
Rusli memasang sikap bertarung, sementara orang dihadapannya telah lebih dulu memutar-mutar rantai.
WUK WUK WUK WUK
putaran rantai makin lama makin cepat dan...
SRINGGGG...
Rantai itu dilesatkan orang berjaket hoodie itu kearah Rusli. Pemuda itu terkejut tapi tak panik. Ia langsung menghindar ke samping dan si jaket hoodie itu menyentakkan rantainya hingga benda lentur itu memecut ke arah Rusli kembali.
Rusli melempar tubuhnya lebih jauh untuk menghindari bulir-bulir rantai yang seakan mengejar dirinya. Pemuda itu mengumpat dan memaki saking jengkelnya.
"Terimalah ini, A****g!!" umpat Rusli maju menerjang mengayunkan tendangannya ke depan.
Si jaket hoodie tidak menghindar. Ia justru kembali menyentakkan tali rantainya hingga memecut kembali ke arah Rusli.
CRINGGGG.... BRUKKK... OUCH...
Rantai itu berhasil mengenai kaki Rusli yang menerjang. Pemuda itu berjingkat-jingkat memegang satu kakinya yang cedera terkena rantai yang dilecutkan si jaket hoodie itu.
"Brengsek!" umpat Rusli kembali maju mengayunkan tendangannya.
Si jaket hoodie berhasil menghindar. Sosok itu kembali memutar-mutar rantainya. Rusli berdiri dengan pose pincang. Kaki sebelahnya benar-benar terasa sakit dihantam rantai besi itu.
"Siapa kamu?! Kenapa mencegat saya?!" sergah Rusli dengan jengkel.
Si jaket hoodie tetap saja bungkam sambil terus memutar-mutar rantainya ke udara.
"Eh, kamu bungolo kah? Siapa kamu?!" bentak Rusli lagi semakin jengkel.
Si jaket hoodie tetap saja diam, tapi kali ini ia maju mengayunkan rantainya.
WUK WUK WUK WUK...
rantai itu terayun, menyabet kesana-kemari mengincar Rusli yang berupaya menghindar dengan susah payah. Pemuda itu hanya bisa berkelit sebab jika ia memberanikan diri mendobrak, hanya merupakan tindakan yang sia-sia saja. Si jaket hoodie seakan bisa membaca gerakannya.
Rusli melompat menjauh lagi lalu berdiri terpincang-pincang. "Eh, kamu ini siapa sih?" bentak Rusli dengan melengking. Napasnya nyaris habis sebab banyak bergerak.
Si jaket hoodie itu kembali maju dan melemparkan ujung rantai yang dipasangi bandul itu ke depan. Rusli sempat berupaya menghindar namun kalah cepat.
BUKKK... UUGHH...
Bandul rantai itu mengenai wajahnya dan Rusli terpelanting membentur tanah. Kepalanya terhantam tanah dan seketika kesadarannya langsung hilang. Rusli pingsan seketika
...******...
Faisal Husein duduk bertafakur memejamkan mata. Hanya ia sendirian berada di masjid dan waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Mulutnya komat-kamit melafalkan untaian kata-kata dzikir. Langkah kaki mendekat dan dria pendengarannya langsung bereaksi menangkap gelombang yang dipancarkan pemilik langkah yang mendekat itu.
"Assalamualaikum, Ustadz." sapa Faisal mendahului. Pemida itu tetap pada sikap tafakurnya, memejamkan mata.
Pemilik langkah yang tak lain Ustadz Gau tersenyum. "Wa alaikum salam wa rahmatullah..." jawabnya.
Lelaki itu kemudian duduk bersila disisi pemuda itu yang juga dalam posisi duduk bersila. Lama keheningan menyergap suasana dalam masjid itu. Setelah lama diam, Ustadz Gau angkat bicara.
"Sejak kapan kau mempelajari seni tersebut?" tanya Ustadz Gau dengan datar dan pelan.
Faisal perlahan membuka mata namun tak menoleh kemanapun. Tatapannya menghantam mimbar tunggudu yang berada didepannya.
"Lama.... sejak usia tujuh tahun..." jawab Faisal dengan jujur.
"Hm... pantesan..." ujar Ustadz Gau. Lelaki itu kemudian memutar posisi duduknya menghadap ke arah Faisal. "Bagaimana jika kujajal kemampuanmu." usul Ustadz Gau.
Faisal tersenyum. "Saya rasa, saya tak perlu meladeni permintaan itu." ujarnya tanpa menoleh kemanapun.
