
Ichi melangkah dengan bangga. Semalam ia menjalani peran sebagai penyidik partikelir bersama-sama Faisal, mengintai dan merekam jejak perjalanan dan kegiatan mereka hingga tiba di hotel.
Keduanya bahkan menggila, dengan cara mengintip lewat ventilasi, dan merekam kegiatan penyatuan cinta kedua orang itu, tanpa sepengetahuan mereka. Untung saja tak ada sekuriti yang menemukan tempat persembunyian kedua anak remaja itu.
Setelah puas merekam, Faisal mengajak Ichi meninggalkan lokasi tersebut dan mengendarai mobil itu menuju jalan trans dengan tujuan ke rumah gadis itu.
"Kak, kita singgah di BRI-Link, yuk." ajak Ichi.
Faisal menatap gadis itu dan mengangkat alisnya. Ichi menjawab, "Aku mau setor uang ini ke tabunganku. Sisanya aku pakai belanja dan traktir teman-teman besok."
Faisal mengangguk-angguk lalu melajukan kendaraannya. "Tunjukkan alamatnya." pinta pemuda itu sambil menekan pedal gas.
Tak lama kemudian, terdengar deringan pada gawai milik Ishak yang dititipkan kepada Faisal. Pemuda itu mengangkatnya dan mengaktifkan panggilan menyetelnya pada speaker on.
📲 "Ya, halo." jawab Faisal.
📞 "Dimana posisimu?" tanya Ishak yang saat itu berada dikamar hotel.
📲 "Dalam perjalanan pulang, aku mau antar Ichi pulang." jawab Faisal.
📞 "Ya, antarkan dia pulang." pinta Ishak.
📲 "Okey..." sahut Faisal.
📞 "Tunggu... apakah kau mendapatkan rekaman mereka?" tanya Ishak.
📲 "Aman... ada di memori gawaimu." ujar Faisal.
📞 "Oke... nanti aku jemput benda itu di sekolah." sahut Ishak kemudian memutuskan pembicaraan seluler.
Faisal kembali melajukan kendaraannya.
...******...
"Hari ini... kalian semua, ku traktirrrrr...." seru Ichi dengan keras dan tertawa senang sambil bercakak pinggang.
Teman-temannya bersorak-sorai menyambut pernyataan gadis itu. Rahmi langsung mendengus. "Tumben... banyak uang ya?" ujarnya setengah mengejek.
Ichi tersenyum lalu melangkah mendekat hingga keduanya bertatapan.
"Rahmi... maaf ya, aku masih belum mau berantem." ujar Ichi dengan lembut. "Aku akan lebih berterima kasih kalau kau mau ku traktir. Aku nggak suka milih-milih. Siapapun dia... meskipun itu kamu... aku akan tetap adil dengan siapapun."
Rahmi langsung memandang para siswa warga kelas 7A. "Teman-teman, sebelum menerima traktiran Ichi, tanya dulu dari mana uangnya. Jangan-jangan anak ini nyolong dimana, kita nggak tahu." tukasnya.
"Astagfirullaaaahhhh..." koor suara para siswa membahana diruangan itu.
Ichi menghela napas dan menatap langit ruangan. Rahmi sendiri kemudian tertawa. Ichi kemudian menatap lagi anak itu dan tersenyum. "Kau... memang tak seperti namamu."
Rahmi mengerutkan alis. "Apa maksudmu?"
Ichi sejenak menunduk dan bercakak pinggang, kemudian menatap lagi Rahmi. "Bukankah arti namamu adalah pengasih atau kasih sayang. Kok malah menghasut orang lain untuk curigaan sama orang. Ganti saja namamu dengan Haqidah."
"Haqidah?" ujar Rahmi mengerutkan alis.
"Ya... artinya kira-kira..." ujar Ichi berlagak menerawang sejenak lalu kembali menatap Rahmi. "...Pendengki..."
Rahmi langsung murka mendengar kata itu. Tangannya langsung terulur mencengkeram jilbab Ichi dan menariknya dengan keras hingga jilbab itu terlepas.
Ichi terkejut, benar-benar tak menyangka jika teman sekamarnya itu berani melakukan hal yang mempermalukannya sedemikian rupa. Wajah gadis itu merah padam sedang anak-anak kelas 7A, bengong saja. Mereka speechless melihat adegan itu.
