Ketika Pembantu Jadi Madu

Ketika Pembantu Jadi Madu
perkara hamil


__ADS_3

"Brugk" ibu Galih menggebrak meja makan kuat karena kesal dengan Olin.


"Kenapa bu?" tanya Maya


"Itu si Olin sombong banget, mentang-mentang hamil dia jadi belagu sama ibu! Omongan dia itu loh May bikin gedeg,panas kuping di buat nya"


"Olin hamil?" tanya Galih terkejut


"Iya,kata nya sih kembar tapi ibu nggak percaya palingan sudah isi duluan itu sama Satria,dia selingkuh dari kamu dulu Lih, untung kalian bercerai kalau nggak kamu bisa makan hati dengan dia" jawab sang ibu sinis,nah siapa yang makan hati dalam rumah tangga anak nya itu.


"Masa' sih bu,tapi dari keluarga Olin memang nggak ada yang kembar bu, kok bisa Olin hamil kembar ya" gumam Satria penasaran


"Bukan hamil kembar nya yang di pikirkan mas,tapi Olin hamil dan aku nggak hamil-hamil nikah sama kamu, padahal kita melakukan nya rutin" omel Maya


"May, rezeki itu tidak ada yang bisa mengira May,siapa tau besok atau bulan depan giliran kamu yang hamil"


"Aminn...kalau Maya yang hamil ibu mau buat hajatan besar biar tau tuh si Olin kalau kamu tidak mandul" geram ibu Galih membuat Galih menelan saliva nya, Sudah tiga dia memiliki istri tapi tidak ada satu pun yang hamil apa benar dia yang bermasalah,pikir nya jika dia yang bermasalah bagaimana nasib selanjutnya.

__ADS_1


****


"Bi,ini kiriman mama?" tanya Olin melihat sudah banyak masakan setelah dia mandi pasalnya saat masuk ke dalam rumah tadi belum ada makanan dan tidak mungkin pembantu nya ini masak secepat itu.


"Iya bu,tadi supir di rumah nyonya besar yang antar kemari,ibu mau makan?"


"Astaga mertua ku itu sangat baik bik nggak sama dengan yang di sebelah selalu jadi parasit,boleh bi ambilkan aku piring" oceh Olin membuat sang bibi bingung karena dia tidak tau apa yang pernah terjadi antara Olin dan tetangga sebelah nya ini, seperti musuh bebuyutan.


"Bik, yang ini di pisah kan saja buat bibi ya, karena banyak nggak akan habis kalau hanya saya dan Satria yang makan" ucap Olin


"Iya bu"


Bukan tidak percaya pada sang suami tapi setidaknya waspada karena tidak ada jaminan kalau Satria tidak akan tergoda jadi lebih baik dia yang datang untuk menggoda suaminya dari pada Pelakor.


"Bik, tolong dong rantang nya di isi aku mau ke kantor"


"Sama siapa bu?"

__ADS_1


"Naik taksi aja bi, kalau nyetir sendiri bisa ngamuk Satria" jawab Olin karena memang sang suami sudah memperingatkan Olin untuk tidak menyetir sendiri meskipun ada mobil di garasi.


Olin selalu patuh dengan aturan yang di buat sang suami.


Tiga puluh menit kemudian Olin sudah sampai di kantor,dia turun dengan mengenakan dress bermotif Polkadot, dengan perut membuncit dia menenteng rantang dan tas mahal nya,hadiah dari sang mertua.


"Siang pak"Sapa Olin pada Satpam yang dulu pernah membantu nya.


"Bu Olin,ayo bu saya bantu" tawar nya


"Saya bisa sendiri pak,, tidak masalah" tolak Olin,dia tidak enak mengganggu jam kerja pegawai kantor ini.


Meskipun Olin Sudah menikah dengan Satria dia tidak mau buang-buang uang hanya untuk hal yang tidak penting tapi sang mertua selalu mengirimi nya hadiah mahal hingga Olin sendiri kebingungan untuk memakai yang mana saat hendak pergi.


"Bu Olin" sapa karyawan ramah, mereka tau kalau Olin saat ini menjadi menantu pemilik perusahaan ini.


Olin tersenyum manis membalas nya,Olin dari dulu terkenal ramah jadi siapa saja menyukai keramahan nya.

__ADS_1


Olin berjalan pelan menuju Lift ke lantai 10,dia mana ruangan dia dulu dan suaminya berada.


Terlihat masih sama, beberapa hari meninggalkan kantor membuat Olin kangen bekerja tapi demi keselamatan dia dan bayi-bayi nya Olin harus rela menganggur dulu,lagi pula nafkah dari Satria lebih dari cukup untuk rumah tangga mereka.


__ADS_2