
Perilaku Ichi yang aneh sejak pulang dari acara kongkow teman-temannya membuat Azizah didera rasa heran. Gadis itu sering nampak melamun saja. Bahkan kedatangan Reva yang membawa bungkusan nasi dan lalapan tak diladeni Ichi. Gadis itu memilih mendekam dikamarnya saja.
"Wah, mungkin Ichi lagi kurang sehat." kilah Azizah untuk menenangkan Reva. "Soalnya Umi lihat dia baringan terus dikamarnya."
Reva senyum, "Ya Sudah Umi. Ini ada titipan, soalnya Ichi nggak sentuh makanannya tadi. Saya inisiatif bungkus dan bawa ke dia. Moga-moga nafsu makannya balik lagi dan ngehabisin makanan ini." ujarnya seraya mengangsurkan bungkusan itu kepada Azizah.
"Aduh, makasih ya sudah merepotkan diri." ujar Azizah. "Nanti Umi kasih tahu Ichi."
"Kalau begitu, Reva pulang dulu Umi. Assalamualaikum..." ujar gadis itu pamit.
"Wa Alaikum salam... hati-hati dijalan." pesan Azizah.
Sepeninggal anak itu, Azizah berbalik melangkah kedalam. ia melangkah menyeberangi sofa di ruang tamu itu kemudian masuk ke kamar dimana Ichi berdiam. Kamar itu tak dikunci, jadi Azizah bisa langsung menguakkan daun pintu melihat Ichi yang hanya baring-baring saja dipermadani.
"Ichi, keterlaluan kamu." tegur Azizah dengan lembut. "Temanmu datang kok tak disambut? Kasihan dia susah-susah ngebungkus makanan kamu nih." ujar Azizah memperlihatkan bungkusan nasi dan lalapan itu kepada Ichi.
Ichi sejenak menatap bungkusan ditangan Azizah lalu melengos. "Umi makan saja. Ichi nggak minat lagi."
Azizah menarik napas lalu melangkah masuk dan duduk disisi Ichi yang sementara berbaring.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Azizah. "Jujur dong. Biasanya kamu masih nego-nego sedikit saat Umi bilang suruh pulang. Tumben kali ini kamu nurut. Jujurlah, ada apa sih?" desak wanita itu.
Ichi menatap ibunya dan menimbang-nimbang desakannya. "Tapi Umi nggak akan marah, kan?" tuntut anak itu. Kelihatannya Ichi kuatir sang ibu marah.
Anak itu sudah tahu perangai ibunya seperti apa. Azizah kalau sudah marah, sangat layak dibilang Singa betina. Wanita itu akan langsung melampiaskan kemarahannya, tidak menahan. Semuanya dituntaskannya dengan lunas.
Tuntutan itu menyadarkan Azizah kalau putrinya memiliki masalah pelik yang agak sulit dihadapi dan takut mencurahkan isi hatinya. Wanita itu menghela napas.
"Kenapa? Apakah hal ini agak sensitif?" selidik Azizah.
Ichi diam sesaat kemudian mengangguk pelan. Azizah menghela napas lagi.
"Okelah... Umi tak akan marah, jikalau itu tak melanggar batas kesusilaan pribadi. Apakah kamu melanggar hal itu?" selidik Azizah lagi.
Ichi menggeleng pelan membuat Azizah mendesah lega. Ia mengangguk dan meminta, "Ayo bilang, apa yang emmbuat kamu nggak menyambut Reva tadi?"
Ichi membuang napasnya agak kasar. "Tadi Nunu mengintip adegan tak senonoh."
Azizah terhenyak sesaat lalu berupaya memperbaiki sikapnya. "Dimana?" tanya Azizah berupaya tenang namun hatinya begitu rusuh.
"Di toilet dekat taman mangrove." jawab Ichi. "Dua orang... laki-laki dan perempuan asyik n***e didalam."
"Astagfirullah." seru Azizah.
"Tuh kan? Umi marah, kan?" tebak Ichi dengan wajah kaku.
Azizah tersadar dan langsung memperbaiki sikapnya lagi. "Nggak kok." kilahnya, "Terus? Bagaimana?"
Ichi tertawa, "Ih, kok malah Umi jadi karlota sih?" ledeknya.
"Ichi! Umi serius ini!" tegur Azizah dengan kesal. "Teruskan ceritanya." desaknya.
"Ya... Nunu kemudian cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan langsung pamit pulang. Makanya Nunu nggak sempat makan dan langsung balik ke rumah." jawab Ichi.