"Ahmaq!!!!!" pekik Ichi dengan keras dan melayangkan pukulan ke wajah Rahmi.
Kontan perempuan itu menjerit sambil rubuh ke lantai diiringi pekik kaget oleh siswi-siswi kelas 7A. Fira dan yang lainnya menatap Ichi dengan menutup mulutnya. Sementara siswa-siswa kelas 7A riuh memberi sorakan.
Wafik, ketua kelas 7A langsung menyuak. "Ichi! Jangan mentang-mentang kau menguasai beladiri, lalu sembarangan memukul orang!"
Ichi menatap Wafik. "Kau tidak lihat dia mencampakkan jilbabku?! Kau mau membelanya?! Kau salah alamat!"
"Tapi kau yang mengatai dia Haqidah!" seru Wafik.
"Karena dia menghasut seisi kelas untuk mencurigaiku!" sahut Ichi tak kalah sengit.
"Tentu saja, kami juga mencurigaimu!" balas Wafik, membuat Ichi terkejut dan mundur selangkah.
"Apa yang kalian curigai dariku?" tanya Ichi dengan lirih.
Wafik tersenyum sinis. "Kamu traktir kami semua? Memang berapa uangmu? Aku justru curiga, jangan-jangan kamu..."
__ADS_1
"Stop menuduhku dengan hal-hal yang belum kamu tahu sepenuhnya!" sela Ichi menudingkan telunjuknya kepada Wafik. "Apa kau pikir aku tak punya uang untuk membayar traktiran?!"
Ichi langsung merogoh saku mengeluarkan dompet, mengeluarkan berlembar-lembar uang dan menghamburkannya dikelas. Tidak ada yang berani mengambil uang itu. Ichi menatap Wafik dengan dengan mata berkaca-kaca.
"Tega kau menuduhku begitu, Wafik..." Ichi mendesis lirih. "Aku tak menyangkanya sama sekali..."
Usai berkata begitu, Ichi pergi meninggalkan kelas dan berlalu entah kemana.
...******...
Ahmad berlari dan tiba dikelas. Ia menatap Faisal yang sementara bercanda-canda dengan beberapa teman sebangkunya. Lelaki itu langsung menghampirinya.
"Fais. Gawat, Fais." ujar Ahmad.
Faisal langsung menatap Ahmad lekat-lekat. "Kenapa?"
"Ada kericuhan di kelas 7A." ujar Ahmad. "Ichi baru saja memukul anak perempuan sekelasnya."
Faisal langsung berdiri. "Apa kamu bilang?!" serunya kemudian meninggalkan teman-temannya, berlari keluar kelas dan langsung menuju gedung madrasah tsanawiyah. disana juga telah ramai.
Faisal mengangguk tiba disana. "Ada apa ini?" tanya pemuda pada salah satu siswa.
"Ichi berkelahi dengan temannya." jawab siswa itu.
"Ceritakan detailnya." pinta Faisal.
Anak itu menceritakan semuanya. Faisal mendengarnya dengan seksama. Pemuda itu lalu mengangguk.
"Sekarang, dimana Ichi?" tanya Faisal.
Anak itu mengangkat bahu. Faisal mengencangkan rahangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Pemuda itu mencari tempat yang biasa dikunjungi Ichi. Namun gadis itu tak kunjung ditemukannya.
...******...
Selina selalu tersipu jika Ishak menatapnya. Pemuda itu tersenyum sendiri jika melihat sikap perempuan itu. Sejak pertempuran mereka pagi itu, sikap gadis itu perlahan mulai berubah dan mulai menerima kehadiran Ishak disisinya.
Pemuda itu telah mengenakan kemeja lengan panjang untuk menutupi rajahan disekujur tubuhnya. Selina sendiri telah mengenakan pakaian yang baru. Mereka berdua memesannya di Distro, lewat pesanan online.
"Kakak... mau sarapan apa pagi ini?" tanya Ishak dengan lembut.
Ishak tersenyum lagi. "Okey, ini sudah jam sepuluh. Kakak mau sarapan apa siang begini?"
Selina menerawang menatap langit kamar. "Apa ya?"
"Sarapan punyaku saja?" pancing Ishak dengan senyum nakal.
"Hush!" seru Selina lalu tertawa. "Masih... ngeganjal nih... kamu sudah lima kali bikin aku K.O."
"Tapi... suka, kan?" pancing Ishak lagi dengan senyum nakal.
