KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
AWAL PEMBERONTAKAN


__ADS_3

PLAKKK...


Faisal terhempas ke samping manakala tendangan yang dilayangkan Ishak, singgah dengan sukses di rusuknya. Faisal jatuh berdebam dilantai sedang Ishak berdiri dengan sikap siaga.


"Bakeru!!! Berani benar kau ya?!" sergah Ishak kemudian menudingkan telunjuknya ke arah Faisal. "Dia masih kecil, Fais! Kupikir kau lebih dewasa... nyatanya..." seru Ishak kembali menghambur namun cepat dicegah oleh Selina.


Ichi hanya menunduk dalam-dalam dan jemarinya saling *******-*****. Gadis itu tak menyangka jika Faisal telah berani mengambil ciuman pertamanya dengan cara seperti itu. Tapi, Ichi memang menyukainya sehingga membiarkan pemuda itu mendapatkan pialanya.


Faisal meringis memegang rusuknya yang terasa sakit dihantam telapak kaki Ishak. Pemuda itu duduk saja dilantai. Ishak mendengus.


"Faisal Husein Polontalo!" seru Ishak. "Kau telah lancang melanggar garis yang kutetapkan untukmu! Aku dengan nama Sensei, menantangmu untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"


Pemuda itu melangkah menuju halaman didepan rumah kemudian berbalik menatap Faisal. "Majulah! Tunjukkan kalau kau pantas bagi Klan Calva!"


"Ishak..." seru Selina dengan cemas.


Faisal akhirnya bangkit dan melangkah tertatih-tatih menuju halaman.


"Kak, Onegaishimasu..." seru Ichi dengan wajah memelas.


Ishak menatap gadis itu. Ia mendengus. "Kau pikir, masalah ini akan dibiarkan begitu saja oleh Sensei???"


"Aku tahu." tandas Ichi. "Tapi bukan saat ini, pertandingan itu ditunda dulu."


"Apa alasanmu?" tuntut Ishak.


"Itu!!!" ujar Ichi kemudian.


Ishak mengerutkan alisnya, tidak paham dengan jawaban yang diberikan Ichi. Tak lama kemudian terasa getaran digawainya. Pemuda itu kemudian memperbaiki sikapnya. Ishak lalu merogoh saku mengeluarkan gawai tersebut.


Ishak menatap layar sentuh. Alisnya langsung terangkat dan wajahnya langsung berubah. Ia tanggap mengaktifkan penjawab panggilan.


📲 "Moshi-moshi Sensei..." sapa Ishak dengan takzim.


📲 "Skullen... kamu harus berangkat hari ini ke Gorontalo!" ujar suara diseberangnya.


📲 "Siap Sensei!" seru Ishak kemudian menyimpan gawainya lalu menatap Selina.


"Kak... aku minta maaf..." ujar Ishak dengan datar.


Selina langsung disergap rasa tak nyaman dalam hatinya. Ishak tersenyum dan melangkah mendekat ke beranda. Diraihnya pergelangan tangan gadis itu dan dielusnya punggung tangan Selina.


"Aku akan ke Gorontalo beberapa hari." ujar Ishak dengan lembut. "Ada yang harus ku kerjakan disana."


Selina hanya mengangguk dengan senyum kaku. Ishak menatapnya agak lama, setelah itu ia langsung berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Selina hanya memandang punggung pemuda itu, menghilang disisi tembok pembatas rumah.


"Kak..." panggil Ichi dengan lembut.


Selina menoleh menatap jilbaber itu. Ichi mendekat dan memeluk kakak seniornya itu. "Tenanglah, dia akan kembali lagi setelah menyelesaikan tugasnya."


Selina menunduk sejenak lalu kembali membuang pandang ke arah tempat menghilangnya Ishak.


...*****...


Jensen telah kelihatan benar belang hatinya. Lelaki itu kini menjadikan Darkest sebagai kaki-tangan dari Rusli, presdir dan pewaris perusahaan Putra Pomalango, Tbk.


Rusli sendiri, memerintahkan Jensen untuk menggerakkan para Darkest untuk menancapkan kuku kekuasaan diwilayah bagian timur. Endrawan sendiri merasai betapa wilayah kekuasaannya perlahan mulai digerogoti oleh golongan hitam kini. Semenjak Darkest tidak berada dibawah kendali Skullen, mereka makin menggila dan berhasil memaksa penguasa-penguasa kecil diwilayah selatan, tunduk kepada mereka.