"Oooo...." gumam Azizah mengangguk-angguk pelan. "Tapi mereka nggak menyadari keberadaan kamu disitu, kan?"
"Kayaknya, nggak tuh." jawab Ichi.
"Lha? lalu ini gimana?" tanya Azizah memperlihatkan bungkusan itu lagi.
"Umi makan saja." tolak Ichi. "Nunu kehilangan selera makan." tukas anak itu.
Azizah menatap bungkusan itu. "Ya sudah, Umi makan ya?"
Ichi hanya mengangguk saja lalu kembali melengos dan menyibukkan dirinya mengutak-atik gawainya. Azizah menghela napas lalu bangkit. Dengan membawa bungkusan itu, sang ibu melangkah menuju dapur. Disana nampak Ibunya, Jumria juga duduk menikmati tayangan film drama India, Gopi.
"Ma... mau makan lalapan nggak?" tanya Azizah.
Jumria seketika menengok dengan wajah sumringah. "Ada?"
Azizah memperlihatkan bungkusan itu. "Nih. Mau makan nggak?"
"Ya mau lah..." jawab Jumria kemudian bangkit dan melangkah menuju meja makan dimana Azizah sudah memindahkan makanan dalam bungkusan kedalam piring.
Kalau Abi ada... dia pasti yang habiskan ini...
__ADS_1
Piring berisi nasi dan lauk lalapan itu disorongkan kepada Jumria. Dengan semangat, nenek berusia 64 tahun namun masih terlihat bugar itu, makan dan menikmati sajian tersebut.
Azizah tersenyum melihat ibunya melahap dengan nkkmat sesuap demi sesuap nasi dan lalapan tersebut ke mulutnya. Wanita itu kembali menuju sofa. Kini berganti dia yang menonton tayangan drama India tersebut.
...****...
Sebuah notifikasi masuk kedalam aplikasi pemberitahuan dari gawai milik Ichi. Gadis itu melirik sejenak notifikasi kemudian membukanya.
Betapa terkejutnya gadis itu ketika menyadari seketika bahwa notifikasi itu merupakan sebuah video adegan syur yang begitu jelas. Mata gadis itu membelalak besar dan seketika ia langsung menutup tayangan video itu. Dia melirik pengirim notifikasi tersebut.
Pangeran Cinta? Siapa lagi yang edan ngirim-ngirim video beginian?!
Mengumpat-ngumpat dalam hati, Ichi langsung memindahkan file tersebut ke sampah dan menghapusnya pula pada analisis penyimpanan data dalam gawai tersebut.
Edan!!!!
Ichi menatap penanda waktu digital pada gawainya menunjukkan pukul 11 malam. Rupanya ia terlalu asyik sehingga melupakan waktu.
Ichi meletakkan gawai itu setelah memasukkan ujung kabel charge ke gawai tersebut. Gadis itu kemudian merebahkan diri dan menutup mata. Bayangan tentang dua sejoli yang mempertontonkan adegan ranjang itu tak berbekas sama sekali dalam benaknya. Hanya beberapa menit kemudian Ichi telah melayari semesta bawah sadarnya.
...******...
Hari itu sengaja Ichi berangkat lebih pagi ke sekolah. Sepeda listriknya dikayuhnya dengan semangat. Pagi ini ia harus menggerakkan serat-serat ototnya untuk melakukan aktifitas yang sedikit keras untuk memecah bulir-bulir keringat yang bersembunyi dikelenjar bawah permukaan kulitnya.
Ichi tiba di sekolah pada saat penanda waktu digitalnya menunjukkan pukul 06.24 waktu setempat. Gadis itu memarkir sepeda listriknya di bangsal parkir, kemudian melangkah santai menyusuri dinding-dinding gedung dan tiba di lapangan.
Pada saat ia menyusuri lapangan tersebut, gawai disaku miliknya bergetar. Ichi menjeda ayunan langkahnya agak pelan sambil merogoh kedalam saku mengeluarkan gawainya. Saat melihat layar, kedua alis gadis itu mengerut.
nomor nggak dikenal.... siapa ya?
Ichi menekan penjawab panggilan dan terselenggaralah percakapan seluler antara Ichi dengan penelpon misterius tersebut.
📲 "Halo, siapa nih?" tanya Ichi dengan suara cepat dan agak ketus.
📲 "Hai, Ichi...." sapa penelpon tersebut.
📲 "Hai juga.... ini siapa sih?" tanya Ichi masih dengan rasa penasaran.
📲 "Masa kamu lupa? ingat-ingat dulu dong." ujar suara pemuda itu. Alis Ichi makin berkerut.
