KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
STALKING MANTAN


__ADS_3

"Natasha... " ujar Faisal tanpa sadar.


Ishak mengerutkan alis dan memandang Faisal yang menatap ke suatu arah. Ia mengikuti tatapan itu dan terkejut melihat ada Aldi juga disana. Selina sendiri terkejut pula.


"Hei, itu kan Kak Aldi? Kenapa dia disini?" ujar Selina dengan curiga. "Siapa perempuan itu?"


Selina hendak bangkit. Tujuannya untuk mendatangi lelaki itu. Namun gerak gadis itu ditahan Ishak. Selina menatap pemuda itu dengan wajah keruh.


"Lepaskan!" sergahnya dengan lirih.


Namun melepaskan pegangan tangan Ishak, tidak segampang melepaskan ikatan tambang dalam praktek pioneering saat pemantapan teknik kepanduan. Jemarinya bagai kait besi yang mencengkeram daging pergelangan tangan gadis itu.


Ishak menatap Selina dengan tenang. "Aku tahu, hati Kakak sedang panas. Tapi kedepankan logika ketimbang perasaan. Keberadaan kita disini untuk bersenang-senang. Bukan untuk mencari masalah."


"Tapi..." protes Selina.


"Ingat, Kak." ungkit Ishak. "Waktu Kakak tinggal besok untuk menenangkan diri, bukan memutuskan penolakan atas pinanganku." Remaja itu kemudian mengangkat telunjuknya. "Jadi, aku tak mau... wajah Kakak diselimuti galau dan gundah. Tetaplah duduk tenang disini."


Ucapan kata remaja itu bagai sebuah perintah membuat Selina akhirnya duduk kembali dengan wajah yang rusuh. Ishak lalu tersenyum.


"Dan bersyukurlah dengan penampilan ini, Kakak tak akan dikenali oleh Aldi dan perempuan itu, terutama masyarakat sekitar sini." ujarnya membuat Selina makin kesal dan memberenggut.


Ishak kemudian menatap Ichi. "Pesanlah makanan." pintanya. "Aku yang bayar." tambahhya.


"Cih... lagakmu itu." omel Selina.


Ishak tak perduli. Ia kembali memerintah. "Pesanlah makanan..."


"Baik, Kakak berdua pesan apa?" tanya Ichi.


Faisal memesan makanan kegemaranya, begitu juga Selina. Gadis itu menatap Ishak dan mengangkat alis. "Kalau Kakak?"


"Bawakan saja aku lalapan tambah ayam bakar." ujar Ishak kemudian merogoh saku, mengeluarkan dompetnya dan membuka lipatan saku. Sebuah kartu diambil dan diberikan kepada Ichi.


Ichi mengangguk lalu bangkit dan melangkah menyeberangi jalan, tiba disalah satu kedai dan mulai memesan. Namun baru beberapa saat ia pergi, Ichi nampak lagi berlari-lari menyeberangi jalanan dan tiba ditempat lesehan mereka.


"Kenapa?" tanya Ishak.


"Mereka nggak punya mesin EDC." ujar Ichi mengembalikan kartu itu. Ishak mengerutkan alis sedankan Selina tersenyum sinis.


"Gunakan saja mesin ATM di bank." usul Faisal.


Ishak mengangguk. "Pergilah Ichi. Cari bank terdekat dan ambillah uang dari mesin ATM." pintanya.


"Berapa?" tanya Ichi menerawang. "Sepuluh juta, boleh?"


"Ambillah semampu mesin itu memuntahkan uang." ujar Ishak. "Isinya unlimited, jadi nggak akan apa-apa."


Ichi tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit lagi hendak pergi ketika Faisal juga ikut bangkit. "Aku akan mengantarmu."


Ichi sejenak melongo mendengar kata-kata Faisal. Ishak kemudian mengangguk. "Ya, temani dia. Cepatlah."


Faisal mengangguk lalu menatap Ichi. "Mari..." ajaknya tanpa sungkan memegang pergelangan tangan gadis itu.


Mulanya Ichi terkejut, namun sesaat kemudian ia tersenyum dan menunduk tersipu sambil melangkah mengikuti lelaki itu menuju kendaraan mereka yang terparkir. Kendaraan itu kemudian berlalu. Kini ditempat lesehan itu tinggal Selena dan Ishak saja.


"Sekarang hanya tinggal kita berdua. Katakan saja apa mau Kakak." pinta Ishak dengan tenang.


"Apa lagi yang harus kukatakan?" ujar Selina dengan suara agak meninggi meskipun lirih.