Darkest yang sekarang, dikenal sebagai kelompok ambisius yang menghalalkan segala cara dan mencampakkan idealisme mereka sendiri sebagai penyeimbang ekosistem bawah tanah. Mereka justru mengambil alis kekuasaan dan memproklamirkan keberadaan mereka sendiri.


...*****...


Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan, Jalan Katamso Nomor 33, Kota Gorontalo.


Bubu yang menjalani masa tahanannya, sudah lima tahun lebih, ia berada dilembaga tersebut. Namun layaknya seorang raja dunia hitam, ia menduduki kasta tertinggi dalam deretan strata sosial penghuni tahanan tersebut. Bahkan Kepala LAPAS sendiri segan kepadanya.


Namun Bubu memang berniat menjalani hukuman sebagai penebusan dosanya atas sumpah yang ia lakukan kepada mendiang Stefan.


Pertempuran yang seru di pegunungan wilayah Tumolata itu menjadi akhir dari sepak terjang Bubu. Ia kini mendekam dilembaga diawasi oleh beberapa orang yang ditugaskan secara rahasia oleh Trias maupun Kenzie.

__ADS_1


Lelaki renta yang masih terlihat liat dan kuat itu sementara duduk dibangku menikmati ransumnya ketika tiba-tiba muncul seorang lelaki tinggi besar yang duduk disampingnya dan tiba-tiba menyenggol piring seng milik Bubu hingga jatuh dilantai. Ransum itu berhamburan disana.


Pria tinggi besar itu tertawa. Bubu menatapnya dengan tenang lalu bicara dalam bahasa isyarat.


Siapa sebenarnya kau, kisanak? Aku tak pernah cari gara-gara denganmu...


Pria tinggi besar itu menatap sejenak kepada Bubu lalu tertawa dan memandangi beberapa narapidana yang melihat.


"Hei, apa yang dia bicarakan? Aku tak mengerti." ujar pria tinggi besar itu.


Bubu dengan kesal namun berupaya tenang jongkok dan mengais kembali sisa-sisa ransum yang masih layak untuk dikonsumsi dan diletakkannya dipiringnya. Salah satu narapidana maju hendak membantu, namun Bubu menolaknya.


Jangan kuatirkan aku... hal ini biasa terjadi disini... aku sudah hafal...


Napi itu terdiam saja, sementara Bubu terus mengais sisa ransum itu. Setelah terkumpul dipiringnya, lelaki tua itu bangkit dan duduk lagi dibangkunya. Namun kelihatannya pria tinggi besar itu penasaran dengan sikap acuh si lelaki itu. Kembali ia melayangkan tamparan.


PLAK!!!!


HM???


Tamparan itu ditangkap oleh Bubu dengan gaya yang terkesan malas. Pria itu kaget dan tiba-tiba Bubu memuntir pergelangan tangan pria tersebut dengan cepat membuatnya secara refleks terpelanting tanpa sempat menyadari mengapa dia terpelanting. Tubuh pria itu jatuh berdebam dilantai.


Bubu menatapnya dengan tatapan dingin. Nak... berlakulah sopan kepada orang tua. Apakah ibu dan ayahmu tak pernah mengajarimu arti menghormati orang lain???


Dengan gusar, pria itu bangkit. "Ti tameya mayi boti tinggodu 'U...." serunya dengan marah dan kembali melayangkan tendangan. *)


*) Rasakan nih pukulanku!!!


Bubu santai saja menampar kaki lelaki itu. Namun lelaki itu merasakan kakinya seperti ditampar oleh batang-batang besi membuat dria perasanya langsung terasa kram. Pria itu meringis kesakitan. Namun belum sempat ia membalas, Buhu langsung melayangkan tendangan menyepak.


SPAAAKKKKK....


UHUUKKKK...


Sepakan itu kena telak didagu lelaki tinggi besar itu dan membuatnya langsung rubuh pingsan mengeluarkan busa dimulut. Beberapa narapidana maju mengangkut tubuh lelaki itu dan membaringkannya di sisi dinding ruangan.


"Kamu, masuk ke ruang komunikasi! Ada yang ingin bertemu denganmu!" seru sipir tersebut.


Bubu dengan malas menghentikan makannya dan menyorongkan piring yang masih dipenuhi ransum ke tengah meja, kemudian bangkit dan melangkah mengikuti rombongan sipir tersebut.


Mereka membawa Bubu ke taman dan meninggalkannya disana. Nampak pemuda sedang berdiri membelakanginya, menatap hamparan pepohonan yang menghias taman-taman lembaga pemasyarakatan itu.


"Kami sudah membawanya kepadamu!" seru pegawai itu.


Pemuda itu kemudian berbalik dan menatap Bubu yang juga berdiri menatapnya. Bubu bicara lagi dengan bahasa isyarat.