📲 "Cari sendiri deh..." olok suara itu.
📲 "Kalau begitu bye-bye juga deh!" sahut Ichi kemudian memutuskan percakapan dan memblokir akun telepon tersebut.
Enak saja disuruh nyari-nyari nama... Memang aku polisi apa?
Ichi meneruskan langkahnya menyusuri lapangan.
Masih pagi sudah mau bikin ribut saja kerjaannya.... penggangguran kayaknya itu orang...
Ichi tiba didepan serambi kelasnya dan masuk kedalam. Suasana masih sepi. Ichi adalah pendatang pertama disekolah itu. Gadis itu menghela napas sejenak lalu memasukkan ranselnya kedalam laci meja.
Ichi kemudian melangkah kembali keluar dari kelas. Kembali ia mendengar suara sayup-sayup mengadu.
Ini apa lagi? masih pagi-pagi sudah bikin hati nggak senang...
Menggerutu dalam hati, itu yang dilakukan Ichi sembari mendekati asal suara tersebut. Sekali lagi ia mendapati Faisal Husain dikerjai lagi oleh kakak-kakak senior pesantren itu. Gadis itu yang kesal dikerjai lewat telpon terhasut lagi memandang perundungan itu.
"Beranilah sama yang lebih kuat dari kalian... kalau hanya mengusili orang lemah... kelihatannya kelelakian kalian patut dipertanyakan." tegur Ichi sembari menyandarkan diri di dinding bangunan.
Dua orang lelaki yang memukuli Faisal sejenak tercengang memandang seorang siswi yang tiba-tiba muncul ditempat itu. Salah satunya menatap Faisal.
"Lho? Bukankah dia ini si gadis sesat itu, kan?" tebak lelaki itu menatap Faisal. "Ngapain dia belain kamu? Dia itu istrimu ya?" olok lelaki itu dibarengi tawa oleh teman satunya.
Faisal hanya diam sambil mengelus pipinya yang semoat digampar tadi. Lelaki itu melangkah mendekati Ichi.
"Kamu anak baru, kan?" tebak lelaki itu.
"Songong benar kamu." balas Ichi yang masih bersandar di dinding sambil melipat tangan ke dada. "Semestinya kalau merasa sebagai yang tuaka disini... jangan menindas orang..." tegurnya.
"Jadi, kau mau jadi pahlawan disini?" tukas lelaki itu.
Ichi tersenyum. "Kalau perempuan bukan pahlawan namanya, tapi pahlawati." ujar gadis itu meralat perkataan lelaki tersebut.
__ADS_1
"S****l T**k!" umpat lelaki itu.
"Eh?!" seru Ichi yang langsung berdiri tegak dan menudingkan telunjuk lentiknya ke arah wajah lelaki itu? "Apa kau bilang tadi? Apa orangtuamu nggak mengajarkan akhlak kepadamu? penghuni pesantren kok begini akhlaknya?!"
Lelaki itu tak menjawab apapun melainkan langsung melayangkan tamparannya mengincar wajah Ichi. Serta merta Ichi langsung menangkis tamparan itu dengan teknik Soto uke dan mendorongnya kesamping kemudian melayangkan teknik shuto uchi yang berhasil bersarang dileher lelaki itu.
Lelaki itu terhenyak sesaat ketika pedang tangan milik gadis tersebut menetak bagian sisi leher dimana urat arteri karotis membujur disana. Seketika lelaki itu jatuh terkulai ditanah meski tatapannya ke arah Ichi tetap membelalak dengan mulut yang tercengang tak menyangka dapat dijatuhkan gadis tersebut.
"A****g!!!" umpat lelaki satunya maju menyerang Ichi.
Sedari tadi Ichi memang sudah siap menghadapi kedua begundal lelaki tersebut. Tiba-tiba Ichi pun menerjang mengayunkan lututnya. Si lelaki tadi untungnya waspada langsung menghujamkan tinju mengincar paha gadis itu.
Sayangnya, itu hanya gerak tipu yang dibuat Ichi agar lelaki itu termakan umpan. Ichi menarik lututnya dan mengayunkan sikut dengan teknik otoshi empi menghantam batok kepala lelaki itu.
ADUH!
Lelaki itu mengaduh dan terbungkuk memegangi batok kepalanya yang serasa disengat. Ichi serta merta langsung melingkarkan lengannya mengepit leher lelaki itu dan mengayunkan mawashi tsuki berkali-kali ke perut si lelaki. Terakhir kali, Ichi akhirnya mengayunkan teisho tsuki menghantam dagu lawannya membuat si lelaki terjungkal dan sulit bangun lagi.
