
Seminggu sudah berlalu kondisi Galih sudah sadar dari koma tapi dia masih harus di rawat karena masih harus di tangani dokter untuk penyembuhan pasca operasi kaki nya.
"Apa ada surat panggilan untuk ku bu?" tanya Galih,dia memikirkan perceraian nya dengan Olin, pasti sudah berjalan karena sudah beberapa hari dirinya terbaring di rumah sakit.
"Sudah jangan di pikirkan itu Lih, kondisi kamu yang lebih penting jika memang berpisah ya sudah perempuan seperti itu tidak baik di pertahankan"ketus sang ibu
"Tapi bu-"
"Jangan membantah ibu tidak suka dengan Olin" tegas sang ibu membuat Galih hanya bisa terdiam.
***
"Sayang kenapa kamu tidak bilang kalau Galih datang ke mari?" tanya Satria dengan wajah marah
"Mau apa dia?"
"Kamu tau dari mana?" tanya balik Olin
"Satpam yang bilang kata nya kamu kemarin di datangi lelaki dan marah-marah"
"Ember juga dia" gumam Olin padahal dia sudah mengatakan jangan memberi tau apapun tapi kenapa sekarang Satria bisa tau.
Satria memeluk sang kekasih dari belakang dan mencium pipi Olin membuat lamunan perempuan cantik ini buyar seketika.
"Aku sudah meminta pada Satpam untuk mengawasi siapapun yang mendekati mu"bisik Satria lembut membuat bulu kuduk Olin berdiri
__ADS_1
"Ha......! yang bener kamu Sat?"
"Iya....aku harus memastikan perempuan ku dalam keadaan aman" jawab Satria membuat Olin menggeleng kecil, belum menikah saja sudah begini apalagi sudah menikah bisa-bisa Satria akan jauh lebih posesif dari ini pikir Olin.
"Aku sudah minta pada pengacara ku untuk mengurus perceraian kamu sayang,dan sebentar lagi akta cerai nya juga akan keluar"
"Memang nya bisa?"
"Bisa lah,apa yang tidak bisa selagi ada uang"
"Sombong" ketus Olin tidak suka tapi membuat Satria gemas dan mengeratkan pelukannya,kini Olin sudah terbiasa di peluk dan di cium Satria kapan pun lelaki tampan ini mau asalkan jangan di muka umum saja.
****
"Aaaa......" ujar Gina menyuapi Galih
"Kamu harus makan banyak mas agar cepat pulih dan bisa pulang"
"Mas Galih kaki nya yang sakit Gin,bukan lambung nya jadi nggak perlu makan terlalu banyak, banyak-banyak nanti malah nggak bisa jalan"Sahut Maya yang juga ada di ruangan itu.
Sebenarnya Galih bersyukur dengan kecelakaan nya Gina dan Maya bisa saling tau meskipun tidak akur tapi mereka mau menerima dan merawat Galih bersama,di balik musibah ada hikmahnya juga untuk Galih yang tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.
"May,mas mau minum" pinta Galih
"Gina kan ada di sana mas kenapa harus aku" ketus Maya yang kecewa dengan pernikahan nya ini, awalnya dia mengira Galih sangat kaya raya seperti cerita ibu nya tapi ternyata nol besar untuk pengobatan nya sekarang saja Maya harus meminta pada orang tua nya dengan alasan Galih tidak bisa mengambil uang tabungan nya karena masih koma.
__ADS_1
"Kamu kan juga istri nya mas Galih May" jawab Gina
"Kamu saja,aku susah bergerak" ujar Maya yang memang sulit bergerak jika sudah duduk mengingat bobot tubuh nya yang lumayan besar.
Akhirnya Gina yang mengambil kan minum untuk Galih.
"Makanya mas jangan banyak-banyak punya istri nggak guna,satu saja cukup"
"Apa maksud mu bicara begitu Gin, kamu ingin aku dan mas Galih berpisah" ucap Maya menunjuk Gina kesal
"Siapa yang bilang begitu,kamu nya saja yang baperan"
"Sudah-sudah kalian tau kan kalau mas sedang sakit,tolong akur sedikit lah, jangan begini,bisa tambah sakit mas kalau kalian begini,kamu juga Gina jangan pancing keributan" ujar Galih yang ikut emosi
"Siapa juga yang pancing keributan mas aku bicara Fakta"
"Kamu yang mulai ya Gin jangan salah kan aku ya" ancam Maya
"May,kamu juga nggak usah di ladeni"
"Hey ada apa ini pagi-pagi sudah ribut,malu suaranya sampai ke luar" ucap ibu Galih yang baru datang
"Itu bu Gina cari ribut saja"Adu Maya membuat sang ibu menatap Gina tajam
"Nggak kok bu, Maya aja yang sensitif"
__ADS_1
"Sudah.....diam, sebentar lagi dokter masuk jangan buat malu" ucap nya membuat kedua menantu nya terdiam.