Ada apa???


Pemuda itu tersenyum lalu membalas dengan bahasa isyarat pula.


Anda tak ingin mengenalku???


Bubu hanya menghela napas, lalu mengangkat bahu. Aku lama mendekam di penjara, nak. Tentunya aku tak kenal siapa kau! Kau ini siapa?"


Ishak tersenyum dan memperkenalkan diri dalam bahasa isyarat.


Aku, Skullen... mantan pimpinan Darkest...: ujar Ishak dengan peragaan bahasa isyarat.


Bubu mengerutkan alis dan bicara isyarat lagi. "Darkest??? Kelihatannya... aku pernah mendengar nama itu...


Ishak tersenyum dan menjawab lagi dengan bahasa isyarat. Lupakan hal itu.... Pemuda itu tiba-tiba mengacungkan jarinya. Tunggu sebentar.... aku lupa sesuatu...


Ishak melangkah sejenak kerimbunan taman dan kembali membawa sebuah bungkusan. Benda itu disodorkan kepada Bubu.


Apa ini? Tanya Bubu dalam bahasa isyarat.


Tanda persahabatan, Pak Tua... jawab Ishak dengan bahasa isyarat. Terimalah....


Bubu memicingkan mata sejenak lalu menukas dengan bahasa isyarat. Kau mau menyogokku??? Apa kau pikir aku, orang yang gampang menjual prinsipku???

__ADS_1


Ishak tertawa lalu mengangguk-angguk, kemudian menjawab pula dengan bahasa isyarat. Tidak... ini semata-mata sebuah tanda persahabatan saja... Sensei bilang... kau dapat salam dari Pak Adnan Lasantu...


Mendengar nama itu, wajah Bubu langsung disergap rasa tidak nyaman. Pasalnya, dia telah menjalin persahabatan dengan lelaki itu melalui Yanto Lapananda. Namun ternyata ia kemudian membantu musuh besar keluarga itu demi sebuah sumpah dimasa lalu. Kematian Stefan, melepaskan Bubu dari tanggung jawab tersebut. Namun persahabatan sudah terlanjur rusak. Tentunya keluarga Lasantu mendendam benar kepadanya.


Oh ya? Apakah dia menyampaikan salam untuk meminta pertarungan? Jika itu yang dia inginkan, aku akan mengabulkannya setelah keluar dari penjara ini... jawab Bubu dengan bahasa isyarat.


Ishak tertawa dan meletakkan bungkusan itu disisi Bubu. Pak Adnan Lasantu nggak sepicik pikiranmu, Pak Tua. Nah... terimalah bungkusan itu...


Bubu menatap bungkusan itu dengan tatapan penasaran, namun ragu-ragu. Ishak mendecak. Ck... Apa engkau pikir didalamnya sebuah bom atau sesuatu yang beracun? Kupikir orang yang menjalani sisa kehidupannya di penjara telah kehilangan rasa takut itu... olok Ishak dengan bahasa isyarat.


Bubu mendengus lalu membuka bungkusan itu. Ia langsung heran mendapati isi bungkusan itu adalah berjenis makanan seperti roti balok, roti mentega.


Makanlah Pak Tua.... ujar Ishak dengan bahasa isyarat. Aku tahu masa kesulitanmu itu. Mereka memang akan selalu penasaran denganmu... kapan lagi bisa menghajar kakek-kakek legend sepertimu???


Tak usah menyindirku... rajuk kakek itu dengan gerak isyarat.


Ishak tertawa lagi dan mengisyaratkan bahwa Kakek itu dipersilahkan menikmati makanannya. Bubu benar-benar lahap memakannya. Hari-harinya di penjara yang diisi senantiasa dengan perkelahian membuatnya tak menikmati kesendirian yang menenangkan jiwa. Benar juga ungkapan pemuda itu. Kapan lagi orang-orang tak berkasta itu bisa menyombongkan diri karena menantangi kakek legend sepertinya?


Sedang asyiknya Bubu makan, pundaknya disentil oleh Ishak. Kakek itu menoleh.


Guru berpesan padaku untuk mendatangimu... dia bilang, dari sekian raja-raja kaum bawah tanah... kau termasuk yang bisa meredam kejumawaan orang-orang Darkest itu... ujar Ishak dengan gerak isyarat.


Anak muda... ujar Bubu dengan bahasa isyarat. Tadi kau bilang, kau adalah mantan pimpinan kelompok itu. Kenapa dengan mereka? Kenapa kau meminta bantuanku? Apa hanya karena alasan itu?