Ichi menatapi kedua lawannya yang sudah terbaring ditanah tak berdaya selain mengaduh dan mengerang saja kerjanya. dengan cepat gadis itu mendekati Faisal kemudian menyeret pemuda itu menjauh dari tempat tersebut.
"Wes angel.... angel... angel temen tuturanmu!!!" gerutu Ichi menggunakan kalimat yang viral akhir-akhir ini. (Dasar bebal. Susah benar dinasihati!) "Aku kan sudah bilang sama Kakak, lapori keduanya sama Kiai! Kakak mau terus-terusan dirundung macam begini?"
langkah kedua lelaki dan wanita itu terus terayun hingga akhirnya berhenti dekat masjid. Ichi melepaskan genggaman jemarinya pada pergelangan tangan Faisal kemudian menatap pemuda itu.
Faisal hanya tersenyum-senyum saja sambil mengusap-usap pipinya yang sedikit lebam dipukuli dua seniornya. Ichi masih menatapi pemuda itu.
"Atau memang Kakak suka dipukuli? Lagi mempelajari ilmu kebal dimana?" selidik Ichi memicingkan mata.
Faisal tertawa. Ichi meludah kesal.
"Aneh benar Kakak ini. Dipukuli malah tertawa!" gerutu Ichi. "Tau begitu, besok-besok tak akan kuladeni lagi mereka." tukas gadis itu.
"Maaf, jika aku tertawa." ujar Faisal.
"Apa yang Kakak tertawakan?" tanya Ichi sambil bercakak pinggang.
"Itu... mereka mengolok kamu itu istriku..." jawab Faisal.
NYESSSSSS....
Seketika merahlah wajah gadis itu. Dan dilingkupi perasaan jengah, malu, kesal dan jengkel, Ichi langsung pergi meninggalkan Faisal.
Pemuda itu menyusulnya. "Mau kemana?"
"Ke kelas..." jawab Ichi dengan singkat.
"Tapi kayaknya kau belum sarapan." tebak Faisal.
"Itu bisa lain kali kulakukan." jawab Ichi.
KUKURUNYYYUUUUUUKKKKK...
Bunyi geraman halus diperutnya membuat Ichi sejenak menghentikan langkah dan meringis pelan, takut terdengar oleh Faisal. Namun sebenarnya pemuda itu juga sudah terlanjur mendengar bunyi geram unik diperut Ichi.
"Sudah... ayo ikut aku...." ajak Faisal.
"Kemana?" tanya Ichi dengan pelan.
"Ke rumah Tanteku..." ujar Faisal kali ini melangkah duluan.
Terpaksa gadis itu melangkah mengikuti Faisal. Namun baru saja keduanya melangkah keluar dari gerbang, seseorang telah berdiri menanti.
"Hai Azka..." sapa orang itu.
Ichi langsung memicingkan mata. "Rusli.... Ngapain kamu disini?" tanya gadis itu.
"Aku mengantar sepupu pacarku..." jawab Rusli dengan tenang. Pemuda itu memang duduk di kendaraan kesayangannya. Sebuah sepeda motor Satria F-150 keluaran Suzuki Motor Corporation.
Ichi mengangguk-angguk sejenak lalu mengajak Faisal lagi meninggalkan tempat itu. Namun lagi-lagi langkah mereka berdua tertahan ketika Rusli turun dari kendaraannya dan menghadang Ichi beserta Faisal.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ichi dengan datar.
"Aku cinta padamu, Azkadiratna...." tukas Rusli tiba-tiba membuat gadis itu tercengang sedang Faisal menatap dengan takjub.
"Wah... hebat kau ya? punya gebetan langsung di e***t di kamar mandi, begitu puas, cari lagi yang lain... begitu gayamu, hah?!" tukas Ichi langsung membuat Rusli terkejut dan tersudut dihadapan gadis itu.
__ADS_1
"Kau..." seru Rusli dengan kaget.
"Kenapa? Kamu kaget?" todong Ichi dengan senyum sinis. "Eh, punya pacar itu dihargai. Jangan cuma lubangnya saja dipake habis itu dibuang. Dimuka Asna kau bertingkat baik seperti seorang pangeran, dibelakangnya kau menyatakan cinta padaku?... waahhhh.... dasar Hipokrit cinta kau..." tukas Ichi dengan tatapan memicing menantang tatapan Rusli yang menyiratkan kemarahan. []