KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
SINKROT??? ... SCREENSHOOT!!!


__ADS_3

Lelaki itu sedang membaca artikel tentang penalti yang diajukan Dewan Keamanan PBB ke Rusia akibat agresi milternya ke Ukraina baru-baru ini, ketika gawainya bergetar dan panggilan masuk muncul.


Aaaahhh... Si Ratu Macan...


Lelaki itu memencet tombol penjawab pada layar sentuhnya dan memulai percakapan seluler.


📲 "Assalamualaikum, Umi..." sapa lelaki itu.


📲 "Wa alaikum salam, Abi..." jawab wanita diseberang sana yang ternyata adalah Azizah, istrinya.


📲 "Eh, aku present lagi ya." ujar lelaki itu membuat Azizah tertawa. Memang sejak akhir-akhir ini, lelaki itu sering mengadakan panggilan kepada istrinya menyamai jumlah sholat rawatib sehari semalam hanya sekedar untuk menyatakan kehadirannya kepada istrinya.


📲 "Bagaimana kabar Abi hari ini?" tanya Azizah.


📲 "Akhir-akhir ini, agak menurun staminaku. Jum'at kemarin, aku kena demam." jawab lelaki itu dengan jujur.


📲 "WHAT???" seru Azizah dengan suara meninggi. "Kena sakit?"


📲 "Iya, mungkin karena menforsir terlalu banyak energi kemarin-kemarin, ditambah bergadang, jadinya ya begini..." jawab lelaki itu.


📲 "Tuh, kan? Abi kalau dibilangin ngeyel terus sih! Kan Umi bilang jangan terlalu lelah bekerja, kalau kerja disekolah jangan bawa-bawa dirumah! Dirumah itu waktunya istirahat, waktunya santai, waktunya menikmati saat kita selesai bekerja!" omel Azizah, "Ini Abi, kalau pekerjaan sekolah selalu saja dibawa dirumah. Abi kira, Abi pegawai kantoran begitu? Yang akan dibayar waktu lemburnya? Nggak, kan?"


📲 "Iya... Abi salah..." lelaki itu mengaku.


📲 "Nah sekarang kalau sudah sakit begini, apakah mereka perduli sama Abi? Nggak kan? Abi menggeletak sendirian disana, sedang mereka tetap sibuk dengan pekerjaannya tanpa sedikitpun memikirkan Abi." omel Azizah menyesalkan.


📲 "Iya... Abi salah... maaf ya?" ujar lelaki itu.


mendengar suara rendah nan lembut setengah serak si lelaki, membuat nada suara Azizah akhirnya turun pula volumenya.


📲 "Lalu, udah minum obat belum?" tanua Azizah dengan lembut, khas perhatian seorang istri yang begitu perduli dan takut kehilangan.


📲 "Umi kan tahu, kalau di Tolinggula, nggak ada toko obat." ujar lelaki itu.


📲 "Sudah periksa ke Puskesmas?" tanya Azizah lagi dengan nada mulai datar.


📲 "Umi tahu ini hari apa?" pancing lelaki itu.


📲 "Hari sabtu..." jawab Azizah.


📲 "Nah, hari Sabtu dan Minggu, ada pelayanan nggak di Puskesmas?" pancing lelaki itu membuat volume suara istrinya menaik lagi.


📲 "Tuh, kan? Sudah tahu di Tolinggula nggak ada toko obat, nggak ada pelayanan Sabtu-Minggu di Puskesmas, kok Abi berani-beraninya sakit sih?! Kan jadi begini akhirnya..."

__ADS_1


📲 "Sudah, jangan marah-marah..." pinta lelaki itu. "Orang sakit itu bukannya dimarahin, tapi dihibur agar sakitnya cepat sembuh..." tegur lelaki itu.


Terdengar suara isakan diseberang sana. Lelaki itu tersenyum sayu.


📲 "Umi... jangan nangis dong... Abi kan jadi ikut sedih..." ujar lelaki itu dengan suara serak.


📲 "Gimana aku nggak mau nangis? Abi sendirian disana! Menahan rasa sakit sendirian disana! Sedang aku hanya disini..."


📲 "Umi disana, kan ngurus anak..." kilah lelaki itu.


📲 "Tapi itu sangat tak sesuai dengan etika. Hanya aku seorang istri yang membiarkan suaminya sendirian disana menahan sakit, menahan rasa sepi, menahan segalanya hanya demi sebuah kebutuhan hidup, hanya demi seonggok sampah yang rawan dengan fitnah... aku merasa, aku bukan istri yang baik..." sedu Azizah.


Lelaki itu memperdengarkan tawanya untuk mengusir rasa cemas wanita itu.


📲 "Tumben, kalau sedih, Umi piawai juga berpujangga." olok lelaki itu.


📲 "Woh, aku ini lagi sedih Abi, bukan lagi berpuisi!" tukas Azizah dengan ketus.


Lelaki itu tertawa lagi.


📲 "Kok ketawa sih? Lagi sakit malah ketawa... sudah gila ya?" tukas Azizah dengan ketus.


