhenti ketika terdengar seruan memanggil. Kedua pemuda itu menoleh ke belakang dan mendapati seorang pemuda berlari-lari mendapati keduanya.
"Oh, Kak Fadli... ada apa?" tanya Faisal dengan santun.
Fadli hanya menatap Faisal sekilas lalu menghujam tatapan paling tajam kearah Ishak. "Kamu dipanggil ke ruang kepengasuhan..." ujar pemuda itu.
Ishak mengangkat alisnya sejenak menatap Faisal lalu Fadli. Pemuda itu memegang lengan Ishak. "Ayo!" ajaknya setengah memaksa.
"Kamu duluan ke dapur deh..." ujar Ishak. "Aku masih punya urusan."
Faisal sejenak menatap lama ke arah Fadli lalu akhirnya mengangguk. Ishak melangkah meninggalkan Faisal, mengikuti langkah cepat Fadli yang bergerak menjauhi dapur, menuju Ruang Kepengasuhan.
Langkah keduanya tiba dan Fadli berhenti lalu menatap Ishak. "Masuk!" ujarnya dengan datar.
Ishak menghela napas lalu mengayun langkah memasuki ruangan didepannya. Disana telah menanti Hamdi Alamri, Ketua Yayasan Alkhairaat Pohuwato. Juga ada Kepala Madrasah Aliyah Alkhairaat, Husain Abdullah. Ada juga Kepala pondok pesantren, M. Hakim Saleh, Ustadz Gau sebagai pengasuh.
Yang menjadi perhatian Ishak adalah Aldi dan seorang pria parobaya yang bisa ditebaknya apakah itu ayahnya Aldo atau ayahnya Selina.
"Assalamualaikum..." sapa Ishak dengan datar.
"Wa alaikum salaam..." koor suara orang-orang itu membalas sapaan salam dari Ishak.
"Silahkan duduk, Ishak." ujar Ustadz Gau menunjukkan sebuah kursi.
Ishak mengambil tempat duduk dan duduk menghadao barisan orang-orang itu seakan posisinya adalah seorang terdakwa.
"Kamu tahu, mengapa kamu diundang kemari?" pancing Pak Husain dengan datar.
Ishak menatap kepala sekolahnya. "Apakah bapak bisa memberitahukannya kepada saya?" balas pemuda itu lagi dengan tenang.
Husain menghela napas. pemuda ini sangat berani...
Kepala pondok, Kyai Hakim tersenyum teduh. "Nak Ishak... kami mendapat pengaduan dan tuntutan tidak puas dari salah satu orang tua dari Selina, Bapak Candra Qomaruddin Tagoi." tutur lelaki berusia 30-an tahun itu sambil menunjuk lelaki parobaya yang duduk disamping Aldi.
Ishak menghela napas. Aaahhh... calon mertua rupanya...
Kyai Hakim meneruskan. "Beliau menuntut kepada kami untuk menanyai kamu, tentang putrinya yang sekarang sedang terbaring di Rumah Sakit Bumi Panua..."
"Apa?!" seru Ishak tiba-tiba langsung bangkit. "Seli di rumah sakit?!" sergahnya dengan kaget.
Semua lelaki disana, tak terkecuali Ustadz Gau juga terperangah kaget dengan sikap Ishak. Pemuda itu mendengus lalu melangkah keluar.
"Mau kemana kamu?!" sergah Aldi tiba-tiba juga berdiri dan langsung menghadang Ishak didepan pintu.
"Jangan halangi jalanku!" ancam Ishak dengan suara rendah, datar dan mengintimidasi.
Aldi mengencangkan rahangnya. "Kau hendak menjenguknya?!"
"Kau tak perlu tahu!" jawab Ishak memicingkan mata.
"Dia milikku! Kau tak berhak!" tukas Aldi.
"Kita lihat saja nanti!" jawab Ishak langsung mendorong Aldi ke samping dan berlari meninggalkan tempat itu.
Aldi mengekori punggung Ishak yang menjauh sedang semua lelaki matang disana saling pandang seakan berdiskusi secara batiniyah tentang perasaan pemuda itu.
...*****...
Yanto bangun sebab merasakan perutnya keroncongan. Musik metal masih mengalun diheadsetnya. Bunyi notifikasi pada gawai membuatnya mengucek-ngucek mata dan meraih benda tersebut dan mengaktifkan layar sentuh.
Sebuah notifikasi muncul pada storyline sosmed itu. Yanto seketika menjerit kaget menatap fotonya yang terlihat horor.
Dibawah fotonya tertulis caption yang dilengkapi ikon emot:
😭😭😭😭😭😭😭 Banggg... maafin gw yaaa klw gw banyak salah Ama lu... 😭😭😭😭😭😭😭😭 ... gak nyangka bang gw.... blablablabla..
Yanto menatap pengirim story itu dan wajahnya langsung memerah. Ia seketika meraung marah.
__ADS_1
"ISHAAAAAAAAAAK...." []