"Isssyyyy..... kok ngebahas itu sih?" tukas Selina kemudian tersipu sejenak. Kemudian ia mengingat sesuatu dan menatap Ishak. "Kita bolos lagi nih."
"Bolos sehari juga nggak apa-apa." ujar Ishak dengan senyum sambil menegakkan tubuhnya.
Tak lama kemudian pesawat telepon di nakas dekat tempat tidur berdering. Ishak melangkah ke nakas itu dan meraih gagang telpon.
📞 "Moshi-moshi..." sapa Ishak dengan bahasa jepang.
📲 "Ishak, pulanglah! Genting." seru Faisal.
Alis Ishak langsung berkerut, tak luput dari tatapan Selina.
📞 "Nani mono?" tanya Ishak lagi.
📲 "Ini tentang Ichi!" ujar Faisal.
📞 "Ada apa dengan Ichi?!" sergah Ishak.
Selina bisa melihat wajah bengis pemuda itu muncul.
📲 "Ichi kabur. Aku mencarinya kemana-mana. Anak itu tak kutemukan!" seru Faisal.
📞 "Aku kesana sekarang!!" seru Ishak segera meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Pemuda itu memicingkan mata sesaat lalu menatap Selina. Senyum kaku muncul diwajah pemuda itu.
"Kak Selina..." ujarnya mendekat lalu duduk disisi ranjang dan menyentuh punggung tangan gadis itu.
"Aku paham..." sela Selina dengan lembut. "Mari kita pulang." ajak gadis tersebut.
__ADS_1
Ishak menatap lama wajah perempuan itu dan akhirnya ia mengangguk. Ia mengulurkan tangan dan kali ini Selina menyambutnya. Keduanya melangkah keluar dari kamar itu menuju resepsionis dan menetapkan hati untuk check out hari ini.
...******...
Faisal benar-benar putus asa. Semua tempat sudah disusurinya. Tak ada satupun nampak perempuan itu. Dengan geram, pemuda itu berlari ke pondok putri. Disana ia bersua dengan Ibu Nyai. Pemuda sejenak mengatur napasnya lalu membungkuk datar.
"Assalamualaikum, Bu Nyai." sapa Faisal dengan santun.
"Wa alaikum salam, Faisal." balas wanita itu. "Ada yang bisa Nyai bantu untukmu?"
"Ijin tanya, Nyai." ujar Faisal. "Apakah Ichi ada didalam asrama?"
Wanita itu mengerutkan alisnya. "Ibu dari tadi duduk-duduk lagi mentahfizi ayat. Ibu nggak lihat Ichi masuk."
Lansung piaslah, wajah pemuda itu. Berarti Ichi kabur dari pesantren. Pemuda itu kembali membungkuk datar dan pergi berlalu dari situ.
Sementara di madrasah tsanawiyah, telah ramai. Rahmi dibawa menghadap kepala madrasah ditemani siswi-siswi yang pro dengannya dan membenci Ichi. Mereka mengadukan sikap Ichi yang dianggap lancang memukul. Bahkan diantara mereka ada yang menambah-nambah cerita seakan menempatkan Ichi sebagai subyek tertuding peristiwa tersebut.
Pak Maman menatapi semua siswa-siswi kelas 7A tersebut. Mereka terbagi dalam dua kubu. Sebagian besar siswi berada dibarisan Rahmi sedang para siswa berupaya jujur dalam masalah itu mengungkap jika bukan karena tindakan dari Rahmi yang menghasut para siswa, tentunya tidak akan ada peristiwa semacam itu.
"Bentulkah itu Rahmi?" selidik Pak Maman menatap Rahmi.
"Tapi Pak Ustadz, saya juga bicara punya dasar sendiri." kilah Rahmi. "Coba Pak Ustadz selidiki, darimana Ichi mendapat uang sebanyak itu? Bayangkan Pak, banyak sekali lembar uang yang ia hamburkan dilantai."
"Rahmi, jangan kau memutar-mutar cerita." tukas Hasmar. "Dia begitu karena memberi bukti bahwa dia sungguh-sungguh hendak mentraktir kita."
"Ya, tapi kau menuduhnya dengan sesuatu yang membuat dia marah." sambung Fahri. "Memangnya kau menuduhnya apa, Rahmi? Pencuri? Perampok? perempuan sekecil itu sudah bisa merampok?"
