
Rusli terkejut namun tak menoleh. Suara langkah sepatu terdengar menderak lantai kayu itu. Faisal yang melihat kemunculan Ishak lalu tersenyum dan melangkah mengikuti pemuda didepannya mendekati meja dimana Ichi dan Rusli tempati.
Faisal mengambil tempat duduk disisi kiri meja sedang Ishak disisi kanan meja. Lelaki bermata sipit itu tak menatap Rusli. Ia anteng saja meskipun Rusli menatapinya dengan air muka gamang.
Ishak memang terlihat kecil dan ramping. Namun tubuhnya berisi mengisyaratkan bahwa pemuda itu pernah menjalani sebuah pelatihan diluar batas nalar manusia biasa. Ditambah dengan rajahan irezumi yang tersamar dari balik kemeja tipis berlengan panjang yang membalut tubuh pemuda itu semakin menegaskan sosok tersebut adalah orang yang terbiasa mencabut nyawa manusia seperti memanen tanaman padi yang telah matang.
"Ichi... kalau kau keluar kemana-mana, semestinya memberitahu aku." tegur Ishak menatap anak gadis tersebut.
Faisal mengawasi tatapan Rusli yang sesekali memicing menatapi pemuda bermata sipit itu. Ichi menghela napas.
"Ya... gomen, Kak." jawab Ichi. "Habisnya kan Kakak sejak..."
"Aku kan sibuk belajar, makanya terkesan nggak ngawasi kamu." sela Ishak. "Toh kamu bisa kan kirim pesan singkat? Apa susahnya sih?" ujar Ishak masih dengan lembut. "Aku ini Kakakmu lho."
Rusli terhenyak tak kentara meski setiap tindak-tanduknya diawasi benar oleh Faisal. Lelaki itu benar-benar tak percaya jika Ichi memiliki saudara laki-laki. Sepanjang informasi yang diketahuinya, anak gadis itu adalah putri tunggal pasangan seorang guru dan ibu rumah tangga. Tidak ada dalam keterangan Dukcapil Pohuwato memaparkan bahwa anak itu punya saudara kandung.
Ishak kemudian memutar kepalanya dan menatap Rusli. Kembali lelaki itu terhenyak ketika bersirobok pandang dengan pemuda bermata sipit itu. Ia menangkap sorot tenang yang dingin dan penuh aura membunuh.
"Siapa namamu, kawan?" tanya Ishak.
"A-aku Rusli...." sahut lelaki itu mengulurkan tangannya. "Aku presdir perusahaan Putra Pomalango."
Ishak mengulurkan tangannya dan menyalami tangan Rusli. Pemuda sipit itu tersenyum.
"Anda punya hobi mengayun benda ya?" tebak Ishak.
Alis Rusli seketika mengernyit. "Maaf, aku tak paham dengan pembicaraan anda."
Ishak membuka telapak tangan lelaki itu. "Tangan anda kapalan dibeberapa tempat. Sepertinya anda terlalu semangat memegang benda itu." komentarnya.
Rusli langsung melepaskan tangannya dari genggaman Ishak dan menyapu-nyapu telapak tangannya.
"Anda salah... aku suka berkebun." kilah Rusli dengan senyum penuh makna.
Ishak mengangguk-angguk dan tersenyum kembali. Pemuda itu kemudian menatap Faisal. "Kok kamu juga disini?" tanya pemuda itu.
"Ooo... malam ini aku jadi pengawalnya Ichi." jawab Faisal dengan senyum menyembunyikan semangat kegembiraannya. "Ustadz Gau yang memintaku."
Ishak kembali mengangguk-angguk lalu mengangkat alis dan menegakkan tubuhnya. "Aku tiba tadi jam tujuh malam dari Taluditi. Ketika aku tiba di asrama, kamu tak ada." ujarnya. "Jadi kutanyakan sama Ustadz Gau. Beliau bilang kalian berdua diundang makan malam."
"Tapi aku tak memaparkan tempat dimana aku mengajak Ichi dan pemuda ini makan malam." tukas Rusli. "Tahu dari mana anda tentang lokasi kami?"
Ishak tertawa dan diikuti pula oleh Faisal sedangkan Ichi hanya tersenyum-senyum menatapi kedua pemuda itu bergantian.
"Apa susahnya sih melacak kamu?" ujar Ishak dengan cibiran. "Aku tinggal buka fasilitas Peta pada ponsel, mengetik nama Ichi disana dan..." ujar Ishak memperagakan caranya mengetik sesuatu pada gawainya lalu memperlihatkan layar ponsel itu kepada Rusli. "Tadaaaa... you're gotcha!!!"
