KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
PANAS ENAM BULAN DIHITUNG HUJAN DUA MINGGU


__ADS_3

Ujian Semester Ganjil telah Tiba!!!


Ichi mempersiapkan segala hal yang diharuskan. Azizah sudah mewanti-wanti sejak seminggu lalu untuk mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan itu.


"Awas kalau nggak dapat juara!" ancam Azizah lagi dengan wajah yang dibengis-bengiskan untuk menandaskan kepada sang anak bahwa ia tak main-main dengan ancamannya.


"Ih, kok segitu maksanya? Memang anaknya Umi itu mesin pake di paksa-paksa?!" tangkis Ichi dengan mimik kesal.


"Pokoknya Umi tahu, kau bisa menyelesaikan semua soal mata pelajaran itu dengan tuntas-tas-tas!!!" tandas sang ibu ngotot.


"Tau ah!" sahut Ichi melengos dan kembali membuka-buka buku.


Azizah meninggalkan Ichi sendirian. Wanita itu lebih memilih menyibukkan diri menyimak tayangan On The Spot di Siaran Trans-7. Sementara Ichi kembali berkutat dengan buku pelajarannya.


...******...


Namun seserius-seriusnya Ichi, tetap saja materi pelajaran yang dipelajarinya tak semuanya nyungsep di kepala. Yang ada, gadis itu malah makin tak ingat materi apa saja yang dipelajarinya malam itu.


Gadis itu mengumpat-ngumpat dalam hati, merutuki kemampuan otaknya yang kadang tak sesuai dengan perintah hati. Ia hanya berharap, setiap melaksanakan ujian tidak akan terbentur oleh mandegnya kerja otak dalam menggali ulang informasi yang keburu ketimbun kerak-kerak pikiran yang tak penting.


Gadis itu mendecak kesal setiap kali mendapati soal-soal yang memusingkan kepalanya. Seandainya rasa pening itu disebabkan oleh gangguan sistem syaraf disebabkan lemahnya imunitas tubuh, mungkin saja Ichi akan menyumpalnya dengan mengkonsumsi berbagai vitamin dan suplemen. Namun gangguan ini disebabkan oleh penumpukan aktifitas kerja otak yang belum sempat refresh sehingga menyebabkan proses searching mengalami downsteram sehingga jawaban yang diharapkan muncul dibenak kadang langsung hilang atau susah ditemukan.


Ichi bahkan sempat memijit-mijit kening dengan harapan sistem saraf yang mungkin saja terhubung ke bagian lobus temporal diwilayah cerebral akan bekerja lebih aktif memacu untuk menggali kembali memori tentang pembelajaran semalam.


Sehari itu dilaksanakan Ichi dengan penuh ketegangan sebab mata pelajaran-mata pelajaran yang ada di madrasah tsanawiyah agak berbeda dengan mata pelajaran-mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah pertama. jumlah bidang studi pendidikan agama dan budi pekerti saja sudah dibagi jadi lima, bidang studi bahasa dan sastra, ketambahan bahasa inggris dan bahasa arab, ditambah mata pelajaran-mata pelajaran unik yang hanya ditemui dilingkungan kawasan Alkhairaat, sudah tentu membuat beban otak Ichi yang masih berkemampuan beberapa terabyte harus berpacu lebih keras dari sebelumnya.


Namun pada dasarnya, Ichi berupaya untuk memenuhi keinginan ibunya. Kemarahan sang ibu akan berpengaruh pada kehidupannya kedepan. Kemudahannya untuk memperoleh akses ke gawai bergantung pada seberapa tinggi prestasinya didalam pembelajaran.


Ini seperti ungkapan panas enam bulan dihapus hujan dua minggu. Kerja keras dan upaya selama satu semester ini akan diputuskan dari hasil ujiannya selama dua minggu. Ichi benar-benar tak ingin dipecundangi kelambatan sensor otaknya sendiri gara-gara tegang akibat membaca soal-soal yang langsung meredupkan semangatnya untuk berlaga dihari itu.


...*******...


Rusli melangkah cepat menyusuri lorong bangunan. Ia hendak menjumpai seseorang di tempat itu. Lelaki itu tiba disebuah ruangan. Ia mengetuknya.

__ADS_1


"Masuklah..." sahut seseorang bersuara berat dibalik ruangan.


Rusli membuka pintu dan melangkah masuk dan menemui lelaki parobaya yang duduk dibelakang meja kerjanya yang besar.


"Tumben kamu muncul disini." tukas pria parobaya tersebut sambil menyandarkan punggungnya disandaran punggung kursi yang tinggi.


