Ketika Pembantu Jadi Madu

Ketika Pembantu Jadi Madu
Hampir khilaf


__ADS_3

Olin membuka mata nya perlahan hari ini belum ada jadwal pekerjaan,Olin ingin menghabiskan waktu nya untuk menelusuri pantai kebetulan memang lokasi hotel mereka dekat dengan pantai sesuai permintaan Olin.


Di pandangi nya lautan luas dari atas balkon kamar nya,Olin menghirup udara segar dia ingin bebas saat ini tak ada Galih dalam pikiran nya.


Olin mengganti pakaian nya dengan tank top dan celana pendek dia ingin berjemur di bawah sana.


Hari ini dia ingin melepas beban berat nya selama ini.


***


"Ibu tidak mau tau lih kamu harus segera menikah dengan Maya, karena ibu tidak bisa berlama-lama di sini"


"Bu, masalah ku dengan Olin saja belum selesai ibu ingin aku menikah dengan Maya"


"Ya buat apa mempertahankan perempuan mandul itu,lagi pula tidak ada yang bisa kamu harapkan dari dia,kerja nya keluyuran terus,ibu tau Lih dia itu alasan saja bekerja siapa tau dia jual diri pulang nya selalu malam"


"Bu,Olin tidak begitu" bantah Galih


"Kan sejak kamu menikah dengan dia kamu terus melawan dengan ibu,ini pasti pengaruh perempuan itu"


"Bu,aku mohon jangan ikut campur dulu dengan urusan rumah tangga ku"


"Tidak bisa, ibu ini ibu kamu Lih,ibu yang melahirkan kamu,ibu harus membimbing kamu,kalau menikah tidak punya anak percuma,siapa yang akan jadi pewaris kamu, rumah gede begini"oceh sang ibu lagi membuat Galih pusing


"Ibu sudah memutuskan Lusa kamu menikah dengan Maya,tadi ibu sudah hubungi keluarga Maya untuk datang ke mari dan ibu mau nya kamu sambut dia besok, minta pembantu mu itu masak banyak"


"Kenapa secepat ini bu"


"Sudah keputusan di tangan ibu,Olin juga tidak ada kan percuma kamu bujuk dia mendingan Maya kemana-mana,dia kaya raya , keluarga nya terpandang kamu lihat kan Maya tidak segan-segan menghabiskan uang nya untuk kamu dan ibu, apalagi yang kamu pikirkan!"


Galih mengusap wajah nya kasar karena dia tidak bisa memungkiri juga selama Olin pergi Maya yang membiayai kehidupan mereka di rumah dengan alasan uang nya di bawa Olin.


Jika bertahan dengan kehidupan begini mereka bisa mati kelaparan jika Maya pergi.


****


Satria terbangun dan melihat jam di dinding kamar hotel nya sudah pukul 10 pagi, Satria bangkit dari ranjang nya dan ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi lelaki tampan ini mengambil ponselnya untuk menghubungi Olin dia ingin mengajak sarapan, meskipun sudah kesiangan tapi Satria tetap ingin Olin yang menemani nya.


"Tut.....tut....."


"Tut...tut...."


"Kemana Olin jam segini tidak di angkat" Ujar Satria sambil berjalan ke balkon kamar nya

__ADS_1


Udara segar dan pemandangan indah di luar sana membuat siapa saja tenang memandang nya.


Dengan ponsel yang masih di pegang di telinga nya Satria melihat sosok yang dia kenal sedang berjemur dengan celana yang super pendek dan tank top bertali kecil membuat buah d*d* Olin terlihat menantang, selain cantik kelebihan perempuan ini di P*y*d*r* yang lumayan besar membuat para lelaki bernafsu.


Tanpa pikir panjang Satria meraih handuk nya dan segera turun ke bawah.


"Lo gila ya Lin, nggak ada urat malu nya lagi" kesal Satria menutupi tubuh Olin dengan handuk.


"Lo yang gila datang-datang marah"


"Gimana nggak marah coba,Loe lihat sekeliling loe dari tadi para lelaki itu seperti mau makan loe, tatapan mereka lapar"tunjuk Satria pada sekeliling pantai.


"Memang nya mereka kanibal apa?" ujar Olin ketus sambil melirik kiri kanan, memang banyak lelaki yang menatap nya penuh nafsu membuat Olin bergedik ngeri


"Loe mau mereka perkosa loe? dari pada mereka mendingan gue yang perkosa loe!"


"Ngaco loe" kesal Olin sambil memukul lengan Satria yang sedang duduk di sebelah nya.


"Ayo ke atas ganti pakaian dulu,ntar masuk angin gue juga yang repot" oceh Satria lagi menarik tangan Olin


"Kaya' mak-mak komplek loe Sat, tambah lemes tu mulut"


"Maaf ya bapak-bapak istri saya ini kalau lagi kumat kadang-kadang suka kurang" ucap Satria tersenyum kaku pada para lelaki yang menatap mereka.