Rusli melengos membuang napas kekesalannya. Ishak tertawa sambil mengacungkan telapak tangannya kepada Faisal dan pemuda itu melakukan high five disusul tawa Ichi yang makij membuat wajah Rusli terlihat kusut.
Ishak mendehem. "Baik... aku pergi dulu." ujarnya menatap Rusli. "Kurasa keberadaanku disini tak begitu diharapkan." sindirnya hendak bangkit dari duduknya.
Rusli tersenyum. "Kurasa kau pun harus mengajak pemuda itu ikut bersamamu." usul lelaki itu. "Dia memperkeruh suasana romantis kami berdua."
__ADS_1
"What?! Seriously???..." seru Ishak melengkingkan suaranya lalu menatap Ichi. "Eh, kau sedang kencan nih?" tanyanya dengan nada mengolok. Pemuda itu tak jadi bangkit dan duduk kembali.
Ichi melengos. "I'eeee.... tan bo dia yang merasa kira..." jawab Ichi menggunakan aksen Suwawa.
Rusli tentu saja memerah wajahnya di bully oleh anak gadis itu. Ia memicingkan mata. Tunggulah... aku akan memilikimu dan akan kubuat kau tak mau meninggalkanku...
Ishak menepuk pundak lelaki itu namun dikibaskan dengan pelan oleh Rusli.
"Bro... ingat umur dong. Ente itu usianya berapa? Adikku ini usianya berapa?" tegur Ishak membelalakkan sebelah matanya kearah Rusli. "Kamu doyan daun muda ya?"
Rusli mengerling kearah Ishak dan memicingkan matanya. "Itu bukan menjadi ranah urusanmu."
Ishak menatap Faisal. "Fais, aku yang bungolo atau ente juga bungolo? Tadi dia bilang apa?"
Faisal tersenyum. "Dia bilang, itu bukan urusanmu. Gini-gini, pendengaranku masih bagus, Is!" tuntutnya.
Rusli dapat dengan jelas melihat urat besar yang melintang ditengah alis Ishak berdenyut-denyut. Pemuda bermata sipit itu menatap Rusli dan mulai tersenyum.
"Mau cari masalah, hem?" tanya Ishak masih dengan bibir yang tersenyum.
"Jika kalian berdua memang berniat menggagalkan makan malamku, aku tak segan pula menjatuhkan tangan jahat kepada kalian." sahut Rusli berupaya memperlihatkan keberaniannya sebab ia melihat kelebatan sinar membunuh nampak begitu jelas dimata Ishak. Lelaki itu duduk dengan posisi siaga.
Pameran sikap itu terjeda dengan kedatangan beberapa pelayan yang membawa nampan-nampan berisi makanan yang dipesan, baik oleh Rusli maupun Faisal. Berbagai jenis hidangan itu kemudian disebar dimeja tersebut. Sementara itu baik Rusli, Faisal dan Rusli kembali ke sikap santai.
"Terima kasih." jawab Rusli mengapresiasi pelayanan itu. Pelayan-pelayan itu tersenyum manis dan mengangguk lalu berbalik meninggalkan meja tersebut.
Ichi mengawasi tatapan Rusli yang mengekori salah satu pelayan itu. Ia mendehem membuat Rusli terhenyak dan buru-buru menatap lagi ke arah Ichi.
"Maaf..." ujarnya. "Mari, makan." ajaknya.
Lelaki itu baru saja hendak menyentuh daun kol, ketika tiba-tiba Ishak langsung mengambil sayuran itu dan mencocolnya ke sambal lalu memakannya. Rusli hanya menatapnya dengan pandangan jengkel.
Kelihatannya, kau mau main-main denganku... aku akan membuatmu menyesalinya kelak...
Ishak lalu menatap Faisal. "Fais, aku titip adikku kepadamu. Jaga dia. Akan kupancung kepalamu kalau Ichi sedetik lepas dari pengawasanmu." ujar pemuda itu kemudian bangkit.
"Ih, sadis benar ancamannya." tukas Faisal.
"Aku nggak mau jambu mentah dikebun itu dibawa lari orang." ujar Ishak dengan nada eufemis.
Rusli tersenyum. "Nggak ada yang akan membawa jambu itu. Pemiliknya terlalu paranoid." sindirnya kemudian melahap nasi yang sudah dicampur lalapan dan sepenggal kecil ayam bakar.
Ishak terkekeh. "Jelas saja orang itu takut. Batang terongnya layu..." ejek Ishak kembali menatap Faisal yang seketika tersedak lalu buru-buru mengambil gelas dan menuangkan air.