"Kak... aku ajak Kakak kemari supaya kita leluasa bisa saling menjajaki diri masing-masing." ujar Ishak dengan sabar. "Jadi aku ingin mengenali Kakak lebih intens lagi."


"Bukankah kau sudah mengenaliku luar dalam?" tukas Selina dengan ketus.


"Maksud Kakak?" tanya Ishak tak paham.


"Kamu kan sudah masukin punyamu ke dalamku. Apa itu bukan mengenali luar-dalam? Atau kau mau buat rencana baru untuk kita lebih mengenal luar-dalam itu? Okey, aku sudah siap." ujar Selina dengan wajah kesal.


"Kau!!!" sergah Ishak yang seketika terpancing emosinya.


"Apa? Apa coba? Mau apa?" balas Selina balik menantang sambil bercakak pinggang, menegakkan tubuhnya hingga kedua buktinya yang terselimut dalam pakaiannya pun ikut mencuat.


Ishak memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam menenangkan emosi yang nyaris terpancing. Ia menghitung sepuluh kali sambil kemudian menatap Selina dengan tatapan yang menyiratkan iba.


"Heh... tatapan apa itu?" ujar Selina langsung melengos dan melipat tangannya ke dada.

__ADS_1


"Kak..." ujar Ishak dengan nada tabah. "Aku paham, aku memang salah telah merampas milikmu yang berharga..."


"Syukur kalau sudah paham..." sela Selina tanpa menoleh.


"Aku minta maaf..." ujar Ishak.


Selina menoleh menatap Ishak. "Aku tak akan pernah memaafkanmu!" ujarnya mencorongkan tatapannya kepada pemuda tersebut.


"Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?" tanya Ishak dengan sabar lagi.


"Pergilah dari hidupku, selamanya!" jawab Selina dengan tegas menandas sambil mengibaskan kedua tangannya.


Ishak tersenyum. "Kalau untuk itu, maafkan aku." ujar pemuda tersebut. "Aku tak bisa mengabulkannya."


"Kau memang lelaki brengsek!" umpat Selina.


Ishak memilih diam, menanggapi umpatan itu. Tatapannya kembali beralih kepada Aldi dan Natasha. Kelihatannya kedua orang itu telah bangkit dan hendak meninggalkan tempat tersebut.


Ishak langsung meraih gawai dan buru-buru menghubungi Faisal.


📲 "Halo?" sapa Faisal.


📲 "Dimana posisimu?" tanya Ishak dengan datar.


📲 "Dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi nyampe." jawab Faisal.


📲 "Cepatlah..." pinta Ishak kemudian memutuskan pembicaraan seluler.


Aldi dan Natasha telah tiba di kendaraannya. Tiba-tiba Ishak berdiri dan melesat dengan begitu cepat tanpa sempat dicegah Selina. Pemuda itu mengejar sebuah kendaraan yang mulai melaju meninggalkan lokasi Pantai Pohon Cinta.


Selina hanya memandangi saja pemuda tersebut. Dalam jarak yang aman, Selina melihat Ishak seakan melempar sesuatu ke arah mobil tersebut dan kemudian menghentikan langkahnya.


Lama Ishak berdiri ditengah jalan dan beberapa saat kemudian nampaklah kendaraan yang disupiri oleh Faisal muncul. Ishak menghadangnya. Faisal buru-buru menginjak rem. Terdengar bunyi mendecit keras.


Faisal melongokkan kepala keluar dari jendela. "Woy, kalau mau bunuh diri, bilang dong!" sergahnya.


Ishak tak perduli. Ia melankah menyamperi Faisal lalu menyodorkan gawainya. "Aku minta tolong untukmu."


"Apa?" tanya Faisal.


"Ikuti mantan kamu... pantau apa yang dilakukannya, kalau perlu rekam!" pinta Ishak. "Tapi ingat, cukup dari jarak aman." ujarnya membuka aplikasi dan memperlihatkan titik-titik yang menunjukkan lokasi target pengintaian.


"Kalian berdua lakukan pengintaian!" ujar Ishak lagi. "Kemarikan kartuku. Gunakan saja uang yang kalian ambil di ATM." ujarnya menyodorkan tangan meminta kartu yang digenggam Ichi. "Anggap saja itu bayarannya masing-masing kalian dapat lima juta. Okey?!"


"Oke deh." ujar Faisal. "Lalu setelah itu, apa lagi?" tanya pemuda itu.


"Nanti tunggu intruksiku." ujar Ishak meraih kartu miliknya. "Sekarang pergilah!" hardiknya sambil meninju dinding mobil.


