KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
WAKTU JEDA


__ADS_3

Dua minggu ujian semester telah dijalani Ichi dengan sungguh-sungguh meski ia tak yakin bisa memenuhi ekspektasi ibunya yang begitu memaksa. Bagaimanapun ia telah berupaya, tinggallah Allah yang menentukan akhirnya.


Gadis itu duduk santai di gazebo sambil sibuk membuat sebuah konten untuk diposting pada akun sosial medianya. Tak lama kemudian muncul Reva.


"Halo! Sibuk benar hari ini." olok Reva yang kemudian duduk disisi Ichi yang masih sibuk membuat konten.


Merasa dicuekin, Reva kesal dan langsung menampar pundak gadis itu. Seketika Ichi melonjak.


"Astagfirullah! Copot-copot-copot eee copot eeee copot lagi... eeee..." seru Ichi jadi latah membuat Reva tertawa. Setelah berhasil menenangkan dirinya, sontak gadis itu berseru. "Hey, Tendelenga! Kenapa sih kageti aku?! Orang lagi sibuk, diganggu!" omel Ichi.


Reva hanya tertawa mendengar omelan sahabatnya. "Habisnya kamu seriusnya level dewa." kilah Reva, "Teman sendiri di cueki, kan aku jadi KZL..."


"Kenapa? Penting nih?" tanya Ichi.


"Memang kalau nggak penting, nggak boleh ketemu?" tukas Reva membuat Ichi terdiam dan akhirnya menyimpan gawainya dan langsung memasang senyum.


"Nggak usah marah." rayu Ichi.


Reva melengos namun bibirnya tersenyum mengejek. Ichi tertawa pelan dan menggelitik pinggang sahabatnya itu. Reva langsung menggelinjang kegelian.


"Ichi, hentikan!" teriak Reva.


Tapi Ichi justru lebih intens menggelitik sahabatnya itu membuat keduanya jatuh bergulingan dilantai gazebo tersebut. Setelah puas main gelitikan, keduanya membaringkan diri menatap langit-langit atap gazebo.


"Chi..." panggil Reva dengan pelan.


Ichi menggumam sambil menengok kearah sahabatnya. Reva kemudian menatapnya.


"Kamu akan tetap jadi sahabatku, kan?" ujar Reva langsunf memancing keingintahuan gadis itu. Ichi mengerutkan alisnya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Ichi. Apakah ada yang membuatnya tersinggung???


Reva menghela napas lalu kembali menatap langit-langit gazebo. "Aku dengar kabar dari Asna... kalau Rusli tiba-tiba memutuskannya tanpa keterangan apapun."


Sudah kuduga!!!!


Ichi langsung menelungkup dengan wajah tetap menatap Reva. "Lalu, responnya Asna bagaimana?" tanya Ichi.


Reva menghela napas. Ichi menangkap ada rasa kegetiran yang terpampang diwajah sahabatnya itu.


"Asna...." gumam Reva namun seakan lidahnya kelu, sukar mengungkapkannya.


"Ada apa dengan Asna?" tanya Ichi.


"Asna...." gumam Reva lagi, tapi tetap saja kalimatnya terhenti. Ichi mendengus gusar.

__ADS_1


"Ada apa dengan Asna, Va?!" seru Ichi dengan pengerahan tenaga dalam yang menggedor rongga dada sahabatnya itu dan jemari tangan gadis itu mencengkeram lengan Reva.


"Asna...As-Asna... h-h-ham-hamil...Chi." jawab Reva dengan gagap.


WHAT?????


Bagaikan gelegar halilitar yang dilepaskan tanpa kendali membobol liang gendang telinga Ichi. Gadis itu terhenyak dan speechless luar biasa.


Lama Ichi terdiam membuat Reva menyentuh lengan sahabatnya. Ichi terhenyak kaget dan tatapannya nanar menatap Reva.


"Asna ada disini, sekarang?" tanya Ichi memicingkan mata.


Reva mengangguk. Ichi menghela napas panjang sejenak lalu menatap Reva dengan tatap menusuk. "Bawa aku kehadapannya!" pinta Ichi dengan datar.