"Kau tak punya hak menawar!" seru Ustadz Gau yang tiba-tiba melesatkan tangannya dengan posisi menusukkan ujung jemari yang telah dialiri tenaga dalam. Lelaki itu mengincar pelipis kiri Faisal.
Seketika pemuda itu mengangkat tangannya menangkis tusukan ujung jemari tersebut. Faisal tiba-tiba membaringkan diri dan mengangkat kaki menghujamkan telapak kakinya mengincar rusuk Ustadz Gau.
Sontak Ustadz Gau masih dalam posisi duduk bersila mengayunkan sebelah tangannya lagi untuk menampar keluar hujaman tapak kaki Faisal yang mengancam rusuknya.
__ADS_1
PLAK!!! BUK!!! BUGHHH...
Tamparan tangan Ustadz Gau yang mengalihkan hujaman tapak kaki Faisal membuat pemuda itu bergulingan hingga Faisal kembali mengayunkan tendangannya mengait tangan Ustadz Gau yang menampar lagi membuat Ustadz Gau menarik lagi tangannya dan balas menghujamkan kedua telapak kakinya mengincar dada Faisal.
Seketika Faisal bergulingan ke belakang lalu melenting dengan ringan ke belakang, dan mendarat dengan lembut dengan kedua kakinya yang terkembang di lantai masjid tersebut.
Ustadz Gau bangkit dan berdiri tegak. "Aku sedikit banyak mengenal seni-seni beladiri dari berbagai negara. Gerakanmu barusan bukan dari jenis Karate-do, Taekwondo, atau kungfu....." ujar Ustadz Gau. "Gerakanmu lebih mirip ke kuntao."
Faisal tertawa. "Ustadz keliru." ujarnya. "Ini seni yang disebut Thifan Po Khan." sambung pemuda tersebut.
"Begitukah?" gumam Ustadz Gau. "Lalu, bagaimana kau bisa menguasai seni menggunakan pedang jepang?"
"Memangnya hanya negeri Jepang saja yang memiliki seni pedang?" tukas Faisal sambil tersenyum. "Di dataran Tiongkok juga ada aliran persaudaraan rahasia yang disebut Lin Quei. Aliran persaudaraan ini dimunculkan dalam film Mortal Kombat."
"Lin Quei???" gumam Ustadz Gau dengan lirih.
"Pertama kali, Lin Quei muncul pada awal dinasti Han dan mencapai puncak kejayaan pada era dinasti Tang. Kelompok ini kemudian disinyalir sebagai gerakan bayangan setelah dinasti Tang runtuh. Mereka kemudian memindahkan pusat gerakan mereka dari Louyang ke bagian barat cina, berbatasan dengan turkistan. Jejak gerakan kaum Lin Quei terus muncul sebab mereka kadang mendapat tugas negara, menerima misi pembunuhan politik pada era dinasti Qing sampai sekarang." ujar Faisal Husein.
"Apakah kau anggota Lin Quei?" pancing Ustadz Gau.
"Yang benar saja!" tangkis Faisal Husein sambil tertawa. "Ustadz, apa ustadz pikir masuk organisasi klandestin macam itu, bisa bebas berkeliaran seperti ini? Mereka sangat menjaga rahasia dan setitik saja rahasia terbongkar ke publik, nyawa taruhannya."
Ustadz Gau tersenyum. "Kau benar juga."
"Contohnya Bruce Wayne yang direkrut Liga Keadilan dibawah pimpinan Ra's al-Ghul. Ketika ia menolak melaksanakan ujian terakhirnya, yaitu membunuh seorang kriminal, Ia langsung menjadi target buruan organisasi tersebut. Liga Keadilan mengirim Slade Joseph Wilson untuk membunuh Bruce Wayne." sambung Faisal.
"Lho? Bukankah Slade itu si Deathstroke, iya kan?" tebak Ustads Gau.
"Ustadz gandrung juga dengan film-film DCEU, ya?" goda Faisal.
"Nggak, Ustadz cuma sempat lihat artikel tentang itu. Tapi setahuku, dia bukan anggota Liga Keadilan." tukas Ustadz Gau.
"Ada banyak versi tentang itu, Ustadz." ujar Faisal. "Dan menilik dari kecakapannya memainkan pedang, bukan hal yang tak mungkin, jika ia tak pernah bergabung dengan Liga Keadilan." sambungnya. "Dan saya bisa mengasumsikan nama Liga Keadilan adalah samaran dari organisasi Lin Quei itu sendiri."
Ustadz Gau terkekeh, "Rupanya, kau paham juga sejarah-sejarah seni beladiri." puji Ustadz Gau.