Kendaraan yang ditumpangi Faisal dan Ichi langsung berbalik arah dan meninggalkan lagi kawasan Pohon Cinta. Ishak berbalik dan melangkah santai mendekati tempat lesehan dimana Selina telah berdiri menantinya.


"Aku mau pulang." ujar Selina dengan datar.


"Nanti ku antar." jawab Ishak.


"Nggak. Aku mau pulang sendiri." tolak gadis itu.


"Jangan mancing emosiku." ancam Ishak dengan pelan. "Aku akan mengantarmu, tapi kita akan ke suatu tempat dahulu." ujarnya mengulurkan tangannya.


Selina menepisnya lagi. "Jangan sok akrab denganku." ujarnya ketus. "Aku mau pulang, pokoknya aku mau pulang!" tandas gadis itu hendak melangkah.


TAPPP.... EEEKHHH...


Ishak mempergunakan teknik ippon nukite untuk menotok bagian tengkuk Selina dengan cepat. Seketika Selina langsung sinkop dan tubuhnya doyong. Ishak langsung menangkap tubuh gadis itu dan memanggil pengendara bentor yang kebetulan lewat.


"Ke Manggrove Eco Resort, bang." ujar Ishak.


Abang bentor itu mengangguk dan kemudian membawa dua penumpangnya menuju tempat yang disebutkan tadi.


...*******...


Banda Naira, 10 Mei 1621.


Toshisada melangkah dengan gontai. Tubuhnya penuh noda darah tentara-tentara VOC yang dibunuhnya, bercampur bersama dengan darah dari luka-luka miliknya. Tangannya yang menggenggam pedang gemetar menyeret senjata itu ditanah.


Sebentar lagi bantuan pasukan VOC yang didatangkan dari benteng Nassau akan tiba di lokasi. Teman-temannya sesama samurai telah banyak yang tewas terbantai oleh Pasukan VOC. Toshisada terus melangkah. Tenaganya hanya tinggal sisa.

__ADS_1


Dalam setiap ayunan langkah dengan napas yang tak beraturan sebab telah habis daya dalam tubuh. Ki dalam hara dirasakannya redup saja. Di akhir langkah gontai, Toshisada jatuh ambruk. Dalam sisa tenaganya ia mendengar langkah kaki mendekat dan setelah itu sebuah sentuhan lembut membuat tubuhnya terasa nyaman. Ia tak ingat apa-apa lagi.


Toshisada baru sadar dari pingsannya saat melihat seorang gadis berpakaian sederhana sibuk menjerang air hangat. Lelaki itu sendiri menyadari ia terbaring dibale-bale dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Ah, anda sudah bangun."


"Dimana-ini???" tanya Toshisada dengan kaku.


"Dirumahku..." jawab gadis itu. "Kau kutemukan pingsan sebab banyak kekurangan darah. Kau demam selama tiga hari."


"Siapa kamu?" tanya Toshisada.


"Panggil saja aku, Qomariah..." ujar gadis itu.


...******...


Manggrove Eco Resort, Pukul 06.06.


Selina perlahan membuka mata. Tatapannya menelusuri permukaan langit-langit kamar itu. Ia kemudian menyadari bahwa ruangan itu bukanlah kamarnya. Gadis itu bangun perlahan sambil meringis merasai pening dikepalanya.


Setelah membiasakan diri dengan ruangan itu, Selina mendengar suara air mengalir deras. Kelihatannya ada yang sedang mandi. Selina beranjak bangun ketika menyadari pakaian yang dikenakannya berbeda. Ia menatapi tubuhnya dan kaget bukan main saat melihat piyama yang dikenakannya berbeda sama sekali.


Ini bukan pakaianku.... dimana pakaianku?!


Dengan panik, gadis itu turun dari ranjang empuk itu dan melangkah menuju pintu. Selina memutar gagang dan hendak membukanya. Sekali lagi ia terkejut saat menyadari pintu itu juga terkunci.


Gawat, gawat, gawat....


Sambil menggigit bibir, Selina kembali menuju ranjang dan duduk ditepiannya. Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Ishak mengenakan jubah mandi model yukata warna hijau pastel. Pemuda itu menatap Selina yang juga menatapnya.


"Kau kemanakan pakaianku?!" tukas Selina menyergah sembari berdiri dan melangkah menyamperi Ishak.


"Tenang. Jangan marah-marah dulu." ujar Ishak dengan lembut mengangkat tangan.


"Kamu jahat, jahat, jahat, jahat..." pekik Selina dengan kesal seraya maju meninju dada Ishak berkali-kali.


