Ketika Pembantu Jadi Madu

Ketika Pembantu Jadi Madu
Jual rumah


__ADS_3

"Beb kamu nggak ke kantor?" tanya Olin melihat Satria yang hanya berbaring di ranjang setelah mereka mandi bareng.


"Lagi malas sayang pengen nya nemenin kamu di rumah aja"


"Nggak bisa gitu dong beb, nanti papa marah kamu kan harus disiplin,gimana sih nggak amanah banget"


"Tadi udah izin sayang sama papa, udah bilang kok kalau hari ini mau libur nemenin kamu"


"Jangan bilang kamu yang malas tapi aku yang di jadikan alasan" tebak Olin membuat Satria menyengir kuda


"Hari ini aku mau ajak kamu jalan-jalan sayang,kita kan nggak pernah tuh jalan berdua"


"Tapi nggak jam kantor juga beb, pekerjaan kamu kan lagi banyak-banyak nya"


"Udah nggak papa sayang, demi kamu dan si buah hati" jawab Satria membuat Olin hanya menggeleng kecil,dia tidak mengerti jalan pikiran sang suami nya ini.


****


"Bu......mana makanan nya?" pekik Galih


"Makanan apa?"


"Lauk nya bu,kok cuma ada nasi?"


"Tidak ada yang bisa di masak,kulkas kosong pagi-pagi tadi Maya pergi meninggalkan rumah"

__ADS_1


"Ha,kok bisa bu"


"Ya bisa lah kamu sudah menampar nya semalam, sekarang kamu nanya kok bisa,mabuk kamu!" ketus sang ibu


Galih memijit pelipisnya memikirkan nasib nya saat ini.


"Kamu itu harus kerja Lih,biar bisa bertahan hidup, di kampung ada adik mu yang butuh biaya"


"Tapi kerja apa bu,di perusahaan sudah tidak ada yang percaya aku" jawab Galih lemah


"Lih kamu itu sarjana apa tidak ada pekerjaan untuk sarjana seperti kamu,kota ini besar Lih, nggak bisa yang ini ya cari yang ini,gitu aja kok harus di ajari dulu, istri aja sampai tiga api otak nggak jalan" omel sang ibu


"Bu, bicara memang gampang tapi kenyataannya sulit bu,nama ku sudah tercoreng di mana-mana,sudah di blacklist"


"Ya sudah kalau begitu jual saja rumah ini dan pulang ke kampung,uang nya buat modal usaha di kampung saja,beli sawah atau buka warung kelontong"


"Mau bagaimana lagi lih,hanya itu yang bisa di jadikan uang, bertahan di rumah ini hanya membuat kita menderita,kamu nggak punya pemasukan sama sekali"


Galih hanya menggeleng pelan,benar yang di katakan ibu nya tapi Galih tidak ingin menjual rumah ini, rumah ini terlalu banyak kenangan dia dan Olin dulu tapi jika bertahan juga mereka akan mati kelaparan.


"Nanti akan aku pikirkan bu"


"Jangan lama-lama Lih,kita sudah tidak ada apa-apa lagi"


Galih menghela nafas berat kenapa hidup nya jadi begini, padahal dulu dia berada di puncak karir hanya karena tergiur berselingkuh dengan Gina hingga semua nya hancur berantakan.

__ADS_1


****


"Sayang ini bagus loh"


"Udah ada beb, kemarin mama yang belikan"


"Kapan?" tanya Satria tidak mengetahui kalau sang mama sudah membelikan Olin perhiasan.


"Kalau nggak salah dua Minggu lalu,aku lupa mengatakan sama kamu"


"Kalau gitu ambil yang ini" tunjuk Satria pada cincin berlian dengan model terbaru


"Nggak suka model nya beb,udah deh nggak usah belanja perhiasan di lemari banyak yang nggak aku pake"


"Ya di pake lah sayang"


"Di pake kemana orang aku di rumah aja"


"Beli tas ya" bujuk Satria


"Nggak usah beb,tas aku juga masih banyak"


"Terus beli apa dong?"tanya Satria bingung karena sang istri tidak mau belanja apapun sedang kan Satria ingin menyenangkan hati Olin, biasanya perempuan kalau sudah di ajak belanja pasti akan khilaf beda dengan istri nya yang malah nggak bersemangat.


"Beli makan aja beb,aku lapar" ajak Olin membuat Satria menghela nafas panjang,dia harus menuruti ibu hamil ini.

__ADS_1


Olin memang tidak berbeda dengan perempuan lain,dia sangat sederhana dan rendah hati padahal jika di telusuri dari silsilah keluarga, keluarga Olin cukup berada meskipun di tinggal kan ayah tapi sikap Olin yang membuat Satria kagum, setelah menjadi istri nya saja Olin masih bersikap baik meskipun sesekali terkadang galak.


__ADS_2