"Baik. Aku suka lelaki yang cerdas." ujar Ustadz Gau. "Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan menjajak sejauh mana kau menguasai seni tersebut."
Lelaki itu tiba-tiba saja memasang sikap bertarung dan menerjang Faisal. Sontak pemuda itu mengelak ke samping dan mengayunkan tangannya dengan teknik memotong mengincar leher Ustadz Gau.
Ustadz Gau sigap menyilangkan tangannya menegak sehingga lengan yang diayunkan Faisal hanya membentur lengannya saja. Faisal tak patah semangat. Kembali ia mengayunkan tangan lainnya dengan teknik memotong mengincar wajah Ustadz Gau.
Ustadz Gau mendorong lengannya yang menahan sebelah tangan Faisal lalu dengan cepat menangkap pergelangan tangan Faisal dan memuntirnya.
Faisal meringis kesakitan dan Ustadz Gau memanfaatkan kesempatan itu untuk maju mencengkeram pakaian Faisal. Lelaki berusia empat puluh delapan itu mengangkat tubuh Faisal dan melempar tubuh Faisal ke belakang.
Faisal melayang diudara dan bersalto beberapa kali kemudian mendarat dengan baik dilantai masjid dan kembali memasang sikap bertarung.
Ustadz Gau kembali maju menghujamkan tinjunya berkali-kali silih berganti tangan. Faisal juga menangkis serangan itu berkali-kali pula. Ustadz Gau akhirnya maju menghujamkan tendangan mengincar ulu hati Faisal. Pemuda itu mengangkat kakinya dan menekuk mirip yang dilakukan praktisi muaythai saat menangkis tendangan lawan.
Tendangan yang diayunkan Ustadz Gau hanya mengenai kaki yang ditekuk itu. Faisal menurunkan kakinya dan ganti mengayunkan kaki lainnya menendang bagian pundak Ustadz Gau. Sontak Ustadz Gau menyilangkan lagi lengannya menangkis tendangan lawan.
BUKKK ... UUGHHH...
Ustadz Gau mengerang dan tubuhnya terjejer beberapa langkah kesamping saat memblokir tendangan lawan. Faisal berhenti bertarung dan berlari mendapati gurunya.
"Ustadz nggak apa-apa, kan?" tanya Faisal memegang kedua pundak gurunya.
Ustadz Gau menggeleng lalu terkekeh. "Nggak." tangkisnya, "Aku baik-baik saja. Aku hanya tak menyangka kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan."
Faisal hanya tersipu. Ustadz Gau kemudian mendehem. "Aku tak habis mengerti. Mengapa dua orang perundung itu tidak kau balas?" pancing Ustadz Gau.
"Aku tak mau menggunakan kepalan dan tendangan untuk membuat mereka kapok." ujar Faisal. "Lagipula, Ichi sudah membuat mereka membayar segala perbuatan mereka."
"Meskipun harus dengan cara yang mahal?" pancing Ustadz Gau. Perkataan sang guru membuat Faisal tersenyum.
"Pyrrhic Victory..." sahut Faisal menyebut istilah yang sinonim dengan kata-kata pancingan Ustadz Gau tadi. "Jika memang Ichi bersedia menjadi martir... aku tak keberatan sama sekali."
Ustadz Gau tertawa dan menggeleng-geleng. "Kau memang seorang pakar strategi." ujarnya menyindir.
__ADS_1
Faisal menatap jam dinding yang menempel pada dinding masjid. "Ustadz, kurasa anda sudah harus melaksanakan ritual sholat Qiyamullail..." ujar Faisal mengingatkan.
"Ah, kalau begitu marilah kita sholat." ajak Ustadz Gau.
"Silahkan duluan Ustadz, saya berwudhlu dulu." ujar Faisal kemudian membungkuk datar sejenak sambil menjura lalu berbalik langkah meninggalkan ruangan itu.
...******...
Rusli merasakan tengkuknya nyeri bukan kepalang. Bekas hantaman bandul rantai yang mengenai pelipisnya masih terasa menyucuk hingga ke titik syaraf. Lelaki itu perlahan bangkit dan menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan, mengusir rasa pening.
Kedua mata pemuda itu terbuka dan terhenyaklah ia mendapati sebuah ruangan yang begitu asing. Rusli mengamati keseluruhan ruangan itu. Sebuah cahaya artifisial berasal dari lubang kecil ditengah langit-langit ruangan menerangi lantai. Selebihnya buram dan gelap.
Brengsek!!! Rupanya aku pingsan. Dimana ini???