📲 "Ya, aku jadi gila karena kamu." ujar lelaki itu membuat Azizah tanpa sadar tersipu. Lelaki itu melanjutkan, "Sudah, nggak usah buat-buat drama begitu. Nggak akan ada production House yang akan melirikmu, karena mereka nggak punya uang buat bikin sinetron. Lagipula sudah banyak drama Korea yang bertebaran di internet. Tangis kamu nggak laku bagi mereka." olok lelaki itu lalu tertawa lagi.


📲 "Yooo, nggak usah marah..." rayu lelaki itu. "Ini aku, Alhamdulillah sudah mendingan. Aku istirahat full time seharian ini, nggak ngapa-ngapain. Insya Allah cepat sembuh. Didoakan ya?"


📲 "Tentu dong! Masa aku nggak ngedoain kesembuhan Abi sih?" ujar Azizah.


📲 "Bagus dong. Nah... Abi sekarang lagi konsumsi air perasan jeruk nipis. Alhamdulillah dengan minum itu beberapa hari kemarin, setidaknya segala penyakit yang berpendam ditubuh dibongkar oleh cairan itu." ujar lelaki tersebut.


📲 "Jadi maksud Abi, sakit demamnya Abi itu..." tukas Azizah.


📲 "Mungkin dzat-dzat jahat dalam tubuh lagi dibongkar." sela lelaki tersebut. "Kan air perasan jeruk nipis berfungsi pula sebagai penguat imunitas tubuh."


📲 "Ya, syukur kalau begitu. Mudah-mudahan seperti yang Abi perkirakan itu." ujar Azizah dengan pelan.


📲 "Ya, berdoalah seperti itu." ujar lelaki tersebut. "Oh ya, Umi... tadi Abi ketemu cemilan enak di facebook. Abi kirimkan ke Umi ya, nanti dibuatkan untuk Abi."


📲 "Ya, tenang... nanti Abi kalau disini, Umi buatkan cemilan itu. Kirimkan saja... pakai sinkrot ya..."


📲 "Sinkrot?" ujar lelaki itu dengan kening bertaut.


📲 "Iya, sinkrot. Masa Abi nggak tahu sih? Itu, yang dipotret layarnya..." ujar Azizah.

__ADS_1


Seketika meledaklah tawa lelaki itu.


📲 "Umi.... bukan sinkrot... tapi screenshoot." ujar lelaki itu membetulkan pengucapan tersebut.


📲 "Sinkrot..." ujar Azizah berupaya melafalkan.


📲 "Screen.... shoot..." eja lelaki itu.


📲 "Skriiin...skroot..." eja Azizah.


📲 "Screen....shoot..." eja lelaki itu lagi.


📲 "Aaaahhh... kesusahan ejaannya. Lama-lama terpelintir pula lidah aku cuma belajar membetulkan pengucapan itu." omel Azizah.


📲 "Tapi juga itu penting Umi. Masa Umi yang istrinya pegawai negeri malah salah mengucapkan lafal itu. Kalah sama Ichi lho."


📲 "Ah, biarin." tandas Azizah. "Kirim saja pake sinkrot ya? Nanti kalau Abi disini, Umi akan buatkan cemilannya." ujar Azizah tak perduli lagi dengan kesalahan pelafalannya.


Lelaki itu tersenyum dan geleng-geleng kepala.


📲 "Oke, nanti Abi kirimkan screenshootnya ke Umi." ujar lelaki itu, mendamaikan saja kesalahan tersebut.


📲 "Ya sudah, Abi istirahat lagi ya?" pinta Azizah dengan nada mesra.


📲 "Seandainya aku tak butuh makan dan minum, tentu sudah lama aku berada disisimu, memelukmu selalu, menemanimu... andaikata tak ada jarak itu, tentu aku tak pernah meninggalkanmu... sayangnya, aku tak bisa merubah takdir. Kebutuhan hidup dan jaraklah yang memisahkan kita, sedang aku tak mampu berbuat apa-apa... maafkan aku..." ujar lelaki itu.


📲 "Wuih, ma hemo tuja'i buayi..." olok Azizah sambil tertawa.


📲 "Ungkapan perasaan uti... Watiya ti selalu mo ela tolimongoli ti..." ujar lelaki itu.


📲 "Sudah, nggak usah dipikirkan hal itu. Umi disini juga selalu mengingat Abi... please... Abi jaga kesehatan ya? Jangan sakit lagi..." pinta Azizah memelas.


📲 "Ya... aku akan berupaya sesehat mungkin.... i love you..." ujar lelaki itu.


📲 "I love you too...." balas Azizah.


Percakapan seluler itu berakhir. Lelaki itu tersenyum. Kini ia kembali memencet nomor, menghubungi seseorang.


📲 "Ya, Sensei..." sapa orang itu.


📲 "Skullen... saatnya kau melakukan tugas, membersihkan pekarangan rumahmu. Aku akan mengirimkan paket untukmu besok. Dalam waktu seminggu, aku sudah harus menerima kabar kematian Jensen! Paham?!" seru lelaki itu.


📲 "Tenang, Sensei.... Aku sudah mengetahui segala aktifitas mereka. Seminggu lagi... kau akan menerima paketnya." jawab Ishak dengan senyum.

__ADS_1


📲 "Bagus!" ujar lelaki itu kemudian mengakhiri percakapan selulernya dan kembali membaca artikel tentang agresi militer yang dilancarkan Rusia ke Ukraina. []


__ADS_2