
Sebuah kejadian yang sulit di percaya! Jam-jam berikutnya setelah Tegar dan Mikaila diumumkan menjadi sepasang kekasih sambil di arak ke kelas oleh The Evolve Wild, Mikaila merasa dunianya berubah arah, dia mati kutu di kursinya tanpa berani menoleh barang sedikit saja ke arah Tegar.
Kok aku jadi salting gini sih! Harusnya kan dia nolak aja karena pasti gak suka sama aku, biar aku masih PD gitu ada usaha buat deket-deketin dia terus. Sekarang, ahh. Sebel. Males. Lihat dia aja aku malu. Mana si gorila jadi-jadian itu santai aja lagi!
Mikaila menundukkan kepala sampai keningnya menyentuh meja.
Aku harus gimana? Rencananya kan gak gini. Ah, BT.
Tegar menyunggingkan senyum. Dari deretan kursi paling belakang pojok kiri kelas, jelas ia bisa melihat perubahan sikap Mikaila. Gadis yang biasanya dengan lincah ke bangkunya atau menyapanya sambil melambaikan tangan, kini cuma bergeming doang. Kasian.
“Makanya jangan ngaco. Masih gak tau diri!” tulisnya di sobekan kertas.
Tegar menjawil punggung Daffa, “Apaan?” katanya saat menoleh. Sementara di depan kelas, guru fisika yang terkenal killer dan tidak bisa tersenyum itu sedang menulis materi pelajaran di white board.
“Kasih ke Mika dong, thanks!”
Daffa dan Wicak sontak membaca isi secarik kertas yang sudah berpindah ke tangan mereka. Dengan senyum iseng mereka menambah tulisan sambil berdempetan. Biar si Tegar gak lihat.
“Ntar gue tunggu di perpustakaan jam istirahat. Gue mau ngomong!”
Daffa dan Wicak meringis lebar seraya menyerahkan kertas itu ke teman sebelah. “Kasih ke Mika!”
Dengan cara yang sama, estafet secuil kertas itu sampai ke tangan Mikaila.
“Dari siapa?” tanyanya pelan.
Kompak, semua siswa yang menerima kertas itu menunjuk Daffa. Daffa lalu menunjuk ke belakang. Tegar menyunggingkan senyum.
Mikaila mendesis, ogah-ogahan dia melihat isi kertas tersebut. Kendati begitu dia tetap membukanya perlahan dan meski ada perbedaan yang mencolok dari tulisan Tegar dan Daffa, Mikaila yang sedang pusing abis-abisan mempercayai tulisan itu sebagai tulisan Tegar semua.
“Salin tulisan bapak, lalu kerjakan soalnya. Kumpulkan sepulang sekolah!”
__ADS_1
Dengan serempak muridnya mengiyakan.
“Kamu awasi kelas! Bapak ada kerjaan lain di ruang guru. Kalo susah bikin tugas kelompok.” ucapnya dengan tatapan tertuju pada Mikaila.
Mikaila meremas kertas ditangannya seraya mengangguk dengan cengiran aneh. “Siap laksanakan, Pak!”
Dan ketika guru fisika sudah lenyap dari lantai dua, Wicak yang mengintipnya dari jendela memberi kode untuk exhale and inhale bersama. Punggung-punggung yang nampak tegang pun akhirnya terhempas ke sandaran kursi dengan lega.
“Makin ke sini makin pusing aku, ngasih materi doang penjelasan kagak. Gimana ceritanya bisa ikut olimpiade fisika kalo gini. Mik, sini deh.” Dengan tak sabar Daffa pergi ke bangku Mikaila seraya menarik tangan gadis yang ogah-ogahan berdiri dari kursinya.
“Ayo ngumpul sama kita-kita, Mik. Udah di akui kamu jadi geng The Evolve Wild.”
“Gak mau, Daff!” Mikaila merangkulnya kedua kakinya di kaki kursi kuat-kuat seraya berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Daffa yang kuat amat. “Aku gak mau kumpul sama kalian.” rengeknya seperti bocah ketakutan.
“Loh kenapa?” Daffa menahan tawa. Muka panik Mikaila jelas karena apa. Tegar hanya mengambil kail yang di lempar Mikaila tanpa berminat menariknya. Memang sesantai itu Tegar. Dia hanya menjeratnya sebagaimana gadis itu menyederhanakan pertemanan mereka dengan menambah bumbu kasih sayang. Konyol. Ada-ada aja kan?
“Gar, cewekmu nih. Masa nggak mau kumpul sama kita-kita, gak beres nih. Pasti Mika bohongan waktu nembak kamu!”
Tegar geleng-geleng kepala seraya berdiri. Kedatangannya membuat Mikaila menutup muka dengan satu tangan. Tegar menyentuh puncak kepalanya seraya menerima tangan pacar jadi-jadiannya dari Daffa.
Daffa menepuk pundaknya seraya membubarkan teman sekelasnya yang menjadi penonton drama cinta-cintaan Tegar dan Mikaila.
“Mikaila harus di tangan kita, Bray. Mau gak mau, dia nyimpan banyak bukti kenakalan The Evolve Wild. Bahaya kalo ceplas-ceplos sampai ke kuping Mak bapak.” bisik Daffa ke Wicak.
“Maksudmu, mereka pacaran bukan karena cinta?”
“Cinta apaan!” Daffa menolehkan kepalanya. Tegar masih memegangi tangan Mikaila karena sekarang cewek itu justru menundukkan kepala sambil diam seribu bahasa.
“Liat gue!”
“Lepasin dulu tanganku!” gumam Mikaila lemes.
__ADS_1
“Kenapa emangnya? Berani nembak, berani tanggung jawab.”
“Tanggung jawab apaan! Emang kamu hamil habis aku tembak! Gak kan!”
Dari belakang, Melody menarik rambut Mikaila sampai gadis itu mengaduh dengan kepala yang terangkat.
“Udahlah, Mik. Jangan bikin kelas ribut. Ntar di laporin sama kelas sebelah kita.”
“Emang dasarnya temanmu aja yang kegetelan. Cewek kok nembak cowok. Gak punya level!” potong Dela sinis.
Tegar menempelkan telapak tangan Mikaila ke mulut cewek itu ketika hendak bercelatuk berang.
“Diam aja, gak perlu meladeni siapapun urusan kita tadi pagi!” Tegar melepas tangannya seraya mengambil buku dan pulpen Mikaila di meja.
“Ikut ke meja gue.”
Anjir, mampus. Sesak napas aku.
Mikaila berdiri, dengan lemas ia terseok-seok sambil menyeret kursi stainless ke meja Tegar.
“Aku lagi nggak mood bercanda, kita musuhan dulu aja ya.” Mikaila mengambil buku dan pulpennya tanpa berani menatap Tegar.
“Kamu kerjain tugasnya, ntar aku nyontek. Terus ke perpustakaannya gak usah. Kamu ngomong di sini aja, Gar. Aku pasti dengerin kok.”
“Emang siapa yang ngajak ke perpustakaan? Gue gak pernah.”
Mikaila spontan menjitak kepala Daffa dan Wicak. Dia tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya. Apa pun alasan keduanya.
“Aku udah deg-degan parah tau, sialan. Aku pikir dia ngajak mojok! Udah mau pingsan aku rasanya.”
Kedua cowok itu spontan tertawa cekakakan sambil memegangi kepalanya yang nyeri. Sungguh klise, ketahuan sebelum terjadi. Jadi untuk menggenapi keisengan mereka lagi, Daffa dan Wicak menyusun rencana lagi untuk menyatukan keduanya.
__ADS_1
...***...
^^^Bersambung^^^