Suara detakan langkah kaki kembali terdengar mendekat. Rusli menatap kegelapan dihadapannya. Dari kegelapan itu muncul si jaket hoodie. Rantai yang digunakannya sebagai senjata itu nampak melingkar-lingkar di batang pinggangnya. Sekali lagi wajah itu tak terlihat sebab terhalang oleh tudung yang dipakaikan padanya.
"Hei kau! Aku kenal kau!" bentak Rusli menudingkan telunjuknya kearah si jaket hoodie. "Dimana ini, hah?! Kau bawa dimana aku?!"
Si jaket hoodie yang gelap semua wajahnya itu hanya diam tak bereaksi. Tak lama dari belakang si jaket hoodie, muncuo beberapa orang berjaket hoodie yang seragam dengan si jaket hoodie tadi. Rusli terhenyak kaget.
"Kalian, kalian siapa?!" seru Rusli mulai gentar.
Orang-orang berjaket hoodie itu hanya diam membuat Rusli diterpa syok dan rasa panik mulai menjalari dirinya.
"Keluarkan aku dari sini! Keluarkan aku dari sini!" seru Rusli yang hendak meronta, namun nyata bahwa tubuh dan kehendak dirinya tak bisa bekerja sama. Ia terkena self paralysis secara alamiah disebabkan oleh guncangan emosi yang tak mampu diredakannya.
Tiba-tiba orang-orang berjaket hoodie itu menyibak. Dari kegelapan terdengar lagi detak sepatu. Makin lama makin dekat dan akhirnya muncul sosok tubuh mengenakan kain panjang yang dililit bagai mantel. sosok ini juga bertudung.
Bedanya, sebuah hiasan bulu burung elang tiga helai tersemat disisi tudungnya. Sosok itu kemudian mendekat dan jelas bagi Rusli, ia menatap sebuah wajah mengerikan. Sosok itu mengenakan topeng, namun topeng yang dikenakannya berujud tengkorak.
Si tengkorak duduk berjongkok mengamati Rusli yang nyaris tak bisa mengambil napasnya sendiri sebab tekanan psikis orang itu mempengaruhi kerja metabolik tubuh.
"Rusli.... Rusli Pomalango..." gumam orang bertopeng tengkorak dengan suara serak. Suara si tengkorak itu mengingatkan Rusli pada film Batman. Apakah orang ini menggunakan aplikasi perubah suara?
"Kau sudah masuk dalam perangkap sekarang..." ujar si Tengkorak. "Kau tak akan bisa lolos lagi."
Rusli meronta namun kekuatan psikis si tengkorak lebih kuat dari yang seharusnya. Lelaki itu tersudut.
"Siapa kau?! Katakan!" seru Rusli namun suaranya seperti tercekik.
"Kau tak perlu mengetahui siapa aku, Rusli." ujar si Tengkorak.
"Kau tahu siapa aku?!" pekik Rusli melengking.
"Aku tahu semuanya. Semuanya tentang kamu." tukas si tengkorak. "Bahkan daftar-daftar dosamu."
"Kau..." seru Rusli.
Si Tengkorak terlihat mengambil sesuatu dari balik pakaiannya dan mengeluarkan sebilah belati panjang bergerigi.
"Katakan padaku, Rusli Pomalango! Haruskan kubuntungkan batang kejantananmu?" pancing si tengkorak.
"Jangan! Jangan lakukan!" seru Rusli dengan panik.
"Mengapa?!" tanya si tengkorak dengan suara menggelegar.
"Jangan! Kumohon jangan!" seru Rusli dengan pias dan membungkuk-bungkuk memohon ampun. "Aku akan lakukan apa yang kau minta, Tapi lepaskan aku!"
"Baik! Aku akan mengamati setiap tindak-tandukmu. Sekali lagi kau berbuat salah, Aku tak akan mentolerirnya lagi." tukas si tengkorak mengingatkan Rusli.
"Baik, baik, aku penuhi kemauanmu." ujar Rusli dengan pias.
"Satu lagi, Rusli..." ujar si Tengkorak.
"Apa?" tanya Rusli.
"Jangan dekati Adiratna Ardhanareswari!" seru si tengkorak.
"Apakah... apakah dia punya hubungan denganmu?" tanya Rusli memastikan.
"Perempuan itu... pengantinku!" seru si tengkorak kemudian bangkit dan berbalik meninggalkan Rusli.
__ADS_1
Rusli terhenyak begitu rupa. Tiba-tiba letupan senapan terdengar. Sedetik kemudian Rusli baru sadar bahwa dada kanannya ditancapi peluru bius. Perlahan namun pasti kesadaran pemuda itu terampas kembali dan dia masuk kedalam wilayah alam bawah sadarnya lagi.[]