Rahmi tergagap hendak membela diri. Namun Pak Maman langsung menyela. "Sudahlah... sekarang dimana Ichi?"
Semua siswa kelas 7A mengangkat bahu, tak tahu kemana perginya anak perempuan itu. Pak Maman membuang napas kasar. "Saya tidak bisa memutuskan mana yang benar dari kalian sebelum saya mengetahui semuanya dari anak itu."
Faisal menghela napas dan menyesali peristiwa itu. Bukankah Ichi hanya menunjukkan i'tikad baiknya? Mengapa ada saja yang mencurigainya? Apakah anak itu memiliki kasus tertentu berkaitan dengan hal-hal finansial sehingga harus dipandang seperti itu?
"Semuanya minggir!!!" seru suara dibelakang.
Semuanya merasakan rongga dadanya bergetar sebab sipemilik suara mengeluarkan suaranya disertai resonansi yang kuat. Para siswa yang mengerumuni ruangan Dewan Guru itu seketika membalikkan diri dan menyingkir beberapa langkah ke belakang.
Disana berdiri Ishak dengan sikap siaga dan tatapan mencorong. Anak-anak madrasah tsanawiyah itu sedikit bergidik melihat tatapan pemuda itu. Faisal yang berada disana langsung mendatangi Ishak.
"Kau menemukannya?" tanya Faisal.
"Kau pikir aku darimana?" tanya Ishak memelototinya, meski pelototan mata itu tak sempurna sebab pemuda itu bermata sipit.
"Kupikir kau menemukannya." ujar Faisal dengan masygul. Ishak hanya mendengus.
Ishak melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam kantor Dewan Guru. Para guru menatapnya termasuk Pak Maman dan Ibu Vintje selaku kepala madrasah.
"Ada apa? Siapa kau?" tanya Pak Maman.
"Saya Ishak Rompies, anak kelas X Madrasah Aliyah Alkhairaat, hanya ingin mengonfirmasi, kenapa Ichi kabur dari sekolah." ujar Ishak. "Apakah dia berbuat hal yang tidak senonoh disekolah?"
"Kau ini siapa?" tanya Pak Maman.
Ishak menghela napas. "Saya... Kakak angkatnya."
Anak-anak madrasah itu langsung heboh. Pak Maman bangkit dan melangkah berdiri dihadapan Ishak.
"Anak-anak bilang, Ichi hendak mentraktir mereka. Namun jumlah uang yang dimiliki anak itu mengundang syak swasangka..." tutur Pak Maman.
"Karena ia punya uang banyak berlembar-lembar yang tak dimiliki siswa-siswa disini?" tebak Ishak membuat Pak Maman terdiam.
Ishak tersenyum, "Itu uang miliknya, dari ayahnya." jawabnya. "Uang itu dititipkan padaku dan aku menggunakannya untuk berinvestasi... begitu sudah banyak, aku kemudian menarik sisa saham dan menyerahkannya ke Ichi."
Ishak kemudian merogoh dompetnya memberikan kertas-kertas struk berisi jumlah investasi dari sebuah perusahaan e-commerce kepada Pak Maman.
"Siapa yang menuduhnya dengan tuduhan keji itu?" tanya Ishak kembali dengan nada datar.
Rahmi gemetaran dan Wafik terdiam lalu menatap gadis itu dengan tatapan mencela dan menyalahkan. Ishak mengangguk-angguk.
"Saya akan melaporkan hal ini kepada ayahnya. Ini adalah pencemaran nama baik." Ishak menudingkan telunjuknya kepada Rahmi dan Wafik. "Mereka telah melakukan pembunuhan karakter pada adik saya. Secara pribadi, saya tidak terima adik saya dituduh dengan tuduhan keji itu hanya karena terlihat lebih banyak memegang uang ketimbang anak-anak pondok disini."
Ishak berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Dihalaman ia kembali bertemu Faisal.
"Dasar calon mantu tak berguna!" sergah Ishak. "Apa guna kau mendempetnya jika tak bisa melindunginya dari para pembully itu?!" Ishak mengulurkan tangannya. "Kemarikan ponselku!!!"
Faisal dengan wajah bersalah menyerahkan ponsel milik lelaki itu. Sambil memaki-maki dalam bahasa jepang, Ishak melangkah meninggalkan sekolah.[]
__ADS_1