Reva lama menatap Ichi. Gadis itu mendesah. "Haaahhhh... lama! Ayo, bawa aku kesana!" desak Ichi.


Reva akhirnya mengangguk dan keduanya meninggalkan tempat yang ramai oleh para siswa tersebut.


...******...


Seorang lelaki berpakaian necis duduk santai disalah satu tempat di warung angkringan yang berjejer disisi jalan Trans Sulewasi, Desa Tolinggula Tengah, bersanding dengan warung ritel sayuran yang mengambil tempat yang sama di tempat itu. Dibelakang deretan gerai itu menghampar Lapangan Rajawali, ikon dari desa Tolinggula Tengah.


Seorang pramusaji muncul membawa nampan bertenggerkan secangkir minuman kopi dan sepiring kudapan ringan. Pramusaji itu meletakkan minuman dan cemilan itu dimeja depan lelaki tersebut.


"Terimakasih." sahut lelaki itu mengapresiasi pelayanan pramusaji tersebut dengan senyuman simpatik.


Tak lama dari arah barat, muncul seorang pengendara kendaraan bermotor. Ia berhenti dan memarkirkan kendaraannya beberapa meter dari kedai. Lelaki itu mengenakan pakaian safari warna violet. Diatas saku kirinya tersemat lencana KORPRI warna keemasan. Disaku kirinya tergantung kartu pengenal lembaga tempat lelaki itu bekerja. Dua batang pulpen terselip pada liang sematan disisi saku itu. Lelaki itu rupanya adalah seorang Aparatur Sipil Negara yang bertugas diwilayah tersebut. Ia mendekati lelaki yang duduk menikmati sajian ringannya.


"Sudah lama menunggu?" tanya aparat itu.


Lelaki itu mengangguk, "Lumayan juga. Bagaimana kabarmu?" balasnya.


"Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat." jawab aparat tersebut. Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Si aparat itu duduk disisi agak jauh dari tempat duduk si lelaki.


"Bagaimana dengan penyakit autoimunmu?" selidik lelaki itu.


Aparat itu meringis sedikit lalu mengangkat bahu. "Sejauh diagnosa dokter ahli... sudah level empat." jawab si aparat dengan senyum getir. "Semestinya dengan penyakitku ini, aku harus mengambil cuti untuk pengobatan. Tapi... itu tak kulakukan."


Lelaki itu terkekeh. "Tanpa kau bilang pun, aku sudah tahu."


Keduanya saling melempar tawa pelan. Si aparat menengok memanggil pramusaji.


"Secangkir kopi ya?" pesan si aparat itu.


Pramusaji itu mengangguk sopan lalu membuat racikan yang diminta si aparat. Menunggu pramusaji itu membawakan pesanannya, si aparat menatap lelaki tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini, Orchido?" tanya aparat itu dengan hiasan senyum tersungging sambil memperhatikan lelaki dihadapannya mengambil cangkir.


Lelaki itu menyeruput lagi minumannya, setelah itu ia menatap aparat dihadapannya sedangkan cangkir itu masih berada beberapa senti dari bibirnya.


"Apakah kau yang menggerakkan Darkest?" tanya lelaki itu.


Alis si aparat sejenak mengernyit lalu kembali ke model biasa dan ia tersenyum lagi. "Memangnya kau dapat info darimana, kalau aku yang menggerakkan mereka?" pancing si aparat setengah menantang.


"Jangan macam-macam, Calvatorch." ujar lelaki berpakaian necis itu menegur. "Kita sudah lama bersembunyi dan aku tak mau keberadaan kita terendus oleh organisasi." Lelaki berpakaian necis itu meletakkan cangkirnya.


"Pemilik perusahaan Putra Pomalango datang kepadaku. Dia minta aku mencari orang-orang Darkest dan memintaku sebagai perantara antara dia dengan mereka." ujar lelaki berpakaian necis itu.


"Dan bagaimana jawabanmu?" tanya si aparat tersebut dengan senyum penuh arti.