"Istri apaan" marah Olin


"Lepas Sat,jangan ambil kesempatan loe ya" marah Olin saat mereka melewati lorong kamar hotel.


"Di tolongin juga loh nggak tau terima kasih,kalau mereka tau loe janda pasti di datangi malam-malam,di naikin loe mau?"


"Gila loh ya do'a in sahabat sendiri janda,gue masih punya suami!"


"Ya...ya gue tau suami yang buat loe nangis terus kan? Suami yang pengangguran itu"


"Sat, berhenti jelek-jelekin mas Galih gimana pun juga dia suami gue" tegas Olin dia tidak mau aib suaminya di ketahui siapapun termasuk Satria sang sahabat.


"Terserah loe Lin,gue capek,mau di perkosa kek mau sedih itu urusan loe"kesal Satria lalu pergi masuk ke kamar nya


"Gue lebih capek sama loe" jawab Olin lalu juga masuk kedalam kamar nya dengan membanting pintu kamar.


"Hiks.....hiks......"isakan Olin terdengar jelas,Olin menyandar kan tubuh nya di pintu kamar,dia tidak mau juga begini,dia tidak mau nangis terus oleh Galih tapi mau bagaimana lagi ini sudah nasib nya.


Satria mengusap wajah nya kasar,dia menyesal sudah marah-marah pada Olin dan membuat perempuan itu menangis.


Satria menghentak kan kaki nya kesal lalu keluar kembali dari kamar menuju kamar Olin,dia tau Olin sedang menangis karena terdengar jelas isakan Olin dari pintu luar.

__ADS_1


"Tok....tok...."


"Lin buka pintu nya" ucap Satria dari luar


"Pergi loe, nggak usah peduliin gue"teriak Olin dari dalam


"Lin maafin gue,gue nggak bermaksud ngomong kasar sama loe,Lin buka dulu"


"Nggak pergi loe" teriak Olin histeris membuat Satria panik dan terus menggedor pintu kamar Olin hingga banyak para tamu hotel yang keluar melihat nya.


"Maaf mengganggu" Ujar Satria tersenyum kaku


"Lin,buka dong gue di lihatin orang nih" bujuk Satria


Cukup lama lelaki tampan itu berdiri menggedor pintu kamar Olin baru Olin membuka nya dan Satria menerobos masuk.


"Ngapain loe,kata nya capek sana ke kamar loe nggak usah peduliin gue" ketus Olin sambil menghapus air mata nya.


"Lin,maafin gue,gue nggak maksud -"


"Maksud juga nggak apa-apa" potong Olin sambil berjalan kearah ranjang nya


Satria menarik tangan Olin dan memeluk nya erat.


"Gue peduli sama loe Lin, kalau loe sedih gue juga ikut sedih,gue sayang sama loe" ujar Satria jujur membuat Olin yang berada di dalam dekapannya terdiam sejenak,Olin tidak bisa mengartikan kata-kata Satria, sayang sebagai teman atau apa.


"Lin, dengerin gue! Gue mau loe berbagi kesedihan sama gue bukan loe pendam sendiri,gue mau loh terbuka sama gue,gue mau loe jadi Olin gue yang dulu"


"Gue nggak bisa Sat,gue nggak bisa!" isak Olin lagi,Olin berpikir dia tidak bisa seperti Olin yang dulu,Olin yang selalu ada bersama Satria,dia punya suami dia punya privasi saat ini dan Olin punya beban hidup yang tidak mungkin dia cerita kan pada Satria.


Satria menghapus air mata Olin lembut di lihat nya wajah cantik perempuan yang dia cintai ini.


Mata mereka saling pandang terlihat jelas satu sama lain saling menyimpan rasa.


Satria mengecup bibir Olin perlahan dia tidak bisa menahan lagi, apalagi saat ini tubuh Olin hanya tertutup tank top pink terlihat jelas benda kenyal yang menyembul itu,dia lelaki dewasa dan normal bohong jika saat ini Satria tidak menginginkan Olin.


Ciuman pelan itu lama kelamaan menuntut dan Olin pun mulai membalas nya, Kecapan demi kecapan terdengar jelas, Satria menuntun Olin untuk duduk di ranjang nya dan berbaring hingga mereka lebih nyaman berciuman.


Satu tangan Satria sudah berada di perut olin dan satu lagi di paha Olin membuat ciuman panas itu semakin hot.


Olin mendesah saat Satria meraba halus bagian pangkal paha nya.


Jujur Olin menikmati sentuhan lembut Satria tidak seperti Galih yang kasar membuat nya tidak menikmati sama sekali.


Deringan ponsel Satria membuat mereka tersadar,Olin mendorong tubuh Satria dan berlari masuk ke kamar mandi,dia malu saat ini.

__ADS_1


"Sial" umpat Satria kesal,jika saja bukan karena deringan ponsel pasti dia dan Olin sudah akan melakukan lebih dari itu.


Meskipun hampir khilaf Satria menyukai nya.


__ADS_2