Ishak menggeleng lalu menyambung lagi dengan bahasa isyarat. Kakek tentu tahu... kita sebagai punggawa-punggawa kaum bawah tanah, punya tugas untuk menjaga ekosistem itu agar selama tetap berada dibawah tanah dan tak terdeteksi oleh golongan manapun, termasuk aparat kepolisian... tutur Ishak, Kakek kan pernah dikalahkan Pak Trias Ali... apa Kakek mau, orang-orangnya kakek dihabisi lagi oleh polisi itu???


Bubu terdiam mendengar ucapan pemuda itu. Ishak melanjutkan, Kakek kenal Pak Endrawan, kan?


Bubu tertawa, Si penjagal daging kawasan pasar sentral... aku tak menyangka, kalau lelaki yang mengalahkanku dalam tarung tanding di Tumolata itu adalah putranya. Bubu kemudian menatap Ishak. Sampaikan salamku kepadanya... katakan, dia benar-benar beruntung bisa bersahabat dengan orang sekelas Adnan Lasantu....


Ishak tersenyum. Apa itu artinya... Kakek bersedia membantuku untuk menghentikan para Darkest?


Bubu kembali menatap makanannya lalu melahapnya lagi. Beberapa jenak kemudian ia mengujar dengan bahasa isyarat.


Aku sudah dengar berita itu... bagaimanapun teman-temanku dari balik jeruji ini mengabarkannya... memang meresahkan... penguasa-penguasa wilayah selatan sudah banyak yang ditundukkan... Bubu menatap ke angkasa lalu mendesah.


Aaahhhh.... seandainya Ateni masih hidup hingga saat ini... tentunya wilayah timur tidak akan bergejolak seperti ini... desah Bubu lalu kembali makan roti tersebut.


Ya, aku pernah dengar kisah-kisah itu. Tapi... bukankah Kakek senang dengan kematiannya??? tukas Ishak dengan bahasa isyarat.


Bubu mendesah lagi lalu mengangguk-angguk dan menatap Ishak. Aku tak memungkirinya... diantara empat penguasa besar... hanya dia yang bisa setanding denganku... kematiannya yang tragis itu menempatkan kedudukanku sebagai raja yang tak tertandingi lagi... Bubu mendesah, Tapi untuk apa semua kemegahan itu? Untuk apa semuanya? Itu tak lebih dari sebuah omong kosong saja.... sebuah hipokrisi yang tercipta akibat keserakahan hati...


Bubu menatap lagi penjaga yang memberinya isyarat bahwa waktu besuk akan segera berakhir. Kakek itu kemudian menatap Ishak.


Anak muda... aku akan membantumu untuk memulihkan keseimbangan ekuilibrum itu. Ekosistem itu harus senantiasa dijaga agar tidak menimbulkan kekacauan dipermukaan tanah. Memang, orang-orangnya dipunggung bumi tak boleh menjadikan kita-kita diperut bumi ini sebagai budak mereka... Tandas Bubu dengan bahasa isyarat.


Ishak tersenyum lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya dengan takzim dihadapan kakek itu. Setelah itu ia menegakkan tubuh dan bicara lagi dengan bahasa isyarat.


Saya, Skullen, benar-benar menghargai sikap anda ini. Saya tak akan melupakan pertolongan anda. Guru saya akan menghaturkan terima kasih...


Bubu tersenyum dan mengangguk-angguk. Terima kasih atas roti-rotinya... sangat enak...


Ishak mengangguk lagi. Seorang petugas mendekat. "Waktunya habis, Bubu... kembalilah ke sel kamu!" ujar sipir itu separuh membentak.


Bubu bangkit dan melangkah diiringi sipir tersebut. Ishak masih memandangnya lekat ditempatnya. Ketika hendak masuk, kakek itu berhenti dan membalik menatap Ishak.


Selama percakapan kita, kau tak sedikitpun menyinggung nama gurumu kepadaku. Katakanlah anak muda. Siapa gurumu??? tanya Bubu dengan bahasa isyarat.


Dia salah satu anggota Apocalyps... jawab Ishak.


Hmmm.... Pengsen'k rupanya... ujar Bubu. *Apakah Divinus Godsider? Nereus Orchido? ... Pyrenze Kaizer, atau....


Golgotha Calvatorch... pengendara Pallithos*... jawab Ishak dengan tenang.



Bubu tersenyum. Oh... pimpinan klan tengkorak... si penyandang sabit Osiris, rupanya...


Kakek itu berbalik dan melangkah memasuki pintu, dikawal oleh sipir tersebut. Ishak kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan taman itu. []

__ADS_1


__ADS_2