Ishak menangkap kedua tinju gadis itu dan menariknya hingga Selina terdorong kedepan dan pemuda itu menangkap tubuh gadis itu.


"Lepaskan aku! Lepaskan!!!" jerit Selina sekeras-kerasnya.


Dengan geram, Ishak kemudian mendorong Selina hingga gadis itu terlempar dan jatuh menelentang diranjang.


"Mau Kakak apa sih? Dipeluk nggak mau, dilepas mukanya jutek banget!" sergah Ishak dengan ketus. Pemuda itu kemudian melangkah menuju sofa kecil di ujung ruangan lalu duduk disana.


"Baju kakak tuh ku suruh cuci di binatu. Sejam lagi mereka datang mengantarkan pakaian Kakak." ujarnya masih dengan suara sedikit ketus. "Kakak kenapa sih? Parno sangat sama saya?"


"Diam kau, A****g!" sergah Selina membalas menuding Ishak. "Kau culik aku, kau bawa aku kemari. Kau pasti sudah..."


"Hush!!!" seru Ishak menyergah membuat Selina terdiam.


Pemuda itu kemudian bangkit dan melangkah mendekato Selina yang masih berbaring diranjang.


"Apa Kakak ingin diperkosa lagi?" ancam Ishak dengan senyum sinis membuat Selina mengkerut ketakutan dan menelan saliva berkali-kali.


"Nggak, please...ampun..." ujar Selina memelas dan tubuhnya gemetar.


Ishak duduk disisi ranjang. "Kakak... aku minta maaf sudah buat Kakak takut." ujar Ishak kemudian mengulurkan tangannya. "Gomen.... watashi wa yurushite kudasai..."


Selina melihat tak ada cara lain kecuali mendekat dan membiarkan pemuda yang dibencinya itu menyentuhnya. Selina beringsut mendekat dan membiarkan Ishak meraih tubuhnya dan memeluknya. Namun gadis itu terkejut ketika menyadari pelukan lelaki itu begitu hangat dan lembut.


Ishak membelai pelan punggung Selina. "Tenang, Kak." ujarnya menghibur. "Mulai saat ini, aku yang akan menjagamu."


Selina mengkerut dalam pelukan pemuda itu. Ishak membelai lagi rambut Selina dan gadis itu dapat merasakan ada ketulusan dalam setiap belaian itu. Ia menengadah menatap Ishak.


"Kamu... tidak akan menyakitiku... kan?" ujarnya memelas dengan suara lirih.


"Aku janji.... aku tak akan menyakitimu... asalkan Kakak yakin dan percaya kepadaku." ujar Ishak kemudian menatap Selina.


Lama keduanya saling menatap dan entah siapa yang memulai, keduanya saling mendekat dan akhirnya terjadilah percumbuan itu. Selina menggeliat dalam berahinya dan Ishak hanya memenuhi rasa haus akan belaian itu.


Tanpa terasa keduanya telah polos bagai sosok yang baru lahir. Ishak memberikan kecupan dan kelembutan dalam setiap pemenuhan syahwatnya. Kini Selina dapat dengan jelas memandangi hamparan rajah irezumi yang menghiasi tubuh pemuda itu.


Ishak melepaskan fundoshi hitam yang melindungi bagian pribadinya. Selina dapat dengan jelas melihat onderdil pemuda itu, tanpa sadar ia mendesah kaget. Benda itu begitu mengagumkan dan kokoh bagai pasak yang siap menghujam.


Pemuda itu menatap Selina seakan meminta persetujuannya. Dilandasi rasa birahi dan haus syahwati, Selina memberikan kerelaannya. Sejenak kemudian gadis itu melenguh dan mendesis manakala ia merasai sesenti demi sesenti benda itu menyarungkan dirinya didalam pukasnya.

__ADS_1


Keduanya kembali bergumul dan bercumbu. Pertama kalinya, Selina merasai multiklimaks yang menghentaknya berulang-ulang disebabkan perlakuan pemuda itu hinga dikulminasi terakhirnya, Selina terkapar kelelahan. Ishak hanya menuntaskan gerakan terakhirnya lalu rubuh memeluk tubuh Selina.


Napas keduanya makin lama makin teratur secara ritmis. Ishak menatap Selina yang tertidur. Ia menyadari wajah itu begitu terlihat tenang dan bahagia. Pemuda itu tersenyum lalu beringsut ke samping dan tidur disana sambil memeluk tubuh gadis yang dicintainya. []


__ADS_2