"Ada yang mau kutanyakan ke Papa." ujar Rusli dengan wajah datar membesi.


Pria itu mengerutkan alisnya mengamati raut wajah putranya. "Ada apa denganmu?"


"Apa Papa kenal dengan komplotan orang-orang yang berpakaian jaket hoodie hitam?" tanya Rusli.


"Iya, tapi Papa tak menjalin hubungan kerja dengan mereka." jawab pria parobaya itu.


"Apakah pimpinannya menggunakan topeng tengkorak?!" pancing Rusli lagi.


"Kalau itu, Papa nggak tahu." sahut pria itu lagi. "Memang ada apa?"


"Mereka disebut The Darkest. Kelompok itu sangat susah ditemui karena mereka bergerak dalam bayangan." ujar pria itu. "Namun kamu nggak usah kuatir. Papa akan mencoba berbagai macam cara untuk menemui pimpinan mereka."


"Aku harap Papa bisa menemukan mereka dalam jangka waktu dua minggu." pinta Rusli.


"Bisa saja. Akan Papa upayakan." jawab pria itu kemudian berdiri dan memutari meja, mendekati putranya. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya pria tersebut.


"Oh, kalau soal itu, Papa tak usah mempersoalkan." ujar Rusli dengan senyum. "Putra Pomalango Mining, sudah mendapatkan basis disana. Kurasa kita bisa menggeser kedudukan Buana Asparaga Mining di kawasan Gunung Pani."


"Jangan sesumbar kamu." tegur pria parobaya itu. "Buana Asparaga milik keluarga Lasantu itu punya pondasi yang kuat. Tambang Gunung Pani hanya satu dari sekian cabang gurita perusahaannya."


"Tapi aku yakin, Pa..." ujar Rusli dengan semangat.


"Jangan mengganggu kawasan kekuasaan Buana Asparaga." pinta pria parobaya tersebut. "Aku tak mau Adnan Lasantu merasa terganggu dengan keberadaan kita di Pohuwato. Dia bisa mengirimkan Endrawan untuk menghancurkan perusahaan tambang kita disana."


"Senekat itukah dia?" tanya Rusli mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Aku tak tahu." ujar pria parobaya tersebut. "Tapi, Endrawan punya koneksi dengan komplotan-komplotan bawah tanah yang bisa mengakibatkan kerusakan lebih parah jika dia menginginkannya."


"Makanya kita harus menemukan kelompok Darkest itu untuk mengimbangi kekuatan bayangan dari Buana Asparaga." tukas Rusli dengan senyum.


Pria parobaya itu merenung sejenak lalu mengangguk-angguk kemudian. "Baik. Papa akan upayakan."


"Itu yang kutunggu dari jawaban Papa." tukas Rusli dengan senyum kemudian berbalik meninggalkan ruangan.


"Eh, mau kemana kamu?" tanya pria parobaya itu. "Pembicaraan kita belum selesai."


Rusli berbalik menatap ayahnya lagi. "Apa lagi?"


Pria parobaya itu melangkah lagi mendekati putranya. Tatapannya datar namun penuh aura mengintimidasi khas seorang enterpreneur.


"Papa dengar kau menjalin hubungan dengan perempuan Pohuwato bernama Asna." tukas pria itu. Ia memiringkan kepala sejenak menatap Rusli. "Kau menyukainya?"


"Nggak juga, Pa." kilah Rusli. "Dia hanya pajanganku saja kok."


"Pajangan? Hati-hati Rus. Kalau terjadi apa-apa sama perempuan itu, kau akan dimintakan pertanggungjawaban." tegur pria itu.


"Jangan kuatir Pa." ujar Rusli menenangkan. "Dia nggak bakalan untuk meminta tanggung jawab. Aku pastikan itu ke papa."


"Ya! Itu tugasmu!" ujar pria parobaya itu seraya menudingkan telunjuknya kepada Rusli lalu berbalik kembali menuju meja kerjanya sedangkan Rusli berbalik langkah meninggalkan ruangan tersebut.


Senyum terkembang tak lagi hilang dari wajahnya. Sedikit lagi, ia akan menjalankan rencananya.


...*****...


Asna merasakan sesuatu yang tak biasanya pada hari itu. Tiba-tiba saja ia mual dan merasa tak enak badan. Kepalanya pening bukan buatan. Perasaannya mulai bermain-main.


Apakah... apakah...


Wanita itu takut memikirkan ujung dari pemikirannya. Itu sudah pasti mengerikan. Sangat mengerikan.[]

__ADS_1


__ADS_2