Rusli menegakkan tubuhnya. "Bagaimana jika orang itu berhasil membawa lari buah tersebut?" pancingnya tanpa menatap Ishak.
Ishak kemudian membungkuk dan menyentuh pundak Rusli. "Shampoi otakmu. Kau akan menyesal mengapa ibumu melahirkanmu saat kau memberanikan diri bertindak pengecut dengan membawa lari buah tersebut." ujar pemuda itu dengan lirih kemudian menepuk-nepuk pelan pundak Rusli lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Rusli mengepalkan tinjunya sambil ditatapi oleh Faisal. Pemuda itu menegurnya. "Anda mau cari perkara dengannya? Sebaiknya urungkan saja. Berpikirlah logis, Pak."
Rusli menudingkan telunjuknya kepada Faisal. "Bungkam bacotmu dan lanjutkan makanmu!" sergahnya dengan pelan dan menggeram.
__ADS_1
Faisal menatapi sisa sambal yang menempel diujung telunjuk Rusli. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Pak, kalau makan ya dihabiskan sambalnya. Jangan dibiarkan nganggur diujung jemari itu noh." tegur Faisal seraya menjulingkan kedua matanya kearah telunjuk itu.
Rusli menarik jemarinya lalu kembali makan tanpa bersuara lagi. Ia sudah kehilangan minat untuk memulai pembicaraan. Kejengkelan sekarang memenuhi otaknya.
Sementara Ichi tetap saja makan sambil sesekali mengerling kearah lelaki itu, memastikan jikalau Rusli tak kelepasan emosi yang menyebabkan suasana ditempat itu berakhir ricuh.
...*****...
Selina baru saja disuapi makanan oleh ibunya ketika terdengar ketukan dipintu. Qomaruddin bangkit melangkah ke pintu dan membukanya. Sejenak ia kaget mendapati Ishak berdiri disana namun pemuda itu segera diajaknya masuk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ishak.
"Sudah membaik. Tapi efek traumatis masih ada..." jawab Qomaruddin.
Ishak mengangguk-angguk. Qomaruddin mendehem.
"Bisakah kau menjaganya semalam ini?" tanya Qomaruddin.
Ishak tersenyum. "Jangankan semalam, Pak. Seterusnya juga nggak apa-apa." seloroh pemuda itu.
Qomaruddin terkekeh lalu menampar-nampar pelan lengan pemuda bermata sipit tersebut dan mengajak istrinya untuk beberes.
Wanita itu menatap Ishak. "Kami titip Selina." pintanya.
Ishak mengangguk. Dua laki-bini itu kemudian melangkah meninggalkan tempat itu membawa rantang-rantang makanan. Pintu ditutup kembali oleh Ishak.
Pemuda itu menatap Selina. "Aku tahu ini konyol. Tapi aku tak puas jika tak bertanya langsung padamu."
"Apa?" tanya Selina.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Ishak.
Seketika Selina menahan tawa sementara Ishak mendekatinya. Pemuda itu menyingkirkan jemari yang menempel dibibir gadis itu kemudian menyumpalkan bibirnya sendiri mengecap rasa dipermukaan bibir Selina. Sejenak mereka larut dalam adegan tersebut.
Setelah lama menumpahkan kerinduan lewat ritual pertemuan bibir itu, Ishak menegakkan tubuhnya.
"Uhm... rasa bubur ayam..." gumam Ishak seraya mendecap-decapkan lidahnya membuat Selina lagi-lagi tersenyum lebar. Ishak mengangguk.
"Aku akan menemukan orang itu. Percayalah." ujar Ishak.
Selina mengangguk. "Aku tahu."
"Tidurlah.... aku akan menemanimu." ujar Ishak kemudian menarik bangku dan menempatkannya disisi ranjang. Ia kemudian mendudukinya dan membaringkan tubuh gadis itu diranjang.
Ishak membelai-belai rambut Selina dan gadis itu merasakan kenyamanan yang tak bisa diutarakannya. Ia tersenyum.
"Terima kasih." ujar gadis itu.
"Aku akan selalu menemanimu." ujar Ishak.
__ADS_1
Selina perlahan mengatupkan kedua matanya sambil terus dibelai oleh Ishak. Gadis itu akhirnya memasuki alam bawah sadarnya dan melayari galaksi subsconsius yang membawa mimpi.
Ishak kemudian membungkukkan tubuhnya dan menjadikan tubuh Selina yang membujur sebagai bantal. Ia memeluk gadis itu dan merebahkan kepalanya diperut Selina. Tak lama kemudian, pemuda itu menyusul kekasihnya melayari samudra mimpi. []