"Aku meminta tenggang waktu." jawab lelaki itu. "Tapi aku tak yakin bisa terus menyembunyikan mereka dari lelaki itu. Dia orangnya gigih sekali."


Aparat itu tertawa sejenak. Tak lama kemudian pramusaji muncul membawa secangkir kopi diatas nampan. Minuman itu diletakkan didepan si aparat.


"Silahkan menikmati." ujar pramusaji tersebut.


"Terimakasih." jawab aparat itu dan pramusaji itupun meninggalkan mereka berdua.


Lelaki berpakaian necis itu memperhatikan si pramusaji tanpa menarik perhatian. Setelah si pramusaji menghilang dibalik dinding tripleks, lelaki berpakaian necis itu menatap si aparat.


"Aku minta kau menghubungi si Skullen." pinta lelaki berpakaian necis. "Suruh dia membawa orang-orangnya menyingkir dari Gorontalo."


"Kenapa bisa begitu?" protes si aparat tanpa memperlihatkan emosi. Lelaki berpakaian necis dihadapannya langsung menggebrak meja.


"Telelilolo, nggak usah bertanya lagi! Kau sudah tahu!" ujar lelaki berpakaian necis itu menahan geram.


Aparat itu sejenak menarik napas lalu membuangnya pelan. "Aku tak akan pernah sekalipun mendeportasi para Darkest dari sana." tandas aparat itu.


"Kau melanggar prosedur, Calvatorch!" geram lelaki itu.


Aparat itu sejenak tersenyum miring. "Sebaliknya, aku minta padamu untuk mempertanyakan motif dari pemilik perusahaan Putra Pomalango tersebut." balas si aparat balik menekan, "Ingat Orchido... anak-anakku tak akan pernah meninggalkan Gorontalo! Tapi jika kau menginginkan mereka untuk hibernasi, fine, aku akan bilang ke Skullen agar dia kembali ke Marisa, mengawasi putriku."


Lelaki berpakaian necis tersebut memicingkan mata. Si aparat kembali menyambung. "Patut kau tahu, Orchido. Anak si pemilik Putra Pomalango itu berani melakukan pelecehan terhadap putriku..."


"Apa?! Ponakanku dilecehkan?!" seru lelaki berpakaian necis itu dengan kaget. Si aparat tidak perduli. Ia kembali menyambung. "Mereka sudah berani mengundang masalah denganku. Aku akan menuntaskannya sendiri." sambungnya lalu mengancam. "Kau jangan mengintervensi keputusanku."


Lelaki berpakaian necis itu mengencangkan rahangnya. Si aparat itu menyambung lagi, "Bersyukurlah kamu, kedua anakmu telah kau amankan di pesantren. Setidaknya kau tidak terlalu memikirkan mereka." tukas si aparat, "Tapi aku? Lelaki itu... dan anaknya berani memeras jeruk kekurangajaran dikulitku yang luka. Perih sekali! Aku tak terima!"


Si aparat bangkit. Ia sama sekali tak menyentuh kopinya yang sudah mulai dingin. Lelaki itu menyangga kedua tangannya pada pinggiran meja.


"Aku bisa pastikan... Apocalyps akan kembali keluar dari kuburannya. Mereka benar-benar akan membuat kerusakan sebagai pengejewantahanku, Sang Maut, pengendara Pallithos, si kuda pucat kematian." ujar si aparat dengan senyum sinis. "Dan sedikit lagi.... Osiris akan kembali memanen nyawa, paska panen padi di kampung ini mendatang."

__ADS_1


Si aparat merogoh sakunya, mengeluarkan selembaran uang kertas nominal lima ribuan lalu meletakkan uang kartal itu dimeja dekat cangkir yang tak pernah disentuhnya. Setelah itu, si aparat melangkah meninggallan si lelaki berpakaian necis menggerutu sendirian dimejanya.


Kendaraan bermotor yang ditunggangi si aparat, melaju meninggalkan kedai itu menyisakan si lelaki berpakaian necis yang hanya bisa mendesahkan keluhannya menyaksikan punggung si aparat yang menjauh bersama-sama motornya.[]


__ADS_2